Morning Dew

Morning Dew
209


__ADS_3

"Aku sudah muak dengan tua bangka ini" Kata Rafael masih menunjukan raut wajah dingin. "Setiap hari kerjanya hanya mabuk dan wanita. Sangat merepotkan. Pergerakanku terhambat jika Aku terus menjadi bayangannya. Jangan menceramahiku soal balas budi Putri. Dia akan senang jika tahu nantinya Aku akan menjadikan Negeri ini sebagai Negeri paling kuat di dunia. Tidak ada satupun negera yang bisa menghancurkan kekuasaanku. Siapapun itu"


"Dia adalah pamanmu"


"Paman hanya sebuah kata yang tidak ada artinya untukku" Kata Rafael sambil berjongkok mengambil kepala Raja Trandem. Dia memegang rambut Raja Trandem begitu saja untuk menjijing kepala Raja Trandem. Kemudian mendekati Yuki dan menyentakan tangan Yuki kuat.


"Berdiri !!" Perintah Rafael pada Yuki.


Yuki berdiri terseok. Mengikuti langkah Rafael. Dia di bawa menuju mimbar kerajaan yang sangat tinggi. Di bawah Mereka sudah berbaris rapi ribuan prajurit kerajaan Rasyamsah. Sementara itu di depan barisan, semua orang-orang pemerintahan yang pro kepada Raja Trandem di bariskan. Mereka semua akan di bunuh bersama berakhirnya pemerintahan Raja Trandem.


"Dengarkan semua yang ada di sini. Mulai hari ini Aku adalah Raja Kalian. Siapapun yang menolak perintahku akan bernasib sama seperti Dia" ujar Rafael sembari mengangkat kepala Raja Trandem tinggi-tinggi ke udara. Seolah Dia sedang memamerkan piala kejuaraan yang diikutinya.


Semua Prajurit dan pegawai di istana kerajaan berlutut memberikan hormat. "Hidup Raja Rafael, hidup penguasa baru Kami. Hidup Negeri Rasyamsah"


Tidak ada satupun dari Mereka yang bersedih atas kematian Raja Trandem. Justru Mereka memancarkan kekaguman yang nyata pada Rafael.


Seruan mengumandangkan nama Rafael sebagai Raja Baru negeri Rasyamsah terdengar memenuhi setiap sudut istana kerajaan Rasyamsah. Genderang di pukul berulang kali dengan irama yang konstan.


Rafael berdiri dengan angkuh. Memandang puas pada para prajurit di bawahnya. Kemudian tanpa di duga, Dia menarik Yuki untuk berdiri di dekatnya. Memeluk pinggang Yuki sedemikian rupa. Yuki meronta berusaha membebaskan diri.


"Semua dengarkan" suasana langsung hening seketika saat Rafael kembali memberi komando. "Aku perkenalkan pada Kalian, wanita yang akan mendampingi kekuasaanku nanti. Calon Ratu kerajaan Rasyamsah. Putri Yuki dari Garduete"


Yuki menatap Rafael tidak percaya. Rafael mengangkat tangan Yuki tinggi-tinggi ke udara, di sambut tepuk tangan meriah dari orang-orang yang berada di bawahnya.


"Bunuh semua pengikut Raja Trandem yang tidak berguna" perintah Rafael dingin.


Pedang-pedang di ayunkan. Teriakan histeris dan memohon ampun terdengar dari bawah.


Rafael berbalik tanpa belas kasihan. Menarik Yuki untuk mengikutinya.


Dia seperti seekor macan liar yang tidak bisa di kendalikan. Sangat kejam dan berbahaya.


 


 


Yuki di tarik paksa mengikuti Rafael. Ketika tiba di taman tengah, Mereka berbelok ke lorong dan menuju sebuah kamar yang telah di persiapkan sebelumnya.


Yuki di dorong masuk ke dalam kamar, sampai Dia terjerembab di lantai. Lututnya terasa berdenyut akibat terbentur. Tanpa menunggu Yuki berdiri, Rafael langsung menekan tubuh Yuki kuat sedemikian rupa. Duduk di atas Yuki yang berada dalam posisi bersujud.


"Sakit...lepaskan Aku" rengek Yuki sembari menahan tubuhnya sekuat tenaga. 


"Memohonlah seperti ketika Kau merayu pamanku" pinta Rafael tenang.


"Lepaskan Aku Rafael" ujar Yuki lagi kesal. Mengindahkan permintaan Rafael. Dia berusaha memberontak. Tapi tangannya masih terikat ke belakang, sementara posisinya yang bersujud membuat Yuki tidak bisa bergerak. Apalagi Rafael duduk di atas Yuki.

__ADS_1


Yuki di buat tidak berdaya.


"Melepaskanmu. Rayu Aku dulu seperti Kau merayu pamanku baru Aku akan melepaskanmu" 


Rafael memeriksa badan Yuki. Dia menemukan Gulf yang di sembunyikan Yuki dalam saku pakaiannya. "Tampaknya,ini adalah saat yang baik untuk menyapa kedua Pangeranmu"


"Tidakkk !!" Yuki semakin memberontak. Yuki tidak bisa membiarkan Rafael menghubungi Garduete.


Hubungannya dengan Pangeran Riana sudah berakhir.


Yuki tidak mau lagi terluka. Akan sangat menyedihkan jika Pangeran Riana mengetahui kondisi Yuki. Tapi Dia tidak mau membantu karena Mereka sudah tidak memiliki hubungan lagi.


 


 


"Vold, Kau mau kemana ?"


Bangsawan Xasfir merentangkan tangannya. Mencegah Bangsawan Voldermont melanjutkan perjalanan, Ketika Bangsawan Voldermont datang ke gedung sekolah untuk mengambil beberapa barang.


Suasana di istana sangat menyedihkan sepeninggal Yuki. 


Bangsawan Voldermont menghindari Pangeran Riana bahkan teman-temannya. Dia lebih sering menyendiri di rumahnya.


Sesuatu yang tidak pernah Bangsawan Voldermont lakukan sebelumnya. 


Raja Bardhana juga tampak terpukul karena kehilangan calon penerus tahtah selanjutnya. Di tambah kabar, Dewa telah mengabulkan keinginan Yuki untuk melepaskan posisinya sebagai Calon Ratu negeri Garduete.


Pangeran Riana justru bersikap berlawanan. Dia terlihat sangat sibuk. Melebihi kebiasaanya ketika mendengar kabar itu. Semua orang bersikap di luar kendali Mereka sendiri.


Hanya Putri Marsha yang terlihat senang. Kepergian Yuki membawa kebahagian tersendiri untuknya. Tidak ada lagi wanita yang bisa memisahkannya dengan Pangeran Riana.


"Singkirkan tanganmu" Tanya Bangsawan Voldermont acuh.


"Ibu Jaena memberitahuku Kau akan pergi ke Rasyamsah. Untuk apa Kau ke sana ?"


"Berlibur ?"


"Memang tidak ada tempat lain yang bisa Kau kunjungi jika Kau ingin berlibur ?" Tanya Bangsawan Xasfir masih tidak percaya.


Putri Marsha yang mengikuti Bangsawan Xasfir tampak berdiri dengan malas di dekat Mereka. Sementara Bangsawan Asry hanya diam saja melihat perdebatan yang terjadi.


"Pergi dan urus urusanmu sendiri Xasfir" kata Bangsawan Voldermont mulai kesal.


"Sampai kapan Kau akan terus membuat masalah bagi Kita ?" Balas Bangsawan Xasfir tidak mau kalah.

__ADS_1


"Masalah ?...bukan Aku yang membawa masalah di antara Kita. Tau Kau !!" Ujar Bangsawan Voldermont sengit.


"Apa maksudmu ?" Tanya Putri Marsha mulai tersinggung dengan ucapan Bangsawan Voldermont. "Kau menuduhku pembuat masalah ?. Kenapa ?. Karena Putri Yuki memilih pergi melepaskan kedudukan sebagai calon ratu Garduete. Dia pergi atas keinginannya sendiri. Untuk apa Kau melampiaskannya padaku"


"Jadi Kau sadar, Kau ini tidak di terima di sini" ujar Bangsawan Voldermont sinis.


"Vold.." tegur Bangsawan Xasfir membela Putri Marsha.


Terdengar suara gulf. Bangsawan Voldermont menunduk untuk mengambil Gulf di sakunya, tepat ketika Pangeran Riana muncul bersama Pendeta Serfa.


Ibu Suri meminta Pangeran Riana untuk mencari Bangsawan Voldermont dan mencegahnya pergi meninggalkan Garduete menuju Rasyamsah.


Semua terdiam ketika melihat bayangan Yuki di sana. Tidak ada yang tahu sampai sekarang bahwa Bangsawan Voldermont masih sering berkomunikasi dengan Yuki menggunakan Gulf.


Bahkan tidak ada yang menduga Yuki memiliki Gulf.


Bangsawan Voldermont langsung menepis tangan Bangsawan Xasfir yang masih menghalangi langkahnya sambil mengangkat Gulfnya. Dia baru saja akan berjalan pergi untuk mencari ruang berbicara dengan Yuki. Ketika terdengar jerit kesakitan Yuki dari dalam Gulf. Menghentikan langkah Bangsawan Voldermont.


 


Yuki berteriak lagi ketika Rafael terus menjambak rambutnya kuat sehingga wajahnya mendongak ke atas. Air mata mengalir di pipinya. Rambutnya seolah tercabut dari kepala Yuki.


"Hentikannn.." lolong Yuki memohon.


"Yuki" 


Yuki langsung terdiam. Mendengar suara Bangsawan Voldermont yang memanggilnya dengan nada terkejut.


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2