Morning Dew

Morning Dew
234


__ADS_3

Namanya adalah Yuki Orrie Olwrendho. Sekitar tujuh tahun yang lalu, Dia untuk pertama kalinya di bawa ke dunia ini oleh Pangeran Riana (Baca : Morning Dew Series season satu).


Di dunia ini Dia mengalami banyak hal. Salah satunya adalah kebangkitan iblis Balgira, jelmaan dari Kakek Bangsawan Dalto yang merupakan sahabat baik Yuki ketika itu. Balgira berhasil meminum darah Yuki dan membuatnya nyaris mati.


Yuki yang tadinya hidup sebagai gadis biasa. Mendadak di hadapkan dengan perubahan yang terjadi di sekitarnya. Dia di hadapkan dengan kehidupan kerajaan sebagai seorang Putri dari Perdana Menteri di kerajaan Garduete. 


Tanpa di duga, Yuki adalah calon ratu yang di tunjuk dewa untuk mendampingi Pangeran Riana. Sedangkan di sisi lain, Putri Ransah ibunya sudah menjodohkan Yuki dengan seorang Pangeran perwaris tahtah dari Kerajaan Argueda, Pangeran Sera namanya.


Yuki telah melalui banyak luka dan air mata dalam kisah itu. Sehingga Dia akhirnya memutuskan untuk pergi dan menghilang dari kehidupan kedua Pangeran itu. 


Tepat ketika Dia berada di perjalanan bulan madunya bersama dengan Pangeran Sera. Di tengah laut yang luas, di atas kapal kerajaan Argueda yang sedang melaju untuk kembali ke Argueda. Yuki meminta Lekky untuk membawanya pergi bersama Lekky.


Semenjak itu, Yuki menyembunyikan identitasnya dan mengganti namanya menjadi Alnaira. 


Lima tahun berlalu...dan semua sudah berubah. Tapi Yuki merasa lima tahun tidak ada artinya sekarang. Perasaannya kebas. Ada sesuatu di dalam dirinya yang berusaha Dia simpan rapat, seolah memberontak keluar untuk membebaskan diri dari sangkarnya.


Yuki menahan perasaan itu. Berkali-kali mengingatkan dirinya untuk menahan diri. Dia harus sadar bahwa semua telah lama berakhir. Yuki tidak datang kemari untuk mengacaukan hidup kedua Pangeran itu lagi.


Yuki datang kemari untuk menyerahkan dirinya. Dia datang untuk memberikan nyawanya demi menyelamatkan jutaan umat manusia. 


Dia datang untuk menebus semua kesalahannya.


 


 


Yuki masuk ke dalam Aula utama kerajaan Garduete. 


Ketika melangkah ke dalam. Dia langsung mengenali Raja Bardhana yang duduk dengan tenang di singasanannya. Raja Bardhana terlihat jauh lebih tua daripada ketika Yuki bertemu dengannya untuk terakhir kali, Di aula yang sama lima tahun lalu.


Di samping Raja Bardhana, ada Bangsawan Voldermont yang berdiri dengan setia di dekatnya. 


Bangsawan Voldermont masih terlihat flamboyan, namun Dia jauh lebih dewasa dan bergaya. 

__ADS_1


Ada beberapa orang menteri di dalam aula yang duduk dengan tenang di tempat Mereka. Pendeta suci duduk di atas mimbar yang lain, tak jauh dari mimbar Raja Bardhana.


Rambut dan janggutnya panjang sampai ke dada. Berwarna putih. Dia memegang tongkat kayu di tangannya. Pupil matanya sama seperti rambutnya, berwarna Putih. Kabarnya pendeta suci tidak bisa melihat dengan matanya, namun Dia mampu melihat dengan mata bathinnya. 


Yuki membungkuk dengan sopan untuk memberi hormat kepada Raja Bardhana. Kepada Pendeta Suci dan kepada seluruh pejabat kerajaan yang ada di dalam Aula. 


Bangsawan Xasfir masih berdiri dengan tenang di samping Yuki.


"Kau sudah datang anakku ?" Tanya Pendeta suci sambil menatap lurus ke depan. Dia terlihat sangat letih dan rapuh. Yuki kembali membungkuk dengan penuh hormat.


"Maafkan Saya datang terlambat" 


Pendeta itu menganggukan kepala dengan tenang. "Aku mengerti, butuh waktu untuk Kau datang kemari" 


"Semoga Anda sehat selalu Pendeta Suci. Hari ini udara cukup panas meskipun matahari tertutup awan. Tapi tidak mengapa, bukankah dengan adanya awan itu, sinar matahari tidak terlalu menyengat kulit. Bagaimana pendapat anda Pendeta Suci ?" Celoteh Yuki perlahan.


Yuki berharap Pendeta Suci dapat menangkap maksud di balik perkataannya. 


Yuki merasa sangat bersalah padanya. Dia telah menghancurkan hati Pangeran Sera dengan sangat kejam. Jadi bagaimana Yuki bisa datang menemuinya dengan kepala terdongak ?.


"Mendung tidak akan bisa selamanya menutupi matahari anakku. Bahkan Dia bisa menghilang tanpa bisa Kita cegah"


"Aku tahu Pendeta. Hanya sekarang, Rasanya Aku lebih nyaman dengan cuaca yang seperti ini" balas Yuki lagi perlahan.


"Apakah Kita sudah selesai ?"


Terdengar kegaduhan tepat setelah Curly menampakan wujudnya di hadapan orang banyak. Dia muncul begitu saja di samping Yuki. Membuat semua orang terkejut saat melihatnya.


Sontak, Bangsawan Xasfir langsung mencabut pedangnya dan menodongkan ke leher Yuki.


"Mahkluk apa yang Kau bawa ?" Tanya Bangsawan Xasfir berang.


Kendalikan dirimu Curly !! Perintah Yuki mengingatkan sebelum Curly berubah sebesar beruang dan membuat kekacauan di aula kerajaan.

__ADS_1


Curly bersembunyi di belakang Yuki. Menarik kedua telinganya untuk menutupi matanya. Ada sorot ketakutan yang terlihat di sana. Tidak semua orang bisa menerima kehadiran Curly. Yuki sudah memperingatkannya agar tidak sembarangan muncul, tapi Curly mengindahkannya.


"Dia bersamaku" Kata Yuki sambil merentangkan tangan untuk melindungi Curly. Bangsawan Xasfir masih menodongkan pedangnya di leher Yuki. Dinginnya besi terasa di kulit Yuki.


"Dia bersamaku" Kata Yuki lebih tegas. "Singkirkan senjatamu"


"Mereka adalah orang yang ku undang kemari" ujar Pendeta Suci menengahi ketegangan yang tengah terjadi. Bangsawan Xasfir mengernyit. Memandang Curly dengan raut tidak suka.


"Panglima, letakkan senjatamu" perintah Raja Bardhana merespon ucapan Pendeta suci.


Bangsawan Xasfir menarik pedangnya dan memasukkan kembali ke dalam sarungnya. 


"Nona, terimakasih telah datang memenuhi Panggilanku. Kau pasti sangat lelah karena telah menempuh perjalanan jauh untuk datang kemari. Aku tidak akan menganggumu terlalu lama. Kau boleh pergi dan beristirahat" ujar Pendeta Suci tenang seolah tidak pernah ada insiden yang terjadi. Yuki merasa lega karena Pendeta suci mengabulkan keinginannya untuk menyembunyikan identitasnya selama Dia berada di Garduete.


"Terimakasih Pendeta Suci. Terimakasih Yang Mulia"


"Antarkan Nona ini ke tempatnya" perintah Raja Bardhana lagi pada Bangsawan Xasfir.


"Hamba mohon diri" ujar Yuki membungkukan badan dengan sikap hormat. 


Yuki kembali berjalan meninggalkan aula bersama Curly di pundaknya. Mengikuti Bangsawan Xasfir yang berdiri di depannya umtuk memandu Yuki. Di sepanjang jalan keberadaan Curly menjadi pusat perhatian setiap orang yang melihatnya.


 


Bangunan sekolah tempat Yuki pernah menimba ilmu dulu, sekarang sudah beralih fungsi sebagai tempat tinggal sementara bagi para pejuang yang datang dari berbagai penjuru dunia. Yuki akan tinggal di sana bersama yang lain. Kereta melaju cepat begitu Yuki naik ke dalamnya. 


Yuki akan di antar ke sekolah dan mendapatkan kamar yang bisa Dia gunakan, selama Dia berada di Garduete. 


Tidak butuh waktu lama ketika Kereta kembali berhenti di gerbang sekolah. Tidak ada lagi para Bangsawan dan Putri yang bersekolah di sini seperti ketika Yuki pertama kali datang ke sekolah ini. Yang ada, hanya para pejuang dan orang-orang terpilih yang tinggal di dalamnya. Bersliweran di berbagai tempat untuk mengisi waktu Mereka.


Ketika memasuki halaman sekolah. Yuki seperti merasa melihat dirinya yang dulu saat Dia masih berusia lima belas tahun.


 

__ADS_1


__ADS_2