Morning Dew

Morning Dew
312


__ADS_3

Pangeran Sera terkejut. Dia segera melepas pelukannya. Seperti tersadar dari lamunannya.


"Maaf...sakit ya ?" Kata Pangeran Sera tertahan. Yuki ingin mengatakan sesuatu. Tapi Pangeran Sera kembali berkata dengan cepat. Membuat Yuki mengurungkan niatnya untuk berkata kepada Pangeran Sera. "Aku pergi dulu" kata Pangeran Sera kembali sambil mengelus pipi Yuki.


 


Pangeran Sera berbalik dan berjalan pergi. Yuki menatap punggung Pangeran Sera. Berdiri diam di tempatnya dengan perasaan cemas. 


 


Ada beban besar di pundak Pangeran Sera. Yuki tidak tahu apa itu. Tapi Dia merasa tidak nyaman saat melihatnya.


 


 


 


"Aku ingin berbicara denganmu"


Pangeran Riana berbalik dan menemukan Pangeran Sera berdiri tidak jauh darinya seorang diri. Pendeta Serfa yang menemani Pangeran Riana maju ke depan untuk mencegah. Tapi Pangeran Sera kembali berkata dengan wajah serius pada Pangeran Riana. Dia menatap mata Pangeran Riana dengan keyakinan penuh.


"Hanya berdua saja"


"Pangeran, Kita memiliki rapat penting yang sudah menunggu" kata Pendeta Serfa memperingatkan Pangeran Riana.


"Kau pergilah lebih dulu ke ruang rapat dan minta Mereka.menunggu. Aku akan berbicara dulu dengan Pangeran Sera secara pribadi baru ke sana"


Pendeta Serfa tahu Dia tidak akan menang. Jadi dengan terpaksa Dia pergi meninggalkan Pangeran Riana berdua dengan Pangeran Sera untuk berbicara secara pribadi.


 


Kedua Pangeran sama-sama terdiam, saling pandang tanpa memalingkan pandangan sampai Mereka hanya berdua.


"Ada apa ?" Tanya Pangeran Riana langsung tanpa basa-basi.


"Aku ingin membicarakan mengenai Yuki" 


"Sebelumnya Aku peringatkan padamu. Tidak perduli siapa yang Dia cintai sekarang, Aku tidak akan menyerahkan Yuki pada siapapun"


"Yang ingin ku bicarakan adalah pertempuran melawan Iblis Balgira. Soal siapa yang akan bersama dengan Yuki, Kau bisa menundanya nanti" jawab Pangeran Sera tenang. Dia masih menatap Pangeran Riana dalam. "Kita selama ini tahu bahwa Iblis Balgira hanya bisa di kalahkan dengan membangkitkan kekuatan suci yang ada di pohon suci yang ada di hutan ini. Tapi apa Kau tahu, bahwa hanya Kita bertigalah yang bisa membuka kunci penyegelnya untuk melepaskan kekuatan itu ?" 


"Benarkah ?. Kalau begitu Aku harus berjuang lebih keras agar Yuki tidak perlu terlibat di dalamnya" jawab Pangeran Riana dingin. Dia sama sekali tidak di beritahu sebelumnya masalah ini oleh siapapun.


Pangeran Sera tersenyum.

__ADS_1


Dia kemudian melemparkan sesuatu ke pada Pangeran Riana. Pangeran Riana refleks menangkapnya. 


 


Cincin pernikahan milik Pangeran Sera.


 


"Jika Kita selamat dalam pertempuran ini, Kita selesaikan semua masalah Kita sebagai seorang prajurit terhormat. Tapi jika hanya satu dari Kita yang selamat dalam pertempuran nanti. Maka Dia yang akan memiliki Yuki"


Pangeran Riana menyimpitkan matanya sembari menunjukan cincin pernikahan Pangeran Sera di tangannya. "Lalu untuk apa ini ?"


"Anggap saja itu sebagai bayaran untukmu. Jika Aku tidak selamat dalam pertempuran nanti Kuserahkan Yuki padamu, jaga Dia dengan baik dan jangan lagi Kau meragukannya atau Dia akan kembali pergi darimu. Tapi...jika ada keajaiban dan Kita berdua selamat, Aku akan merebut kembali cincin itu darimu"


 


.


 


 


"Kenapa wajahmu seperti itu ?" Tanya Bangsawan Voldermont ketika menemukan Yuki berdiri seorang diri di atas gerbang sambil menatap Pangeran Sera dan pasukannya yang berjalan di bawah, meninggalkan kuil suci menuju titik pertempuran. Hari ini hampir semua orang pergi untuk menjalankan tugasnya. Hanya ada sedikit orang yang tertinggal di kuil suci. Yuki berbalik dan memandang nanar pada Bangsawan Voldermont. Tidak bisa lagi menyembunyikan perasaan cemas yang Dia rasakan. 


 


 


"Sesuatu yang berbeda ?" Tanya Bangsawan Voldermont balik dengan pandangan tidak mengerti.


"Ya...Dia menjadi aneh dua hari ini. Semalam, Aku terbangun dan menemukannya duduk di pinggir tempat tidur sambil memandangiku. Dia...Aku merasa Pangeran Sera sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Dia tampak berbeda dari biasanya"


"Semua orang merasa tegang karena pertempuran ini Yuki. Tidak terkecuali Dia. Jadi berhentilah merasa cemas dan jangan terlalu berat berpikir" 


"Begitukah menurutmu ?" Tanya Yuki masih sanksi.


"Dia tidak mungkin mengkhianatimu. Jika Dia berubah, pasti karena pekerjaannya" hibur Bangsawan Voldermont lagi membuat Yuki terdiam.


 


Yuki berusaha berpikir positif dan menganggap Dia terlalu cemas dalam menghadapi masalah yang terjadi.


Saat sedang memikirkannya kembali, Yuki merasakan sakit di perutnya. Dia langsung membungkuk dan mencengkram tangan Bangsawan Voldermont erat sambil menahan sakit.


 

__ADS_1


Sejak dini hari tadi, Yuki merasa benggah di perutnya. Rasanya sangat tidak nyaman. Namun karena melihat Pangeran Sera akan bertempur. Yuki menahan perasaan tidak nyamannya dan bersikap biasa di depan Pangeran Sera. Rasa tidak nyamannya hilang timbul dengan frekwensi yang semakin meningkat seiring waktu yang berlalu. Sekarang, saat perasaan itu timbul kembali. Yuki sudah tidak mampu untuk menahannya.


"Ada apa ?" Tanya Bangsawan Voldermont sambil membantu Yuki dari belakang. 


Yuki meringis kesakitan. "Entahlah..perutku rasanya..."


Yuki belum selesai berkata ketika Dia merasakan dua gulir cairan berwarna bening merembes dari ***********. Turun ke pahanya. Meskipun semakin besar kehamilannya, Yuki tidak lagi bisa menahan kencing tapi sekarang Yuki sangat yakin apa yang merembes barusan bukanlah air seninya. Untuk memastikan dugaannya, Yuki mengangkat gaunnya dan dengan jari telunjuk Dia mengambil cairan yang merembes di kakinya.


Tidak berwarna. Tidak berbau dan juga tidak lengket.


Yuki mengernyit saat rasa sakit mulai timbul di pangkal paha, perut dan pinggangnya secara bersamaan.


Dengan cepat Yuki memegang lengan Bangsawan Voldermont. "Bawa Aku ke dalam kamar. Sepertinya Aku akan melahirkan"


"Melahirkan ?" Kata Bangsawan Voldermont terkejut. Dia melotot tajam ke arah perut Yuki. Tabib Yandha yang di bawa dari Argueda, khusus untuk menemani Yuki mengatakan bahwa Yuki akan melahirkan dalam waktu dekat ini. Tapi Bangsawan Voldermont tidak menyangka justru ketika semua orang berangkat ke medan perang. Yuki akan melahirkan. "Apa Kau serius ?. Sekarang ?" Tanya Bangsawan Voldermont masih tidak percaya.


"Bukan Aku yang memintanya" kata Yuki kesal.


Yuki kembali meringis. Dia membungkuk menahan sakit di perutnya. Melihat hal itu, Bangsawan Voldermont langsung mengendong Yuki dengan panik. Seperti seorang suami yang membawa istrinya yang akan melahirkan. Melihat ekpresi wajahnya, Yuki jadi tertawa.


"Kenapa Kau tertawa ?" 


"Aku hanya merasa, Kau sudah pantas menjadi seorang suami" jawab Yuki jujur.


"Jangan mimpi" dengus Bangsawan Voldermont lagi.


 


 


Yuki tidak di bawa ke dalam kamarnya bersama Pangeran Sera. Pangeran Riana telah meminta Tabib Yandha mempersiapkan segala keperluan jika Yuki melahirkan sewaktu-waktu di kamar lain yang di berikan oleh pendeta suci. Dan meminta Tabib Yandha terus berjaga-jaga di sana.


 


Jadi ke sanalah Bangsawan Voldermont membawa Yuki.


 


Yuki di baringkan ke atas tempat tidur. Tabib Yandha bersama beberapa perawat langsung mempersiapkan semua keperluan dengan cepat. Memeriksa denyut jantung Yuki dan memastikan Yuki nyaman selama menunggu pembukaan lengkap.


Karena ini adalah anak pertama Yuki. Mereka semua memperhitungkan persalinan ini akan memakan waktu yang cukup lama. Tapi Mereka optimis Yuki dan Bayinya akan selamat.


Semua menjadi tegang. 


Yuki yang belum pernah mempunyai pengalaman melahirkan sangat takut. Jadi Dia memegang tangan Bangsawan Voldermont erat dan menatapnya dengan pandangan memohon. "Bisakah Kau tetap di sini menemani. Aku sangat takut" 

__ADS_1


 


__ADS_2