Morning Dew

Morning Dew
91


__ADS_3

Bangsawan Dalto menggelengkan kepala, menatap keluar dengan pandangan jijik ketika mengingat Bibinya. Wanita itu seperti duri dalam daging. Dia memang berencana untuk membunuhnya suatu hari nanti. Tapi, Seseorang telah lebih dulu datang dan mengoyak jantungnya. 


Putri Bremandi, Bibinya beberapa kali bertindak seenaknya dan nyaris menghancurkan rencananya. Dia lah yang mendalangi usaha penyerangan rombongan Pangeran Riana di hutan tempo hari. Dia juga yang terus memaksa Bangsawan Dalto untuk segera menangkap Yuki. Yang paling menjengkelkan adalah Dia menggunakan anak yang di kandungnya untuk mendapatkan keinginannya setiap hari.


Jika bukan atas perintah Kakeknya, Bangsawan Dalto tidak akan sudi berhubungan badan dengan Putri Bremadi.


"Bukan Aku yang melakukannya. Tapi wanita tua itu memang mempunyai banyak musuh. Aku tidak heran jika salah satu berhasil membunuhnya" sangkal Bangsawan Dalto masih dengan sikap acuh.


Bangsawan Dalto berbalik, berjalan tenang seperti seorang pahlawan yang memenangkan pertempuran. Mendekati Yuki yang duduk bersimpuh di lantai.


Yuki tidak mempercayai apa yang di dengarnya. Dia tidak percaya sahabatnya yang begitu di percaya adalah dalang dari semua pembunuhan yang terjadi. Hatinya sangat hancur. Dia bahkan tidak mampu menangis. Binggung harus berbuat apa untuk mengungkapkan kepedihan yang di rasakannya.


Bangsawan Dalto menunduk untuk menatap mata Yuki secara langsung. "Taukah Kau ketika Aku berhasil membangkitkan kekuatan gelap itu. Dia masih sangat lemah. Seperti seorang bayi yang tidak bisa di andalkan. Aku harus mencari perawan untuk meningkatkan kekuatannya. Seribu perawan. Pekerjaan yang tidak mudah" kata Bangsawan Dalto tenang. "Tapi keberuntungan kembali berpihak kepadaku. Dia mencium darahmu yang menempel di sapu tangan yang ku gunakan untuk mengelap lukamu tempo hari ketika Kau tertusuk duri mawar di pondok. Saat itulah Aku tahu Kau adalah seorang Ciel. Dengan sedikit darahmu yang menempel di sapu tangan, Dia menjadi pulih dengan cepat dan kembali kuat seperti sedia kala"


Yuki merasa terkejut dan bersalah. Berkat darahnya, begitu banyak orang yang terbunuh. Dia percaya dewa kematian mengikuti langkahnya ketika Dia masuk ke dalam dunia ini.


"Yuki, Aku tahu aku telah bersalah karena membunuh orang tuamu dan para pelayan di kediamanmu. Tapi jika Kau mau memaafkanku dan bekerja sama denganku, Aku yakinkan Kau, Kita akan bisa menguasai seluruh dunia ini. Kau dan Aku sebagai Raja dan Ratu yang menguasai seluruh semesta. Tidak ada yang akan beranni melawan Kita. Kau bahkan bisa membalas dendammu pada kerajaan, khususnya Riana yang telah menghancurkan hidupmu" 


Yuki menggelengkan kepala, menolak dengan tegas tawaran Bangsawan Dalto. "Aku tidak akan mengorbankan orang lain, hanya demi kebencian di hatiku" ucap Yuki tegas. "Pangeran Riana memang telah menghancurkan hidupku. Tapi itu bukan alasan untukku bekerja sama dengan iblis. Dan membunuhi orang lain yang tidak bersalah hanya untuk memuaskan nafsuku"


Yuki menatap Bangsawan Dalto dalam. Mencoba mencari sisa dirinya yang selama ini dikenal. Seorang pemuda yang tetap tegar meskipun hidupnya penuh kemalangan. Pemuda yang selalu tersenyum ramah penuh kebaikkan. Pemuda yang lembut memperlakukan bunga-bunga kesukaan ibunya.

__ADS_1


Semua sudah hilang tanpa bekas dari diri Bangsawan Dalto. Yuki tidak menemukan apapun lagi yang tersisa dari dirinya. Pemuda yang di kenalnya telah lenyap, sekarang berubah menjadi sosok yang hanya di penuhi kebencian dan dendam di hatinya.


"Apa Kau tidak ingin mendapatkan kekuasaan mutlak, di mana semua orang akan tunduk padamu ?" Tanya Bangsawan Dalto lagi meyakinkan jawaban Yuki.


 "kedua orang tua mu mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan umat manusia. Tapi Kau malah menghancurkan usahanya. Apa Kau tidak malu pada Mereka ?" Tanya Yuki balik mencoba menyadarkan Bangsawan Dalto.


"Aku mempunyai tujuan, menguasai dunia dan membersihkan orang-orang munafik seperti Norah dan kawan-kawannya" jawab Bangsawan Dalto tanpa keraguan.


Bangsawan Dalto membenahi jubahnya. Dia memakai tudung di kepala. "Aku memberimu kesempatan terakhir. Putuskan sekarang juga. Kau akan ikut bergabung denganku atau tidak ?"


"Tidak !!" Jawab Yuki dengan lantang tanpa keraguan.


Bangsawan Dalto terdiam sesaat. Menatap Yuki dengan pandangan yang sukar di tebak.


"Jadi itu jawabanmu, sayang sekali. Padahal Aku berharap Kau jauh lebih pintar dari ayahmu Yuki" ujar Bangsawan Dalto dengan nada menyesal.


Dia menepukkan tangannya ke udara dua kali. Pintu terbuka. Dua orang Prajurit istana yang terhipnotis masuk ke dalam ruangan. Tanpa di komando, Mereka menarik Yuki secara kasar agar Yuki berdiri. Mengapit Yuki sedemikian rupa sehingga Yuki tidak bisa memberontak.


Bangsawan Dalto berjalan di depan Yuki, memimpin rombongan. Yuki di paksa untuk mengikuti Bangsawan Dalto oleh dua orang prajurit yang mengawalnya.


"Serfa memblokade kekuatanku di istana. Dia pendeta yang hebat. Aku nyaris menyerah karena tidak menemukan celah untuk menembus blokadenya. Semua kekuatan sihirku di pentalkan olehnya" Bangsawan Dalto bercerita dengan ringan, seolah Dia sedang mengajak Yuki berkeliling ke tempat pariwisata dan menjelaskan mengenai tempat itu seperti seorang pemandu yang profesional. "Akhirnya Aku mempunyai ide untuk memberikan pelayananmu aroma dari ramuan herbal yang memabukkan. Tanpa sihir, sehingga dapat masuk ke istana dengan mudah tanpa terdekteksi oleh Serfa. Aroma itu membuat orang tidak dapat mengendalikan dirinya, memintanya untuk memberikan surat yang di campuri aroma sama kepada mu, alhasil seperti yang ku harapkan. Kau bagaimanapun caranya, akan berusaha kabur dari istana dan menemuiku" Kata Bangsawan Dalto terkekeh puas.

__ADS_1


Yuki akhirnya menyadari, perasaan yang begitu kuat yang ada dalam dirinya setelah membaca surat dari Bangsawan Dalto, Kenekatan yang tidak pernah di temukan dari dirinya sebelum ini. Adalah hasil dari ramuan yang di berikan Bangsawan Dalto.


Bangsawan Dalto berhasil menjebak Yuki dengan suksesnya. 


Yuki merasa seperti keledai dungu yang tidak berguna.


Mereka telah sampai ke sebuah lorong panjang. Bangsawan Dalto berhenti di tengah, menekan sebuah batu di dinding. Batu itu bergeser dan memperlihatkan lorong gelap dan pengap di depan Mereka.


Batu yang menyusun kuil ini sangat tua. Di penuhi jamur dan lumut. Rembesan air mengalir dari sela-sela bebatuan. Tercium aroma anyir yang memuakkan, bersatu dengan aroma jamur di udara.


Yuki di dorong masuk untuk mengikuti Bangsawan Dalto yang sebelumnya telah lebih dulu berjalan di dalam. 


Yuki sangat ketakutan. Dia merasa nyawanya sudah tidak lama lagi. Tapi yang paling membuat Yuki takut adalah kenyataan dirinya lah yang nanti sebagai penyebab bencana yang menempa umat manusia ke depannya.


Di ujung lorong, ada cahaya yang cukup terang. Sebuah ruangan yang besar dengan tangga batu menuju ke atas atap. Yuki mengenali tempat ini sebagai tempat pemujaan. Juga tempat di mana para penganut ilmu hitam membunuh para korbannya sebagai persembahan.


Para prajurit yang terhipnotis berjajar di setiap anak tangga yang membawa Yuki ke sebuah altar doa. Ada batu besar berbentuk mangkuk di depan altar. Yuki di naikkan paksa ke mangkuk batu, Sebuah sangkar besi yang di gantungkan di atas langit di turunkan. 


Yuki terkurung di dalam sangkar dengan kedua tangan di belenggu ke belakang. 


 

__ADS_1


__ADS_2