
Sudah enam bulan berlalu semenjak Yuki kembali ke dunia ini. Tapi Yuki belum juga menemukan pemecahan yang tepat akan masalahnya.
Apa yang di pilih Yuki bukan hanya menyangkut perasaan, tapi nyawa dari dua orang Pangeran dan keutuhan kerajaan.
Yuki belum bisa memilih, kepada siapa Dia akan melangkah.
Akankah Pangeran Riana yang dingin dan misterius bagaikan bulan di malam musim dingin. Ataukah Pangeran Sera yang hangat dan menyenangkan, bagaikan mentari pagi di musim semi yang cerah.
Tidak mudah bagi Yuki untuk menentukan pilihan, terutama jika itu berhubungan dengan nyawa. Banyak nyawa bahkan di dalamnya. Dua orang Pangeran itu memiliki arti yang besar bagi Yuki. Mereka memiliki jasa tersendiri dalam perjalanan Yuki di dunia sana.
Pangeran Riana memiliki jasa yang besar, ketika Yuki di hadapkan dengan kematian ayahnya Perdana Menteri Owlrendho. Dia juga menyelamatkan Yuki dari serangan iblis Balgira. Terus terang, Yuki banyak berhutang nyawa pada Pangeran Riana.
Pangeran Sera, dialah penyelamat Yuki fari kehancuran akibat kematian Bangsawan Dalto. Dia yang membantu Yuki menghadapi kesedihan, yang membuatnya terpuruk dan nyaris gila. Yuki tidak mempunyai keraguan akan cinta yang di berikan Pangeran Sera padanya. Seperti seorang malaikat. Seperti sinterklas yang membawa kegembiraan bagi anak-anak di malam natal. Cintanya pada Yuki begitu besar.
Membuat Yuki merasa sakit jika membayangkan Dia harus menyakiti Pangeran Sera.
Yuki menghela nafas. Berjalan dengan langkah gotai di lorong sekolah. Jarinya memainkan cincin bermata biru es yang melingkari jari manisnya. Pemberian Pangeran Riana, sebelum Yuki kembali ke dunia ini. Cincin yang di pakainya adalah kunci pembuka pintu yang menghubungkan dunia ini dengan dunia asalnya. Tapi juga menjadi segel yang menutup dunia ini dengan dunianya untuk selamanya, begitu Yuki menggunakannya.
Pikiran Yuki di penuhi oleh mimpi yang telah di lihatnya. Semua tampak nyata. Yuki tahu itu bukanlah mimpi biasa. Jika Yuki bermimpi seperti itu, sesuatu yang buruk memang sedang terjadi.
"Apa sekarang waktunya ?" Tanya Yuki lirih pada cincin di jari manisnya. Cincin itu berpendar ringan terkena cahaya matahari yang masuk dari jendela di dekat Yuki.
Yuki bersandar di tembok sekolah. Jam pelajaran olahraga telah usai. Setelah berganti pakaian, Dia tidak langsung kembali ke kelas. Yuki memilih berlama di kamar mandi sekolah yang mulai sunyi. Terdengar dering bel yang menandakan pergantian jam sekolah dari luar.
Pandangan Yuki terus terpaku pada cermin di depannya. Pikirannya terus menimbang, mencoba meyakinkan dirinya apakah Dia siap untuk kembali atau tidak ke dunia asalnya.
Kembali ke sana berarti meninggalkan dunia tempatnya lahir dan besar untuk selamanya. Meninggalkan kehidupannya, impiannya dan teman-temannya.
Apakah Yuki mampu untuk melakukannya ?.
Yuki tidak bisa melewatkan mimpi yang baru saja di alaminya. Dia masih ingat dengan jelas bagaimana Ratu Warda yang berbaring lemah di pangkuan Putri Magitha. Nafasnya terputus-putus dan sangat menderita. Begitu pula dengan ekpresi ketakutan dari Putri Magitha, Yuki tidak bisa mengabaikan itu semua. Dia tidak tega membiarkan Putri Magitha dan Ratu Warda mengalami penderitaan seperti itu.
Yuki menghela nafas, keputusan sudah di ambil. Dengan tekad bulat, Yuki meraih handphonenya untuk menghubungi Bibi Sheira. Bibi Sheira menjawab pada dering pertama.
"Bibi..."
__ADS_1
Yuki perlahan menceritakan mengenai mimpi yang di alaminya. Dan juga keputusan Yuki untuk kembali ke dunia asalnya. Bibi Sheira mengerti, Dia berjanji akan mengurus segala keperluan Yuki. Bahkan Bibi Sheira langsung menelephone Phil untuk segera pulang jika tidak ada operasi.
Sekarang, siap tidak siap, Yuki harus kembali ke dunia itu.
Yuki mengakhiri panggilan telephonenya. Memasukkan kembali ke dalam saku seragamnya. Berdiri sesaat dalam diam sebelum akhirnya Dia memutar kran di wastafel yang ada di depannya. Menunduk untuk membasuh wajahnya dengan air mengalir.
Tidak ada yang perlu di sesali.
Yuki berusaha menguatkan hatinya.
Bibi Sheira telah menelephone sekolah sehingga Yuki dapat kembali lebih awal. Setelah berganti pakaian dan mengambil tas di kelas. Yuki menuju lokernya untuk mengambil beberapa barang yang berharga ke dalam tas. Sisanya biar Bibi Sheira nanti yang akan membereskannya.
"Kau akan pergi lagi ?" Yuki berbalik dan terkejut ketika melihat Raymond sudah berdiri di belakangnya.
Raymond menatap Yuki dengan pandangan yang sukar untuk di jelaskan. Ada kesedihan di matanya, membuat Yuki tidak mampu berkata apa-apa.
"Ada apa Raymond ?" Tanya Yuki berpura-pura tidak mengerti maksud perkataan Raymond.
"Kau akan pergi kemana Yuki ?"
Ada penekanan yang aneh, yang di ucapkan Raymond pada Yuki.
"Kapan Kau akan kembali ?"
Gerakan Yuki terhenti ketika Raymond menarik tangannya. Yuki akhirnya mendongak. Menatap Raymond dengan pandangan penuh simpati padanya.
Yuki adalah seorang Ciel. Jika ada yang jatuh cinta pada seorang Ciel, Dia akan mencintai seumur hidupnya. Yuki yakin Raymond adalah salah satunya. Hal itu membuat Yuki semakin merasa bersalah padanya.
Sebenarnya Yuki punya pilihan lain dalam hidupnya jika Yuki mau. Dia juga terus memikirkan kemungkinan itu.
Kembali bersama dengan Raymond dan tidak akan kembali ke dunia asalnya.
Tapi Yuki tidak setega itu melibatkan Raymond dalam bahaya. Pangeran Riana tidak mungkin membiarkan Mereka begitu saja. Bisa-bisa Dia malah menyakiti Raymond atau malah membunuhnya.
"Aku tidak tahu" jawab Yuki akhirnya.
"Apa maksudmu tidak tahu ?" Tuntut Raymond tidak puas.
__ADS_1
Yuki menghela nafas sesaat. "Mungkin Kita tidak akan pernah berjumpa lagi Raymond"
Hening
Yuki dan Raymond saling bertatapan dalam diam.
"Apa Kau akan pergi bersama Pria itu ?" Tanya Raymond kemudian mengejutkan Yuki. "Aku sempat melihatnya ketika Kita berada di rumah kaca. Pria itu menarikmu dengan paksa menuju lubang aneh. Setelah itu Kau kembali menghilang tanpa jejak selama delapan bulan"
"Ya" bisik Yuki akhirnya. Dia masih tidak tahu harus mengatakan apa. Semua kata di dalam mulutnya seolah terkunci rapi.
"Diakah Pria yang telah bersamamu ?"
"Ya"
"Apakah Kau mencintainya ?"
Apakah Aku mencintai Pangeran Riana ?.
Yuki tidak tahu jawabannya. Berulang kali Dia bertanya pada dirinya sendiri, tapi Yuki masih tidak mengerti. Memang Yuki merasa perasaan nyaman dan aman saat bersama Pangeran Riana. Ketika Pangeran Sera membawanya ke Argueda, Yuki merasa perasaan bahwa Argueda bukanlah rumahnya. Bukan tempat seharusnya Dia berada.
Yuki merasa bahagia yang amat sangat ketika Pangeran Riana membawanya kembali ke Garduete.
Apakah itu yang di namakan cinta ?. Yuki belum bisa memahaminya dengan benar.
Raymond melihat keraguan di mata Yuki. Jadi Dia kembali bertanya "Kau masih belum tahu apakah Kau mencintainya atau tidak ya ?"
"Iya"
"Tapi meski Kau tidak yakin Kau mencintainya, Kau akan tetap pergi ke tempatnya ?"
"Ada seseorang yang harus Aku selamatkan"
"Seberapa penting orang itu untukmu ?"
"Sangat penting. Dia adalah keluargaku" jawab Yuki lagi kini tanpa keraguan. Membuat Raymond terdiam.
__ADS_1
"Jadi, ini terakhir kali Kita bertemu ?" Tanya Raymond lirih dengan suara bergetar.