Morning Dew

Morning Dew
168


__ADS_3

"Apa Aku membuat Pangeran terbangun ?" Tanya Yuki dengan pandangan bersalah.


"Kau sedang memikirkan sesuatu ?. Apa Kau menyesal telah kembali kemari ?" Tanya Pangeran Riana dengan sorot cemburu. Mengindahkan untuk menjawab pertanyaan Yuki sebelumnya.


Yuki menghela nafas, dan bergerak untuk menghadap ke arah Pangeran Riana. Terasa kaki Pangeran Riana di atas kaki Yuki. 


Ujung jari Yuki di sapukan dengan lembut, menyentuh kulit wajah Pangeran Riana.


"Aku memikirkan pertualanganku kali ini" Aku Yuki setengah berbisik.


Bersama Pangeran Sera menyusup keluar istana Langeran Riana untuk mengunjungi makam Bangsawan Dalto, Pergi ke perbatasan wilayah Argueda dan Garduete untuk menolong para korban bencana alam. Bertemu anak-anak pengungsian, Di culik oleh Pangeran Sera menuju Argueda dengan kapal. Nyaris terbunuh oleh racun Gautri. Kematian Rena akibat panah beracun. Pergulatan dengan Putri Alena. Di tolong Pangeran Riana. Dan perjalanan kembali ke Garduete.


Yuki kembali melalui pertualangan panjang dan mendapatkan banyak pelajaran berharga. Selain itu, Dia pada akhirnya bisa melihat dengan baik perasaan dari Pangeran Riana maupun Pangeran Sera.


"Kau hampir kehilangan nyawa di sana" ujar Pangeran Riana mengingatkan.


"Aku dua kali berada di dunia ini dan selalu nyaris kehilangan nyawa" jawab Yuki membantah arguement Pangeran Riana.


"Jadi ?"


Yuki merasakan raut tidak suka di wajah Pangeran Riana.


"Jadi apa ?" Tanya Yuki tidak mengerti.


"Jadi bagaimana jika Kita segera melangsungkan pernikahan"


Yuki sontak mundur. Terkejut dengan kalimat yang di ucapkan Pangeran Riana. Pangeran Riana dengan sigap menahan punggung Yuki dengan tangannya agar gadis itu tidak kabur dan menjauhinya.


Pangeran Riana bukan tidak tahu jika selama Yuki berada di Argueda. Dia berbagi kamar dengan Sera. Tapi pelayan yang telah di suapnya, memberi informasi bahwa meskipun Yuki dan Sera berbagi kamar. Mereka tidak pernah melakukan hubungan badan sama sekali. Itu semua karena Sera menghargai keinginan Yuki yang masih belum siap melangkah lebih jauh bersama Sera.


Namun tetap saja, Pangeran Riana merasa tidak suka dengan kedekatan yang terjadi di antara keduanya.

__ADS_1


"Menikah ?" Tanya Yuki tergagap.


Pangeran Riana kembali mendekatkan Yuki ke arahnya dengan satu sentakan. "Hubungan Kita sudah sejauh ini. Apa Kau masih tidak memikirkan pernikahan ?"


"Bukan begitu maksudku" sanggah Yuki cepat.


"Atau jangan-jangan Kau ingin menikah dengan Sera ?" Tuduh Pangeran Riana dengan nada dingin.


"Dengarkan Aku dulu" pinta Yuki sambil meletakkan jarinya di bibir Pangeran Riana. 


Pangeran Riana diam menunggu.


Yuki tahu ada baiknya Dia menyuarakan pikirannya sekarang. Saat ini mood Pangeran Riana dalam kondisi baik. Dia berharap Mereka akan bisa berbicara dari hati ke hati kali ini. Tanpa ada kesalahpahaman atau drama di akhirnya.


"Aku sudah melihat bagaimana perasaanmu, dan Aku juga sudah melihay bagaimana perasaan Pangeran Sera. Tidak dengarkan Aku dulu" potong Yuki cepat ketika Pangeran Riana hendak membantahnya. "Beri Aku waktu untuk memikirkan jawaban atas perasaan Kalian berdua, soal pernikahan adalah hal yang sakral. Aku harus memikirkan semua baik-baik"


"Kau tahu, apapun jawaban yang Kau berikan. Tidak akan dapat mengubah apapun" Kata Pangeran Riana dingin dengan nada memperingatkan.


"Ya...tapi setidaknya Aku tidak akan menyesal di kemudian hari. Karena telah menemukan jawaban atas hidupku" bisik Yuki tertahan.


Pangeran Riana diam menatap Yuki. Memikirkan semua ucapan Yuki. "Jadi apa yang Kau inginkan ?" Tanyanya pada akhirnya.


"Aku ingin kembali untuk sementara ke duniaku. Aku butuh tempat netral di mana tidak ada Kau maupun Pangeran Sera di dalamnya" pinta Yuki berhati-hati.


 


"Kau ingin kembali ke dunia itu lagi ?" Tanya Pangeran Riana menyakinkan Yuki sekali lagi.


"Ya...beri Aku sedikit waktu untuk memikirkan semua jawaban dari hidupku" 


"Baiklah jika itu maumu. Besok pagi Aku akan meminta Serfa untuk mempersiapkan semua terkait kepergianmu. Sebelum Aku berubah pikiran" kata Pangeran Riana tenang, namun mengejutkan Yuki. Dia tidak menduga Pangeran Riana akan semudah itu menyetujui permintaannya. "Tapi Kau harus berjanji padaku. Untuk segera kembali begitu Kau menemukan jawabannya" 

__ADS_1


"Apakah Pendeta Serfa akan setuju ?" Tanya Yuki masih tidak percaya jika Pangeran Riana mengabulkan keinginannya begitu saja.


"Tidak..tapi ini perintahku. Dia tidak bisa menolaknya" 


Yuki menganggukan kepala mengerti. "Terimakasih" ucapnya tulus.


Pangeran Riana mengulurkan tangan dan mengelus bahu Yuki yang telanjang. "Ngomong-ngomong Yuki. Tidakkah Kau merasa malam masih panjang. Dan besok Kau akan meninggalkanku lagi dalam waktu yang sangat lama" ujar Pangeran Riana tenang. "Karena Aku sudah mengabulkan keinginanmu. Tidakkah Kau mau membalas budi dengan mencicil hutang terlebih dahulu padaku"


"Hutang ?" Tanya Yuki dengan raut wajah kebingungan. Seingat Yuki, Dia tidak memiliki hutang apapun kepada Pangeran Riana.


"Membayar hutangmu" Kata Pangeran Riana lagi. Tangannya kini mengusap punggung Yuki perlahan. 


Wajah Yuki memerah saat Dia akhirnya mengerti maksud perkataan Pangeran Riana. "Aku rasa....Pangeran sudah sangat lelah" ujar Yuki gugup.


"Wanitaku meragukan kekuatanku. Jadi meskipun lelah, Aku harus membuktikan diri di depannya. Bukankah begitu Yuki ?"


"Kenapa Kau begitu mesum...mmpphh" Pangeran Riana sudah menarik Yuki dan langsung mencium bibir Yuki kuat. Tidak membiarkan Yuki untuk menyelesaikan perkataannya.


Malam itu, di lewati Yuki tanpa tidur dengan nyenyak bersama dengan Pangeran Riana. Saat pagi menjelang, Yuki segera ke kamar mandi dan membersihkan diri. Dia meminta pakaian seragam SMU nya yang telah di perbaiki dan di simpan rapi oleh Rena kepada pelayan yang melayani.


Yuki mengenakan kembali pakaian seragam SMU nya. Melepaskan semua atribut Putri dari tubuhnya dan kembali menjadi gadis SMU biasa.


Setelah selesai berpakaian. Yuki menemui Pangeran Riana yang telah menunggu di dalam kamar. Pangeran Riana sudah berpakaian rapi. Tidak seperti Yuki yang menguap beberapa kali, menahan kantuk yang menyerangnya. Pangeran Riana terlihat jauh lebih segar daripada sebelumnya.


"Yuki terimalah cincin ini" Pangeran Riana memberikan kotak kecil berisi cincin, dihiasi batu safir bermata biru es. Seperti warna mata Pangeran Riana. "Suatu saat, Jika Kau ingin kembali ke dunia ini. Kau cukup menyentuhkan mata cincin ini ke cermin di ruang penghubung. Dan otomatis pintu yang menghubungkan antara dunia ini dengan duniamu di sana akan terbuka. Tapi Kau harus ingat, cincin ini juga akan menutup jalan untuk ke duniamu sana begitu Kau kembali kemari. Jadi Kau tidak akan bisa kembali ke dunia itu lagi untuk selamanya. Apa Kau mengerti ?"


Yuki menerima cincin bermata biru dan langsung memakainya di jari manisnya. Cincin itu sangat pas di pakainya. Pangeran Riana memang sengaja memesan khusus untuk Yuki.


"Aku mengerti" jawab Yuki kemudian.


Pangeran Riana menggandeng tangan Yuki erat. Menggengam tangannya di sepanjang jalan seolah enggan melepaskan Yuki. Pangeran Riana Membawa Yuki menuju kuil tempat Pendeta Serfa menunggu. 

__ADS_1


Pendeta Serfa merampalkan mantera yang membuka pintu penghubung antar dimensi. Yuki menarik nafas sesaat sebelum melangkah mendekat. Dia berpaling, melihat Pangeran Riana sesaat. Kemudian setelah Pangeran Riana menganggukan kepala, Yuki tanpa ragu langsung masuk ke dalam pintu penghubung.


__ADS_2