
Yuki menerima sepiring makanan yang di bawakan Lekky. Sementara Lekky hanya memakan dua butir telur rebus dan satu lapis roti dengan dua cangkir kopi hitam untuk sarapan.
Yuki memakan makanannya dengan terburu-buru. Dia sangat lapar karena semalam Dia hanya makan roti yang di belinya saat pergi menuju Ibukota.
"Apa Kau ini sedang di kejar setan ?. Cara makanmu jelek sekali" tegur Lekky ketika Yuki tanpa sengaja menumpahkan makanan di atas meja.
"Kita sudah terlambat" ujar Yuki beralasan. Dia mengambil sapu tangan di saku bajunya dan membersihkan tumpahan makanannya dari atas meja.
"Pendeta itu masih cukup umur untuk menunggu Kita datang. Untuk apa Kau terlalu takut Dia mati sebelum bertemu denganmu" Lekky menyelipkan sebatang rokok di mulutnya dan langsung menyalakan pematiknya.
Asap mengepul di udara. Dengan tenang Lekky meminum cangkir kopi keduanya. Menghabiskan setengah isinya.
"Apa yang kira-kira akan di bicarakan Pendeta suci ?" Tanya Yuki pada Lekky penasaran.
Lekky terdiam sejenak. Dia menghisap rokoknya dan menghembuskannya ke udara. "Kalau Aku jadi Kau..." Katanya kemudian. "Aku tidak akan datang menemuinya"
Yuki mengernyit ketika mendengar jawaban Lekky. Lekky kembali membuka kotak rokoknya untuk mengambil batang rokok kedua. Yuki langsung meraihnya dan mematahkan batang rokok yang di pegang Lekky. Melemparkannya ke atas piring kotor di depannya.
Yuki benci melihat Lekky tidak menjaga kesehatannya dan terus merokok. Dia sudah berulang kali memperingatkan Lekky untuk menghentikan kebiasaannya. Namun Lekky tidak perduli.
"Aku sudah selesai makan, Ayo Kita pergi" ajak Yuki mengemasi barang-barangnya dan memasukkan ke dalam tas.
"Sebaiknya Kau mendengarkan saranku Nona" ujar Lekky kembali mencoba menghalangi Yuki.
"Jika Aku tidak datang menemui pendeta suci apa kira-kira Kau mau memberitahukanku apa yang sebenarnya ingin di katakan pendeta suci padaku ?"
"Untuk apa Aku memberitahukanmu ?"
"Kalau begitu Ayo Kita pergi" Yuki berdiri dan menarik lengan Lekky. Memaksanya untuk berdiri.
"Jadi keras kepala itu tidak selalu baik Yuki" ujar Lekky lagi. Dia berdiri dengan malas. Yuki mengalungkan lengannya pada lengan Lekky. Mereka berjalan menuju pintu keluar.
Meskipun Lekky sudah memperingatkannya. Dia akan tetap pergi. Rasanya ada sesuatu yang ingin di sembunyikan Lekky dari Yuki. Secara halus Lekky terus mencegah Yuki untuk menemui Pendeta Suci.
Membuat Yuki semakin penasaran dan ingin segera bertemu langsung dengan Pendeta Suci.
__ADS_1
Yuki duduk di lantai yang dialasi tikar, di tengah ruangan yang lapang. Kamar tempat pendeta suci tinggal hanya diisi sedikit perabotan sederhana. Namun meskipun begitu, Yuki merasa nyaman berada di dalamnya.
Sementara itu seorang pelayan datang dan menuangkan secangkir teh hangat yang kemudian di letakan di depan Yuki. Pendeta suci menunggu dengan tenang di tempatnya. Matanya yang buta tidak menghalanginya untuk beraktifitas seperti manusia normal. Justru Pendeta Suci jauh lebih bisa merasakan lingkungan sekitarnya lebih baik daripada yang lain.
Setelah menuangkan teh, pelayan itu pergi meninggalkan kamar. Sekarang hanya ada Yuki dan Pendeta suci. Duduk berhadapan dengan tenang.
"Aku merasa akan jauh lebih baik jika Aku berbicara denganmu terlebih dahulu. Sebelum Aku berbicara dengan kedua Pangeran itu" ujar Pendeta Suci membuka percakapan.
Dari nada bicaranya, Yuki sangat yakin Pendeta Suci sudah tahu siapa Yuki sebenarnya. Penyamaran yang di lakukan Yuki tidak mampu mengelabui penglihatan Pendeta Suci.
"Ada apa ?" Tanya Yuki tidak mengerti.
"Yang akan Ku ceritakan ini bukan berita baik khususnya untuk Kalian bertiga"
Yuki diam. Mendengarkan dengan serius.
"Di hutan ambas yang mengintari kuil suci, ada sebuah pohon keramat tempat kekuatan besar di tanamkan. Kekuatan itu sangat dasyat dan mampu membunuh Iblis Balgira untuk selamanya. Namun, tidak sembarang orang bisa membuka segel untuk melepaskan kekuatan itu. Aku sendiri pun tidak bisa dalam kasus ini" ujar Pendeta Suci dengan raut wajah sedih. "Karena Iblis itu pernah meminum darahmu dan kedua Pangeran itu sangat terikat kuat denganmu. Jadi, hanya Kalian bertigalah yang dapat membuka segel dan menarik kunci untuk melepaskan kekuatan itu. Hanya saja, siapapun di antara kalian bertiga yang pada akhirnya membuka segel itu, besar kemungkinan tidak akan kembali dengan selamat"
Yuki mengedipkan mata perlahan, memandang wajah Pendeta Suci yang datar tanpa ekpresi.
Sekarang Dia mengerti kenapa Lekky tidak ingin Yuki datang dan berbicara dengan Pendeta Suci. Sudah pasti Lekky mengetahui masalah ini.
"Siapa saja yang mengetahui masalah ini ?" Tanya Yuki tertahan.
"Hanya Para Pendeta yang mengetahui masalah ini. Aku sudah melarang Mereka untuk menyebarkan masalah ini pada siapapun, untuk mencegah timbulnya masalah yang tidak di inginkan. Selain Mereka tidak ada lagi yang lain selain Kau dan Kakakmu"
"Jika memang begitu, bisakah Anda membantuku agar masalah ini tetap tersimpan rapat seperti sekarang ?"
"Apa Kau yakin ?" Tanya Pendeta Suci pelan.
Yuki menganggukan kepala dengan keyakinan penuh. "Iblis Balgira bangkit karena kecerobohanku. Aku tidak mungkin membiarkan Pangeran Sera dan Pangeran Riana menanggung kesalahanku. Izinkan Aku untuk mengorbankan diri menyelamatkan dunia dari kehancuran" pinta Yuki dengan tulus.
"Ketahuilah Putriku, Takdir tidak akan pernah Kita duga kemana arahnya. Seringkali Dia bekerja di luar keinginan Kita"
__ADS_1
"Aku telah banyak menyusahkan Mereka selama ini. Mereka sudah berulangkali membantu dan menyelamatkan nyawaku. Jadi sekarang adalah giliranku untuk menyelamatkan Mereka dari keharusan untuk mengorbankan dirinya. Aku mohon bantulah Aku agar rahasia ini tetap terjaga seperti sekarang"
Pendeta Suci kembali diam beberapa saat.
"Mereka tidak akan mendengar masalah ini dari mulutku" kata Pendeta Suci akhirnya.
Yuki menarik nafas lega.
"Terimakasih" bisik Yuki penuh rasa syukur.
Setelah berbicara mengenai beberapa hal. Yuki akhirnya meminta izin untuk meninggalkan kamar Pendeta Suci.
Yuki berjalan gotai seusai keluar dari dalam kamar Pendeta Suci. Menyusuri lorong yang sepi sambil merenung.
Walaupun Yuki bisa berpura-pura tegar tapi sebenarnya Dia merasa terpukul saat mengetahui akibat yang di timbulkan karena kebangkitan Iblis Balgira.
Yuki tidak menyangka, kebangkitan Iblis Balgira harus menyeret Pangeran Riana dan Pangeran Sera sekaligus kedalamnya.
Namun Yuki cukup beruntung karena Dia lah yang lebih dulu mengetahui masalah segel pembuka. Meskipun kisah cinta Mereka berakhir pahit, tapi sampai sekarang keberadaan kedua Pangeran itu tetap menempati posisi yang sama di hati Yuki.
Pangeran Riana seperti bulan yang menyinari bumi di malam hari agar tidak terlalu gelap. Dan Pangeran Sera bagaikan matahari yang bersinar menghangatkan bumi di pagi hari.
Bumi tidak bisa hidup tanpa adanya matahari dan bulan yang mendampinginya. Jadi bagaimana Yuki akan menjalani hidup jika Dia sampai kehilangan salah satunya.
Yuki tidak bisa membayangkan jika Dia harus kehilangan Pangeran Riana ataupun Pangeran Sera dalam pertempuran ini.
Yuki terus berjalan seorang diri di lorong istana kerajaan Garduete dengan perasaan kebas.
Hanya tiga orang yang dapat membuka segel dan menarik kuncinya. Namun siapapun yang melakukannya, tidak akan kembali dengan selamat.
Yuki kembali bersyukur Dia mengetahui masalah ini sekarang. Setidaknya, Dia punya cukup waktu untuk mempersiapkan diri sebelum kematiannya tanpa harus mengorbankan orang lain.
__ADS_1