Morning Dew

Morning Dew
44


__ADS_3

"Tidak seperti itu" Yuki berkata dengan binggung.


"Lalu seperti apa ?" Kejar Pangeran Riana tidak mau kalah.


Yuki menghela nafas. Dia semakin tidak nyaman dengan situasinya.


"Kenapa Kau membenci Bangsawan Dalto ?" Tanya Yuki balik. Dia memincingkan matanya, menatap lurus pada Pangeran Riana. "Sebagai seorang Pangeran, Kau seharusnya tau pasti bagaimana keadaan di sekolah dan apa yang menimpanya. Tapi Kamu..Pangeran Riana...Kamu bersikap tidak peduli atau memang tidak mau tahu ?"


Pangeran Riana diam.


Menunggu Yuki melanjutkan tuduhannya.


"Kau bisa menghentikan penyiksaan itu dengan mudah, tapi Kau memilih tidak melakukannya. Aku terus memikirkannya akhir-akhir ini, Kau bukan orang yang bertoleransi bahkan dengan keluargamu sendiri, jadi jika Mereka menjadi korban dari kedua orang tua Bangsawan Dalto sekalipun, Kau tidak akan terpengaruh. Kemudian, setelah memperhatikanmu dan menarik garis lurus kebelakang, Aku mempunyai dugaan..."


Yuki melangkah maju. Menatap Pangeran lurus tanpa rasa takut. Dia tidak tahu keberanian dari mana yang membuatnya bisa sampai di titik ini. Tapi Dia sudah muak. Dia akan memutahkan semua kecurigaannya hari ini kepada Pangeran Riana.


Persetan apa Dia mau mengakuinya atau tidak.


"Kau tidak ingin orang yang hidupnya dipenuhi penderitaan dan kesepian sepertimu, pada akhirnya memiliki kehidupan yang baik. Apa Aku benar Pangeran ?"


Yuki bisa melihat dengan jelas, meskipun Pangeran Riana di kelilingi oleh banyak orang, tapi Dia kesepian. Dia sendirian. Begitu banyak orang yang menghormatinya tetapi banyak juga yang ingin membunuhnya. Tidak banyak teman yang dipercaya justru banyak musuh bermuka dua. Dia harus sangat berhati-hati menilai.


Pangeran Riana dan Bangsawan Dalto adalah orang yang memiliki nasib sama dengan garis cerita yang berbeda.


Jika Bangsawan Dalto hidup dalam tekanan akibat perbuatan kedua orang tuanya di masa lalu. Pangeran Riana hidup dalam tekanan akibat posisinya sebagai satu-satunya perwaris tahtah kerajaan.


Dia harus dituntut menjadi sempurna. Dia memiliki beban besar di pundaknya. Tidak ada yang tahu kesulitan apa saja yang dialaminya. Sifat Pangeran Riana yang angkuh adalah senjata agar orang tidak berani mendekatinya.


Dia terlalu sering di kecewakan dengan pengkhianatan. Terlalu sering di lukai oleh orang-orang di sekitarnya. Kepribadiannya yang sekarang adalah proses dari apa yang telah dialaminya selama ini.

__ADS_1


Pangeran Riana selalu berada di bawah ancaman pembunuhan. Berkali-kali Dia nyaris terbunuh. Tumbuh tanpa kasih sayang seorang Ibu, sementara Ayahnya sibuk dengan tugasnya sebagai seorang Raja. Dia di besarkan dari satu wanita ke wanita lain. Dia tidak memiliki satu wanita yang disebut Ibu. Mungkin karena inilah Dia cenderung tidak bisa mengungkapkan perasaannya dengan benar, sehingga membentuk karakternya yang sekarang.


Dia tidak suka Bangsawan Dalto pada akhirnya menemukan satu orang yang bisa dipercayainya. Satu orang yang mengerti hidupnya dan membelanya tanpa keraguan. Karenanya, Dia tidak ragu untuk merampas orang itu.


"Aku sedang tidak ingin mendengar dongeng mu Yuki" ujar Pangeran Riana acuh. 


Ketika Pangeran Riana melewatinya, Yuki refleks menutupi dadanya dengan tangan dan mundur. Wangi sabun tercium dari tubuh Pangeran Riana, Yuki memalingkan wajah tidak ingin melihat tubuh Pangeran Riana yang dibiarkan terpampang jelas di hadapannya.


Pangeran Riana mengambil botol anggur di meja dan menuangkannya. Kemudian Dia berbalik dan menatap Yuki dengan pandangan tak terbantahkan.


"Aku sudah cukup bersabar menghadapi tingkahmu hari ini, jadi jangan uji kesabaran ku lagi" ujar Pangeran Riana tenang tapi mengandung peringatan yang tegas. "Silahkan jika Kau ingin tidur di sofa, Aku tidak melarang. Tapi, jangan salahkan Aku jika Aku tidak bisa mengontrol diriku. Atau Kau memang ingin melanjutkan apa yang tadi kulakukan padamu ?" 


Yuki masih menyilangkan kedua tangannya di dada. Nyalinya langsung ciut seperti seekor macan yang kehilangan taringnya.


"Aku memberimu dua pilihan, pertama..Kau naik sekarang juga ke atas tempat tidur dan tidur dengan tenang, atau kedua Kau bisa tidur di manapun yang Kau mau dengan resiko Aku akan menyentuhmu lebih dari apa yang telah Kau dapatkan sebelumnya. Aku sudah katakan padamu, Aku tidak akan segan melakukannya. Kau boleh membuktikannya jika masih tidak percaya"


Yuki tidak menjawab. Mulutnya terasa kelu. Dia berbalik dengan linglung menuju tempat tidur. Yuki menarik selimut dan naik ke atas tempat tidur. Dia membaringkan tubuhnya di paling ujung dari tempat tidur. Bergerak sedikit saja Dia bisa terjatuh. 


Hari sudah larut malam, Yuki sama sekali tidak dapat tidur nyenyak. Setiap kali Dia merasakan pergerakan, Yuki akan langsung terbangun dan membuka mata dengan waspada. Dia tidak berani berbalik ke belakang untuk melihat Pangeran Riana. 


Hal itu terus terjadi berkali-kali. Yuki berusaha sekuat tenaga untuk tidak tertidur. Tapi semakin lama, rasa kantuknya mengalahkan segalanya. Dia pada akhirnya jatuh tertidur ketika lewat tengah malam.


Terdengar suara ketukan berulang kali, Yuki perlahan menemukan kesadaran. Seseorang mengetuk pintu kamar dengan tergesa-gesa. 


Dengan malas, Yuki membuka mata dan melihat ke jendela di hadapannya, langit masih gelap.


Terbiasa bangun ketika ada suara atau gerakan membuat kesadarannya cepat pulih. Yuki menggeliat dan menyadari ada hembusan nafas di tengkuknya yang seharusnya tidak terjadi kecuali ada seseorang di belakangnya.


Ketika berbalik, Dia mendapati Pangeran Riana berbaring lelap menghadapnya, wajahnya sangat dekat, hingga Yuki bisa merasakan hembusan nafas Pangeran Riana.

__ADS_1


Ketukan semakin keras terdengar. Pangeran Riana bergerak dari tidurnya, Dia merasa terganggu.


Yuki baru akan bangun untuk menghindari kedekatan dengan Pangeran Riana, Namun Dia kembali terjerembab di atas pelukan Pangeran Riana saat Pangeran Riana menariknya kembali ke pelukannya.


"Ada apa ?" Tanya Pangeran Riana setengah mengantuk kepada orang di balik pintu. Dengan enteng Dia meredam perlawanan Yuki yang berusaha melepaskan diri.


Yuki sangat ketakutan ketika hidungnya menempel pada dada Pangeran Riana yang terbuka. Pangeran bertelanjang dada, jarak Mereka sangat dekat dan sangat berbahaya.


"Maaf menganggu Pangeran, ada perintah darurat dari kerajaan agar Pangeran dan Putri Yuki ke istana sekarang juga"


Pangeran Riana langsung bangun. Dia tampak tegang. Dia memandang Yuki sekilas sebelum akhirnya turun dari tempat tidur untuk berpakaian.


"Persiapkan dirimu, Kita akan ke istana"


"Ada apa ?" Tanya Yuki masih tidak mengerti.


"Kau akan mengerti nanti"


Yuki mengenakan pakaian tebal yang dibawakan pelayan dengan terburu-buru. Dia membasuh wajah dan merapikan rambutnya dengan cepat. 


Pangeran sudah berpakaian. Dia baru saja menghubungi seseorang melalui Gulf. Yuki telah siap ketika Dia masuk ke dalam kamar. 


"Ayo" ajak Pangeran Riana sembari mengandeng tangan Yuki untuk mengikutinya.


Hari masih terlalu pagi, langit masih gelap ketika Pangeran Riana mengangkat Yuki ke atas kuda bersamanya. Beberapa pengawal sudah bersiap membentuk barisan. Pangeran Riana memberikan aba-aba.


Mereka melaju keluar gerbang istana yang terbuka. Menuju istana Raja Bardhana. 


Perasaan Yuki tidak enak. Dia melihat ketegangan dalam diri Pangeran Riana. Ada sesuatu yang salah sedang terjadi.

__ADS_1


 


 


__ADS_2