Morning Dew

Morning Dew
133


__ADS_3

Yuki diam. Tidak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi Dia merasa banyak berhutang budi dengan Pangeran Sera. Tapi di sisi lain Dia mencemaskan situasi di perbatasan. Tepatnya di depan gerbang perkemahan Negeri Argueda.


"Pangeran" Kepala prajurit Gardies maju, menyelamatkan situasi yang canggung. Dia memberi hormat dengan sikap takjim kemudian berdiri dan berkata "Mohon maaf menganggu Pangeran, Kapal kerajaan telah siap untuk berlayar kapanpun Pangeran menginginkannya"


"Kapal ?" Tanya Yuki tidak mengerti.


"Mulai dari sini, Kita akan berangkat menuju ibukota dengan menggunakan kapal. Hanya ini jalur aman yang sekarang bisa kita tempuh untuk menghindari kejaran. Aku tidak mau kecolongan seperti di hutan dulu" ujar Pangeran Sera tenang. Dia memandang Kepala Prajurit Gardies untuk memberi perintah. "Perintahkan semua kru dan prajurit untuk bersiap. Kita berangkat sekarang juga"


"Baik Pangeran"


Kepala Prajurit mundur dengan cepat untuk melaksanakan perintah. Pangeran Sera memacu kudanya untuk berjalan menuruni bukit. Menuju pantai di mana kapal kerajaan telah menunggu.


Kapal Kerajaan Argueda sangat besar dan megah. Seperti kapal pesiar dengan beberapa lantai. Yuki terperangah saat melihat ukuran kapal. Kapal itu bersandar di dermaga sementara, sisa-sisa kehancuran akibat tsunami masih terlihat di beberapa tempat. Pangeran Sera turun dari kuda. 


"Ayo Yuki" ajak Pangeran Sera. 


Yuki beringsut turun dari kuda di bantu Pangeran Sera. Pangeran Sera menggengam tangan Yuki lembut. Sepanjang menunggu persiapan keberangkatan, Dia terus memegang Yuki, seolah takut jika Yuki akan kembali menghilang dari hadapannya.


Pangeran Sera menuntun Yuki untuk menaiki tangga kapal. Sorak sorai terdengar mengiringi Mereka berdua. Yuki menundukan kepala. Merasa tidak percaya diri mengingat betapa berantakan penampilannya sekarang.


Isi di dalam kapal lebih membuat Yuki terkejut. Kamar yang akan di tempati Yuki bahkan tidak terlihat seperti kamar di dalam sebuah kapal, lebih mirip kamar di hotel bintang lima. Semua furniture di dalamnya sangat mewah, khas barang-barang kelas atas.


Empat orang pelayan masuk ke dalam kamar dengan sopan, menemui Yuki yang terbengong di dalam kamar seorang diri. Pangeran Sera langsung meninggalkan Yuki begitu mengantarkan Yuki ke kamar. Dia harus mengadakan rapat darurat dengan prajuritnya.


"Kami bertugas untuk melayani Putri selama di perjalanan" ujar para pelayan penuh hormat.


Terdengar suara mesin di bawah kaki, Yuki berpaling dan mendapati kapal mulai bergerak perlahan meninggalkan dermaga. Sepertinya Pangeran Sera tidak ingin terlalu lama berada di perbatasan. 


"Mari Putri, Kami akan membantu Putri untuk membersihkan badan dan berganti pakaian" ujar Pelayan lagi membuyarkan lamunan Yuki.

__ADS_1


Yuki melihat pantulan dirinya di cermin besar yang ada di dekatnya. Penampilannya sangat berantakan dan lusuh. Rambutnya sudah tidak terikat dengan benar, mencuat ke sana kemari dari ikatannya. Pakaian Yuki kotor karena seharian Dia gunakan untuk bermain bersama anak-anak di lapangan. Bahkan pakaian yang di kenakan para pelayan jauh lebih baik daripada pakaian yang di kenakan Yuki sekarang. Wajah Yuki juga kusam, akibat debu yang menempel di wajahnya. Seperti ada lapisan debu menutupi kulitnya. Selain itu sebelah sepatunya hilang entah kemana, terlepas saat Pangeran Sera membawanya dengan kuda.


Melihat Yuki yang masih diam dengan tatapan kosong, pelayan kemudian berkata kembali dengan lembut. "Atau Putri ingin menunggu Pangeran Sera kembali untuk mandi bersama"


"Apa ?" Kata Yuki terlonjak kaget.


"Jika memang seperti itu. Kami akan segera mempersiapkan keperluannya. Sementara Putri menunggu, apa Putri ingin makan sesuatu atau ada yang Putri butuhkan ?"


"Tidak...tidak ada...mandi bersama. Yang benar saja, Aku akan mandi sendiri"


Tolak Yuki dengan tegas ketika Dia sudah dapat mencerna kata-kata Pelayan. 


"Kenapa Putri, Putri dan Pangeran Sera akan menikah suatu hari nanti. Bukankah hal yang wajar jika Kalian mandi bersama. Pangeran tentu akan senang mendengarnya"


"Tidak terimakasih, Aku mandi saja sendiri" tolak Yuki lagi tanpa ada keraguan.


"Apa Putri yakin ?" Tanya Pelayan tidak percaya.


"Putri masih malu-malu dengan Pangeran ?" 


"Bukan itu masalahnya" gerutu Yuki cepat. Yuki tidak tahu harus bagaimana menjelaskan kepada para pelayan. Memang benar Dia dan Pangeran Sera telah bertunangan. Namun hubungan Mereka tidak pernah sampai ke batas yang tidak wajar. Yuki juga tidak mau sembarangan mandi dengan orang lain meskipun itu adalah Pangeran Sera.


Untuk menghentikan perdebatan, Yuki segera meminta pelayan untuk membawanya ke kamar mandi. Setelah mandi dan mencuci rambutnya, Yuki segera mengeringkan diri dan berpakaian.


Pakaian terbuat dari kain sutra lembut perpaduan warna ungu pastel dan kuning muda, dengan sabuk terbuat dari emas murni yang melilit pinggang ramping Yuki. Setelah mandi, Yuki merasa segar. Seolah seluruh kotoran yang menempel di tubuhnya luruh bersama air. 


Yuki duduk di meja rias. Mengenakan make up tipis hanya agar terlihat segar. Para pelayan membantu Yuki menata rambut. Dia terkejut ketika para pelayan tidak memaksanya untuk mengenakan banyak perhiasan. Bahkan membiarkan Yuki mengenakan make up sendiri.


"Pangeran telah berpesan agar Kami membiarkan Putri memilih dan mengenakan sendiri perhiasannya. Pangeran berkata, Putri tidak akan suka jika harus memakai banyak perhiasan dan bermake up tebal" ujar seorang pelayan sembari memasangkan hiasan rambut sederhana di kepala Yuki.

__ADS_1


"Terimakasih" Kata Yuki senang. 


"Putri sangat cantik, wajar saja Pangeran Kami begitu tergila-gila pada Putri"


"Jangan memujiku terlalu berlebihan" Kata Yuki sungkan. 


"Ini benar Putri, Selama Kami melayani Pangeran, Kami baru kali ini melihat Pangeran begitu perhatian pada wanita selain ibu dan adiknya. Sebelumnya, Pangeran tidak pernah memberikan respon kepada wanita-wanita lain yang berusaha mendekati Pangeran"


Yuki diam. Tidak tahu harus mengatakan apa.


"Sudah selesai Putri" kata Pelayan puas setelah selesai mendandani Yuki. Meskipun hanya mengenakan sedikit make up dan perhiasan sederhana, Yuki terlihat anggun dan mempesona. "Pangeran akan segera kembali untuk makan malam, apa ada lagi yang Putri inginkan ?"


"Tidak ada, Terimakasih"


"Baik Putri, Kalau begitu Kami permisi dulu untuk menyiapkan makan malam dan kebutuhan Pangeran. Jika ada yang Putri butuhkan, Putri bisa memberitahukan kepada penjaga di luar. Mereka akan menyampaikan kepada Kami"


"Aku mengerti. Terimakasih" kata Yuki sekali lagi.


Para pelayan berkemas. Setelah selesai, Mereka memberi hormat kemudian pergi meninggalkan Yuki yang termanggu seorang diri.


Yuki berdiri di balkon kamar, memperhatikan debur ombak yang menyapu lambung kapal. Angin menerbangkan helaian rambutnya. Dia menatap daratan yang mulai mengecil di belakang kapal. Samar Yuki seperti mendengar teriakan Pangeran Riana yang memanggil namanya.


Yuki kembali menunduk, menatap air di bawahnya. Dia sedang berpikir mungkin bisa kembali ke daratan dengan cara menceburkan diri ke laut dan berenang sampai pantai.


Tapi, Dia segera membuang pikiran bodoh di kepalanya. Jika Yuki tetap berbuat nekat, Dia bisa celaka. Paling buruk Dia bisa mati tenggelam di dalam lautan saat berenang kembali ke darat, atau di makan ikan hiu atau terbentur baling-baling kapal di bawah air.


Sesuatu yang pasti, yang sebaiknya di lakukan Yuki sekarang. Bukanlah mencoba melarikan diri. Tapi Dia harus mempercayai Pangeran Riana akan datang dan membawanya kembali pulang.


 

__ADS_1


 


__ADS_2