
"Bukan itu masalahnya, bagaimana jika Pangeran Riana menemukanmu di sini. Dia akan salah paham nantinya" ujar Yuki lagi dengan perasaan cemas.
"Kau mulai begitu peduli padanya" ujar Pangeran Sera sembari tersenyum. Yuki mendongak mendengar nada Pangeran Sera. Ada kesedihan di matanya. Membuat Yuki merasa bersalah.
"Aku hanya tidak mau Pangeran terkena masalah lagi, Kita berada di lokasi bencana. Banyak hal yang harus Kita fokuskan. Tidak baik jika ada masalah yang tidak berkaitan dengan bencana kali ini" ujar Yuki beralasan. "Aku mohon, Pangeran mengertilah" katanya lagi saat melihat Pangeran Sera hanya diam mematung.
"Aku mengerti, baiklah Aku akan pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik. Jangan sampai sakit" kata Pangeran Sera akhirnya. Membuat Yuki merasa lega. Pangeran Sera memegang pipi Yuki lalu mendekatkan wajahnya, dan kemudian Dia mencium pipi Yuki lembut.
Setelahnya Dia berlalu menuju kegelapan hutan.
Yuki berdiri mematung di tempatnya. Memandang punggung Pangeran Sera yang perlahan menghilang dari pandangan. ******* lirih terdengar dari bibirnya. Dia tidak tahu apa yang harus diperbuat agar kedua Pangeran itu mengerti. Yuki sudah memberikan jawaban, tapi Kedua Pangeran tidak mau menerimanya dan sama-sama bersikeras dengan keputusan Mereka.
Yuki tidak mungkin bisa bersama dengan keduanya sekaligus.
Yuki tidak tahu kemana kisah cintanya kali ini akan mengarah. Bagaimana jadinya jika pada akhirnya Dia memilih salah satu dari Pangeran itu. Apakah yang lain akan menerimanya ?. Yuki sama sekali tidak memiliki bayangan apapun mengenai masa depannya. Dia seperti berdiri di persimpangan jalan.
"Apa yang Kau lakukan di sini"
Yuki terlonjak kaget. Dia berbalik dan mendapati Pangeran Riana sudah berdiri di belakangnya. Yuki tidak habis pikir, Kedua Pangeran itu selalu muncul secara tiba-tiba seperti hantu. Jika terus begini, Dia akan terkena serangan jantung karena ulah Mereka.
"Aku..Aku baru saja menidurkan anak ini" kata Yuki tergagap. Wajahnya tampak panik. Dia menunjuk ke anak di pelukannya yang sudah tertidur lelap di pundaknya.
"Apa terjadi sesuatu ?" Tanya Pangeran Riana curiga dengan tingkah Yuki yang gelagapan. Yuki menggelengkan kepala, berusaha kembali tenang.
"Aku akan membawanya kembali ke tenda. Sebentar lagi sepertinya akan turun hujan" ujar Yuki berusaha menghindari kecurigaan Pangeran Riana. Dia melangkahkan kaki menuju tenda anak. Membaringkan anak yang di gendongnya dengan hati-hati dan menyelimutinya.
Pangeran Riana mengikuti Yuki di belakangnya. Yuki berbalik dan merapikan meja yang berisi obat-obatan. Dia berharap Pangeran Riana segera pergi. Tapi harapannya tidak terkabul. Pangeran Riana bersandar tenang di tiang tenda memandang Yuki dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
Tidak nyaman di pandang seperti itu, Yuki langsung berbalik dan menjauhi tenda anak. Menuju tenda perawatan.
"Ada apa ?" Tanya Yuki berpura-pura bodoh ketika Pangeran Riana masih mengikutinya. Dia kembali menata obat-obatan di mejanagar terlihat lebih rapi.
"Apa Kau tahu Sera sekarang juga berada di perbatasan wilayah ?" Tanya Pangeran Riana. Matanya tajam menilai reaksi Yuki. Yuki mengedipkan mata satu kali sebelum akhirnya mendongak menatapnya. Dia menghela nafas pasrah dengan sikap tidak tertarik.
"Bukan hanya wilayah Garduete yang terkena bencana. Arguedapun juga terdampak meski tidak separah Garduete. Jika Pangeran Sera berada di perbatasan untuk membantu rakyatnya, sama seperti apa yang Kau lakukan. Bukankah semua itu adalah hal yang wajar" Kata Yuki berusaha mengingatkan.
"Semoga saja tujuannya memang untuk rakyatnya" kata Pangeran Riana sarkatis.
Yuki diam, tidak mau terpengaruh dengan kesinisan Pangeran Riana. Dia sudah sangat lelah hari ini. Perutnya lapar. Terompet yang menandakan pergantian shift telah di bunyikan.
"Aku sangat lapar. Bisakah Kita menghentikan pembicaraan ini sehingga Aku bisa pergi untuk mencari makan ?" Tanya Yuki berharap dengan wajah memelas.
Pangeran Riana diam. Tapi dari ekpresinya Dia setuju untuk tidak lagi membahas mengenai Pangeran Sera untuk sementara waktu.
"Ayo kembali ke tenda untuk makan dan beristirahat sebentar" ajak Pangeran Riana.
"Gawat, Kita harus segera menutup semua cendela" Yuki berlari dengan panik. Nyaris tersandung kaki meja. Dia menurunkan kain penutup cendela agar hujan tidak menerobos masuk ke dalam tenda. Menggeser tempat tidur yang rawan terkena air hujan yang merembes agar pasien yang tidur di atasnya dapat beristirahat dengan nyaman.
"Putri awas !!"
Yuki berbalik ketika mendengar seruan Pelayan. Dia melihat tiang penyangga tenda roboh dan jatuh ke arah Yuki. Refleks, Yuki menyilangkan kedua tangannya untuk melindungi kepalanya. Beruntung sebelum tiang tenda menghantam Yuki. Sepasang tangan milik Pangeran Riana menariknya.
Guyuran air kotor berwarna hitam dan berbau, bercampur daun menimpa Pangeran Riana. Membasahi rambut dan pakaiannya. Air itu berasal dari genangan air di atas tenda yang berkumpul. Sehingga menyebabkan beban berat yang menjatuhkan salah satu tiang tenda.
Yuki menghampiri Pangeran Riana dengan panik. "Pangeran, Bagaimana keadaanmu. Apa Kau baik-baik saja ?" Ujar Yuki cemas melihat Pangeran Riana basah kuyup.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa" jawab Pangeran Riana. Yuki membantu membersihkan sisa daun yang masih menempel di badan Pangeran Riana.
"Pastikan semua tenda terpasang dengan benar dan tidak ada air yang menggenang di atasnya. Kedepannya Aku tidak mau mendengar ada kejadian seperti ini lagi" perintah Pangeran Riana pada seorang penjaga yang berada di dekatnya. Penjaga menundukan kepala memberi hormat, kemudian segera pergi untuk melaksanakan perintah.
"Kita kembali ke tenda" ajak Yuki segera. Dia tidak perduli hujan masih turun dengan deras. Dia menarik Pangeran Riana. Berjalan menuju tenda Mereka.
Sesampainya di dalam tenda. Yuki langsung mengambil pakaian bersih untuk Pangeran Riana. Dia juga menyiapkan air hangat dalam baskom. "Gantilah pakaianmu. Aku akan menyiapkan minuman hangat untukmu"
"Bantu Aku membersihkan badanku" perintah Pangeran Riana tiba-tiba membuat Yuki berdiri dengan linglung.
"Apa ?" Kata Yuki, mencoba meyakinkan bahwa pendengarannya tidak salah.
"Bantu membersihkan badanku" Pangeran Riana meletakkan handuk di tangan Yuki. Dia melepaskan pakaiannya hingga bertelanjang dada. Yuki langsung memalingkan badannya, memunggungi Pangeran Riana.
"Kau masih saja malu-malu. Padahal Kau sudah sering melihatku tanpa busana"
Yuki diam. Tidak mau mengubris omongan Pangeran Riana. Pangeran Riana mengambil handuk besar. Melilitkan di pinggangnya ketika Dia melepaskan seluruh pakaian yang tersisa.
"Jika Kau tidak mau membantuku. Bagaimana jika Aku yang membantu mengelap badanmu dan menggantikan pakaianmu ?"
"Kenapa Kau begitu mesum ?" Ujar Yuki gusar. Tanpa sadar Dia berbalik untuk mengkonfrontasi Pangeran Riana. Yuki terbelak ketika tepat di hadapannya, Dia melihat otor kekar yang muncul dari balik kulit Pangeran Riana.
Yuki tidak bisa menepis. Sebagai seorang laki-laki, Pangeran Riana memiliki bentuk tubuh yang ideal. Otot nya terbentuk sempurna berkat latihan yang di jalaninya. Wanita manapun yang melihatnya akaan tergiur untuk menyentuh lekukan tubuh Pangeran Riana.
Termasuk Yuki.
Yuki mundur dengan linglung.
__ADS_1
Pangeran Riana sebenarnya memiliki daya tarik tersendiri. Hidungnya mancung dengan kulit putih bersih. Jika Pangeran Riana memiliki sedikit saja kebaikan seperti yang ada dalam diri Pangeran Sera. Yuki yakin, Pangeran Riana juga akan sama populernya seperti Pangeran Sera.