
"Aku akan memanggil Serfa" ujar Bangsawan Voldermont pelan setelah Yuki cukup tenang. Dia menjadi lebih serius, tidak ada lagi nada bercanda dalam suaranya.
Pendeta Serfa datang tidak lama kemudian. Mereka berempat duduk bersama di ruang kerja Pangeran Riana. Yuki menceritakan semua mimpi yang di alaminya. Wajah Pendeta Serfa berubah menjadi tegang, tapi Dia tetap tenang. Dia bertanya satu dua kali, kemudian terdiam lagi. Setelah Yuki menceritakan semuanya, Pendeta Serfa melihat ke arah Pangeran Riana.
"Kita harus menemui Yang Mulia Raja Bardana untuk meminta kejujurannya, Pangeran" kata Pendeta Serfa tenang.
"Apa maksudmu ?" Tanya Pangeran Riana tidak mengerti.
"Maafkan Saya Pangeran, tapi.. untuk saat ini hanya Baginda Raja saja, orang yang paling mengetahui asal usul Putri Yuki. Terutama Putri Ransah. Beliaulah sebenarnya petunjuk penting dari semua kejadian yang terjadi belakangan ini, termasuk alasan pemberontak mengincar Putri Yuki" jelas Pendeta Serfa lagi.
Setelah mendengar penjelasan Pendeta Serfa, Pangeran Riana memutuskan tidak akan menundanya. Hari masih larut malam. Pagi belum menjelang. Pangeran Riana memerintahkan kepala pengawal untuk mempersiapkan pasukan menuju ke istana Raja Bardhana
Raja Bardana baru tidur satu jam yang lalu ketika rombongan Pangeran Riana tiba. Kepala Pelayan membangunkannya dengan berhati-hati. Kepalanya pusing karena kurang tidur. Tapi begitu mendengar Pangeran Riana datang bersama Putri Yuki, Dia tahu sesuatu telah terjadi. Putranya tidak akan pernah nekat membangunkannya jika bukan keadaan darurat.
Jadi sekarang Dia duduk di ruang kerja bersama Pangeran Riana, Yuki, Bangsawan Voldermont dan Pendeta Serfa.
Pelayan menyiapkan minuman saat Bangsawan Asry dan Bangsawan Xasfir tiba. Pangeran Riana memanggil Mereka datang atas perintah Raja Bardhana.
Ruangan yang di gunakan sekarang adalah Ruang tertutup tempat biasa Raja membahas masalah-masalah penting dengan sedikit orang. Tidak ada yang boleh masuk sesudah pelayan terakhir meninggalkan ruangan. Kepala Pelayan mengawasi sekeliling dari luar pintu, untuk memastikan tidak ada yang mencuri dengar.
Raja Bardhana mendengarkan penjelasan Pangeran Riana dengan penuh perhatian. Dia tidak mengatakan apapun sampai Pangeran Riana mengakhiri ceritanya.
"Jadi begitu keadaannya" Ujar Raja Bardhana sembari menganggukan kepala mengerti.
"Yang Mulia, Mohon beritahu Kami apakah kecurigaan ku benar ?" Tanya Pendeta Serfa dengan perasaan was-was.
__ADS_1
Raja Bardhana menegakkan punggungnya. Sikapnya berubah dratis. Dia menunjukan wibawanya sebagai seorang Raja. Memandang semua orang di depannya.
"Pendeta Serfa, Tuntun para Bangsawan yang ada di sini untuk melakukan upacara sumpah setia padaku tanpa terkecuali dirimu"
Pendeta Serfa terkejut mendengar perintah Raja Bardhana. Sumpah Setia adalah ritual khusus untuk menyatakan kesetiaan kepada yang di tuju. Jika melanggar, Mereka akan di siksa dengan penyakit aneh yang tidak akan bisa sembuh sampai ajal menjemput Mereka.
Bagi peminta sumpah, Dia harus mengorbankan sesuatu sebagai imbalan dalam perjanjian ini. Raja Bardana secara mengejutkan mengorbankan lima tahun sisa umurnya untuk mendapatkan sumpah setia dari Para Bangsawan.
Pangeran Riana menentang begitu mengetahui apa yang di korbankan Raja Bardana, Tapi Raja Bardana bersikeras melakukannya. Dia memandang Pangeran Riana menunjukan kasih sayangnya sebagai seorang Ayah.
Dia rela mengorbankan apapun untuk Anak yang diam-diam selalu di banggakannya. Raja Bardhana tidak pernah mengatakan kepada Pangeran Riana betapa Dia beruntung memiliki Putra seperti Pangeran Riana. Mengurangi lima tahun dari sisa umurnya sangat sepadan jika itu untuk Putranya.
Setelah Ritual selesai, Semua orang kembali berkumpul di ruangan. Raja mengangkat cangkir teh di depannya dan meminumnya. Kemudian menatap lurus ke arah Yuki sebelum akhirnya berbicara tanpa keraguan.
"Benar dugaanmu, Putri Yuki..Dia adalah seorang Ciel"
Yuki.
Sementara Yuki sendiri duduk dengan tenang. Dia tidak memahami kengerian yang terjadi di sekitarnya akibat perkataan Raja Bardhana.
Dia baru menyadari ketika mendengar Bangsawan Asry menarik nafas panjang.
"Yuki, Aku harap Kau tidak membocorkan identitasmu ini pada siapapun. Semakin banyak yang mengetahui jati dirimu, maka nyawamu akan semakin terancam. Apa Kau mengerti ?" Tanya Raja Bardhana serius.
Yuki menatap Raja Bardana masih tidak mengerti. "Maafkan Aku Yang Mulia, Aku masih tidak mengerti. Apa itu Ciel ?"
__ADS_1
Raja Bardhana menyandarkan punggungnya ke belakang, kemudian Dia mulai bercerita.
Ciel adalah manusia istimewa yang di beri beribu anugerah oleh dewa, bahkan ada yang sampai mengatakan, tidak ada doa Ciel yang tidak di kabulkan dewa. Keberadaan ciel sangat langka dan tersembunyi, selain itu tidak semua keturunan Ciel akan mendapatkan darah Ciel.
Setiap Ciel memiliki kemampuan khusus yang tidak pernah sama. Putri Ransah memiliki kemampuan meramal masa depan. Sementara Yuki, memiliki kemampuan dapat melihat kematian orang-orang di sekitarnya melalui mimpi.
Tapi Yuki merasa ragu akan kemampuannya, meskipun Dia tidak membantah Raja Bardhana. Yuki lebih percaya Dia membawa dewa kematian bersamanya, sehingga membawa kesialan bagi orang di sekitarnya.
Seorang Ciel sangat di buru oleh para penganut ilmu hitam, karena darahnya mampu memberikan kekuatan beribu kali lipat ketimbang harus membunuh seribu perawan.
Kelebihan lain dari Ciel adalah, sekali seseorang jatuh cinta pada Ciel, Dia akan mencintainya seumur hidup seperti orang gila.
Yuki langsung memikirkan mengenai Pangeran Sera. Tapi Dia tetap diam dan hanya mendengarkan cerita Raja Bardhana.
Ada kisah yang pernah terjadi beratus-ratus tahun lalu, seorang Ciel dan anak-anaknya di bunuh oleh penguasa yang cemburu padanya. Di depan mayat anak-anaknya, sebelum kematiannya. Ciel itu mengeluarkan kutukan, akan ada satu masa di mana dunia di kuasai oleh sihir hitam karena berhasil meminum darah Ciel. Kekuatan itu akan membunuh lebih dari seperempat jumlah populasi manusia di dunia ini.
Kuil suci yang mendapat laporan, sudah berusaha menangkal kutukan itu untuk menyelamatkan umat manusia, tapi Doa dari seorang Ciel yang tersakiti itu sangat kuat. Sehingga untuk menghindari kutukan, Kuil suci terpaksa membunuh keturunan Ciel yang di temui.
Raja Bardhana menemukan Putri Ransah berada di tengah hutan saat Dia berumur sepuluh tahun. Putri Ransah bersama pengasuh dan pelayannya. Mereka sedang melarikan diri saat itu karena rombongan Mereka di serang tiba-tiba. Di antara Mereka, hanya Raja Bardhana yang mengetahui alasan penyerangan itu. Dia diam-diam menyelamatkan Putri Ransah dan memberinya tempat di kerajaannya. Menyembunyikan Putri Ransah di istananya sampai keadaan aman dan membiarkan Putri Ransah tinggal bersamanya. Semenjak itu persahabatan Mereka terjadi.
Semua orang pulang ke tempat masing-masing setelah Raja Bardana memberikan instruksi yang jelas. Pangeran Riana mengantarkan Yuki pulang. Dia tidak kemana-mana hari ini. Jadi Dia di ruang kerja dan kembali membaca semua dokument mengenai sihir hitam yang pernah terjadi.
Yuki duduk di sofa panjang yang terletak tepat di depan meja kerja Pangeran Riana. Dia sudah tidak bisa tidur lagi. Semuanya terasa semakin membingungkan baginya dan tidak masuk akal.
"Kau harus berhati-hati dan jangan mempercayai siapapun, Orang itu cukup dekat denganmu, jika tidak, bagaimana Dia bisa mengetahui jati dirimu" kata Pangeran Riana mengingatkan.
__ADS_1
"Apakah Ayah tau Aku seorang.." Yuki tidak berani meneruskan. Tapi Dia mulai memahami kenapa Ayahnya begitu ketakutan di malam sebelum penyerangan itu.