Morning Dew

Morning Dew
199


__ADS_3

Yuki mengatupkan rahangnya. Tapi Dia tidak berjalan pergi menjauhi Pangeran Sera. Pangeran Sera melepaskan pegangan tangannya pada Yuki untuk mengambil belati di pinggangnya.


Yuki menatap lurus ke arah api suci. Pangeran Sera menggoreskan ibu jarinya ke belati. Darah mengalir keluar. Dengan tenang Dia meneteskan darahnya ke api suci.


"Aku Sera Madza, Ksatria dari Argueda. Putra Raja Jafar. Bersumpah, bahwa anak yang di kandung Putri Yuki adalah anak dari perwaris tahtah negeri Garduete"


Darah menetes ke dalam tungku. Dalam waktu sekejap. Tercium aroma wangi yang menyebar ke seluruh ruangan.


Wajah semua orang pucat pasi. Raja Bardhana duduk bersandar dengan raut wajah kebingungan. Ibu Suri menangis dalan diam.


Wangi itu masih tercium. Menusuk ke dalam hidung. Menyuarakan kebenaran yang tidak terbantahkan kepada semua orang.


"Aroma ini, Apa Kau bisa menciumnya sekarang Riana ?. Ini adalah kebenaran yang dengan lantang di ucapkan Yuki sebelumnya. Dan Kau memilih tidak mempercayainya" ujar Pangeran Sera sambil menatap Pangeran Riana lurus. "Yuki, Dia begitu menjaga dirinya selain denganmu. Dia tidak pernah mengizinkanku untuk menyentuhnya seperti Kau selama ini. Apa sekarang Kau sudah puas Riana ?" Tanya Pangeran Sera lagi kepada Pangeran Riana yang masih terdiam.


Yuki memalingkan wajahnya. Buliran air mata jatuh membasahi pipinya. Pangeran Sera langsung mundur dan memeluk Yuki untuk menenangkan.


"Aku membunuh cucuku sendiri" Kata Raja tergugu.


"Kasihan sekali negeri ini. Calon Ratunya sudah mengandung anak yang mungkin akan menjadi calon penerus tahtah selanjutnya. Namun hanya karena gosip murahan, Dia malah di gugurkan" ujar Pendeta Naru dengan nada mengejek.


"Aku akan membawa Yuki ke negeriku" kata Pangeran Sera tenang. Yuki mendongak kaget. Menatap Pangeran Sera tidak percaya dengan pendengarannya.


"Ikutlah denganku Yuki. Kau bisa membuka lembaran baru di sana" bujuk Pangeran Sera dengan wajah serius.


Yuki menganggukan kepala pelan. Dia sudah tidak punya alasan untuk bertahan di negara ini. Dia sudah tidak apapun. Semua sudah hancur berkeping. Yuki sudah tidak bisa tinggal di sini. Ini bukanlah tempat Yuki lagi.


"Tidak bisa, Putri Yuki adalah calon ratu negeri ini. Anda tidak bisa membawanya pergi" tolak Pendeta Serfa langsung.


"Kalau begitu, Aku melepaskan posisiku sebagai Calon Ratu Negeri Garduete" kata Yuki dengan keyakinan penuh. 


Terdengar helaan nafas Bangsawan Voldermont. 


"Yuki.." panggil Raja Bardhana terkejut.


"Yang Mulia Raja dan Pendeta Serfa, Kalian jangan khawatir. Kalian tahu Aku bisa melepaskan posisi itu. Jadi Pangeran Riana bisa menikah dengan siapapun yang Pangeran inginkan. Dan Aku, bisa pergi dengan tenang meninggalkan Negeri ini.


Yuki sudah memutuskan. Dia yakin akan pilihannya. Dia sudah mengalami banyak kepahitan di negeri ini. Memberi Pangeran Riana kesempatan ?. Yuki sudah memberikan banyak kesempatan kepada Pangeran Riana. Tapi Dia memilih tetap tidak mempercayai Yuki dan menggugurkan kandungan Yuki.


"Bagaimana bisa Kau berpikir seperti itu Yuki ?"


"Maafkan Aku Yang Mulia, tapi ini adalah keputusanku. Meskipun sekarang Kalian mengurungku, tapi keputusanku sudah bulat. Aku akan tetap berdoa kepada Dewa untuk mengabulkan permohonanku. Dan tidak ada satupun dari Kalian yang bisa mencegahnya"

__ADS_1


"Kalau begitu, Kami permisi Yang Mulia" ujar Pangeran Sera sembari mengulurkan tangan pada Yuki. Yuki segera menyambutnya. Membiarkan Pangeran Sera menggandengnya. Membawanya pergi meninggalkan kepahitan di belakangnya.


"Apa Kau akan tetap pergi meski Aku memohon padamu supaya tinggal Yuki"


Yuki menghentikan langkahnya, berpaling dan menatap Ibu Suri yang memandangnya penuh permohonan. Ibu Suri jauh lebih renta daripada beberapa saat lalu. Membuat Yuki ingin berlari dan memeluknya.


 "Maafkan Aku Nenek, Aku tidak bisa. Di sini bukan lagi tempatku" 


Ibu Suri terdiam. Yuki membungkuk memberi hormat. Kemudian mengikuti Pangeran Sera meninggalkan Aula istana.


 


 


Yuki berjalan berdampingan dengan Pangeran Sera dalam diam. menyusuri lorong istana untuk mencapai halaman. Keduanya sibuk dengan pikiran sendiri. Ketika seseorang menarik Yuki dan memaksanya berbalik ke belakang.


Pangeran Riana.


"Kau tidak bisa melakukan itu Yuki. Tetaplah di sini".


Yuki menatap Pangeran Riana dengan bibir terkatup rapat. Kesempatan untuk Pangeran Riana telah habis. Yuki telah kehilangan anaknya. Entah kapan Yuki bisa memaafkan Pangeran Riana. Hatinya seolah mati.


Yuki mengepalkan tangan. Teringat semua tuduhan yang pernah disiratkan Pangeran Riana dalam sorot matanya waktu itu. Meskipun Yuki sudah memberikan penjelasan, tapi Pangeran Riana tidak mempercayainya.


Sekarang, Mereka benar-benar berakhir. Takdir Mereka cukup sampai di sini saja.


Pangeran Riana kembali akan mengejar Yuki. Tapi Pangeran Sera langsung memberi kode kepada kepala pasukan Argueda untuk menghadang. Mencegah Pangeran Riana dengan dingin.


"Terimalah, Dia adalah milikku. Bukan milikmu" ujar Pangeran Sera.


Dia langsung berbalik dan meninggalkan Pangeran Riana yang di hadang oleh Para Prajurit Argueda.


 


 


Ketika Yuki sampai di halaman istana. Bangsawan Voldermont sudah berdiri di samping kereta kuda. Dengan tenangnya Dia menunggu Yuki sambil memandang langit. Ada kantung kertas di tangannya.


"Izinkan Aku" Kata Bangsawan Voldermont pada Pangeran Sera.


Pangeran Sera menganggukan kepala mengerti. Dia meninggalkan Yuki bersama Bangsawan Voldermont untuk berbicara berdua. Masuk ke dalam kereta kuda lebih dulu.

__ADS_1


Yuki berdiri berhadapan dengan Bangsawan Voldermont.


"Jadi...Kau akan meninggalkanku Kucing Kecil ?" Tanya Bangsawan Voldermont membuka pembicaraan.


"Maafkan Aku" kata Yuki menyesal.


Bangsawan Voldermont meraih tangan Yuki dan meletakkan bungkusan Kue ke tangan Yuki. "Aku membelikan Kue kesukaanmu. Makanlah nanti di perjalanan"


Yuki menerima bungkusan Kue dari Bangsawan Voldermont.


"Terimakasih" jawab Yuki lirih.


"Istana akan sepi tanpamu. Aku tidak punya lagi mainan yang bisa ku ganggu sekarang". Seloroh Bangsawan Voldermont dengan nada sedih yang di buat-buat. 


Yuki langsung menonjok Bangsawan Voldermont di dada. Bangsawan Voldermont mundur selangkah, meringis. Pura-pura kesakitan.


Mereka tertawa sesaat. Kemudian terdiam.


Inilah saatnya. Yuki tidak bisa membendung air matanya. Dia menangis. Yuki harus pergi.


Bangsawan Voldermont merentangkan tangannya. Yuki langsung menghambur ke pelukan Bangsawan Voldermont. Dia sudah menjadi teman yang baik untuk Yuki selama ini.


"Aku pasti akan sangat merindukanmu kucing kecil. Kau harus menjaga dirimu dengan baik" bisiknya di telinga Yuki. Membuat Yuki semakin terisak. "Apa Kau mengerti ?"


Yuki menganggukan kepala. Tidak mampu menjawab dengan kata-kata. 


"Jika suatu saat nanti Kau membutuhkan bantuanku, Katakan saja. Aku pasti akan datang membantumu. Nanti, Aku akan sering datang mengunjungimu"


"Ya.." kata Yuki dengan suara parau.


Yuki melepaskan diri dari pelukan Bangsawan Voldermont. Dia mengusap air mata di pipinya. Bangsawan Voldermont membantu Yuki membuka pintu kereta. Pangeran Sera mengulurkan tangan. Membantu Yuki untuk masuk dari dari dalam.


"Jaga Dia baik-baik" pinta Bangsawan Voldermont pada Pangeran Sera.


Pangeran Sera menjabat tangan Bangsawan Voldermont. Pintu di tutup. Kereta mulai berjalan perlahan meninggalkan istana kerajaan.


Yuki menatap istana kerajaan dari jendela di dekatnya. Entah kapan Dia bisa melangkahkan kaki kembali. Kisah cintanya tekah usai. Kandas begitu saja dengan luka dalam yang membekas.


Yuki memejamkan mata. Menutup buku yang menceritakan kisahnya dengan Pangeran Riana dalam pikirannya.


Semua sudah berakhir....

__ADS_1


 


 


__ADS_2