Morning Dew

Morning Dew
108


__ADS_3

"Aku tidak ingin merusak hubungan siapapun, termasuk Kalian. Aku hanya ingin hidup tenang. Hanya itu keinginanku saat ini. Kau sudah menerima cintanya, jadi Kau harus bertanggung jawab dengan keputusanmu. Jangan terbiasa mempermainkan perasaan orang" tegur Yuki tidak suka.


Yuki memandang ke luar, merasa tidak nyaman. Cuaca yang tadinya cerah, tiba-tiba berubah mendung. Hujan akan turun sebentar lagi. 


"Lalu bagaimana denganmu..apakah Kau tidak mempermainkan perasaanku ?" Tuntut Raymond dengan bibir terkatub. Raymond sudah tidak tahan lagi. Mereka hanya berdua, tidak akan ada yang menganggu. Sekarang waktunya untuk mengkonfrontasi kecurigaan yang selama ini di pendamnya. 


"Aku tidak pernah memintamu mendekatiku lagi" elak Yuki masih bersikap dingin. Yuki menyilangkan tangan di dada. Merasa tidak nyaman.


Raymond tiba-tiba mendekat dan langsung mendekati Yuki. Yuki yang tidak menyangka Raymond akan mencekal tangannya, berusaha memberontak sehingga Dia terdorong hingga menabrak rak bunga di belakangnya. 


"Apa yang Kau lakukan ?. Lepaskan Aku" ujar Yuki memprotes. 


"Siapa laki-laki itu ?" Tanya Raymond dengan wajah serius.


Yuki mengerjap, menatap Raymond kebingungan. Dia jelas tidak mengerti maksud pertanyaan yang di lontarkan oleh Raymond.


"Aku tidak mengerti siapa yang Kau maksud. Lepaskan Aku sekarang juga" pinta Yuki berusaha membebaskan diri dari cekalan Raymond.


"Jangan membohongiku lagi Yuki. Aku tau Kau sudah tidur dengan laki-laki, Aku tahu Kau sudah melakukannya. Aku bisa melihat perubahanmu dengan jelas" desak Raymond membuat Yuki terkejut.


Yuki pernah mendengar sebelumnya, jika ada laki-laki mempunyai kemampuan untuk mendiktesi wanita yang sudah tidak perawan hanya dengan melihat wanita tersebut. 


Yuki tidak menyangka jika Raymond adalah salah satunya.


 Raymond terus menatap Yuki dengan pandangan menyelidik. "Aku penasaran apakah laki-laki itu yang membuatmu bersedih semenjak Kau kembali, Apa Dia telah membohongimu untuk mendapatkanmu ?. Apa Dia telah mencampakkanmu ?. Atau sebaliknya, Kesedihanmu karena ada orang yang telah merenggut paksa milikmu ?. Apakah Kau hidup di bawah tekanan sehingga tidak berani berkata jujur ?"


Raymond memberondong Yuki dengan pertanyaan. Dia mencekal bahu Yuki erat. Berharap Yuki akan mengatakan padanya.


"Sudah kukatakan padamu berulang kali, apapun yang terjadi padaku tidak ada hubungannya denganmu. Berhentilah mencampuri urusanku" jawab Yuki gusar.


"Apa Kau sedang di ancam ?" 

__ADS_1


"Tidak ada yang mengancamku" jawab Yuki tegas. "Justru Kau yang menganggu privasiku"


Raymond mengertakan giginya dengan marah. Yuki terkejut dengan emosi yang di tunjukan Raymond. Dia tidak pernah begitu marah seperti sekarang. 


Yuki jadi bertanya, apakah Dia telah kelewat batas bersikap pada Raymond ?.


Yuki terpekik ketika Raymond mendorongnya hingga menabrak rak bunga di belakang punggungnya. Dia berusaha menahan tubuh Raymond agar Mereka tidak jatuh menimpa Rak. Mata Raymond tajam memandang Yuki.


Mengingatkan Yuki kepada mata Pangeran Riana saat Pangeran Riana marah kepadanya, hingga merebut kesucian Yuki.


Wajah Yuki memucat. "Apa yang Kau lakukan ?" Tanya Yuki ketakutan. Yuki terus berusaha melepaskan diri dari cengkraman Raymond. Menolak mengikuti keinginannya.


"Kenapa Kau terus bersikap dingin padaku. Apa perasaanku selama ini tidak terlihat jelas ?" Tuntut Raymond dengan nada tegas. Yuki merasa tidak nyaman dengan posisi Mereka. Terlalu dekat. Yuki khawatir jika ada orang yang melihat, Mereka akan salah paham.


"Lepaskan Aku, Kau menyakitiku" pinta Yuki memohon. Cengkraman Raymond di pergelangan tangan Yuki sangat kuat. Yuki meringis menahan sakit. "Raymond, lepaskan Aku" pinta Yuki lagi sedikit berteriak.


Raymond terkejut ketika Yuki berteriak marah padanya. Refleks melepaskan tangan Yuki. 


Yuki mengelus lengannya tanpa memandang Raymond.


Terdengar titik air hujan yang turun di atas atap rumah kaca. Kemudian makin lama, hujan turun semakin deras. Suara airnya bergemeletak nyaring ketika menabrak kaca. Menimbulkan irama khas disertai angin yang berhembus kencang.


Jeritan para murid dan suara langkah kaki Mereka ketika berlari masuk ke dalam gedung, untuk menghindari hujan yang turun tiba-tiba terdengar riuh rendah.


Seketika suasana di sekitar Rumah kaca menjadi sunyi. Tidak ada lagi murid yang berada di lapangan. Mereka semua memilih berlindung di dalam gedung sekolah sembari menanti hujan reda.


Hanya ada Yuki dan Raymond. Berdiri dari jarak yang cukup dekat. Terdiam dengan pikiran masing-masing.


Yuki tidak menyangka Raymond memiliki tenaga yang cukup besar. Dia sudah bukan lagi anak kecil yang baru memasuki usia puber. Raymond perlahan tubuh menjadi remaja laki-laki yang memiliki tubuh atletis, karena olahraga basket yang di tekuninnya. 


"Aku harus pergi" Kata Yuki sambil mendorong Raymond agar menjauh. Yuki mengambil tas dan memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Dia harus meninggalkan tempat ini sekarang juga, jadi Yuki berencana untuk menerobos hujan dengan resiko basah kuyup. Daripada harus berlama-lama di rumah kaca bersama Raymond.

__ADS_1


Yuki belum selesai memasukan barang-barangnya, ketika Raymond mencekal lengannya dan membalikkan Yuki dengan paksa menghadapnya.


Hidung Yuki menabrak dada Raymond, Dia bergegas mundur, tapi tangan Raymond yang berada di pinggang mencegahnya. 


Yuki mendongak, hendak memprotes ketika Raymond justru menunduk dan langsung mencium bibir Yuki kuat. Yuki terkejut, Dia membatu beberapa saat.


Ketika sadar, Yuki langsung mencoba memberontak melepaskan diri. Tapi tangan Raymond di tengkuknya, mencegah bibir Mereka berpisah.


"Lepas..." Pinta Yuki ketika berhasil melepaskan ciuman Raymond. Raymond kembali menarik Yuki tidak puas. Dia kembali mencium Yuki, membungkam protes Yuki meski Yuki sendiri terus berusaha melepaskan diri dari pelukannya.


Yuki tidak pernah melihat sisi Raymond yang seperti sekarang selama Mereka berkenalan. Selama ini Raymond selalu bersikap sopan dan menghargai wanita. Tidak terbayang bagi Yuki, Raymond akan berani menyerangnya seperti sekarang.


Yuki menjadi ketakutan dengan perubahan sikap yang di tunjukan Raymond. Dia terus mencoba membebaskan dirinya dengan memukul bahu Raymond menggunakan kepalan tangannya. Berharap Raymond menyadari kesalahannya dan segera melepaskan Yuki.


Buuukk !!


Sebuah pukulan mendarat di tengkuk Raymond. Membuatnya langsung pingsan dan ambruk menabrak Yuki. Beberapa pot bunga di rak belakang bergoyang. Untung saja tidak sampai jatuh. 


Spontan Yuki menahan tubuhnya dengan menumpukan tangan pada Meja di dekatnya. Menahan tubuh Raymond di pundak Yuki.


Sayangnya beban yang di tanggung Yuki tidak seimbang dengan badannya. Yuki kewalahan dalam usahanya agar Mereka berdua tidak ambruk membentur lantai, dan malah merobohkan rak pot di belakang Mereka.


Tubuh Raymond yang berat membuat Yuki nyaris terhuyung, beruntung di saat yang tepat, sebuah tangan menarik Yuki agar berdiri, sementara tangan yang lain menarik Raymond menjauhi Yuki.


Apa yang terjadi ?


Belum sempat Yuki mencerna situasi. Tubuh Raymond yang terkulai lemas di lempar ke lantai sehingga menimbulkan suara berdebam yang cukup keras. Orang itu melemparkan tubuh Raymond dengan mudah hanya menggunakan satu tangan.  Seolah Raymond hanya memiliki berat satu kilogram dan bukan enam puluh kilogram.


"Sebenarnya Kau ingin kembali ke dunia ini, untuk memulihkan diri atau kembali ke mantan pacarmu ?" 


Terdengar suara dingin yang khas. Meskipun Yuki sudah lama tidak mendengarnya, Tapi Dia masih mengenali pemilik suara itu. 

__ADS_1


 


__ADS_2