
Rambutnya berwarna putih susu, dengan kulit putih pucat dan bola mata hitam kelam.
Jauh lebih tampan daripada manusia manapun, iblis yang sangat menarik.
Pintu cendela terbuka dengan derit yang memilukan. Sebelum akhirnya Dia menjerit dengan lengkingan kematian yang menakutkan.
Tubuhnya ambruk di lantai. Darah menetes dari tangan putih pucat. Sangat kontras dalam warna gelap yang ada di sekitar.
Detik berikutnya, ruangan itu sunyi. Tidak ada seorangpun di sana selain tubuh yang sudah tidak bernyawa.
Di atas langit, sayap hitam mengepak terbang tinggi ke atas langit.
Semakin mendekati bulan biru, sasaran pembunuhan semakin tidak menentu. Jika sebelumnya para Bangsawan dan Putri yang di incar, sekarang sasaran merambat ke semua kalangan. Tidak melihat status sosial, umur dan jenis kelamin.
Pembunuh itu membunuh siapapun yang di temuinya di malam hari. Ibukota di cekam ketakutan. Setiap hari kerajaan menerima laporan orang hilang dan penemuan mayat baru.
Bahkan Yuki mendengar, Bibi Bangsawan Dalto menjadi salah satu korban. Dia di temukan tewas di rumahnya.
Yuki tidak bisa berbuat banyak untuk menghibur Bangsawan Dalto. Mengetahui Dia masih hidup saja Yuki sudah cukup bersyukur.
Pembunuh ini sangat gila. Dia seolah tidak pernah puas menghilangkan nyawa orang. Baginya, nyawa manusia tidak ada artinya sama sekali.
Yuki merasa Dia harus segera bertindak sebelum semua menjadi semakin rumit. Tapi bagaimana caranya ?. Sementara Dia sendiri adalah tawanan Pangeran Riana. Yuki terus memikirkan hal ini berulang kali, namun tetap saja Dia belum menemukan jalannya.
"Putri, ada pesan untuk Putri" bisik Rena lirih di telinga Yuki ketika Dia sedang membantu Yuki menyisir rambut. Beberapa pelayan masih berkemas di sekitar Mereka. Yuki menatap ke cermin, Rena memandangnya dengan sirat cemas dari sana.
Baru-baru ini Rena di hukum pukul oleh Pangeran Riana karena memberikan informasi mengenai Bangsawan Dalto pada Yuki. Sehingga Rena tidak berani lagi berbicara terang-terangan pada Yuki. Rena juga mengingatkan kepada Yuki untuk tidak berbicara sembarangan di dalam istana. Karena tembok pun bisa ikut mendengar.
__ADS_1
"Aku ingin belajar menjahit. Rena, temani Aku belajar" perintah Yuki dengan acuh.
Rena menundukkan kepala hormat untuk menerima perintah.
"Ambilkan perlengkapannya di laci itu. Yang lain bisa segera pergi setelah tugas kalian selesai" Kata Yuki lagi sambil beranjak berdiri menuju balkon.
Setelah mengambil perlengkapan menjahit yang di maksud. Rena menyusul Yuki dan menyiapkan di depan Yuki. Para pelayan masih menyelesaikan tugas Mereka. Tapi Yuki tahu apa yang di lakukannya akan sampai ke telinga Pangeran Riana. Apalagi jika Mereka terlihat mencurigakan.
Yuki menundukkan kepala. Memegang jarum yang telah di beri benang. Rena menunjuk ke pola di mana Yuki harus memulai.
"Pesan.." tanya Yuki lirih dengan pandangan tidak mengerti.
"Maafkan Aku putri, Dia terus datang dan memaksaku untuk menyampaikan pesan kepada Putri. Karena Dia terus memaksa, Aku akhirnya berjanji akan membantunya sekali ini saja" balas Rena di dekat Yuki dengan suara takut-takut sambil membantu Yuki membenahi sulamannya.
Jika orang lain melihat Mereka dari jauh, terlihat Mereka berdua sedang sibuk menyulam di atas kain berwarna putih,yang di bentangkan di depan Mereka dengan alat bantu.
"Saya tidak bisa terus menerus membantunya. Jika kerajaan sampai mengetahuinya. Saya pasti akan di hukum gantung" lanjut Rena lagi dengan gusar ketika menyampaikan keluhannya.
"Terimakasih, akan kupastikan tidak akan ada masalah untukmu ke depannya karena persoalan ini" Kata Yuki tulus untuk meredakan ketakutan Rena.
Rena merasa lega setelah memberikan kertas itu. Dia menganggukan kepala tidak mengharapkan Yuki akan menanggung hukuman. Dia bersedia melakukan apapun untuk Yuki termasuk mengorbankan nyawanya.
"Aku akan menyiapkan makanan untuk Putri" pamit Rena ketika para pelayan selesai berberes. Yuki menganggukan kepala ringan masih fokus pada sulaman di depannya.
Dia terus menyulam sampai semua orang meninggalkan ruangan. Setelah memastikan kondisi aman, hanya tinggal Dia sendiri di kamar dan tidak ada yang mengawasi. Yuki mengambil kertas yang disembunyikan di bawah kotak benangnya.
Yuki tidak tahu siapa yang mengirimkannya. Tapi Rena tidak akan menempuh resiko berbahaya jika pesan ini tidaklah penting.
__ADS_1
Sehelai kelopak mawar berwarna merah jatuh ke pangkuan Yuki, ketika Dia membuka gulungan kertas yang sudah tidak berbentuk karena di remas kuat oleh Rena. Di susul kelopak lain yang berjatuhan dengan semakin lebar Yuki membuka kertas di tangannya.
Yuki langsung mengenali tulisan tangan Bangsawan Dalto.
Yuki berlari dengan cepat sebelum ada yang menyadari kehadirannya. Dia menuju kereta kuda yang terpakir di depan gudang dapur istana. Menyelinap masuk ke dalam kereta kuda dan bersembunyi meringkuk di antara tumpukan sayur dalam keranjang bambu besar.
Jantung Yuki berdebar cukup kencang, Dia bahkan tidak berani menarik nafas ketika Kereta Kuda yang membawanya melewati gerbang pemeriksaan. Yuki menunduk sedalam mungkin di dalam keranjang, sembari menutup mulutnya.
Waktu seakan berlalu sangat panjang ketika sang supir sengaja menghentikan kereta kudanya, untuk mengobrol sebentar dengan para penjaga. Bahkan beberapa kali Dia naik ke atas kereta kuda untuk mengambil beberapa bahan makanan yang di berikan kepada para penjaga. Mereka terlihat akrab dan saling mengobrol dengan ringan.
Para penjaga juga tidak terlalu memeriksa ke dalam kereta kuda.
Namun tetap saja Yuki nyaris pingsan saking tegangnya. Lehernya terasa sakit karena harus terus menunduk sementara di atas kepalanya di penuhi tumpukan sayur yang telah layu.
Akhirnya kereta kuda berderit tanda akan bergerak. Ketika Kereta kuda sampai di jalan keluar dari istana Pangeran Riana, Yuki merasa lega.
Setelah membaca surat dari Bangsawan Dalto, tanpa berpikir panjang Yuki langsung nekat menyelinap keluar kamar Pangeran Riana.
Yuki mengikat semua kain yang dapat di temuinya untuk bisa memanjat keluar dari kamar menuju taman istana. Dia tidak tahu dari mana semua keberanian ini berasal. Sesuatu yang tidak di ketahui memotivasinya untuk bergerak tanpa mengenal takut.
Yuki bahkan tidak merasa takut ketika memikirkan hukuman apa yang akan do terima, jika Dia sampai tertangkap dalam usahanya melarikan diri.
Yang ada di pikirannya hanya harus segera keluar dari istana Pangeran Riana bagaimanapun caranya.
Yuki telah melepaskan semua perhiasannya. Mengikat gaunnya sedemikian rupa agar bebas bergerak.
__ADS_1
Para penjaga tidak mungkin menduga Yuki akan nekat meloncat dari cendela menggunakan kain yang di ikat panjang. Yuki sendiri juga tidak menyangka Dia.mampu melakukannya. Para penjaga kamar belum menyadari Yuki telah kabur.
Setelah berhasil keluar dari kamar, Yuki mengendap-endap di sepanjang lorong istana. Dia nyaris saja tersesat saking luasnya istana Pangeran Riana. Ketika akhirnya Dia menemukan pintu belakang, Yuki sangat senang mendapati sebuah kereta kuda yang biasa mengantar sayur ke istana, sedang terpakir di halaman belakang. Suasana halaman yang sunyi memudahkan Yuki untuk bergerak menyelinap masuk ke dalam kereta kuda.