
"Putri Ransah berhasil melindungi Ratu Warda dan Pangeran Sera kecil sehingga Mereka selamat sampai di istana. Meskipun saat itu Putri Ransah sendiri hampir kehilangan nyawanya. Tapi pada akhirnya Mereka semua selamat. Setibanya di istana, Ratu Warda dengan dukungan penuh dari seluruh keluarga dan koalisinya, Mereka memanfaatkan situasi dan membuat dua istri Raja beserta seluruh keluarga Mereka di jatuhi hukuman mati"
"Apakah Mama terlibat dalam rencana itu ?" Tanya Yuki nyaris tidak percaya.
Yuki pernah mendengar dari Pangeran Sera sebelumnya, Karena Putri Ransah telah menolong menyelamatkan Ratu Warda dan Dia saat kecil. Untuk membalas jasanya, Ratu Warda menbuat perjanjian dengan Putri Ransah. Jika suatu hari Putri Ransah melahirkan anak pertama, jika anak itu adalah laki-laki, maka Dia akan menjadi saudara dari Pangeran Sera. Tapi, jika yang di lahirkan adalah anak perempuan, maka anak itu akan menjadi istri dari Pangeran Sera.
Yuki tidak tahu, jika ada cerita yang jauh lebih rumit di balik kisah yang di ceritakan Pangeran Sera.
"Ratu sangat berhutang budi pada Putri Ransah. Karena selain menyekanatkan nyawanya, Putri Ransah juga berhasil memenangkan pertarungan kekuasaan yang sedang terjadi. Ada desas desus yang beredar saat itu, Putri Ransah adalah otak utama kemenangan Ratu Warda"
Yuki tidak menyangka Putri Ransah, Ibunya ikut terlibat dalam konspirasi kerajaan yang sangat mengerikan. Dia tidak mengerti kenapa Putri Ransah mau melakukannya. Bukankah dengan begitu secara tidak langsung Dia ikut andil dalam pembunuhan yang terjadi di dalamnya.
Kenapa Putri Ransah mau melumuri tangannya dengan darah, apakah demi kekuasaan ?. Tapi selama ini Putri Ransah bukan orang yang ambisius. Dia orang yang selalu bersyukur dan apa adanya. Di dalam benak Yuki, Putri Ransah adalah sosok yang penuh cinta dan kasih sayang, Bukan seorang pembunuh berdarah dingin.
"Tidak ada yang ingin hidup dengan membunuh orang lain Putri" ujar Rena lembut ketika melihat wajah Yuki berubah murung. "Baik Ratu Warda maupun Putri Ransah, Mereka berdua adalah orang yang baik. Tapi situasi dan lingkungan yang memaksa Mereka untuk melakukan itu semua. Mereka hanya ingin menyelamatkan diri Mereka. Sebab jika tidak, Mereka justru yang akan menjadi korban dari perebutan kekuasaan yang terjadi. Saya harap Putri dapat mengerti hal ini"
Yuki diam sesaat. Dia mengerti apa yang di katakan Rena. Tapi nuraninya tetap mengatakan semua yang di lakukan adalah kesalahan. Istana Argueda tidak seindah bangunannya. Di dalamnya banyak sekali konflik yang bisa membunuh, jika salah mengambil langkah sewaktu-waktu.
"Rena...apakah suatu hari nanti Aku akan seperti Mereka ?"
Rena terdiam, kemudian Dia mendongak. Menatap Yuki dengan ketegasan yang selama ini belum pernah di tunjukan di depan Yuki. Sekilas Yuki seperti melihat sosok Bibi Sheira di dalamnya.
"Jika saat itu tiba, Putri harus tegas memilih, menyelamatkan hidup Putri dan keturunan Putri, ataukah membiarkan musuh mengambil hidup Kalian"
Yuki menelan ludah. Dia tidak mampu lagi mengatakan apa-apa.
__ADS_1
Sore hari sangat cerah. Yuki duduk di balik meja belajar yang ada di dalam kamar. Dekat dengan cendela tinggi yang sengaja di biarkan terbuka. Dari cendela tersebut, Yuki dapat melihat laut lepas tanpa batas. Angin berhembus kencang. Secangkir teh hangat terletak di dekat sikunya. Sebuah buku besar berada di depannya.
Dari dalam kamar, terdengar suara gelak tawa para Putri yang sedang berkumpul atau menghabiskan sore di taman tengah.
Yuki memilih mengurung diri di dalam kamar. Suasana hatinya sangat buruk, jadi Dia menolak ajakan para pelayan untuk menikmati sore di taman seperti para Putri yang lain. Yuki masih shock saat mengetahui bahwa Ibunya terlibat dengan perebutan kekuasan yang terjadi di Argueda.
Yuki telah memeriksa beberapa buku laporan yang menjabarkan masalah Putri Ransah dalam beberapa versi dan sudut pandang yang berbeda. Dalam bayangan Yuki, Putri Ransah adalah sosok penuh kasih sayang. Sangat menyukai hewan lucu berbulu seperti anjing dan kucing. Tidak terlihat seperti seseorang yang mampu merencanakan pembunuhan kejam.
Tergiang kembali perkataan Rena di telinganya. Membuat Yuki bertanya pada dirinya sendiri. Jika Dia berada di posisi Putri Ransah atau Ratu Warda, apakah Dia bisa sampai hati membunuh orang lain ?.
Membunuh...
Pintu terbuka. Yuki mendongak, tersadar dari lamunannya. Pangeran Sera masuk ke dalam ruangan, tersenyum hangat sembari berjalan mendekati Yuki.
"Di luar sangat cerah, Aku kira Kau berada di luar seperti para Putri di taman" sapa Pangeran Sera tenang.
"Aku masih tidak percaya diri jika bertemu dengan Mereka" ujar Yuki beralasan.
Dari Rena, Yuki tahu bahwa semua Putri yang sering berkunjung ke istana Pangeran Sera adalah Mereka yang menyukai Pangeran Sera dan berharap bisa menikah dengan Pangeran Sera. Jadi Yuki sekarang paham, kenapa Mereka sangat membenci Yuki.
Istana Pangeran Sera jauh berbeda dengan istana Pangeran Riana. Di istana Pangeran Riana, suasana sangat sunyi. Pangeran Riana sangat ketat mengenai aturan di dalam istana. Dia tidak suka terlalu banyak orang masuk di dalam istananya. Hanya orang-orang tertentu saja yang di izinkan tinggal dan bekerja di dalam istananya.
__ADS_1
Sementara Pangeran Sera lebih terbuka. Istananya setiap hari bebas di pergunakan oleh para Putri yang ingin bersantai di taman kapanpun Mereka inginkan.
Dulu saat di kurung di dalam istana Pangeran Riana, Yuki sangat memimpikan suasana ramai seperti di istana Pangeran Sera. Tapi sekarang, Dia justru merindukan kesunyian yang selama ini menemaninya di istana Pangeran Riana.
Para Putri sangat berani mengeluarkan kata-kata yang cukup menyakitkan kepada Yuki. Jika Mereka melihat Yuki kebetulan lewat di dekat Mereka, dengan sengaja Mereka akan bergosip buruk mengenai Yuki dengan suara keras. Tujuannya jelas, agar Yuki mendengar dan akhirnya tidak bertahan di dalam istana Pangeran Sera.
Untuk menghindari konflik yang berkelanjutan, Yuki memilih mengalah dan mengurung diri di dalam kamar.
Pangeran Sera mengambil kotak berisi botol-botol kecil untuk mewarnai kuku. Yuki berencana mewarnai kukunya. Tapi sebelum niatnya terlaksana, Pangeran Sera sudah datang menemuinya di dalam kamar.
Biasanya, Pangeran Sera akan menjenguk Yuki saat jam makan malam tiba. Menanyakan apa saja yang di lakukan Yuki seharian. Menemani Yuki sampai Dia tertidur di kamar, baru kemudian Pangeran Sera pergi untuk menyelesaikan urusannya.
Tapi hari ini Dia sudah berada di dalam kamar saat sore. Sesuatu yang tidak biasa Dia lakukan.
"Aku berencana mewarnai kuku ku tadi" ujar Yuki merasa malu ketika Pangeran Sera membolak-balikkan kotak di tangannya dengan wajah penasaran. "Berikan padaku"
Yuki mengulurkan tangan untuk meminta kotak berisi botol perwarna kuku yang di pegang Pangeran Sera.
"Warna apa yang Kau suka" tanya Pangeran Sera mengabaikan uluran tangan Yuki.
"Merah mawar itu sangat cantik" tunjuk Yuki pada perwarna berwarna Merah terang. Sangat kontras dengan warna kulitnya. Membuatnya jauh lebih bercahaya.
Pangeran Sera membuka kotak dan mengambil perwarna yang di maksud Yuki.
"Duduklah" pinta Pangeran Sera tenang.
__ADS_1