Morning Dew

Morning Dew
250


__ADS_3

"Kita akan kemana ?" Tanya Yuki penasaran. Lekky mengandeng pergelangan tangan Yuki. Berjalan menyusuri jalanan ibukota. Tampak warna warni yang terang menambah semarak suasana Ibukota. Seluruh penduduk Ibukota sedang mempersiapkan perayaan Jabaran. Beberapa orang selain memasang hiasan di jalan, Mereka juga sudah memasang hiasan didepan rumah atau toko Mereka.


"Kau sudah berjanji untuk menjadi pasanganku di perayaan Jabaran. Tapi saat Aku membongkar lemarimu dan tidak menemukan pakaian yang cocok dengan seleraku. Aku merasa kecewa"


"Membongkar lemari ?" Tanya Yuki terkejut. Yang di maksud Lekky pasti lemari di kamar lamanya yang ada di kediaman rumah Perdana Menteri Olwrendho. "Untuk apa Aku harus memakai pakaian yang sesuai dengan seleramu" sanggah Yuki menolak.


Tapi Lekky tidak menjawab. Dia menarik Yuki untuk menaiki tangga sebuah bangunan mewah. Menuju pintu masuk.


Seorang pelayan wanita membuka pintu ketika Mereka berdua berada di depannya. 


Ternyata ini adalah sebuah toko pakaian untuk kelas atas. Yuki mencium aroma lavender saat Dia memasuki toko.


"Ada yang bisa Kami bantu Tuan"


"Di mana pakaian perempuan ?" Tanya Lekky langsung.


Pelayan dengan sigap menunjukan jalannya. Yuki kembali di tarik untuk mengikuti Lekky. 


Yuki terkejut ketika melihat keberadaan Putri Marsha dan Pangeran Riana di area pakaian pengantin. Mereka bersama dengan Bangsawan Xasfir dan istrinya.


Tampaknya Mereka sedang mempersiapkan pernikahannya.


Putri Marsha langsung menatap Yuki sinis. Seolah ingin membunuh Yuki sekarang juga ketika Yuki melewati Mereka. Lekky sendiri sangat acuh. Dia menghampiri deretan pakaian wanita yang sangat sexy dan mulai memilih pakaian.


"Aku tidak mau memakainya" ujar Yuki kesal ketika Lekky menempelkan pakaian berwarna hijau terang ke badan Yuki untuk menilai. Lekky meletakan baju itu tidak puas dan kembali memilih. Matanya berkilat senang saat akhirnya Dia menarik sebuah gaun pendek dengan belahan yang cukup tinggi dan sexy. Berwarna merah terang. Warna yang disukainya.


"Tidak...Aku tidak mau memakai baju sialan itu" Kata Yuki sembari melempar pakaian yang di berikan Yuki ke lantai. Yuki semakin kesal saat melihat senyum menyebalkan di bibir Lekky. Namun seperti sebelumnya, Lekky tidak perduli. Dia kembali menarik Yuki menuju ruang ganti pakaian dan melemparkan baju itu ke arah Yuki. 


"Bantu Dia memakainya"


Perintah Lekky pada pelayan yang mengikuti.


 


 


Yuki terpaksa memakai pakaian itu. Dia ingin secepatnya pergi dari toko ini. Tatapan permusuhan dari Putri Marsha seolah mampu membakar seluruh ruangan yang ada.


Yuki mengurai rambutnya dan memakai sedikit polesan lipstik di bibirnya. Warna merah menyala yang Dia pakai semakin mempertegas warna kulitnya. 


Jika warna putih yang di kenakan Yuki sebelumnya menampilkan kepolosan dan kelembutan seorang gadis. Maka warna Merah yang di pilih Lekky membuat Dia menjadi pusat perhatian. Seorang wanita dewasa yang sexy dan menggairahkan.

__ADS_1


"Nona...Anda akan keluar atau Saya panggilkan tuan itu untuk datang" tawar pelayan yang membantu Yuki sambil meletakan kotak sepatu yang cocok dengan penampilan Yuki.


"Panggil saja Dia kemari" 


Yuki tidak mau keluar dengan pakaian seperti ini apalagi ada Pangeran Riana dan Putri Marsha di luar. Pasti Putri Marsha akan menggunakannya sebagai bahan menyerang Yuki nanti.


"Baik, tunggu sebentar Nona" pelayan itu keluar dan Yuki menata rambutnya sambil melihat bayangan dirinya di cermin.


 


"Tuan, Nona memanggil Anda untuk masuk ke dalam"


Lekky mengangkat sebelah alisnya. Dia sedang merokok didekat jendela yang terbuka ketika Pelayan menghampirinya. 


"Tidak. Suruh Dia keluar kemari. Mataku rabun jika berada di ruang sempit" Kata Lekky beralasan.


Lekky sebenarnya tau alasan Yuki memanggilnya ke dalam ruangan. Tapi Dia ingin sedikit mengerjai Yuki. 


Pelayan itu kembali menunduk dengan hormat dan berbalik pergi untuk memanggil Yuki. Sementara Lekky menyandarkan kepalanya dengan tenang di sofa. Menghembuskan asap rokoknya ke udara. Mendengarkan pikiran orang-orang di sekitarnya. 


Ada begitu banyak emosi di dalam toko. Sangat menyenangkan.


 


Sadar Lekky ingin mengerjainya. Yuki akhirnya berbalik pada pelayan dengan menahan perasaan. "Apa ada riasan yang bisa Aku gunakan ?" 


Pelayan itu menganggukan kepala. Dia keluar mengambil riasan wajah dan langsung memberikannya pada Yuki. Yuki mulai berdandan. Jika Lekky mengajaknya bermain. Maka Dia akan membuat permainan ini menjadi kemenangannya.


 


Suara langkah kaki Yuki menggema saat Dia berjalan. Dia terus melangkah mengabaikan tatapan orang yang di lewatinya. Pakaian yang di kenakan belum pas dengan benar. Pelayan hanya menjepitnya dengan jarum untuk sementara, menyesuaikan ukuran tubuh Yuki. 


Belahan gaun di atas paha memperlihatkan dengan jelas kedua kaki Yuki yang putih mulus tanpa noda.


Yuki sudah beberapa langkah di belakang Lekky. Ketika Lekky yang mengambil korek, untuk menyalakan batang rokoknya yang ke dua.


Lekky sedikit menoleh. Dengan anggun Yuki berjalan semakin mendekat. 


Korek di tangan Lekky terlepas. Berdenting dengan kencang di lantai dan menarik perhatian orang di sekitar. Dia terkejut ketika melihat penampilan Yuki. Bagaikan iblis penggoda yang menawan. 


Cantik dan tidak terkalahkan.

__ADS_1


Begitu gambaran Lekky saat melihat Yuki. 


"Kau...." Kata Lekky sesaat.


Yuki menundukkan kepala. Menatap Lekky dari balik bulu matanya dengan tatapan syahdu. 


"Bagaimana ?" Tanya Yuki singkat.


"Lumayan. Kau seperti setan penggoda kecil yang berbahaya" 


Yuki memandang cermin yang ada tak jauh dari tempat Mereka berdiri. Mencoba tidak melihat ke salah satu sisi ruang. Di mana Pangeran Riana sedang duduk bersama Bangsawan Xasfir di atas sofa. Putri Marsha tidak ada di dekat Mereka. Mungkin Dia sedang berada di ruang ganti berpakaian.


"Aku pikir Kau akan memujiku bukan menghinaku" dengus Yuki tak percaya.


Lekky tertawa. "Aku bahkan sedang merayumu" 


Lekky mengulurkan tangan. Menyibakan sedikit rambut di bahu Yuki, yang lepas dari gelungan rambut yang dibuat Yuki secara asal. 


"Aku ambil ini" ujar Lekky pada pelayan yang masih mengekori di dekat Mereka.


"Baik, silahkan Nona kembali ke dalam ruang ganti. Kami akan mengukur badan nona untuk menyesuaikan ukuran pakaiannya nanti"


"Tidak perlu. Kau catat saja sekarang"


Lekky menyebutkan ukuran tubuh Yuki dengan tepat dan pelayan itu mulai mencatat. 


"Aku mau besok pakaian ini sudah di kirim ke tempatku"


"Jika meminta besok, harganya akan sedikit berbeda Tuan"


Lekky menjentikkan jarinya menyetujui. Pelayan itu pergi untuk melapor pesanan Lekky.


"Aku tidak tahu Kau senang menghafal ukuran tubuh wanita" ujar Yuki muram namun membuat Lekky tertawa. "Kau tunggu di sini, Aku akan berganti pakaian"


"Untuk apa ?. Penampilanmu bagus seperti itu"


"Jangan bermimpi"


Yuki segera berjalan kembali ke dalam ruang ganti. Dia langsung melepas pakaiannya dengan cepat. Dan kembali kepada Lekky ketika Lekky sedang memilih beberapa pakaian pria untuknya.


"Biar Aku saja" kata Yuki sambil mendorong Lekky dengan badannya untuk menguasai area.

__ADS_1


 


__ADS_2