
Yuki mengenalinya sebagai ruang penyiksaan yang beberapa kali muncul dalam mimpinya. Dia tidak membayangkan akan kembali melihatnya secara langsung seperti sekarang.
Beberapa tawanan yang berada di sel paling pojok, duduk diam. Menunggu saat-saat kematian Mereka.
Yuki terus bertanya-tanya, sudah berapa lama Dia pingsan ?. Sudah berapa lama Dia di sini ?.
Ketika mendongak ke atas cendela kecil yang memperlihatkan langit malam, Yuki melihat bulan biru mulai mendekati puncak kepala.
Terdengar langkah kaki mendekat. Dua orang Prajurit kerajaan yang terhipnotis datang dan langsung membuka sel tempat Yuki di kurung. Yuki di tarik keluar dengan kasar. Kedua tangannya di rantai ke belakang.
Yuki di ampit berjalan menaiki tangga, keluar dari penjara bawah tanah yang berbau busuk. Tapi pemandangan di luar penjara jauh lebih mengerikan. Yuki nyaris muntah saat melihat empat orang terpasung di tengah lapangan. Tubuh Mereka sudah tidak lengkap. Mereka baru saja di bunuh. Darah masih menetes di tubuh Mereka.
Bangunan yang tempat Yuki berada sekarang merupakan kuil tua. Beberapa bangunanya yang terbuat dari batu hitam, sudah nyaris roboh. Tapi masih cukup kokoh berdiri menerjang waktu.
Akhirnya Yuki di bawa masuk ke dalam sebuah ruangan besar. Ada perapian yang di nyalakan. Itu adalah satu-satunya penerangan yang ada di ruangan ini.
Masih dengan tangan terikat ke belakang, Yuki di tinggalkan seorang diri di dalam ruangan. Pintu di tutup rapat.
Yuki menoleh ke kanan dan ke kiri dengan perasaan takut dan cemas yang bercampur aduk. Dia tidak bisa bergerak karena kedua tangannya terikat ke belakang dan kakinya di rantai dengan rantai besi.
__ADS_1
"Kau sudah sadar rupanya" sebuah suara yang cukup di kenal Yuki terdengar dari sudut ruangan yang jauh dari perapian.
Bangsawan Dalto duduk dengan menyilangkan kaki kiri ke atas kaki kanannya, di sebuah sofa dengan sandaran tinggi dekat cendela besar. Dia tampak santai sambil menyesap anggur di tangannya.
Pakaiannya tertutup jubah berwarna hitam pekat yang di kenakannya. Yuki nyaris tidak mengenali Bangsawan Dalto dengan penampilannya yang sekarang.
"Kenapa Kau melakukan semua ini ?" Bisik Yuki dengan nada marah.
Akhirnya Dia menemukan semua jawaban dari misteri yang terjadi di sekelilingnya. Yuki ingat, saat terakhirnya Sei berteriak lantang kepada pembunuh di depannya. Rupanya yang di maksud Sei adalah Bangsawan Dalto.
Kenapa Perdana Menteri Olwrendho mau menerima tamu yang berkunjung tanpa memberi kabar sebelumnya di larut malam, bahkan Dia juga mempersiapkan jamuan makan untuk tamu itu. Karena tamu yang mengunjunginya adalah teman baik putrinya.
Bahkan sebenarnya Bangsawan Doldorespun sudah memberikan petunjuk. Tapi Yuki terlalu naif. Alam bawah sadarnya menolak pikiran bahwa Bangsawan Dalto adalah pelakunya. Meskipun sebenarnya Dia sudah memiliki banyak petunjuk melalui mimpi-mimpinya.
"Kenapa Kau bisa menjadi sekejam ini ?" Isak Yuki kembali dengan suara bergetar karena marah.
"Aku tidak pernah mempercayai Ayah dan Ibuku sebagai penjahat. Dalam ingatanku Mereka adalah sepasang manusia yang sempurna. Awalnya Aku datang kemari untuk mencari tahu kebenaran mengenai kejadian sepuluh tahun yang lalu" jelas Bangsawan Dalto pelan. "Aku bertahan dari hinaan untuk mencari tahu apa yang telah terjadi. Sampai akhirnya, Tanpa sengaja Aku menemukan catatan harian Ibuku yang di sembunyikan di laci rahasia di dalam kamarnya"
Bangsawan Dalto terpekur memandangi gelas anggur di tangannya. Seolah Dia sedang bercerita pada dirinya sendiri.
"Dari buku itu, akhirnya Aku mengetahui kenyataan sebenarnya. Kedua orang tuaku membakar seluruh kuil dan orang-orang di dalamnya untuk menyelamatkan negeri ini dari kehancuran atas perintah kerajaan. Mereka tahu bahwa orang-orang ini adalah penganut sihir hitam yang di dirikan oleh kakekku. Tapi bukannya mendapat ampunan, Mereka kemudian di hukum mati untuk menutupi kenyataan bahwa sebagian besar penganut ilmu hitam itu adalah anggota kerajaan"
__ADS_1
Bangsawan Dalto tertawa seolah mengejek hidupnya sendiri. "Setelah itu yang paling memuakkan, keturunan Mereka justru bersikap sebagai korban, dengan berbagai alasan terus menunjuk kedua orang tuaku sebagai pelaku. Sungguh ajaib bukan ?" Tanya Bangsawan Dalto terkekeh. "Mereka selalu menganggapku hina atas apa yang telah di lakukan kedua orang tuaku. Tapi nyatanya, Mereka sendirilah orang yang hidup dengan memuja setan. Para munafik itu tidak pantas hidup di dunia ini"
Prang !!
Bangsawan Dalto meremas gelas anggur di tangannya hingga pecah dan melukai tangannya. Yuki melihatnya dengan tatapan tidak percaya.
"Untuk membalas dendam, berbekal dari petunjuk yang di berikan kakek sewaktu kecil. Aku akhirnya menemukan buku terlarang yang di sembunyikan Kakek di kuil ini dan membangkitkan kembali jiwanya yang telah mati. Kegelapan yang selama ini Mereka puja akan kugunakan untuk menghancurkan Mereka sendiri sampai tidak bersisa"
"Lalu kenapa Kau membunuh Ayahku dan para pelayan di rumahku. Apa salah Mereka padamu ?" Tanya Yuki menahan tangis.
"Aku menyesal atas kematian Perdana Menteri Olwrendho. Andai saja Dia mau bekerja sama Aku tidak perluh membunuhnya" Bangsawan Dalto berdiri dan mengelap tangannya yang berdarah dengan acuh. "Aku menawarkan kerjasama padanya dengan meminta sedikit darahmu, sebagai gantinya Aku akan memberikannya jabatan dan kekayaan yang cukup banyak untuknya. Tapi Dia menolak bahkan mengancam akan melaporkanku ke istana. Aku tidak punya pilihan lain. Rencanaku akan hancur jika Dia melakukannya. Percayalah Yuki, Aku terpaksa harus membunuhnya"
"Kau kejam..manusia iblis..tidak punya hati nurani" maki Yuki penuh amarah.
"Para pelayanmu mengenaliku, Mereka seperti Perdana Menteri Olwrendho, tidak mau bekerjasama. Jadi Mereka juga harus mati" Bangsawan Dalto bercerita dengan nada ringan. Seolah semua yang Dia ceritakan bukanlah sesuatu yang penting. Dia juga tidak peduli akan kemarahan Yuki. "Para Bangsawan dan Putri itu adalah keturunan Iblis. Setiap hari Mereka meneriakan hinaan padaku, mengejekku dan tertawa di atas penderitaanku. Mereka menganggap apa yang Mereka lakukan adalah hal wajar karena dosa kedua orang tuaku. Tapi Mereka sendiri rupanya jauh lebih hina dariku. Sampah-sampah seperti itu tidak pantas hidup di bumi, jadi lebih bagus Aku segera singkirkan Manusia macam mereka secepatnya"
Bangsawan Dalto memandang keluar cendela. Tepat di mana gerobak dengan tumpukan mayat sedang di dorong keluar oleh dua orang Prajurit yang terhipnotis. "Dan yang lainnya" Bangsawan Dalto mengangkat bahunya dengan pandangan tidak berdaya. "Aku terpaksa membunuh Mereka. Kerajaan mulai mencurigaiku ketika Mereka menyadari para Bangsawan dan Putri yang terbunuh adalah Mereka yang sering menghinaku. Riana bahkan memperketat penjagaan dan mengawasiku dengan ketat. Ketika terjadi penyerangan di pemakaman norah, Aku mencoba memanfaatkan situasi dengan menolongmu. Tapi kecurigaan Riana tidak teralihkan. Jika terus begini, Aku akan susah bergerak. Jadi Aku mencari korban secara acak dan membunuh Mereka untuk mengaburkan penyelidikan. Sungguh sial bagi Mereka ketika bertemu denganku di saat yang tidak tepat"
"Kau juga membunuh bibi mu untuk mengelabui penyelidikan ?" Tuntut Yuki meminta penjelasan.
__ADS_1