
"Apa Kau baik-baik saja" Tanya Pangeran Sera merasa cemas. Dia meletakan sendoknya dan mencondongkan tubuhnya mendekati Yuki. Menarik tangan Yuki yang masih menggosok matanya dengan air mata di pipi.
"Pedih" renggek Yuki lirih seperti anak kecil.
"Biarkan Aku melihatnya" perlahan Pangeran Sera membuka mata Yuki yang terpejam dengan hati-hati. Lalu membersihkan dengan kain bersih, dan untuk memastikannya. Pangeran Sera meniup mata Yuki lembut.
"Ya sudah agak mendingan" jawab Yuki sembari menggeser duduknya untuk memberi jarak dengan Pangeran Sera. "Terimakasih Pangeran"
"Akan kubuka kerang ini untukmu" Setelah memastikan Yuki baik-baik saja, Pangeran Sera mengambil kembali piring milik Yuki. Dia mengupas kerang dengan mudah menggunakan tangan. Meletakan di piring kosong yang ada di depan Yuki.
"Sekarang makanlah, tapi hati-hati. Gunakan mulutmu untuk merasakan makanan bukan dengan matamu" sindir Pangeran Sera.
Yuki langsung mencembik di buatnya. Tapi meski begitu, Dia tetap mengambil kerang di piringnya dengan sendok dan mencicipinya.
"Ini enak sekali" Seru Yuki tidak percaya. Dia memasukkan kembali kerang ke mulutnya dengan perasaan senang.
"Kau senang ?"
"Ya" jawab Yuki puas.
Pangeran Sera tersenyum. "Kalau begitu makanlah yang banyak, Aku akan mengupaskan untukmu.
"Terimakasih. Pangeran memang selalu yang terbaik" seloroh Yuki senang.
Sudah delapan hari berlalu. Pangeran Sera cukup baik untuk tidak menyentuh Yuki meskipun Mereka berbagi kamar bersama dan tidur dalam ranjang yang sama. Yuki juga di biarkan bebas berkeliaran di seluruh istana. Dia tidak pernah mengurung Yuki, seperti apa yang Yuki alami selama ini jika Dia berada di istana Pangeran Riana.
Selama itu, Yuki terus berusaha mencari perkembangan terbaru mengenai Pangeran Riana. Tapi hasilnya nihil. Tidak ada satu orangpun mengetahui keberadan Pangeran Riana sekarang. Pangeran Sera dengan tegas telah memeperingatkan orang-orangnya untuk tidak membahas apapun mengenai negeri Garduete di depan Yuki.
__ADS_1
Yuki semakin cemas. Dia tidak tahu apakah Pangeran Riana baik-baik saja. Dia menghilang seperti di telan bumi. Tidak ada seorangpun yang mengetahui keberadannya. Atau apakah Dia baik-baik saja atau tidak.
"Yuki, apa saja yang Kau lakukan hari ini ?" Tanya Pangeran Sera ketika Dia usai mandi dan bersiap untuk tidur. Yuki sedang duduk bersandar di kepala tempat tidur sembari membaca buku yang di letakan di atas pangkuan.
Pangeran Sera menghampiri Yuki sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Tidak ada yang menarik. Aku sibuk membaca buku di dalam kamar" Kata Yuki tersenyum tenang. Untuk mengisi waktu, Para Pelayan memberikan Yuki bacaan ringan di dalam kamar.
"Apa isinya menarik ?" Tanya Pangeran Sera lagi. Dia beringsut duduk di pinggir tempat tidur, di samping Yuki.
"Ya, cukup menarik" jawab Yuki lagi dengan acuh.
Pangeran Sera mengulurkan tangan untuk menggengam lembut tangan Yuki. Meremasnya ringan hanya untuk menarik perhatian Yuki dari bukunya. Yuki mendongak dan menemukan Pangeran Sera memandangnya tenang. "Apa telah terjadi sesuatu di Istana?"
Yuki terdiam. Mereka masih saling bertatapan. Yuki tidak bisa menebak apakah Pangeran Sera sudah mengetahuinya atau tidak. Pangeran Sera terus menatap Yuki dalam, seolah mampu membaca pikiran Yuki.
Awalnya, Yuki sama sekali tidak pernah menduga. Dia hanya berpikir semua perasaan tidak nyaman yang di rasakan hanyalah respon dari pikiran alam bawah sadarnya. Tapi tampaknya Dia salah. Tanpa sebab yang jelas, sebagian besar Putri yang sering berkunjung di istana Pangeran Sera menunjukan sikap permusuhan yang jelas pada Yuki.
Yuki tidak tahu apa salahnya sampai Mereka begitu membenci Yuki. Dia sudah mencoba bersikap baik tapi kebencian Mereka sangat kuat. Akhirnya Yuki memilih diam.
Dia tidak berani mengatakan kepada Pangeran Sera, karena Dia tidak ingin menambah masalah bagi Pangeran Sera. Yuki mencoba menyembunyikan dan memedam semuanya sendiri. Bersabar menghadapi para Putri yang terus menindasnya dengan perkataan yang menyakitkan hati. Mereka memperlakukan Yuki seperti orang yang tidak berpendidikan. Bersikap semena-mena merasa diri Mereka benar.
Seperti pagi ini, seusai sarapan. Yuki mengantarkan Pangeran Sera sampai halaman depan. Pangeran Sera akan ke istana kerja untuk membantu urusan pembantuan di perbatasan. Setelah rombongan Pangeran Sera keluar gerbang istana, Yuki berjalan kembali ke kamar. Di tengah perjalanan Dia tidak sengaja bertemu dengan rombongan Putri Bangsawan yang baru saja berjalan dari taman tengah.
"Pangeran Kita tidak mungkin menjadi buta jika tidak di guna-guna. Bagaimana bisa Dia memilih seorang wanita yang tidak jelas pendidikannya untuk menjadi istrinya" sindir seorang Putri dengan suara cukup keras untuk di dengar Yuki.
"Aku dengar dulu Dia mengencani seorang Bangsawan yang menganut ilmu hitam. Mungkin dari Bangsawan itu Dia mendapatkan ilmu untuk mengguna-gunai Pangeran Sera"
__ADS_1
"Menjijikan sekali wanita seperti itu. Dia hanya memanfaatkan wajahnya yang cantik untuk memperoleh niat busuk kepada Pangeran Kita. Apa bagusnya wanita yang tidak setia seperti Dia, Pangeran Riana dari Garduete sudah mengumumkan dirinya sebagai calon ratu. Tapi Dia tetap saja menebar pesona kepada laki-laki lain bahkan menggunakan ilmu hitam untuk memikat laki-laki tersebut"
"Wanita murahan tidak tau diri namanya"
Yuki mempercepat langkahnya. Dia tidak ingin mencari masalah. Jadi Dia memutuskan untuk segera pergi sebelum kesabarannya habis.
"Ketika Pangeran Riana menidurinya, Dia bertingkah seperti gadis polos yang menderita di depan Pangeran Sera. Benar-benar licik"
"Tidak mungkin Pangeran Riana memaksanya tidur bersama. Pasti Dia yang menggoda Pangeran Riana terlebih dahulu. Bakat yang menurun dari Ibunya yang penggoda"
"Sungguh liar"
Tawa para Putri terdengar nyaring. Membuat kuping Yuki panas. Dia bisa tahan jika dirinya yang di hina. Tapi Dia tidak terima jika ibunya di jelekkan. Jadi, Yuki menghentikan langkah dan berbalik menghampiri para Putri yang berjalan berlawanan arah di belakangnya. Mengabaikan larangan seorang pelayan senior yang berusaha menahannya agar tidak memperdulikan omongan para Putri Bangsawan.
"Tunggu sebentar, Aku ingin berbicara dengan Kalian"
Yuki menghentikan langkah Para Putri Bangsawan. Dia memandang Mereka dengan berani.
"Aku ingin tahu siapa yang kalian bicarakan barusan"
"Kami tidak tahu maksudmu" jawab seorang Putri acuh. Dia berbalik dan ingin pergi dengan gaya angkuh. Yuki memegang bahunya tapi Dia segera menepis. Dengan ekpresi jijik, Dia mengelap bahunya yang di pegang Yuki dengan sapu tangan.
"Aku yakin Kalian tahu. Aku masih bisa terima jika Kalian menjelekkanku. Tapi Aku tidak akan tinggal diam jika Kalian membawa-bawa Ibuku" Kata Yuki tegas. "Aku tidak tahu kenapa Kalian begitu membenciku. Jika memang ada masalah, Kenapa Kalian tidak menegurku secara langsung" tuntut Yuki berusaha mengkonfrontasi secara langsung.
"Kau ingin tahu apa salahmu...salahmu adalah datang kemari. Kau ini tidak di terima di sini, jadi untuk apa Kau datang. Kau sangat menganggu"
"Putri Yuki adalah tunangan Pangeran Sera. Kalian harus bersikap sopan padanya" tegur pelayan senior yang mengikuti Yuki.
__ADS_1