
"terkadang Aku harus menyingkirkan yang ingin ku lindungi untuk mengecoh penyerangku" kata Raja Bardana Puas. "Selama ini Kau sangat membenci ciel, karena melindungi Mereka, ayahmu harus terbunuh. Sayangnya, mulai sekarang Kau justru harus berkerja keras melindungi salah satunya"
"Ciel tidak membuka identitasnya apalagi terhadap seorang raja yang memerintah di suatu negara yang telah membunuh banyak diantara Mereka Yang Mulia" ujar Pendeta Hiro mengingatkan.
"Bukan Aku yang memerintahkan untuk membunuh Mereka, tapi Ayahku"
Pendeta Hiro menatap Raja Bardana tajam. Ekpresinya berubah. "Anda melindungi salah satu Ciel"
"Kalian sangat takut Mereka jatuh di tangan sihir hitam sampai membunuh Mereka semua, hanya karena Mereka memiliki darah Ciel" Raja Bardana menyuarakannya dengan lantang. Dia sekarang tidak perlu berpura-pura. Sekarang, Dia harus memainkan pion caturnya kembali untuk melindungi Negara dan Puteranya.
"Kami melakukan semuanya untuk melindungi Negeri ini"
"Lalu bagaimana jika sekarang Calon Ratu yang dipilih dewa untuk Pangeran adalah seorang Ciel"
Suasana menjadi hening.
"Anggap saja ini untuk penebusan dosa kalian di masa lalu karena telah membunuh Mereka, Kau harus melindungi calon ratu dan Pangeran dengan kekuatanmu. Kau tahu sendiri bagaimana akibatnya jika kerajaan kehilangan calon ratunya, Pendeta, Kau sudah bersumpah melindungi keturunan Raja dengan nyawamu. Sekarang menjadi tanggung jawabmu untuk melindunginya"
"Anda pandai menyembunyikan rahasia" Ujar Pendeta Hiro datar.
"Jika tidak begini kalian sudah membunuhnya semenjak lama" balas Raja Bardana tidak mau kalah.
Pangeran Riana memohon kepada Raja Bardana untuk tidak membunuh para Prajurit yang terhipnotis saat Raja Bardana hendak menjatuhkan hukuman pada Mereka. Mereka terbukti bergerak di luar alam bawah sadar Mereka. Tidak ada satupun dari Mereka berniat mengkhianati Negara. Bahkan banyak di antara Mereka adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan dan kualitas di atas rata-rata.
Untuk melindungi Para Prajurit penjaga di istana Pangeran Riana, Pendeta Serfa membentengi seluruh istana dengan kekuatannya. Siapapun penganut ilmu hitam yang berusaha masuk ke istana Pangeran, Akan merasakan sensasi terbakar yang tak tertahankan. Selain itu, di dalam lapisan pelindung yang di buat Pendeta Serfa, semua jenis ilmu hitam tidak akan bereaksi kepada penghuni di dalamnya.
Pagi ini setelah sarapan, Yuki memutuskan untuk duduk di taman istana. Pangeran Riana tidak melarang Yuki berkeliaran di istana asalkan Dia di kawal secara ketat.
Suasana istana Pangeran Riana sangat sepi. Semenjak penyerangan yang terjadi, Pangeran Riana membatasi orang yang tinggal di istananya. Sedangkan tanpa itu semua, istana Pangeran Riana nyaris seperti istana tak berpenghuni.
Yuki duduk merenung di pinggir kolam. Sementara para pelayan dan penjaga menunggu dengan setia tak jauh darinya. Yuki menatap bayangan di dalam kolam dan berpikir.
Apa hubungannya dengan pemberontakan yang terjadi ?. Kenapa Dia begitu di cari oleh Mereka ?.
__ADS_1
Yuki yakin Dia tidak memiliki rahasia negara atau sesuatu seperti itu. Bahkan, Perdana Menteri Olwrendho sendiri tidak mau terlibat berbagai intrik politik di istana yang merugikan. Seharusnya Mereka tidak berbahaya bagi siapapun.
Yuki hanya gadis kecil yang kini berusia enam belas tahun. Dia tidak mengerti politik. Dia juga tidak tertarik dalam pusara kerajaan. Dia hanya gadis biasa yang di paksa kembali ke dunianya dan kemudian di angkat Pangeran Riana menjadi kekasihnya.
Jika para Pemberontak itu ingin menghancurkan Negeri ini, cukup mencari calon ratu Pangeran Riana bukan Dia.
Yuki mendengar calon ratu Pangeran Riana sudah berada di istana harem wanita Pangeran Riana.
Yuki menghela nafas lelah. Dia merasa penat, meskipun sudah memikirkan seribu kali, Dia masih belum menemukan jawabannya.
"Kau ada di sini rupanya"
Yuki berbalik dan mendapati Bangsawan Voldermon menghampirinya dengan langkah ringan. Dia muncul dari balik pohon. "Aku mencarimu di kamar, tapi para penjaga mengatakan Kau ada di sini. Tumben Riana tidak memasukkanmu ke dalam kandang. Apa Dia lupa ?" Seloroh Bangsawan Voldermont yang membuat Yuki nyaris mengusirnya.
Yuki melirik Bangsawan Voldermont dengan ekpresi malas. "Untuk apa Kau kemari ?"
"Riana yang menyuruhku untuk menjemputmu"
"Apa telah terjadi sesuatu ?" Tanya Yuki cepat. Bahunya tampak tegang. Dia menatap Bangsawan Voldermont cemas.
"Bagaimana Aku bisa tenang" ujar Yuki lagi dengan nada gusar. "Sampai sekarang Aku belum mendapat kabar mengenai keberadaan para pelayan di rumah Ayah yang menghilang"
"Kita sedang menyelidikinya, serahkan saja semua pada Kami". Bangsawan Voldermont mengulurkan tangan untuk menarik lengan Yuki supaya berdiri. "Sekarang hentikan membahas masalah ini, Ayo Kita harus segera pergi, Aku tidak boleh terlambat datang sekarang"
"Kemana ?" Tanya Yuki kebingungan.
Bangsawan Voldermont memutar bola mata. "Tentu saja festival sekolah, Apa Kau lupa"
Yuki terbengong sesaat sebelum sentakan Bangsawan Voldermont di lengannya menyadarkannya.
"Aahh" pekik Yuki tanpa sadar.
Dia benar-benar lupa mengenai festival sekolah karena banyaknya musibah yang terjadi belakangan ini.
__ADS_1
"Kau sudah ingat rupanya" kata Bangsawan Voldermont lagi menarik lengan Yuki kedua kali agar segera berdiri.
"Betapa pikunnya Aku, Aku benar-benar lupa" ujar Yuki menyesal. Dia menepuk dahinya merasa konyol.
Festival sekolah yang sangat Dia nantikan. Dia akan menyesal jika melewatinya.
"Jadi sekarang Kau ingin pergi atau tidak ?" Tanya Bangsawan Voldermont cepat. "Riana tidak bisa menjemputmu karena Dia harus menyambut tamu negara"
"Tentu saja, Tunggu sebentar Aku akan bersiap" jawab Yuki sembari membersihkan roknya dari rumput yang menempel.
"Jangan terlalu lama, Aku serius, Aku tidak boleh terlambat" kata Bangsawan Voldermont kembali mengingatkan.
Yuki tidak menjawab. Dia langsung berjalan kembali ke kekamar untuk bersiap.
Gerbang sekolah telah disulap sedemkkian rupa menjadi lebih indah dan berwarna. Penuh dengan hiasan cantik membuatnya tampak lebih mewah dan elegan. Hasil tangan para Bangsawan yang bersekolah di sekolah ini pantas diacungi jempol.
Di lapangan berkuda, yang lokasinya dekat dengan danau, empat gerbang yang mewakili setiap kerajaan telah berdiri dengan sempurna di tempatnya masing-masing.
Kemeriahan begitu terasa di setiap sudut sekolah. Gerbang sekolah di buka lebar sehingga Rakyat dapat ikut menikmati jalannya festival dan menonton pertandingan.
Bangsawan Voldermon membawa Yuki menuju ruang ganti yang telah disulap menjadi ruang berganti pakaian bagi peserta Festival kerajaan Garduete.
"Aku harus bersiap, Kau tunggu sebentar di sini. Asry akan mengantikanku untuk menjagamu sementara waktu" kata Bangsawan Voldermon sambil mengambil perlengkapannya.
Yuki mengedarkan pandangan ke sekeliling merasa takjub dengan kemeriahan yang terjadi.
"Ingat, jangan kemana-mana. Riana akan membunuhku jika terjadi sesuatu padamu" ujar Bangsawan Voldermont lagi memperingatkan Yuki dengan nada tegas.
Yuki menganggukan kepala mengerti. Bangsawan Voldermont menghela nafas. "Oke, Aku percaya padamu. Untuk hari ini usahakan tidak membuat masalah yang tidak perlu"
Bangsawan Voldermont menuju ruang berganti pakaian khusus untuk Pria. Sembari menunggu Bangsawan Asry datang menjemput, Yuki mengintari ruangan dan menyentuh berbagai perlengkapan pakaian penari dengan wajah terpesona.
__ADS_1
"Ah ketemu, itu Dia" Elber datang bersama dengan dua orang Putri. Mereka memandang Yuki senang.
Yuki balas menatap mereka dengan pandangan tidak mengerti.