Morning Dew

Morning Dew
128


__ADS_3

"Tapi.."


"Tidak ada waktu untuk saling berdebat" hardik Yuki tegas. Memotong ucapan perawat istana dengan berani. "Banyak hal bermanfaat yang dapat Kita lakukan di sini. Semakin banyak tenaga semakin banyak yang tertolong"


"Baik Putri" kata Perawat istana tidak berani lagi membantah.


Yuki kembali berpaling. Dengan tenang Dia melanjutkan kembali pekerjaannya. Kakek Tua yang mendengar pembicaraan Mereka, sampai tidak berani bergerak. Dia nyaris pingsan karena tidak menyangka, wanita yang sedang membungkuk untuk membersihkan kakinya dari belatung adalah wanita yang akan menjadi ratunya kelak.


"Aku telah memberi pertolongan pertama. Selanjutnya tabib akan memeriksa lebih seksama kesehatan Kakek" ujar Yuki sembari membebat kaki Kakek dengan perban setelah sebelumnya Dia menaburkan obat ke atas lukanya. "Untuk sementara Kakek akan susah berjalan. Jika butuh bantuan untuk ke kamar kecil dan sebagainya. Kakek bisa minta bantuan para penjaga atau perawat yang berjaga" 


"Baik..Baik Putri" ujar Kakek Tua tergagap. Dua orang perawat pria datang dengan membawa tandu. Mengangkat Kakek Tua menuju tenda perawatan. Yuki membereskan perlengkapan dan membersihkan tikar yang di gunakan Kakek tua agar bisa di gunakan untuk pasien lainnya. Kemudian Dia berpindah ke pasien selanjutnya yang telah menunggu untuk di tangani.


Sementara itu kereta yang membawa korban dari tempat bencana datang. 


Yuki tidak tahu berapa banyak pasien yang telah di tanganinya. Semua datang silih berganti. Pangeran Riana masuk ke tenda pengobatan ketika Yuki baru saja selesai membebat kepala seorang anak kecil yang terluka. Pakaian Pangeran Riana sangat kotor. Penuh dengan lumpur. Dia segera menghampiri Yuki. 


"Apa Pangeran terluka ?" Tanya Yuki terkejut ketika melihat penampilan Pangeran Riana. 


"Tidak. Tapi sudah cukup untuk hari ini. Kau bisa melanjutkan besok" ujar Pangeran Riana sembari mencekal tangan Yuki dan memaksanya untuk mengikutinya.


"Tapi masih banyak yang terluka" bantah Yuki mencoba bertahan.


"Para perawat akan melakukan tugasnya. Mereka cukup profesional" 


Yuki terkejut ketika keluar tenda, Dia mendapati hari sudah malam. Karena sibuk bekerja di dalam, Dia nyaris tidak menyadari waktu berlalu begitu cepat.


Mereka masuk ke dalam tenda khusus yang di bangun untuk Mereka berdua. Saat di dalam tenda, Yuki baru merasakan tubuhnya lemas sampai gemetaran. Dia hanya makan sepotong roti diperjalanan menuju ke sini subuh tadi. Setelah itu Yuki nyaris tidak makan apapun. Dia hanya minum air putih yang di sediakan di meja tempat Dia bekerja menangani pasien. 

__ADS_1


Yuki membersihkan dirinya di kamar mandi darurat dan berganti pakaian. Setelah selesai Dia kembali masuk ke dalam tenda. Pangeran Riana sudah menunggu. Dia juga sudah selesai menganti pakaiannya.


Para pelayan masuk dan membawakan Mereka makanan. Yuki langsung makan dengan lahap. Meskipun makanan yang di hidangkan tidak semewah makanan istana. Yuki bersyukur Dia masih bisa mengisi perutnya hari ini.


Buku-buku jarinya sakit karena dipakai bekerja. Seharian Dia memegang gunting dan kasa untuk mengobati pasien.


Baik Yuki maupun Pangeran Riana tidak banyak bicara. Setelah makan, Yuki berbaring di samping Pangeran Riana. Keduanya tidur dengan cepat karena kelelahan.


Banyak pekerjaan yang menunggu Mereka esok hari.


Seminggu setelah bencana. Keadaan jauh lebih baik dari sebelumnya. Pencarian korban masih di lakukan, dan pemakaman bagi korban yang tewas sedang berjalan. Kota Balweri dan daerah yang terdampak mulai di bersihkan. 


Penduduk yang selamat saling bergotong royong untuk mencari korban lain atau membantu di perkemahan bantuan. Mereka mengumpulkan pakaian layak pakai, selimut dan perkakas rumah tangga yang masih bisa di gunakan dari puing-puing bangunan.


Ada pula yang membantu mencari bahan pangan di hutan untuk menambah pasokan makanan.


Yuki berdiri di antara pakaian yang di bentangkan di seutas tali. Bersama dengan beberapa wanita, Mereka menjemur pakaian yang telah di cuci kelompok lain di dekat sungai. 


"Tampaknya Kau menyesuaikan diri dengan baik di sini"


Yuki yang sedang menjemur pakaian berbalik, dan menemukan Pangeran Riana sudah berdiri di belakangnya.


"Pangeran mau kemana ?" Tanya Yuki ketika melihat penampilan Pangeran Riana. 


"Aku akan pergi ke pesisir untuk melihat kondisi di sana"


"Baiklah, Berhati-hatilah selama di sana" 

__ADS_1


"Yuki.."


Pangeran Riana mendekat dan langsung menarik pinggang Yuki untuk mendekat. Semua orang yang berada di sekitar Mereka langsung menundukkan kepala, pura-pura tidak melihat. Yuki sangat panik, Dia berusaha melepaskan pelukan Pangeran Riana.


"Apa yang Pangeran lakukan ?. Apa Pangeran tidak malu di lihat orang banyak seperti ini" bisik Yuki panik. 


Pangeran Riana tidak peduli. Dia memegang tengkuk Yuki dan langsung mencium bibir Yuki. Yuki berusaha mendorong Pangeran Riana menjauh, tapi Pangeran Riana selalu tidak terbantahkan. Dia mencium Yuki mesra. Saat Pangeran Riana akhirnya melepaskan Yuki, Yuki terhuyung mundur dengan wajah memerah.


"Terimakasih sudah peduli dengan rakyatku" ujar Pangeran Riana membuat Yuki yang mendengarnya tertegun. Pangeran Riana tulus saat mengatakannya. Yuki sampai tidak bisa berkata apa-apa. Pangeran Riana mengulurkan tangannya dan mengelus pipi Yuki dengan lembut. Kemudian berbalik pergi meninggalkan Yuki yang berdiri mematung di tempatnya, Dia merasa binggung dengan perubahan sikap Pangeran Riana yang mendadak.


Yuki selesai menjemur pakaian. Dia memutuskan untuk mengecek dahulu keadaan di tenda perawatan, kemudian beristirahat sebentar sambil makan siang di tendanya. 


Dia berjalan seorang diri, beberapa orang duduk mengobrol di dapur umum sembari memasak makan siang untuk semua orang. Yuki menyapa Mereka semua sambil lalu. Berbelok di belakang tenda anak, untuk mengambil jalan pintas ke tenda perawatan. Karena ada anak yang menangis hingga menganggu anak lain beristirahat, Yuki memutuskan untuk mengendongnya dan menenangkannya terlebih dahulu di luar tenda. Dia sedang berdiri seorang diri di tempat yang sunyi ketika terdengar suara familiar yang memanggil namanya dari balik pohon.


"Yuki.." 


Yuki memalingkan wajah terkejut. Pangeran Sera muncul di balik pohon. Yuki langsung menengok ke kanan dan ke kiri dengan panik untuk melihat situasi. Beruntung saat ini Dia sendirian. Tidak ada orang lain yang melihat Pangeran Sera. Bergegas Yuki berlari menghampiri Pangeran Sera dengan perasaan cemas. Menariknya untuk kembali bersembunyi.


Yuki tidak percaya Pangeran Sera akan senekat ini. Muncul di perkemahan di siang hari secara tiba-tiba. Mengejutkan Yuki. Yuki sangat takut jika Pangeran Riana mengetahui Pangeran Sera datang ke perkemahan, akan terjadi konflik dan ketegangan di antara kedua negara kembali terjadi.


Tapi Pangeran Sera justru tampak tenang.


"Kenapa Pangeran ada di sini ?" Tanya Yuki tidak percaya.


"Tsunami ini juga menerjang wilayahku. Aku ikut membantu di sana" jawah Pangeran Sera kalem sembari menunjuk ke arah barat, di daerah perbukitan yang di tumbuhi pohon-pohon besar. Tidak jauh dari lokasi perkemahan kerajaan Garduete.


Yuki memeluk anak perempuan berusia dua tahun dalam gendongannya yang sudah mulai tenang. Anak perempuan itu terkantuk-kantuk di bahu Yuki. Dia mencengkram pakaian Yuki kuat, seolah takut Yuki akan pergi meninggalkannya. Matanya sembab karena terus menangis mencari ibunya.

__ADS_1


Suatu mukzizat anak perempuan ini di temukan selamat. Dia mengambang seorang diri di atas papan oleh pasukan Garduete. Ibunya selamat, tapi mengalami cidera serius dan masih dalam perawatan. Sementara Ayahnya ikut rombongan Pangeran Riana mencari korban lain, termasuk anaknya yang belum di ketemukan sampai sekarang.


 


__ADS_2