Morning Dew

Morning Dew
130


__ADS_3

"Kenapa Kau terlihat gugup"


"Aku tidak gugup. Mengelap...Siapa yang takut mengelap badanmu" ujar Yuki berusaha menyembunyikan perasaannya. Dia mengambil handuk dan membasahinya dengan air hangat. 


Pangeran Riana duduk dengan tenang di kursi kayu tanpa sandaran. Yuki menghampiri Pangeran Riana. Mulai mengelap wajah Pangeran Riana dengan hati-hati.


Yuki belum pernah memperhatikannya sedekat sekarang. Sebenarnya Pangeran Riana memiliki aura tertentu yang mampu menarik lawan jenisnya. Matanya yang tajam memiliki pesona sendiri bagi para wanita. 


Tubuhnya sangat proposional. Ada beberapa bekas luka di tubuhnya. Tapi justru luka itu membuatnya terlihat mengagumkan.


Yuki berhasil menyelesaikan tugasnya. Dia sudah membantu Pangeran Riana mengelap badannya. Dengan perasaan lega, Yuki meletakkan handuk ke baskom. 


"Kau sudah bisa berganti pakaian sekarang" kata Yuki tanpa berbalik untuk melihat Pangeran Riana. Dia mengambil baskom dan memindahkannya ke meja lain yang di letakkan di dekat pintu masuk. Yuki memeras handuk. Dia berpura-pura terlihat biasa saja, tapi sebenarnya jantungnya berdetak cukup kencang.


Dengan sengaja, Yuki memperlama aktifitasnya untuk menghindari Pangeran Riana. Yuki tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Dia merasa tergoda untuk bisa menyentuh semua otot tubuh yang di miliki Pangeran Riana. Godaan itu sangat besar, nyaris membuatnya kehilangan akal sehatnya.


Yuki mencoba mengalihkan pikirannya dengan berpikir positif. Keinginannya ini bisa jadi karena Dia hanya penasaran. Yuki masih remaja dan sedang dalam masa puber. Melihat bentuk badan yang begitu sempurna, wajar Yuki merasakan gugup seperti sekarang. Wajahnya memerah menahan malu. 


Yuki tidak pernah melihat bentuk badan laki-laki dari jarak dekat kecuali Pangeran Riana. Tapi biasanya Dia tidak terlalu memperhatikannya karena saat Dia dan Pangeran Riana cukup dekat, Mereka sedang bertengkar. 


Yuki memang mengangumi para aktor bertubuh kekar, tidak menyangka Dia sekarang mendapatkan satu.


Apa mungkin karena Aku adalah Ciel atau memang kebetulan saja ?. Pendeta Serfa pernah mengatakan bahwa keinginan Ciel dapat dengan mudah di kabulkan dewa. 


Yuki menggelengkan kepala. Melepaskan seluruh pikiran liar yang memenuhi kepalanya. 


"Apa yang sedang Kau pikirkan ?"


Deg 


Yuki berbalik, terkesiap saat di depan matanya dada bidang milik Pangeran Riana berada cukup dekat dengannya. Yuki mundur sampai badannya menempel di meja. Dia tidak dapat melarikan diri karena Pangeran Riana telah mengurungnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Aroma tubuh Pangeran Riana begitu menggoda. Yuki mengepalkan kedua tangannya di dada. Mengurung pikirannya agar tidak berbuat memalukan. Dia khawatir akan lepas kendali. Keinginan untuk meraba perut Pangeran yang berbentuk sempurna sangat besar. 


Apa yang terjadi dengan diriku ?. Kenapa Aku bisa seperti ini ?.


"Ti...tidak ada...Kenapa Kau berdiri di belakangku...menyingkirlah"


"Kenapa Kau begitu gugup ?"


"Aku tidak gugup" bantah Yuki cepat. Terlalu cepat Dia menjawab sehingga kebohongannya dapat dengan mudah di cium oleh Pangeran Riana. 


"Benarkah ?" Tanya Pangeran Riana lagi dengan nada menggoda. Dia menundukkan kepala, mengigit cuping telinga Yuki yang telah memerah. "Lalu kenapa wajahmu mengundangku untuk memakanmu"


"Hentikan" pinta Yuki cepat. Dia memalingkan wajahnya melepaskan gigitan Pangeran Riana di telinganya.


"Untuk apa ?"


Yuki diam. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Degub jantungnya terdengar cepat. Hawa panas seolah menjalari tubuhnya. 


Berdiri dengan memalukan. Yuki terlihat binggung. Dia ingin pergi dari tenda ini dan melarikan diri dari pesona Pangeran Riana.


Rasanya Yuki ingin berteriak untuk meminta bantuan agar dapat lepas dari situasi yang terjadi. Tapi siapa yang berani menggangu Pangeran Riana ?.


"Apa yang akan Kau lakukan ?" Tanya Yuki was-was ketika Pangeran Riana mengengam pergelangan tangan Yuki. Pangeran Riana tidak menjawab, perlahan Dia mengarahkan tangan Yuki untuk menyentuh dadanya.


Yuki memundurkan tangan, ketika jemarinya menyentuh kulit Pangeran Riana. Tapi Pangeran Riana dengan sigap menahan tangan Yuki. Wajah Yuki semakin memerah. Dia merasa penampilannya yang sekarang sangat memalukan.


Terasa detak jantung Pangeran Riana di telapak tangan Yuki. 


Pangeran Riana menunduk, dengan tatapan dalam ke arah Yuki. Mencoba menilai respon Yuki. Yuki memalingkan wajah. Dia berharap Pangeran Riana tidak mendengar degub jantungnya yang sudah tidak beraturan.


"Hentikan" bisik Yuki ketika Pangeran Riana kembali menuntun tangan Yuki untuk menelusuri dadanya, perlahan turun ke lekuk perutnya. Yuki sudah tidak tahan lagi. Dengan sisa akal sehatnya, Dia melepaskan tangan Pangeran Riana dan menahan badan Pangeran Riana dengan membentangkan kedua tangannya untuk Mengambil jarak. "Cukup..hentikan" pinta Yuki lagi dengan suara yang lebih tegas. Wajahnya terasa panas. Dia tidak tahu seberapa merahnya Dia sekarang. "Jangan menggodaku lagi"

__ADS_1


Riana berdecak dalam hati. Awalnya Dia ingin menggoda Yuki. Namun sekarang, justru Dia yang tergoda. Wajah Yuki yang memerah ditambah mata sayunya. Mengundang Riana untuk segera datang dan menikmati manisnya tubuh Yuki.


Bagi Riana, Yuki bagaikan candu untuknya. Ekpresi wajah Yuki yang sekarang membuat jiwa primitif yang ada di dalam dirinya timbul. Dia ingin melihat wajah Yuki yang lain, ketika Yuki berada di bawahnya. Saat Dia menikmati tubuh Yuki.


Dengan sekali sentak, Riana menarik Yuki untuk mendekatinya.


Yuki langsung gelagapan saat Pangeran Riana mencium bibirnya. Tangan Pangeran Riana di tengkuknya, membuatnya tidak bisa bergerak melepaskan diri.


Yuki berusaha melepaskan Pangeran Riana. Dia ingat pintu tenda belum di rapatkan dengan benar. Bagaimana jika ada orang yang melihat.


"Pin...uugh" Yuki mencoba memperingatkan Pangeran Riana soal pintu, tapi kata-katanya terputus ketika Pangeran Riana mengangkat pinggulnya. Dalam sekali hentak, Yuki sudah duduk di atas meja dengan kedua kaki berada di antara pinggul Pangeran Riana. 


Baskom yang di letakan Yuki di atas meja berguling jatuh, ketika Yuki menyenggolnya. Saat Dia berusaha menahan Pangeran Riana yang terus menyerangnya tanpa ampun. Menimbulkan suara gemelentang nyaring.


Yuki kewalahan menghadapi ciuman Pangeran Riana yang terus menuntut untuk di layani. Satu tangan Pangeran Riana menarik pakaian Yuki hingga turun di bahu.


"Pan..Pangeran" 


"Ssttt" 


Terdengar barang-barang lain yang berjatuhan di lantai ketika Pangeran Riana mendorong Yuki untuk berbaring di atas meja. Kedua kaki Yuki masih mengantung di bawah. Pangeran Riana mengangkat keduanya dan mdnaikan ke atas meja dengan posisi di tekuk. Tanpa rasa canggung Dia menciumi kedua kaki Yuki. Sementara tangannya mengerayangi tubuh Yuki, mencari area sensitif Yuki.


Yuki menutup mulutnya kuat. Menahan erangan akibat rangsangan Pangeran Riana. Ciuman Pangeran Riana semakin berbahaya di kedua kakinya. Perlahan naik ke paha, kemudian menuju area pribadi Yuki.


Yuki tidak mengerti dirinya. Seharusnya Dia menolak Pangeran Riana. Namun tubuhnya tidak sejalan dengan pikirannya. Mereka semua justru memberikan respon kuat terhadap setiap sentuhan Pangeran Riana.


Bahkan, ketika Pangeran Riana mulai memasuki Yuki. Mulut Yuki mengeluarkan suara yang Yuki sendiri tidak mengerti.


Hujan turun kembali dengan deras di luar. Sementara di tenda, Pangeran Riana terus mengali kenikmatan dalam tubuh Yuki. Berkali-kali tubuh Yuki terguncang hebat. Tanpa sadar Dia menarik Pangeran Riana mendekat dan ganti memberikan tanda merah di leher Pangeran Riana.


 

__ADS_1


__ADS_2