
"Kau sangat kejam dan tidak memiliki belas kasihan"
Rafael tersenyum sinis mendengar perkataan Yuki. "Belas kasihan hanya akan membuat manusia menjadi lemah dan lagi..." Secara mendadak Rafael mencekal tangan Yuki dan menarik Yuki hingga menabrak dada Rafael. Yuki terhuyung mundur. Tapi Rafael kembali menyentakkannya hingga berdiri dengan jarak cukup dekat dengannya. "Daripada Kau terus-terusan menceramahiku soal belas kasihan. Apa tidak baiknya Kau berpikir untuk untuk belajar melayaniku sebagai istriku ?. Aku sudah cukup memanjakanmu selama ini. Sekarang akan kuingatkan Kau dengan baik, untuk apa Kau berada di sini"
Yuki langsung di tarik keluar rumah singgah. Rontaannya sama sekali tidak berarti. "Rafaell...lepaskan Aku" teriak Yuki marah.
Tangan Rafael mencekal Yuki dengan kuat. Menyeret Yuki tanpa daya untuk mengikuti langkahnya. Ketika Mereka sampai di kuda yang telah menunggu. Rafael langsung menaikkan Yuki secara paksa. Dengan posisi perut Yuki berada di atas punggung kuda.
Rafael langsung memacu kudanya pergi sementara dari dalam rumah singgah terdengar kegaduhan. Yuki sangat panik ketika mendengarnya. Dia mencemaskan keadaan tawananan di dalam rumah singgah.
Para prajurit memukuli para tawanan dengan tongkat kayu. Memaksa Mereka untuk berdiri dan berbaris rapi. Tidak perduli apakah itu tua atau muda.
"Sial, Kakek Tua. Aku akan membunuhmu sekarang !!" Seru kepala prajurit saat tangannya di lukai oleh Mantan Jendral yang sebelumnya berbicara dengan Yuki.
Kepala Prajurit itu mengangkat pedangnya dan akan menebas mantan jendral yang di tendangnya hingga jatuh tersungkur di depannya. Tapi sebuah pisau melayang di belakang kepala penjaga dan langsung menancap ke leher kepala penjaga hingga tembus ke depan.
Kepala penjaga itu terpaku sesaat. Sebelum akhirnya Dia mengeluarkan suara aneh. Dan kemudian jatuh tersungkur di lantai. Tubuhnya mengejang beberapa kali sebelum akhirnya diam.
Semua orang yang berada di dalam ruangan diam. Tidak menduga sama sekali akan ada kejadian seperti itu. Seorang tawanan yang sembari tadi diam di pojokan maju. Dengan tenang Dia membuka selimut yang menutupi tubuh dan rambutnya. Sementara itu tawanan lain menutup pintu rumah singgah dan memalangnya dengan tongkat kayu.
"Lama tidak berjumpa jendral" sapa tawanan itu tenang. Di tangannya terdapat pisau lain yang siap di hujamkan kepada para prajurit Rasyamsah yang kini terkurung bersama Mereka dalam rumah singgah. Meskipun Mereka masih muda dan membawa persenjataan, tapi jumlah Mereka kalah jauh dengan para tawanan dan orang yang baru saja membuka diri dihadapan umum bukanlah orang yang mudah di hadapi.
Keringat dingin mengalir. Mereka tahu posisi sudah berbalik arah. Para tawanan perang berdiri menatap Mereka garang.
"Bukankah lebih baik jika Kita memiliki lawan yang seimbang" kata tawanan lain yang menjaga pintu yang tertutup rapat, di palang dengan kuat dari dalam. Dia berdiri dengan sikap siap jika ada prajurit kerajaan Rasyamsah yang mencoba kabur dari dalam ruangan. Tawanan itu menarik kedua tangannya ke depan hingga terdengar suara gemeletak dari jari-jarinya.
__ADS_1
Sesampainya di istana kerajaan Rasyamsah. Yuki langsung di panggul di bahu oleh Rafael memasuki istana. Jerit meminta tolong Yuki terdengar di sepanjang jalan yang Mereka lalui sehingga menarik perhatian sekitar. Namun meskipun begitu, tidak ada yang berani datang dan membantu Yuki. Semuanya hanya memandang Yuki dengan iba.
Yuki memukul punggung Rafael berkali-kali. Memintanya untuk menurunkan Yuki.
Rafael menendang pintu kamar di depannya hingga terbuka dengan suara berdebam yang cukup kencang. Sesampainya di dalam kamar, Yuki langsung di lempar ke atas tempat tidur.
"Aduuhh" pekik Yuki ketika wajahnya menghantam tempat tidur dengan keras. Rafael melemparnya dengan kasar. Ketika Yuki berhasil menyeimbangkan dirinya dan duduk. Dia melihat Rafael berdiri memandangnya dengan sorot aneh dan berbahaya.
"Wanita yang di perebutkan dua negara besar" Kata Rafael sambil tersenyum puas. "Calon Ratu Pangeran Riana dari Negeri Garduete, tapi juga wanita yang membuat Sera Madza dari Argueda berani melakukan sumpah ksatria".
Yuki merasakan perasaan yang tidak menyenangkan. Dia tahu hal buruk pasti akan segera terjadi.
Rafael perlahan melepaskan jubahnya. Dia meletakan secara sembarangan di sandaran kursi yang ada di dekatnya.
Yuki beringsut mundur dengan waspada.
"Menjadi istriku akan memberimu banyak keuntungan. Kau akan menjadi Ratu di seluruh dunia. Tidakkah itu akan menyenangkan untukmu ?"
"Sayangnya, Aku tidak pernah berniat untuk menerima tawaranmu" kata Yuki tegas. Dia bersikap seolah mampu melawan Rafael.
Rafael terkekeh mendengar perkataan Yuki. Dia semakin berjalan mendekati Yuki.
__ADS_1
"Aku ingin tahu sampai sebatas apa Kau bisa melawanku"
"Tidaakk" Yuki mencoba meloncat turun dari atas tempat tidur untuk menghindari Rafael. Namun sayangnya Dia terlambat. Rafael sudah menarik kaki Yuki hingga Yuki kembali terjerembab dengan kasar ke atas tempat tidur. Membawa Yuki mendekati Rafael.
Yuki menendang-nendang berusaha melepaskan diri. Sayangnya Rafael sudah lebih dulu berada di atas Yuki dan langsung mencekal kedua tangan Yuki di atas kepalanya.
"Lepaskan Aku...Rafael..." Pinta Yuki sambil meronta kuat.
Rafael tersenyum dingin. Pandangan matanya menelusuri lekuk tubuh Yuki yang masih ditutupi pakaian. Seolah Dia sudah bisa melihat semua dengan jelas. Yuki merinding ketika melihat tatapan mata Rafael.
"Tidakkk !!" Pekik Yuki kencang. "Siapapun tolong Akuu.."
Yuki sangat ketakutan sekarang. Tatapan Rafael sama persis dengan tatapan mata Pangeran Riana saat pertama kali memperkosa Yuki. Pandangan matanya mengisyaratkan, Dia tidak akan berhenti sampai keinginannya terpenuhi.
Yuki terus memberontak ketika Rafael mendekatkan wajahnya. Menolak segala cumbuan Rafael di wajah Yuki. Yuki berusaha sekuat tenaga melawan sampai pergelangan tangannya terasa sakit. "Tidakk Mau...pergi.."
Plaaakkk
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Yuki. Terasa panas. Sudut bibir Yuki mengeluarkan darah segar. Kejutan itu langsung menghentikan rontaan Yuki.
"Berhenti melawanku atau Kau akan mendapatkan rasa sakit yang jauh lebih parah daripada ini" kata Rafael dingin. Nikmati saja permainanku dan Kau akan tahu bahwa Aku jauh lebih baik ketimbang kedua Pangeranmu"
Sambil berbicara, Rafael secara kasar merobek pakaian Yuki sehingga memperlihatkan buah dadanya dengan gamblang didepan Rafael. Yuki tidak bisa melawan ataupun menyembunyikannya, karena kedua tangannya masih di cekal dengan kuat. Sementara itu Rafael mulai kembali menciumi Yuki penuh nafsu.
Satu tangannya mencengkram rahang Yuki. Memaksa Yuki untuk menerima ciuman Rafael. Yuki memanfaatkan kesempatan untuk menggigit bibir Rafael. Rafael melepaskan ciumannya dan bergerak mundur selangkah. Yuki langsung bangun dan hendak berlari pergi. Tapi Dia kembali di tarik dan...
Buukkk
__ADS_1
Sebuah pukulan keras kembali di terima Yuki di bagian perutnya. Yuki terbatuk dengan susah payah. Meringkuk di lantai menahan rasa sakit yang luar biasa di perutnya. Pandangan matanya seolah berkunang-kunang.