
Bangsawan Dalto memberikan bungkusan di tangannya. Yuki menerimanya senang.
Bangsawan Dalto membantu memegangi lengan Yuki, ketika gadis itu berjinjit dengan satu kaki. Melepaskan sepatu yang di kenakannya dan menganti sepatu tanpa hak yang lebih nyaman saat di gunakan.
"Terimakasih, Kau memang yang terbaik" kata Yuki senang ketika Dia selesai menganti sepatunya. Yuki memasukkan sepatu yang sebelumnya ke kantung. Dia menatap Bangsawan Dalto dengan penuh semangat. "Jadi apa yang akan Kita lakukan ?"
Bangsawan Dalto menggelengkan kepala dengan tatapan menyesal. Dia menghela nafas "Maaf Yuki, setelah ini Aku harus pergi. Ada sesuatu yang harus kukerjakan di rumah"
"Apa Aku tidak bisa ikut ?" Tanya Yuki dengan wajah merajuk.
Bangsawan Dalto tersenyum meminta maaf. "Kali ini tidak bisa, tapi sebagai gantinya Aku akan mengajakmu jalan-jalan besok" katanya bersungguh-sungguh membuat wajah Yuki yang awalnya muram kembali berbinar senang.
"Baiklah, sampai bertemu besok" Yuki memutuskan ada baiknya memang Dia tidak pergi. Dia teringat dengan Elber. Keputusan yang buruk jika meninggalkan Elber sendirian.
Bangsawan Dalto tiba-tiba membungkukan badan, Dia mencium pipi Yuki cepat. Yuki diam. Dia terkejut.
"Aku pergi dulu, jangan pulang terlalu malam" Pamit Bangsawan Dalto sembari mengacak-acak poni Yuki. Dia memberi hormat kepada Pangeran Riana kemudian berlalu pergi. Menghilang dalam kegelapan.
Yuki masih terbengong menatap punggung Bangsawan Dalto yang berlari menjauh. Tanpa sadar, Dia menyentuh pipinya yang di cium Bangsawan Dalto. Wajahnya tiba-tiba menjadi merah, Dia merasa malu dan senang sekaligus.
Langkah kaki mendekat ke arah Yuki dari belakang punggungnya. Seseorang menarik paksa tangannya dengan kasar, membuatnya terkejut dan nyaris jatuh.
Pangeran Riana dengan wajah dingin, mencekal pergelangan tangan Yuki dengan kuat dan menariknya untuk mengikutinya pergi ke halaman depan.
Yuki lepas dari rasa terkejutnya, Dia memberontak berusaha melepaskan diri. Bungkusan sepatu di tangannya terjatuh. Yuki tidak sempat mengambilnya karena Pangeran Riana terus saja menarik tangannya. Dia merasa jika Dia sampai terjatuh sekalipun, Pangeran Riana akan tetap berjalan dan menyeretnya.
"Lepaskan Aku, Pangeran" pinta Yuki berusaha melepaskan diri. Tapi tenaganya tidak bisa mengimbangi cengkraman Pangeran Riana di pergelangan tangannya.
Yuki dibawa ke dekat kereta kerajaan yang sudah menunggu. Pangeran Riana membuka pintu kasar dan mendorong Yuki untuk segera naik ke dalam kereta. "Masuk" perintahnya dingin.
"Aduh !!" Yuki mengaduh ketika sikunya terbentur pinggir tempat duduk. Pangeran Riana sudah meloncat masuk ke dalam. Seorang penjaga menutup pintu kereta.
Tak berapa lama terasa guncangan saat kereta mulai berjalan.
Yuki mengkeret di sudut kereta, menatap Pangeran Riana ketakutan. Ada banyak emosi negatif di sekitarnya, membuat siapapun merasa tidak nyaman saat hanya berduaan dengannya.
__ADS_1
Pangeran Riana menatap Yuki dengan sorot mata yang sukar ditebak.
"Apa hubunganmu dengan Dalto ?" Tanya Pangeran Riana mengejutkan Yuki.
Kenapa Pangeran Riana peduli dengan siapa Dia berhubungan ?. Dia bukan satu dua kali bertemu dengan Pangeran Riana. Tapi, Pangeran Riana selalu acuh padanya dan terkesan menyepelekan keberadaan Yuki.
Lantas kenapa Dia tiba-tiba berubah ?
"Jawab Aku!" Perintah Pangeran Riana lagi dengan lebih tegas karena Yuki tidak juga menjawab.
Yuki ditarik dengan keras kearah Pangeran Riana, wajahnya nyaris menabrak dada Pangeran Riana. Yuki dengan cepat menghindar, namun karena Pangeran Riana sudah mencekal kedua tangannya, Dia tidak bisa menjauhi Pangeran Riana.
"Kenapa saat Voldermon menciummu Kau begitu marah hingga menamparnya, tetapi saat Dalto yang melakukannya, Kau hanya diam dengan wajah memerah, katakan padaku apa Kau menyukai Dalto ?"
Yuki tidak menyangka Pangeran Riana akan menanyakan hal ini padanya. Sontak Dia membayangkan kejadian saat Bangsawan Dalto mencium pipinya, wajahnya langsung memerah.
Saat di aula istana Bangsawan Dalto pernah mencoba menciumnya, Yuki berusaha keras untuk tidak memikirkan kejadian tersebut. Dia tidak mau terlalu besar kepala menyangka Bangsawan Dalto menyukainya.
Tapi....
"Jawab Aku !!" Pangeran mencengkram pipi Yuki dengan kedua tangannya. Yuki tersentak dari lamunannya. Dia berusaha keras untuk melepaskan diri dari Pangeran Riana yang terus menekannya.
"Lepaskan Aku, ini bukan urusanmu" Yuki menepis tangan Pangeran Riana dengan kasar. Melepaskan cengkraman di pipinya. Mati-matian Dia berusaha menahan rasa takut. Dia harus tenang dan jangan panik.
"Tentu saja ini urusanku" Bentak Pangeran Riana dingin. Dia kembali memalingkan wajah Yuki untuk menatapnya dengan kasar. "Dengar, Mulai hari ini Kau adalah kekasihku apa Kau paham"
"Tidak" Yuki langsung menolak dengan tegas. "Aku tidak mau"
Pangeran Riana semakin marah mendengar penolakan dari Yuki.
Semua wanita yang Dia temui sebelumnya justru menawarkan diri untuk menjadi wanitanya. Tapi gadis di depannya ini, Dia dengan lantang berani menolaknya tanpa harus berpikir lagi.
"Kalau begitu Kau ingin Ayahmu digantung ?"
"Tidakk !!"
__ADS_1
Perkataan Pangeran Riana membuat Yuki gemetaran. Dia tahu, Pangeran sanggup melakukannya. Mengantung Ayahnya dan bahkan semua orang di kediaman keluarga Olwrendho akan terkena imbasnya.
"Kenapa harus Aku" bisik Yuki setelah terdiam beberapa saat. "Kenapa Aku...begitu banyak wanita yang bersedia menjadi wanitamu...tapi kenapa Kau malah memilihku ?"
Yuki menangkupkan kedua telapak tangannya ke depan. Dia menatap Pangeran Riana mengiba. "Aku benar-benar tidak menginginkannya, Aku mohon padamu Pangeran...lepaskan Aku...Hmmmpp"
Yuki tercekat saat Pangeran Riana bukannya melepaskan, malah Dia menciumnya.
Pangeran menarik Yuki mendekat, mencium bibirnya tanpa memberi jeda gadis itu untuk menolaknya. Ciumannya begitu memaksa dan menuntut.
Yuki sangat ketakutan. Dia berusaha mendorong Pangeran Riana. Tapi justru malah membuatnya terdorong ke lantai.
"Jang..Mmmm" Pangeran tidak melepaskan ciumannya. Dia menekan tubuh Yuki yang terbaring di bawahnya. Air liur mengalir di sudut bibir Yuki.
Yuki masih berusaha melepaskan diri, Dia memberontak, mencoba mendorong Pangeran Riana. Tapi tenaganya tidak mampu melawannya.
Dia tidak mau menyerah. Pada akhirnya usahanya berhasil. Dia berhasil mendorong Pangeran Riana menjauh. Dan langsung menampar Pangeran Riana.
Yuki tidak dapat melihat wajah Pangeran Riana dengan jelas karena terhalang air mata. Dia menangis. Kedua tangannya masih di cekal kuat di atas lantai oleh Pangeran Riana.
Keduanya terdiam sampai kereta kuda berhenti. Dari luar terdengar suara prajurit memanggil. "Pangeran, kita sudah tiba di kediaman keluarga Olwrendho"
Mendengar hal itu, Yuki langsung mendorong Pangeran. Dia bangun dan bergegas membuka pintu. Yuki tidak menunggu Prajurit itu membantunya turun. Dia langsung meloncat keluar. Berlari masuk ke dalam rumah dan tidak menengok kebelakang.
Rena yang berdiri di depan pintu terlihat binggung saat melihat keadaan Yuki, apalagi Dia meninggalkan begitu saja kereta kerajaan tanpa memberi hormat terlebih dahulu.
Pangeran menyuruh prajurit menutup pintu kereta. Mereka juga langsung pergi tanpa mengucapkan apapun kepada kepala pelayan keluarga Olwrendho yang datang menghampiri.
Yuki masuk kedalam kamar mandi dan langsung membasuh wajahnya dengan air. Tangannya gemetar. Dia sangat ketakutan dan binggung dengan apa yang terjadi.
Kekasih Pangeran Riana ?.
Apakah Pangeran sedang mabuk saat mengatakannya. Dia sendiri yang mengatakan Yuki adalah gadis kecil. Kenapa tiba-tiba sekarang justru mengangkatnya untuk menjadi kekasihnya ?.
Yuki sama sekali tidak mengerti.
__ADS_1