
Yuki tidak dapat tidur. Dia mondar-mandir di dalam kamar. Matanya terus melirik ke arah pintu. Waktu seolah berlalu begitu lambat. Akhirnya, ketika lewat tengah malam yang di nanti tiba. Pangeran Riana masuk ke dalam kamar dengan wajah lelah.
Yuki bergegas membantunya membuka jubah dan melipatnya di atas kursi. Pangeran Riana duduk di kursi kayu, Yuki meletakan nampan berisi gelas dan botol anggur. Pangeran Riana menuangkan anggur di gelas, Dan meminumnya dengan sekali teguk.
Yuki berdiri tak jauh dari Pangeran Riana. Dia sengaja tidak menanyakan apapun, Yuki memutuskan untuk menunggu Pangeran Riana sendiri yang menjelaskan padanya.
Pangeran Riana tercenung di tempatnya. Wajahnya berkerut, Dia berpikir begitu keras.
Melihat hal itu, Yuki memutuskan untuk meracik makanan yang telah di persiapkan sebelumnya. Yuki tidak tahu apakah Pangeran Riana sudah makan atau belum. Dia telah meminta pelayan menyiapkan pemanas makanan di dalam kamar.
Yuki memanaskan sup, Dia juga menyiapkan semangkuk nasi dan pegangan di nampan. Ketika sup telah hangat, Yuki menuangkannya ke dalam mangkuk dan membawa nampan ke dekat Pangeran Riana.
Kali ini, Yuki ingin berterimakasih pada Pangeran Riana karena peduli dengan permasalahan keluarganya. Yuki tahu sebagai Perwaris tahtah kerajaan, Pangeran Riana memiliki banyak urusan yang harus di selesaikan. Dia bisa saja memerintahkan orang lain untuk menyelidiki masalah ini tanpa Dia harus terjun langsung ke dalamnya.
Tapi, meskipun begitu Pangeran Riana bersedia menanganinya sendiri.
"Makanlah biarpun sedikit" ujar Yuki lembut sembari meletakan sendok ke tangan Pangeran Riana.
Tanpa banyak berkomentar, Pangeran Riana langsung memakan hidangan yang dibawakan Yuki. Dia memang sangat lapar, Dia belum makan apapun semenjak siang. Yuki meletakan semangkuk nasi lagi ke dekat Pangeran Riana ketika Pangeran menghabiskan nasi di mangkuknya dengan cepat.
"Kau sudah makan ?" Tanya Pangeran Riana balik ketika Dia mengambil mangkuk nasi ke duanya. Dia mulai makan perlahan. Tidak terburu-buru seperti sebelumnya.
"Aku sudah makan cukup banyak sore tadi"
Pangeran Riana menerima segelas teh yang diberikan Yuki.
"Aku masih tidak mengerti sampai sekarang" ujar Pangeran Riana lagi.
"Ada apa ?" Tanya Yuki penasaran. Dia beringsut duduk di samping Pangeran Riana dengan wajah serius.
"Aku sudah berbicara dengan Prajurit yang terluka itu, Dia sangat yakin bahwa yang menyerang Rombongan Perdana Menteri adalah Prajurit Garduete sendiri"
__ADS_1
"Apa ?" Yuki tampak terkejut. "Tapi Ayahku tidak memiliki masalah kriminal dengan kerajaan"
"Ayahmu orang bersih, Dia bukan pejabat korup. Semua kekayaannya di dapat dari usaha yang dijalankan" jelas Pangeran Riana lagi. Dia terdiam sejenak untuk berpikir. "Sejauh yang Aku tangkap, Mereka membunuh Perdana Menteri karena tidak ingin Perdana Menteri melapor ke kerajaan. Justru Mereka sebenarnya mengincarmu, Karena Kau memiliki sesuatu yang Mereka inginkan"
"Aku ?" Yuki binggung. Apa yang Dia miliki sehingga ada orang yang sampai hati membunuh Ayahnya.
"Sepertinya, Dia awalnya mengajukan tawaran kerjasama dengan Perdana Menteri mengenai hal itu, tapi Karena Perdana Menteri menolak, Dia harus di bunuh agar tidak membocorkan masalah ini"
Yuki merasa sakit saat mengetahui Ayahnya dibunuh karena dirinya.
"Tapi kenapa Dia harus membunuh semuanya ?" Tanya Yuki shock.
"Agar tidak ada saksi mata yang bersaksi bahwa tentara kerajaan terlibat di dalamnya. Orang ini pasti memiliki koneksi yang besar, tidak sembarang orang dapat memerintahkan tentara kerajaan untuk bergerak, kecuali Dia menggunakan sihir"
"Sihir ?"
"Hanya perumpamaan" Pangeran Riana tidak berani mengatakan lebih banyak pada Yuki. Dia tidak ingin membuat gadis itu ketakutan
"Cukup untuk merasa bersalah, sekarang bukan waktunya bermuram durja, lebih baik Kita memikirkan cara untuk mengungkapkan kebenaran ini" tegur Pangeran Riana ketika melihat Yuki tertunduk lesu. "Apa Kau tidak ingin mengetahui apa yang telah terjadi ?"
Yuki berpikir lagi. Pangeran Riana benar, sekarang bukan waktunya menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi. Demi Perdana Menteri Olwrendho dan semua yang terbunuh karenanya, Dia harus mengungkapkan kebenaran dan menghukum pelakunya secara adil.
Pangeran Riana melihat Yuki sudah bisa menguasai diri. Jadi Dia memutuskan untuk mengungkapkan sedikit petunjuk pada Yuki dengan harapan gadis itu akan lebih berhati-hati ke depannya.
"Para Prajurit yang menyerang rombongan Perdana Menteri, Mereka seperti orang yang tidak sadar. Seperti dikendalikan oleh seseorang dari jarak jauh"
"Jadi Kita mengarah ke penggunaan sihir ?"
Yuki sebelumnya tidak mempercayai sihir atau hal-hal mistis lainnya. Tetapi ketika di dunia ini, Dia mulai meragukan keberadaanya.
"Ya, tapi Aku merasa masalah ini tidak sesederhana seperti yang terlihat"
__ADS_1
Pangeran Riana selesai makan dan telah menghabiskan anggurnya. Yuki merapikan bekas makannya. Dia beberapa kali menguap. Saat perjalanan ke desa ini, Dia sama sekali tidak merasakan lelah. Tapi sekarang, Rasanya Dia dapat langsung tidur begitu kepalanya menyentuh bantal.
"Sudah malam, sebaiknya Kau tidur" Pangeran Riana baru saja akan beranjak pergi ketika Yuki dengan sigap menariknya untuk duduk kembali di tempatnya.
"Pangeran akan kemana ?" Tanya Yuki dengan nada khawatir.
"Kamarku berada di sebelah, jika Kau butuh sesuatu Kau bisa memanggilku kapan saja"
"Kenapa Kita tidak tidur bersama ?" Yuki terlihat frustasi. Dia mencengkram pakaian Pangeran Riana erat. "Tidurlah disini saja, Aku tidak berani tidur sendiri"
Pangeran Riana menghela nafas. Sekarang Dia yang merasa frustasi. "Justru Aku tidak ingin tinggal di sini lebih lama karena takut padamu"
"Pangeran takut padaku ?" Yuki tidak mempercayai pendengarannya. Tapi Pangeran Rian terlihat tidak sedang bercanda saat mengatakannya. Yuki tidak marah, Wajar Jika tidak ada orang mau berteman dengannya di saat dirinya menjadi sasaran tembak orang. "Aku mengerti, sangat berbahaya jika Pangeran berada di dekatku, sewaktu-waktu Mereka bisa datang untuk menyerang"
Pangeran Riana tersenyum sinis. "Aku tidak takut Mereka akan datang, justru dirimu yang membuatku takut bahkan semenjak Aku memasuki kamar ini"
"Kenapa ?" Yuki kembali menatap Pangeran Riana dengan wajah polosnya.
"Apa Kau lupa, terlepas tujuan Kita datang kemari, Aku ini tetap laki-laki, Melihatmu yang sekarang Aku jadi ingin memakanmu"
Yuki refleks mundur sembari menutup dadanya dengan kedua tangannya yang di silangkan ke depan.
Pangeran Riana kembali berdiri. Dia tersenyum mengejek melihat reaksi Yuki. "Akhirnya Kau mengerti"
Yuki terpaku saat Pangeran Riana berjalan menuju pintu keluar. Dia sangat takut dan tidak memiliki keberanian untuk menghabiskan malam ini sendirian di kamar.
Meskipun ada Penjaga yang ditugaskan di depan pintu kamarnya, Dia tetap tidak merasa aman. Dia justru jauh lebih tenang bersama Pangeran Riana. Sesuatu yang tidak pernah di pikirkan Yuki akan terjadi sebelumnya.
"Apa...apa kalau Aku menciummu Kau mau tinggal di sini ?" Tanya Yuki lirih. Sontak Pangeran Riana menoleh. Yuki tidak akan sudi mengatakan hal ini jika Dia tidak dalam kondisi seperti sekarang. Butuh tekad yang kuat ketika Yuki harus mengatakannya.
"Jika Aku menciummu, Kau akan tinggal di sini ?" Yuki kembali bertanya ketika Pangeran Riana hanya diam.
__ADS_1