
Sambutan itu baru berhenti ketika Yuki dan Pangeran Sera sampai di depan pintu masuk istana. Pangeran Sera menganggukan kepala berterimakasih. Kemudian kembali mengajak Yuki segera masuk ke dalam istana, mengantarkan Yuki ke kamar yang akan di tinggalinya.
Pangeran Sera langsung meninggalkan kamar sesaat setelah mengantarkan Yuki ke kamar. Dia memastikan semua pelayan yang telah Dia pilih secara khusus datang untuk membawakan perlengkapan Yuki sekaligus menjaganya. Kemudian Dia sendiri pergi untuk berganti pakaian dan mengadakan rapat darurat.
Setelah Yuki selesai mandi dan berganti pakaian. Para pelayan tidak meninggalkan ruangan, Mereka berdiri di posisinya untuk menemani Putri Yuki. Pangeran Sera telah memerintahkan Mereka untuk terus berada di dekat Putri Yuki, jika Pangeran Sera sedang tidak berada di dekat Yuki.
Kamar yang di tempati Yuki cukup hangat. Furniture berkualitas tinggi di tata apik dengan cita rasa seni yang tinggi. Semua terlihat mahal dan bergaya.
Yuki keluar balkon. Menikmati suasana senja di negeri Argueda untuk pertama kalinya. Angin berhembus lembut meniup rambutnya. Di langit, senja mulai berganti malam. Matahari nyaris terpedam di peraduannya.
Aroma bunga terbawa angin di udara. Tercium di ujung hidung Yuki. Sampai sekarang Yuki masih tidak percaya, Pangeran Sera berhasil membawanya ke istananya. Perasaan Yuki bercampur aduk. Dia tidak tahu kenapa, tapi rasanya seperti ada yang hilang di dalam hatinya.
Yuki terus memandang langit. Dia memikirkan Pangeran Riana. Di mana Dia sekarang ?. Apakah Dia melihat bulan yang sama dengan Yuki sekarang ?.
Pangeran Riana menghilang. Keberadaanya tidak diketahui.
Yuki tidak percaya dengan perasaannya saat ini, tapi Dia sangat merindukan Pangeran Riana. Dia bahkan bisa membayangkan sosok Pangeran Riana dengan jelas di dalam pikirannya. Rambut hitam dengan seburat biru keabuan, seperti cahaya bulan di malam hari. Tubuh kekar, suara serak dan tatapan matanya yang seolah bisa menembus setiap lapisan dalam diri Yuki.
Yuki menggelengkan kepala dengan keras. Dia menghela nafas, mencoba melupakan bayangan Pangeran Riana yang seolah menghantuinya. Yuki berpikir lagi, semua perasaan yang di rasakan sekarang, mungkin karena Mereka sudah sering bersama setiap hari. Hanya itu. Tidak lebih.
Sepasang tangan terulur di belakang Yuki. Meraih Yuki mendekat, memeluknya dengan hangat. Yuki tersentak dan berbalik. Pangeran Sera berdiri dari jarak yang cukup dekat di belakang Yuki. Rambutnya lembab setelah mandi. Pangeran Sera mengenakan jubah tidur. Tetesan air dari rambutnya mengalir di leher Pangeran Sera.
"Pa...Pangeran..."
"Apa yang Kau pikirkan ?" Bisik Pangeran Sera lembut di telinga Yuki.
"Aku hanya menikmati keindahan taman" jawab Yuki berbohong. Dia memalingkan wajahnya, tidak berani membalas tatapan Pangeran Sera. Dia takut Pangeran Sera mengetahui kebohongan yang di katakan Yuki.
__ADS_1
"Kau nyaman dengan kamar ini ?" Tanya Pangeran Sera lagi.
Yuki tersenyum tipis. "Kamar ini sangat indah"
"Ini..kamar Kita"
Yuki terkejut mendengar ucapan Pangeran Sera.
Kamar Kita ?
Selama perjalanan menaiki kapal menuju Argueda, Pangeran Sera sangat menjaga jarak. Dia berkata akan memberi Yuki waktu untuk mengenalnya. Ketika mendengar hal tersebut, Yuki merasa lega. Namun, hati kecilnya selalu memperingatkan Yuki, suatu saat nanti Pangeran Sera pasti akan meminta kedekatan yang lebih lagi.
Yuki tidak siap jika hal itu sampai terjadi.
Dari sepuluh hari perjalanan menggunakan jalur laut. Hanya di hari pertama Mereka berlayar, Pangeran Sera tidur bersama Yuki. Selebihnya, Pangeran Sera memilih tidur di kamar yang bersebelahan dengan kamar Yuki. Di hubungkan oleh pintu penyambung yang ada di dalam kamar.
Dan sekarang...
Pangeran Sera tidak ingin lagi mengambil jarak. Kesempatan untuk mendekati Yuki cukup banyak. Dia akan memulai pelan-pelan agar Yuki mau menerima Pangeran Sera.
Yuki sangat binggung. Ucapan Pangeran Sera terus bergaung di dalam pikirannya. Dia tidak menyangka Pangeran Sera membawanya ke kamar yang akan Mereka pakai bersama. Yuki sudah terbiasa berbagi kamar dengan Pangeran Riana. Dia tidak tahu apakah Dia bisa berbagi kamar dengan Pangeran Sera.
"Apa yang Kau pikirkan. Kita sudah bertunangan" tegur Pangeran Sera ketika melihat Yuki hanya diam dengan tatapan kosong. "Yuki, Apa Kau takut padaku ?"
Yuki menggelengkan kepala pelan. "Aku tidak takut pada Pangeran, Aku hanya takut pada diriku yang sekarang"
Pangeran Sera mendekap Yuki lebih erat setelah mendengar jawaban Yuki.
__ADS_1
"Aku merasa seperti bermimpi, Kau akhirnya bisa berada di sini bersamaku" kata Pangeran Sera lagi dengan tenang. "Setiap hari, Aku selalu menunggu moment seperti datang"
Pangeran Sera membalikkan tubuh Yuki untuk menghadap ke arahnya. Mereka berdiri begitu dekat untuk saling menyentuh. Pangeran Sera tidak mengenakan pakaian di bawah jubah tidurnya. Kulitnya masih lembab dan menggoda. Jantung Yuki berdebar cukup kencang.
Pangeran Sera memiliki daya tarik yang berbeda dengan Pangeran Riana. Namun sama-sama menakutkan dalam versi Mereka masing-masing.
"Kau cantik.." puji Pangeran Sera dengan nada penuh pemujaan yang tulus. "Sangat cantik"
Wajah Yuki memerah seketika. Tatapan Pangeran Sera begitu dalam dan memabukkan. Seolah apa yang di lakukannya mampu melelehkan hati Yuki.
"Paling cantik" bisik Pangeran Sera lagi sembari merengkuh wajah Yuki lembut dengan kedua tangannya dan langsung mendekatkan diri untuk mencium bibir Yuki.
Bibirnya mencium Yuki lembut dan hangat. Mengaburkan pikiran Yuki. Yuki mengepalkan kedua tangannya di samping tubuhnya. Berusaha keras untuk tetap berpikir sehat ketika ciuman Pangeran Sera begitu intens meracuninya. Ketika akhirnya Pangeran Sera melepaskan ciumannya, wajah Yuki sudah sangat merah seperti tomat.
"Sepertinya sudah waktunya Aku harus memberimu makan" kata Pangeran Sera tersenyum ringan ketika mendengar suara keroncongan di perut Yuki. Yuki menjadi semakin malu di buatnya. Kenapa cacing di dalam perutnya harus berteriak di saat yang tidak tepat.
Pangeran Sera menarik Yuki untuk duduk di bangku yang mengelilingi sebuah meja kecil di balkon. Para pelayan datang dan meletakan makanan. Pangeran Sera memilih duduk di samping Yuki daripada kursi di seberangnya. Selama menunggu semua makanan siap di meja. Pangeran Sera hanya diam sembari terus mengenggam lembut tangan Yuki.
Semua menu makan malam bertema seafood yang di masak dengan saus kental yang cukup memikat. penampilannya mengundang selera. Yuki sudah tidak sabar ingin mencobanya.
"Cobalah semua, hari ini koki istana khusus memasak untuk menyambutmu" ujar Pangeran Sera sembari memberikan sendok kepada Yuki. Sepiring kecil kerang berbumbu kental di letakkan di depan Yuki. Para pelayan setelah selesai menyiapkan makan malam, Mereka langsung mengundurkan diri setelah sebelumnya memberi hormat kepada Pangeran Sera dan Yuki.
Yuki mencoba membuka kerang dengan sendok dan garpunya. Akibatnya, alih-alih terbuka. Kerang justru terpental mengenai mata Yuki.
"Aaduh" Yuki menundukkan kepala. Mengaduh. Saus kerang masuk ke dalam mata Yuki. Dia menggosok matanya, air mata meleleh di pipi.
__ADS_1