
Yuki hanya diam sepanjang acara, dan menikmati makanannya. Makanan untuk acara kerajaan sangat enak dan dibuat dengan bahan berkualitas nomer satu.
"Dari tadi Aku penasaran siapakah gadis ini ?" Tanya Guru Besar Azimer tiba-tiba sambil mengarahkan pandangannya pada Yuki, membuat Yuki merasa gugup. Sendok di tangannya terlepas jatuh ke lantai dan menimbulkan suara berdenting yang menarik perhatian orang.
Yuki merasa malu, Dia mengepal kedua tangan di pangkuan dan menundukkan kepala. Pangeran Riana mengenggam kedua tangan Yuki, Meremasnya untuk memperingatkan agar Yuki menjaga sikap dan menjadi gadis yang baik.
"Dia adalah Putri Tunggal dari Perdana Menteri Olwrendho, Yuki Orrie Olwrendho, sebetulnya Aku ingin memperkenalkan secara resmi kepada guru di acara kerajaan nanti, tapi karena Guru sudah bertanya, jadi Aku akan memperkenalkannya sekarang, Dia adalah kekasihku dan kerajaan sudah mengakui kedudukannya secara sah"
Sontak Yuki merasakan suatu ketegangan di meja makan. Sorot mata Pangeran Sera memandangnya dengan aneh. Yuki tidak mengerti kenapa.
"Baru kali ini Kau memperkenalkan seorang wanita secara resmi padaku, Putri Yuki, gadis yang sangat cantik meski umurnya masih terlalu muda" Guru Besar Agung tampak berpikir sesaat. "Keluarga Olwrendho...Brarti Dia adalah anak dari Putri Ransah, Aku mengenalnya dengan baik, Dia adalah gadis tercantik di negeri ini pada masanya. Tampaknya kecantikannya menurun pada putrinya"
"Terimakasih atas pujianmu Guru, Putri Yuki masih harus banyak belajar mengenai kehidupan kerajaan, Apa Guru bisa merekomendasikan beberapa orang untuk membantunya ?"
Yuki menatap Pangeran Riana tidak percaya, jadi Dia mengajaknya ke sini hanya untuk menemukan guru yang mengajarinya menjadi seorang putri di istananya ?.
Yuki merasa harapannya untuk lepas dari belenggu Pangeran Riana sirna, Dia serius ingin menjadikannya kekasih bahkan sekarang ingin mencari guru yang bisa mengajarinya.
"Kau bisa meminta pada nenekmu, Dia mampu melakukannya jauh lebih baik daripada Aku" kata Guru Besar tenang.
"Baik guru"
"Kau beruntung mendapatkan wanita yang cantik, tapi bagus juga mengajaknya ke acara seperti ini, Kau harus sering membawanya ke perjamuan resmi"
Yuki mendesah lirih. Dia menurunkan bahunya dengan malas, menyerah.
Yuki merasa muak dengan hidupnya yang sekarang. Dia bagaikan boneka hidup yang dikendalikan oleh Pangeran Riana. Semua hal yang dilakukannya harus dengan sepengetahuan Pangeran Riana, bahkan pergaulannya pun harus atas izin dari Pangeran Riana. Beberapa kali pula Dia dipaksa menemani Pangeran ke acara-acara resmi.
__ADS_1
Hidup Yuki bukanlah lagi miliknya. Dia lelah dengan semua ini, namun tidak ada celah untuk bersembunyi meskipun hanya sebentar. Pangeran Riana memerintahkan empat orang pengawal kerajaan untuk mengikutinya kemanapun Dia pergi.
Hubungannya dengan Bangsawan Dalto semakin renggang. Yuki sudah beberapa kali mengirimkan surat yang diam-diam dititipkan kepada Elber untuk diserahkan pada Bangsawan Dalto. Tapi tidak satupun surat itu di balas oleh Bangsawan Dalto. Elber sudah memastikan surat itu diterima sendiri oleh Bangsawan Dalto, jadi tidak mungkin Dia tidak membacanya.
Bahkan, Bangsawan Dalto semakin bersikap acuh padanya. Mereka sudah tidak lagi bertegur sapa meskipun satu kelas. Hal ini semakin membuat Yuki meradang dibuatnya.
"Mungkin Dia tidak ingin terlibat masalah dengan kerajaan, Kau tau sendiri hidupnya sudah cukup berat" Kata Elber menghibur Yuki seusai pelajaran. Yuki mengeluh karena tidak juga mendapat balasan surat dari Bangsawan Dalto.
"Setidaknya Dia mau mendengarkan alasanku" ringik Yuki dengan wajah memelas.
Elber memutar bola mata. "Jika Aku jadi Kau, Aku akan melupakan Bangsawan Dalto dan fokus pada Pangeran Riana. Dari segi apapun Dia lebih baik ketimbang Bangsawan Dalto. Aku tidak mengerti ada apa dengan matamu, Kenapa Kau tidak menerima saja pria setampan Pangeran Riana di sisimu"
Yuki memberengut kesal.
Elber menepuk punggungnya kembali mencoba menghiburnya. "Sudahlah, lupakan Mereka sesaat, Aku akan mentraktir mu makan enak"
"Aku ingin makan daging panggang"
"Mungkin Kau mau membantuku menyamar selagi kita pergi nanti. Supaya Aku bisa lepas dari pengawasan ?"
"Kita tidak seakrab itu sampai Aku mau mengorbankan nyawaku" dengus Elber membuat Yuki meringis. Mereka berjalan keluar kelas tapi para penjaga sudah menunggunya.
"Aku akan makan dengan Elber di kantin" jelas Yuki ketika para penjaga mendekat.
Seorang penjaga membungkuk badan dengan hormat. "Maaf Putri, Tapi Pangeran memerintahkan Kami membawa Putri ke ruangannya"
Yuki menghela nafas. Dia akan kalah meskipun menggunakan beribu alasan. Mereka sangat mematuhi ucapan Pangeran Riana.
__ADS_1
Elber mengangkat bahunya acuh. "Lain kali Aku akan mentraktir mu" Katanya sebelum akhirnya pergi meninggalkan Yuki yang menatapnya nanar.
"Mari Putri, Pangeran sudah menunggu" ujar Penjaga itu lagi mengingatkan Yuki.
"Ah..Pangeran" Yuki berseru sembari menatap lurus ke jalan di belakang para penjaga. Sontak para penjaga menoleh dan memberi hormat.
Yuki langsung memanfaatkan hal itu untuk kabur. Dia berlari kencang menjauhi para penjaga istana.
"Putri Yuki...cepat kejar" seru penjaga di belakangnya saat Mereka menyadari telah di perdaya oleh Yuki.
Yuki berbelok ke sebuah lorong dan bersembunyi di balik tembok. Dia merapatkan tubuhnya, meringkuk sedemikian rupa.
Para pengawal berlari melewatinya. Yuki menunggu sampai yakin Mereka tidak berbalik mengecek. Dia tahu apa yang akan dilakukannya ini akan berakibat fatal nantinya. Pangeran Riana akan marah. Tapi, Yuki sudah tidak perduli. Dia harus bertemu dengan Bangsawan Dalto dan menjelaskan kesalahpahaman ini.
Yuki mendengar langkah kaki mendekat. Dia tahu itu suara para penjaga yang kembali. Yuki bergegas bangkit, berlari dengan cepat memasuki sebuah gudang di dekatnya. Dia membuka jendela yang ada di ruangan itu, melongok sebentar keluar. Sekarang Dia berada di lantai tiga, jika Dia sampai terjatuh, Kemungkinan besar Dia bisa mati.
Tapi Dia sudah tidak ada waktu lagi memikirkan cara lain. Cepat atau lambat para penjaga akan masuk dan menemukannya jika Dia tidak cepat bertindak. Jadi Yuki melepaskan sepatunya, Dia memanjat keluar jendela, dan menutup jendela begitu Dia sampai di luar.
Kakinya berpijak pada selusur tembok, dan Dia harus menjaga keseimbangannya. Tangannya mencengkram erat pilar bangunan agar tidak terjatuh. Perlahan Yuki mulai merayap menjauhi cendela.
"Kalian berdua periksa semua ruangan, dan yang lain cari di luar gedung. Kau pergi cari Bangsawan Dalto, kemungkinan besar Putri akan menuju ke tempatnya. Aku akan pergi melapor ke Pangeran" ujar Kepala Pengawal yang terdengar sampai ke tempat Yuki.
Yuki sadar Dia tidak bisa menemui Bangsawan Dalto sekarang meskipun ini tujuan awalnya. Jika Pangeran Riana menemukannya bersama Bangsawan Dalto, Pangeran Riana tidak akan segan menghukum Bangsawan Dalto dengan tuduhan menganggu wanitanya.
Tapi Yuki juga tidak bisa kembali begitu saja. Dia tidak mau mendapatkan hukumamnya secepat kilat karena telah berusaha kabur. Setidaknya, Dia bisa menyendiri dan menenangkan pikiran terlebih dahulu.
Sudah terlanjur basah bagi Yuki. Jadi Dia memutuskan untuk melanjutkan pelariannya. Yuki merayap dengan hati-hati. Kemudian Dia menemukan sebuah jendela yang terbuka. Saat melongok ke dalam, Dia menemukan ternyata itu adalah gudang penyimpanan alat memasak. Setelah memastikan tidak ada orang, Yuki melemparkan sepatunya ke dalam dan memanjat memasuki ruangan.
__ADS_1
Begitu sampai di dalam, Dia bergegas memungut sepatunya dan memakainya. Lantainya sangat dingin jika tidak menggunakan alas kaki.
Terdengar suara langkah kaki di belakang Yuki. Sontak jantung Yuki berdebar dengan kencang, Dia sangat panik.