
Rasa sakit terasa menjalar ke setiap inchi bagian tubuh Yuki. Ribuan jarum seperti di tusuk secara bersamaan. Dia ingin berteriak tapi bibirnya terkatup rapat. Yuki tidak bisa menebak bagian mana tubuhnya yang paling sakit, atau bagian mana yang justru tidak merasakan apapun. Semua tampak berbeda di lain waktu.
Dalam kondisi seperti itu, Yuki seolah dapat melihat flashback kehidupannya yang terdahulu.
Dia duduk di sekolah bersama teman-temannya. Mengobrol hal ringan mengenai kehidupan Mereka. Siapa cowo yang di sukai si A atau besok ada film baru yang akan launching di bioskop.
Di dunia sana, permasalah Yuki yang utama di umurnya yang menginjak enam belas tahun hanyalah bagaimana cara menghindari Raymond. Bukan malah berkecipung dengan darah dan bahaya seperti yang Dia hadapi di dunia asalnya.
Yuki tidak tahu, apakah Dia masih hidup atau sudah mati. Seluruhnya tampak seperti bayangan kegelapan yang hilang timbul, bercampur dengan kilasan masa lalu.
Apakah dalam kematian rasa sakit masih tetap terasa ?
Yuki berusaha bangkit dari keterpurukan. Menggapai sekeliling untuk menemukan cahaya yang nyata.
Kecemasan melanda hatinya. Dia tidak tahu bagaimana akhir dari pertempuran itu. Samar Dia ingat melihat Pangeran Riana dan Pangeran Sera di sana. Apakah Mereka berhasil memenangkan pertempuran atau justru gagal, sehingga Dunia menjadi kiamat ?.
Bagaimana nasib Bangsawan Dalto sekarang ?. Apa Dia masih hidup ?. Dan Bagaimana Pangeran Riana bisa menemukan Mereka dengan cepat ?.
Yuki ingin hidup. Dia ingin mendapat kesempatan melihat dunia lagi. Banyak pertanyaan yang belum terjawab.
Tapi tubuhnya terasa kaku, tidak mampu di gerakan sama sekali.
Kegelapan kembali menyelimutinya. Dia menggapai sesuatu yang kosong. Sangat gelap. Dia berada dalam kegelapan sendirian. Terapung tanpa tahu ujungnya.
Yuki
Terdengar bisikan lembut yang memanggil nama Yuki dari kegelapan.
Mama..
Yuki mendengar suara Putri Ransah. Dia ternyata sudah mati. Keberadaan Putri Ransah begitu dekat dengannya meskipun Yuki tidak melihat sosoknya. Mungkin sebentar lagi, Mereka akan bertemu di perbatasan sungai untuk berkumpul kembali.
Yuki bangunlah...
__ADS_1
Mama...
Berjuanglah, Kau tidak boleh menyerah.
Terasa sepasang tangan menyentuh Yuki lembut. Menariknya keluar ke arah yang benar. Menuju cahaya yang membawa Yuki keluar dari kegelapan.
Bangunlah Yuki...
Yuki membuka mata perlahan. Matanya memincing saat melihat cahaya yang menyilaukan di depannya. Yuki mengulurkan tangannya, memasuki cahaya di depannya. Meninggalkan kegelapan tanpa akhir di belakangnya.
Yuki melihat langit-langit tempat tidur yang di di hiasi tirai lembut dari sutera berwarna ungu muda. Butuh beberapa saat untuk menyadari Dia berada di dalam kamarnya, di istana Pangeran Riana.
Rasa sakit kembali mendera dengan nyata.
Seorang pelayan menengok Yuki dengan pandangan berharap. Kemudian Dia berlari keluar sembari berteriak girang "Bangun..Putri Yuki telah sadar"
Terdengar langkah kaki yang datang dan pergi di susul jerit histeris para pelayan di luar kamar. Kepala Yuki mengalami nyeri yang sangat hebat. Dia terlalu lemah untuk bergerak. Jadi Dia memutuskan untuk diam dan menunggu seseorang datang.
Yuki berhasil menggerakan kepalanya sedikit. Menyusuri ruangan tempat Dia berada, agar Dia yakin Dia tidak sedang berhalusinasi.
Jadi Dia masih hidup.
Seluruh tubuhnya nyaris di perban. Satu kakinya di gantung ke atas. Tampaknya Dia mengalami pergeseran sendi akibat berguling di tangga ketika Balgira menghempaskan tubuh Bangsawan Dalto hingga menabrak cawan tempatnya di tawan sampai terguling ke bawah tangga.
Aroma terapi dan bau obat-obatan menyatu di dalam kamar.
Terdengar suara pintu di buka dengan tergesa-gesa. Rena muncul dengan nafas terengah-engah. "Putri.." serunya dengan wajah penuh air mata kegembiraan ketika Melihat Yuki sedang memandangnya dari atas tempat tidur. "Syukurlah..Putri akhirnya sadar. Terimakasih Dewa"
"Aku.." Yuki berusaha bergerak. Dia segera terhempas kembali ke atas tempat tidur. Rasa sakit menyebar ke seluruh tubuhnya. Dia langsung meringis kesakitan.
"Putri jangan terlalu banyak bergerak terlebih dahulu" ujar Rena khawatir melihat Yuki yang tampak kesakitan. "Para Pelayan telah memanggil Pangeran dan Pendeta Serfa. Putri akan baik-baik saja"
"Sakit.." bisik Yuki tertahan.
__ADS_1
Yuki merasa lega ketika Rena menyebut Pangeran Riana. Artinya Pangeran Riana juga selamat dari pertempuran melawan Balgira.
Beruntung Pendeta Serfa datang dengan cepat begitu mendengar Putri Yuki telah sadar. Dia memang selalu berjaga tak jauh dari kamar Putri Yuki jika sewaktu-waktu Putri Yuki sadar dari komanya.
Dia segera memeriksa kondisi Yuki dengan seksama.
"Serfa bagaimana ?" Pangeran Riana muncul di susul Bangsawan Voldermont di belakangnya, ketika Pendeta Serfa sedang memeriksa nadi Yuki.
"Putri baru saja melewati masa kritis. Kita akan melihat perkembangannya tiga hari ke depan untuk menentukan perawatan lanjutan yang tepat. Saya akan menyiapkan ramuan untuk memulihkan kondisi Putri Yuki" ujar Pendeta Serfa tenang.
Bangsawan Voldermont menghampiri Yuki yang masih di periksa Pendeta Serfa. "Aku tahu Kau akan baik-baik saja. Kucing kecil sepertimu mempunyai sembilan nyawa"
Yuki hanya tersenyum tipis membalas seloroh Bangsawan Voldermont.
Tampaknya sementara ini semua berakhir dengan baik.
Empat hari berlalu...
Yuki duduk bersandar di tempat tidur. Para pelayan baru saja membuka sebagian perban yang menutupi tubuhnya. Total ada tiga belas luka tusukan yang Dia dapat dari serangan sulur milik Balgira. Kaki kirinya mengalami pergeseran sendi. Tapi Serfa sudah berhasil mengembalikannya ke tempat semula. Hanya Yuki akan mengalami rasa tak nyaman untuk satu atau dua bulan ke depan. Selama proses perbaikan jaringan berlangsung.
Selain itu ada banyak luka lecet di tubuh Yuki. Mata kirinya sedikit bengkak akibat terbentur ketika Dia jatuh menghantam pinggiran anak tangga.
Melihat kondisinya, Yuki nyaris tidak percaya Dia masih bisa hidup. Dari Rena, Yuki tahu bahwa Dia telah mengalami koma selama sepuluh hari. Dalam waktu itu, tiga kali jantungnya sempat berhenti berdetak. Beruntung Pendeta Serfa selalu siaga untuk memberikan pertolongan. Jika terlambat, nyawa Yuki pasti tidak bisa di selamatkan.
Pangeran Riana memerintahkan para pelayan bergiliran menjaga Yuki, semenjak hari pertama Yuki di pindah dari ruang pengobatan ke dalam kamar tidurnya. Dengan tegas Pangeran Riana meminta agar tidak membiarkan Yuki seorang diri meskipun hanya satu detik.
Pangeran Riana sering datang dan tidur di sofa yang ada di samping tempat tidur, menjaga Yuki di sela kesibukannya menangani perkara Bangsawan Dalto.
Raja Bardana juga sering datang berkunjung untuk melihat kondisi Yuki secara langsung, ketika Yuki masih tidak sadarkan diri dari koma.
Tetapi Pangeran Sera tidak bisa menjenguk Yuki meskipun Dia mengajukan permohonan ke kerajaan. Tampaknya persaingan antara Pangeran Sera dan Pangeran Riana kembali memanas.
__ADS_1
Yuki menghela nafas tidak berdaya mendengar cerita mengenai kedua Pangeran itu. Mereka tampak seperti dua sisi yang berbeda tapi sebenarnya memiliki banyak kesamaan. Matahari hangat di pagi musim semi dan Bulan di malam musim dingin. Sama-sama memberikan penerangan di waktu yang tepat namun tidak pernah bisa bersatu di tempat yang sama.