
"Lebih baik Kalian segera pergi ke hulu sungai untuk mengejar perahu menyebrang. Jika Kalian terlambat, Kalian harus menunggu sampai lusa. Itupun jika bisa" kata Kepala Penjaga Ragu.
"Apa ada masalah dalam perjalanan menggunakan perahu ?" Tanya Bangsawan Xasfir sambil mengambil kembali kertas yang ada di tangan Kepala Penjaga.
"Tidak ada. Tapi ada desas desus bahwa kerajaan akan menutup jalur keluar masuk untuk sementara"
"Benarkah ?. Kenapa ?."
Kepala Penjaga menggelengkan kepala. Enggan untuk menjawab. "Kami menunggu perintah resmi turun. Jika Kalian tidak ingin menunda perjalanan,lebih baik Kalian segera pergi"
Bangsawan Xasfir menganggukan kepala. Dia menyelipkan beberapa keping uang perak ke tangan kepala penjaga sebagai ucapan terimakasih karena telah membantu memandu perjalanan.
Kereta bergerak, membawa Mereka pergi melewati gerbang kota. Mereka terus berjalan, tidak melewati tujuan yang di beritahukan oleh Kepala Penjaga. Melainkan jalan lain untuk sampai di perbatasan Kerajaan Argueda dengan Negeri Porinda. Sesampainya di titik pertemuan. Beberapa Prajurit Garduete yang menyamar sudah menunggu. Pangeran Riana menaikkan Yuki ke atas kuda, kemudian Dia menyusul naik bersama Yuki.
Bangsawan Voldermont telah berganti pakaian, kembali menjadi laki-laki. Dia mendekatkan kudanya ke arah Yuki yang sibuk melilitkan kain di lehernya, untuk menutupi rambut dan wajahnya agar tidak mudah di kenali.
"Bagaimana Yuki, Apa Kau siap untuk pulang ?" Tanya Bangsawan Voldermont membuka pembicaraan.
Pulang...
Yuki merasa itu adalah kata terindah yang di dengarnya hari ini. Dia sudah menanti begitu lama untuk kembali Ke Garduete.
Yuki menganggukan kepala penuh semangat untuk menjawab pertanyaan Bangsawan Voldermont.
"Jangan sampai Kau sakit" Kata Bangsawan Voldermont terkekeh.
Setelah semua siap. Pangeran Riana kemudian memacu kudanya dengan kencang di ikuti rombongan di belakang.
Kuda-kuda berlari kencang, dengan langkah berirama menembus pepohonan. Meninggalkan matahari di belakang Mereka. Matahari yang selalu menghangatkan...
Rombongan Pangeran Riana terus berlari tanpa henti. Mereka bahkan nyaris tidak berbicara satu sama lain sepanjang perjalanan. Fokus pada perjalanan untuk kembali pulang ke Garduete. Semua memburu waktu dari kepungan kerajaan Argueda yang akan menutup wilayahnya.
__ADS_1
Mereka hanya berhenti di pos-pos yang di persiapkan Pangeran Riana sebelumnya, untuk buang air, mengisi perbekalan dan mengganti kuda. Yuki sangat terkejut ketika.mengetahui Pangeran Riana telah merencanakan semuanya dengan matang. Makan dan minum Mereka lakukan di atas kuda.
Siang dan malam terus berganti. Perhitungan waktu yang Yuki lakukan menjadi kacau. Dia tidak tahu sudah berapa lama Mereka melakukan perjalanan dengan mengendarai kuda. Berapa pos yang sudah Mereka lalui. Yang Yuki tahu, Mereka hanya mempunyai satu tujuan.
Kembali pulang ke Garduete
Ketika akhirnya Mereka memasuki perbatasan wilayah Garduete. Mereka baru bisa beristirahat sejenak untuk meluruskan punggung dan menganti kuda.
Yuki membasuh wajahnya dengan air. Rasanya ada debu setebal sepuluh cm menyatu di wajah Yuki, akibat perjalanan yang di laluinya. Tapi Yuki tidak keberatan meskipun badannya terasa remuk redam. Bisa pulang dengan selamat saja, Yuki sudah sangat bersyukur. Dia tidak mau serakah dan meminta lebih banyak.
Yuki memutuskan mandi dan berganti pakaian. Dia di bantu dengan dua orang pelayan, membersihkan badannya dan menganti pakaian. Ketika baru selesai merapikan rambutnya. Pangeran Riana muncul dan kembali mengajak Yuki untuk melanjutkan perjalanan. Karena ada kabar Pasukan Pangeran Sera yang mengejar Mereka berada cukup dekat dengan Mereka.
Jadi Mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan mengendarai kuda.
Saat akhirnya Mereka melihat Ibukota, Yuki merasa jauh lebih lega.
Perasaan lega bercampur haru memenuhi Yuki. Dia masih tidak menyangka, pada akhirnya Dia bisa kembali ke Garduete.
Bangsawan Voldermont merentangkan punggungnya saat Mereka memasuki Ibukota. "Setelah ini jangan mengangguku dulu. Berkat Kalian, Aku harus mengatur ulang semua jadwal kencanku" seloroh Bangsawan Voldermont kepada Pangeran Riana.
Terdengar lonceng yang di bunyikan dengan nada tertentu dari atas menara. Seolah menyambut kedatangan Pangeran Riana dan Yuki kembali. Kelopak bunga di tebarkan dari atas benteng. Seperti guyuran salju yang cukup indah.
"Terimakasih, Karena telah membawaku kemari" bisik Yuki kepada Pangeran Riana ketika Mereka berjalan memasuki gerbang.
Seluruh Prajurit dan Pelayan berbaris rapi. Menyambut kepulangan Mereka.
Dua hari dua malam, Yuki sama sekali menolak lepas dari tempat tidur. Dia seperti sedang balas dendam karena lebih dari seminggu, Kurang beristirahat dan hanya tidur di atas kuda yang sedang berlari.
Di hari ketiga, Saat Yuki sudah merasa lebih segar. Dia pergi ke Istana Raja untuk menghadap Raja Bardhana dan menemui Ibu Suri.
__ADS_1
Setelah semua urusan di istana selesai. Yuki pergi untuk bertemu dengan tunangan Rena.
Yuki membawa seikat besar bunga lily putih. Mengikuti tunangan Rena yang bernama Azzam pergi ke area pemakaman, tempat Abu Rena di tanam.
Area tempat pemakaman terletak di bukit yang tinggi. Dengan pemandangan di bawahnya yang cukup indah, berpadu dengan langit biru yang cerah. Yuki berdiri di depan makam, bersama Azzam.
"Kami berencana menikah di sana, Dia adalah gadis termanis yang pernah kutemui seumur hidupku" bisik Azzam sembari memandang kosong ke arah desa yang berada di bawah bukit. Ada kesedihan di dalam suaranya, yang berusaha di tutupi dengan baik.
"Maafkan Aku, Aku tidak bisa menjaganya dengan baik" Kata Yuki menyesal.
"Jangan meminta maaf Putri, gadisku ini Dia tidak akan menyesal meskipun kehilangan nyawanya. Dia yang terbaik"
"Ya..." Kata Yuki menyetujui. "Dia adalah yang terbaik yang pernah ada"
Yuki berlutut di depan makam Rena. Dia meletakkan buket bunga lily yang terus di bawanya ke atas makam Rena. Mengatupkan kedua tangannya ke depan, menunduk sembari memejamkan matanya.
Dia mulai berdoa.
Rena...semoga Kau bisa tidur dengan damai di sana. Aku tidak bisa membunuh Putri Alena, meskipun Aku berada di dalam situasi yang pernah Kau bicarakan. Namun, demi dirimu Aku pada akhirnya berhasil menemukan pelakunya. Aku belum siap untuk mengotori tanganku dengan darah. Maafkan Aku. Aku tidak bisa menjagamu dengan baik.
Angin bertiup meniup rambut Yuki. Dia sudah begitu banyak mendapatkan pengalaman berharga dari pertualangannya kali ini. Rasanya, apa yang terjadi membawa Yuki sedikit ke jejang yang lebih dewasa.
Kehilangan, kepedihan, dan pengendalian dirinya untuk mengatasi perasaan benci yang bercongkol di dalam hatinya.
"Apa yang Kau pikirkan ?" Yuki terkejut dan berbalik ke belakang. Mendapati Pangeran Riana sedang berbaring sembari menyangga kepalanya dengan satu tangannya. Dia menatap lurus ke arah Yuki. Menatap Yuki begitu dalam.
Perasaan nyaman di rasakan Yuki. Ketika Dia terbangun dari tidurnya dan membuka mata,dan menemukan Pangeran Riana berbaring di sisinya. Meyakinkan Yuki bahwa Dia sedang tidak bermimpi.
Hari sudah larut malam, Yuki meringkuk di atas tempat tidur. Terasa gesekan kulit Mereka yang saling bersentuhan. Hanya sebuah selimut yang menutupi Mereka berdua dari keterlanjangan. Pakaian Mereka tersebar di lantai dan kursi yang ada di dalam kamar.
__ADS_1
Pangeran Riana begitu ganas bagai kuda liar hari ini, membuat Yuki terkejut dan kewalahan.