Morning Dew

Morning Dew
207


__ADS_3

Yuki nyaris berteriak. Tapi orang di belakangnya segera menutup mulut Yuki. Menarik Yuki kuat ke sebuah pintu rahasia yang berada di dalam kamar. Ketika Yuki menoleh, Yuki melihat Pangeran Arana.


Pintu rahasia kembali berdesir dan tertutup.


Yuki bersandar di baliknya. Jantungnya berdegub kencang. Dia ingin menangis saking leganya saat mengetahui Pangeran Arana menyusulnya.


"Aku memang mengatakan Putri harus bertahan. Tapi BUKAN di dalam kamar Raja Trandem. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Kakak pasti akan membunuhku" 


"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Kenapa Kau lama sekali" ujar Yuki dengan mata berkaca-kaca.


"Bagaimana Putri bisa berada di dalam sana ?"


"Rafael menyetujui permintaan Raja Trandem untuk memberikanku padanya. Aku sangat ketakutan tadi. Kakiku terasa lemas"


Pangeran Arana berdecak marah. "Aku tidak pernah mempercayai orang itu. Sekarang Ayo Kita segera pergi dari sini. Ibu dan Magitha sudah berada di tempat aman, para prajurit membawanya menuju perbatasan sebelum kerajaan Rasyamsah menyadari Mereka menghilang"


Yuki di tarik agar mengikuti Pangeran Arana berjalan di lorong rahasia istana Kerajaan Rasyamsah. Memasuki lorong-lorong sempit dan lembab, yang hanya muat untuk satu orang. Langkah Kaki Mereka bergema. Di belokan, Pangeran Arana membuka teralis besi di depannya. Dia menengok ke bawah, setelah memastikan keadaan aman. Pangeran Arana tanpa ragu meloncat turun ke bawah.


"Ayo Putri, Sekarang" perintah Pangeran Arana dari bawah. 


Yuki memposisikan kedua kakinya, sehingga mengantung di bawah. Kemudian tanpa keraguan Dia meloncat turun ke bawah. Pangeran Arana menangkap tubuh Yuki sehingga Dia tidak jatuh terbentur ke bawah.


Mereka berada di saluran pembuangan. Baunya minta ampun. Yuki menutup hidungnya dengan kedua tangannya. Rasanya Dia ingin muntah.


Mereka terus berjalan mengikuti aliran air. Di atas Mereka terdengar jelas langkah kaki orang yang hilir mudik. Terdengar pula suara ringik kuda dari kejauhan. Mereka akhirnya sampai di sebuah gorong-gorong yang cukup besar. Yuki melongok untuk melihat. Ujung dari gorong-gorong berada di atas sebuah tebing yang cukup terjal. Lumut terbentuk dari bekas air yang merembes ke bawah.


"Kita akan lewat sini ?" Tanya Yuki tidak yakin.


"Ya, Ibu dan Magitha sudah lebih dulu berangkat. Ini adalah jalan keluar tercepat untuk melewati istana. Kita tidak bisa menggunakan jalan yang di lalui rombongan Magitha, karena Mereka pasti sudah memblokir tempat itu ketika mengetahui tawanan Mereka menghilang"


"Bagaimana caranya Kita menuruni bukit ini. Jika melihat keadaannya, Aku yakin jalannya sangat licin" Yuki melihat ke bawah dan langsung merinding sendiri.


"Kita akan meluncur turun ke bawah" ujar Pangeran Arana kalem.


"Hah ?" Tanya Yuki tidak yakin pada pendengarannya.


Tapi belum sempat Yuki mencerna lebih jauh ucapan Pangeran Arana. Lengannya keburu di cekal dengan kuat. Pangeran Arana meloncat ke bawah, menarik Yuki untuk ikut bersamanya.

__ADS_1


Mereka merosot seperti berada di atas papan luncur. Tubuh Yuki terasa perih karena tergores bebatuan di bawahnya. Akhirnya Mereka berguling dan jatuh di atas tanah.


"Apa Putri baik-baik saja ?" Tanya Pangeran Arana ketika Dia sudah berhasil menyeimbangkan badannya.


"Tidak, rasanya jantungku seperti berhenti berdetak" erang Yuki tertahan. Yuki berdiri dengan susah payah. Memeriksa lengannya yang penuh dengan goresan memanjang. Yuki mendongak dan tidak percaya ketika melihat seberapa tingginya Mereka meluncur turun ke bawah. Dia tidak percaya Dia masih hidup.


Pangeran Arana menarik Yuki. Membantu Yuki untuk berdiri dengan tegap. 


"Tunggu di sini sebentar. Aku mau memeriksa keadaan" ujar Pangeran Arana tenang. Dia lalu berjalan menuruni bukit. Yuki membersihkan diri dan menemukan secarik kertas di dekat kakinya.


Yuki membungkuk untuk mengambil kertas, yang ternyata denah kasar istana kerajaan Rasyamsah, yang di buat Pangeran Arana. Selagi menunggu Pangeran Arana, Yuki iseng mempelajari denah di tangannya.


"Putri Yuki, Ayo" ajak Pangeran Arana tiba-tiba dari bawah bukit. Mengejutkan Yuki. Yuki berjalan terhuyung menghampirinya.


"Aku menemukan ini" ujar Yuki sembari mengibaskan kertas denah di tangannya. Pangeran Arana segera mengambil kertas dari tangan Yuki dan segera membakarnya menjadi abu.


"Kenapa membakarnya ?" Tanya Yuki penasaran.


"Akan sangat berbahaya jika denah ini jatuh ke tangan pemerintahan Rasyamsah yang sekarang" jawab Pangeran Arana datar. Dia menunggu sampai kertas itu seluruhnya menjadi abu. Kemudian menginjaknya berkeping-keping. Sehingga bertebaran tertiup angin.


Mereka menuruni bukit. Menuju kuda yang telah di sembunyikan Pangeran Arana. Yuki memakai mantel untuk menutupi pakaiannya. Dia bahkan tidak sempat untuk menganti pakaian dan melepas perhiasannya.


Yuki lega, misi Mereka berhasil dengan baik.


"Kita hampir sampai" Kata Pangeran Arana ketika Mereka berhenti untuk mengisi air di sebuah sungai. "Jika Kita sudah tiba di perbatasan, akan ada pasukan Argueda dan Negara sahabat yang menunggu Kita. Kita akan aman"


"Berapa lama lagi ?" Tanya Yuki mengusap keringat di keningnya. "Apakah Kita bisa melalui penjaga wilayah dengan aman ?. Mereka sekarang pasti sudah mengetahui tawanan dan Kita menghilang"


"Aku tahu jalan keluar yang aman dari sini. Jalan yang dulu sering di gunakan Raja dan Ratu untuk bepergian keluar wilayah Rasyamsah tanpa di ketahui orang. Kita hanya butuh waktu kurang dari dua jam untuk keluar dengan aman dari negeri ini"


Yuki selesai mengisi air minumnya. Pangeran Arana lebih dulu naik ke atas kuda ketika Yuki baru saja menarik tali kengkangnya untuk naik ke atas kuda. Ketika sebuah panah menancap dengan cepat di dekat kaki Yuki.


Saat menoleh, Yuki melihat prajurit Rasyamsah datang.


"Sial.." Maki Pangeran Arana.


Panah kedua kembali di lepas. Menggores kaki Yuki.

__ADS_1


"Aduhh"


"Putri Yuki"


"Menyerahlah Kalian" teriak salah satu Prajurit Rasyamsah lantang.


Gawat. Jika terus begini Pangeran Arana pasti akan tertangkap. Dan nyawanya terancam bahaya. Raja Trandem tidak akan segan membunuh Pangeran Arana untuk mengoncangkan Argueda. Yuki tidak bisa membiarkannya terjadi.


Menyadari hal itu. Yuki bangun dengan kecepatan yang tidak Dia duga dimilikinya, dengan kuat Yuki langsung menepuk pantat kuda yang di naikin Pangeran Arana.


"Pergi..Pangeran pergi"


Kuda meringkik keras karena terkejut. Kedua kakinya melayang di udara.


"Putri Yuki.." panggil Pangeran Arana berusaha mengendalikan kudanya yang memberontak, untuk lari.


"Pergi !!!, Kau tidak boleh tertangkap Mereka"


"Putri.."


"Pergilah..Mereka tidak akan membunuhku"


Pangeran Arana memandang keteguhan Yuki. Dia mengerti. Dia harus pergi dan mencari bantuan untuk menyelamatkan Yuki. Jika Mereka berdua sampai tertangkap, Dia akan terbunuh dan Yuki bisa menjadi budak wanita dari Raja Trandem.


Pangeran Arana berhasil mengendalikan kudanya, Dia memacu kudanya untuk segera berlari.


Kuda berlari meninggalkan Yuki. Derap langkah kuda perlahan mulai menjauh. Meninggalkan Yuki seorang diri.


"Kejar Dia" teriak kepala prajurit kepada Prajurit muda yang mengikutinya.


"Tidak perlu" 


Yuki tersentak saat mendengat suara familiar yang di kenalnya. Meskipun Yuki belum melihat sosok yang berbicara. Tapi Yuki sudah mengetahui siapa pemiliknya.


Rafael maju memimpin pasukan. Dia mengenakan pakaian bangsawan Negeri Rasyamsah. 


Dia orang Rasyamsah..

__ADS_1


 


 


__ADS_2