Morning Dew

Morning Dew
142


__ADS_3

Pangeran Sera mengarahkan Yuki agar kembali duduk di kursinya. Yuki menuruti perintah dengan wajah kebingungan. Dia menatap Pangeran Sera tidak mengerti.


Yuki nyaris berdiri ketika Pangeran Sera berjongkok di depannya. Meraih pergelangan kaki Yuki ke pangkuannya.


"Apa..Apa yang Pangeran lakukan" tanya Yuki panik.


"Biarkan Aku mencoba mewarnai kakimu. Tenang saja, Aku akan berusaha serapi mungkin melakukannya"


"Ta..tapi..."


"Diam Yuki" perintah Pangeran Sera dengan nada memerintah. Yuki sangat canggung. Pangeran Sera dengan tenang, mulai mewarnai kuku kaki Yuki.


"Aku bisa sendiri.." ringik Yuki kebingungan. Dia ingin menarik kakinya. Tapi Pangeran Sera menahannya.


Dua orang pelayan masuk ke dalam kamar untuk membawakan teh dan peganan. Mereka tampak terkejut ketika menyaksikan pemandangan di depannya. 


Pangeran yang begitu di puja oleh sebagian besar wanita di Negeri Argueda. Berjongkok dengan tenang di depan seorang wanita, untuk mewarnai kuku kakinya. 


Yuki yang menyadari tatapan pelayan kembali berusaha menarik kakinya. "Jangan bergerak Yuki" pinta Pangeran Sera kembali dengan tegas.


Ketika akhirnya Pangeran Sera sudah selesai mewarnai semua kuku kaki Yuki. Yuki segera melepaskan diri dan langsung berdiri dengan canggung. Wajahnya sangat merah karena malu. Pangeran Sera ikut berdiri. Memandang Yuki dengan puas.


"Bagaimana...apa Kau suka ?" Pangeran Sera tidak menunggu jawaban Yuki. Dia mencubit pipi Yuki gemas. "Lihatlah wajahmu begitu merona, sepertinya Aku sangat mahir mewarnai kuku calon ratuku"


Para pelayan saling berpandangan. Sekarang Mereka mengerti, kepada siapa Mereka harus bersandar. Jika Pangeran Sera berniat menjadikan Putri Yuki calon ratunya, kesempatan karir Mereka akan maju dengan pesat jika Mereka terus menjadi pelayan Putri Yuki.


Yuki mengaduh saat pipinya di cubit oleh Pangeran Sera. Dia mundur dan melepaskan cubitan Pangeran Sera di pipi.


"Ini untukmu" Kata Pangeran Sera sembari menyerahkan bungkusan yang tadi di bawanya kepada Yuki.


Yuki menerimanya dengan wajah binggung. "Apa ini ?" 

__ADS_1


Pangeran Sera duduk santai di sofa panjang. "Bukalah"


Yuki menurut. Dia duduk di samping Pangeran Sera. Kemudian membuka bungkusan di tangannya. 


"Wuuaahhh" seru Yuki senang. Bingkisan itu berisikan hasil karya dan lukisan anak-anak di pengungsian. Dengan antusias Yuki melihat satu persatu kiriman yang di tunjukan untuknya. Yuki menemukan lukisan milik Qiras yang menggambarkan seorang wanita sedang bermain dengan anak-anak di tanah lapang. 


"Bagaimana kabar Mereka, apa Mereka baik-baik saja ?" Tanya Yuki girang.


"Sekarang Mereka sudah berada di tempat aman dan mendapatkan bantuan yang layak. Bingkisan ini di titipkan kepada penjaga yang kembali ke ibukota hari ini" jelas Pangeran Sera merasa lega ketika melihat raut senang di wajah Yuki.


"Syukurlah, Aku jadi ingin bertemu Mereka"


"Aku akan membawamu bertemu Mereka, jika keadaan sudah aman" Pangeran Sera mengusap lembut rambut Yuki. Yuki memandang Pangeran Sera dengan sorot sedih. 


Seberapa parah sebenarnya masalah di perbatasan. Sampai hari ini Yuki tidak mendengar kabar apapun mengenai Pangeran Riana. Dia belum juga di ketemukan keberadaannya. Baik oleh kerajaan Garduete maupun Argueda.


"Jangan memasang wajah seperti itu Yuki" tegur Pangeran Sera tidak suka.


Pangeran Sera mengambil buku di atas meja yang sebelumnya di baca Yuki. Keningnya berkerut ketika Dia membuka isinya. "Sejak kapan Kau tertarik dengan sejarah kerajaan Argueda ?" Tanya Pangeran Sera penasaran.


"Aku ingin mengetahui mengenai Ibuku" jawab Yuki jujur.


"Dan..."


Yuki menundukan kepala. Dia terdiam. Pangeran Sera menghela nafas. Kemudian mengulurkan tangan untuk menggengam tangan Yuki lembut.


"Apakah semua itu benar. Ibuku terlibat dengan konspirasi kerajaan, dan Dia juga otak utama di balik pembersihan musuh Ratu Warda dua puluh tahun lalu ?" 


Yuki tidak bisa lagi menyembunyikan rasa penasarannya. Dia ingin kepastian. Mendengarnya sendiri dari Pangeran Sera.


"Apapun yang di katakan orang mengenai ibumu. Bagi keluargaku Dia tetap seorang pahlawan. Berkat Dia, Ibuku masih hidup sampai sekarang. Aku juga berada di sini berkat kebaikan hati ibumu" 

__ADS_1


"Apakah tidak ada cara lain, selain membunuh untuk mempertahankan hidup kalian ?" Tanya Yuki lagi masih belum menerima kebenaran yang terungkap.


Pangeran Sera memandang Yuki dalam, memohon pengertian dari Yuki. 


"Jika ada jalan yang lebih mudah tanpa harus membunuh, Percayalah Putri Ransah pasti akan mengusulkan rencana itu terlebih dahulu. Tapi tidak ada Yuki" 


Yuki hendak membuka mulutnya ketika Pangeran Sera kembali berkata. "Saat itu Aku masih terlalu kecil untuk mengingat semua. Istri pertama Ayah yaitu Putri Baradina dan Istri kedua Ayah yang bernama Putri Xarinty, terobsebsi untuk menjadi Istri Utama yang pasti akan lebih diprioritaskan untuk menduduki tahtah kerajaan sebagai seorang Ratu mendampingi Ayah yang baru saja di angkat sebagai Putra Mahkota. Mereka mulai bergerak menyingkirkan istri Ayah yang lainnya, yang Mereka anggap membahayakan tujuan Mereka. Ibu sebenarnya tidak ingin terlibat dalam perebutan kekuasaan, tetapi karena Dia adalah istri kesayangan Ayah. Kedua Putri tersebut merasa Ibu adalah ancaman dan berusaha menyingkirkannya dan seluruh keluarganya"


Pangeran Sera menyentuh pipi Yuki dengan lembut. "Percayalah Yuki, baik atau tidaknya Ibuku tergantung dari siapa Kau akan mendengar. Seringkali Kau nantinya akan menemukan dirimu sendiri. Tanpa teman atau orang yang bisa Kau percaya. Tapi...ingatlah satu hal. Di masa depan, tidak peduli apa yang terjadi, Kau akan selalu menjadi prioritasku. Aku akan selalu menjadi rumah bagimu"


Yuki tertegun mendengar Pangeran Sera. Kalimat peringatan yang nyaris sama diucapkan Pangeran Riana padanya.


Pangeran Sera melepaskan genggamannya. Dia berbalik dan mengambil gitar yang di sandarkan di tembok, tidak jauh dari sofa. Kemudian dengan tenang, Pangeran Sera mulai memetik senarnya. Dentingan musik mengalun lembut.


Dia memainkan sebuah lagu cinta yang mendayu lembut. 


Yuki diam. Menikmati dentingan irama yang di mainkan Pangeran Sera. Suara para Putri yang tadinya terdengar riuh, berhenti seketika. 


Hening.


Hanya ada dentingan lagu dari gitar yang di mainkan Pangeran Sera.


Yuki memejamkan mata sembari bersandar di sofa. Angin semilir dan nada lagu menyatu di alam bawah sadarnya. Membuatnya mengantuk.


Pangeran Sera menyelesaikan nada terakhir. Ketika Dia mendongak untuk melihat Yuki, gadis itu sudah tertidur pulas. 


Dia meletakkan gitar kembali ke tempatnya dengan hati-hati. Yuki sedikit bergerak ketika Pangeran Sera kembali duduk di dekatnya. Mengulurkan tangan untuk mengusap pipi Yuki.


Beberapa hari ini Dia terpaksa mengacuhkan Yuki. Membiarkan gadis itu sendiri di istana. Banyak pekerjaan yang harus di tanganinya. Selain masalah Riana, Dia juga sedang menangani masalah adik tirinya, Laiden. Mata-matanya melaporkan, Adiknya diam-diam melakukan pergerakan bawah tanah untuk mengumpulkan kekuatan. Mencoba menggulingkan posisinya sebagai Perwaris tahtah.


Sera tahu, Dia tidak boleh melepaskan posisinya sekarang. Jika sampai Laiden menang, Ibunya dan Arana akan terbunuh. Adik perempuannya akan dijual sebagai budak **** di pengasingan. Lalu Yuki, sudah pasti Dia akan menjadi sasaran Laiden. Nasibnya akan sama seperti adik perempuannya. Sera tidak akan membiarkan itu semua. Dia harus menyusun rencana untuk mempertahankan keluarganya dan melindungi Yuki.

__ADS_1


 


__ADS_2