Morning Dew

Morning Dew
256


__ADS_3

Mata Mereka bertatapan dalam jarak yang cukup dekat. Keduanya terdiam cukup lama. Bergulat dengan pikiran masing-masing. Tidak ada suara apapun selain suara hujan deras yang turun membahasi bumi.


"Kalian menyembunyikan sesuatu dariku. Katakan padaku apa itu ?. Rahasia apa yang tidak bisa di ceritakan Voldermont denganku ?"


Yuki menepis tangan Pangeran Riana dengan kasar. Melepaskannya sedemikian rupa. "Aku tidak tahu apa yang Pangeran maksud. Kenapa tidak bertanya langsung pada Bangsawan Voldermont ?". Yuki mengabaikan rasa takutnya dan mencoba menahan perasaannya dengan baik. 


Pangeran Riana kembali meremas bahu Yuki dan memaksa gadis itu untuk tetap di posisinya. Membuat Yuki semakin kesal. "Lagipula jika memang benar di antara Kami ada rahasia. Percayalah itu bukan urusanmu Pangeran"


Yuki sudah bertekad untuk tidak akan pernah membiarkan Pangeran Riana mengetahui masalah lima tahun yang lalu. Dia tidak datang ke Garduete untuk menghancurkan hidupnya. Bukan itu tujuan Yuki kembali ke Garduete. Jadi jika Pangeran Riana membenci Yuki. Maka biarkan seperti itu adanya. Jika perlu Yuki akan melakukan segala cara agar Pangeran Riana semakin membenci Yuki.


Rahasia yang Dia simpan, harus tetap tersimpan rapat bahkan sampai Yuki mati nanti.


 


Dengan tenang Yuki mengangkat tangannya. Merangkulkan lengannya ke leher Pangeran Riana. Tanpa keraguan Dia langsung berjinjit dan langsung mencium bibir Pangeran Riana.


Pangeran Riana diam saat Yuki tiba-tiba menciumnya. 


Yuki semakin berani mencium Pangeran Riana. Kedua tangannya memeluk Pangeran Riana cukup erat. Akhirnya Pangeran Riana mendorong Yuki menjauh. 


Yuki tersenyum sinis kepada Pangeran Riana yang memandang Yuki dengan dingin. Dia dengan acuhnya mengusap bibirnya seolah sedang menghilangkan bekas Pangeran Riana dari sana.


"Kenapa Pangeran ?. Bukankah ini yang selalu Kau lakukan ketika Kau marah padaku ?" 


Pangeran Riana diam.


Jadi Yuki kembali melanjutkan ucapannya. "Kalau Kau mau, Aku bisa datang dan mempermainkanmu seperti dulu. Katakan saja padaku Jika Kau memang menginginkannya. Aku akan datang meladenimu" 


Tanpa menunggu jawaban dari Pangeran Riana, Yuki membungkuk untuk mengambil nampannya dan kemudian pergi dengan acuh meninggalkan Pangeran Riana dj belakangnya.


 


 


Lekky muncul di rumah Bangsawan Voldermont dua hari kemudian. Dia baru saja datang dari dunia peri bawah tanah untuk mengambil sesuatu yang di perintahkan pendeta suci.

__ADS_1


Yuki menemani Lekky di ruang latihan milik Bangsawan Voldermont. Dia sedang melatih tubuhnya dengan melakukan Pull Up menggunakan satu tangannya. 


Dengan sabar Yuki menemani Lekky sambil membaca buku. 


Terdengar keributan di luar. Yuki langsung menegang dan menoleh ke jendela di dekatnya. Tampak beberapa pelayan dan penjaga berlari keluar. Wajah Mereka sangat panik.


"Ada apa ?" Tanya Yuki pada Lekky saat Dia tidak berhasil mengetahui apapun dari tempatnya berada. Lekky pasti bisa mengetahui apa yang terjadi dengan membaca pikiran Mereka. Lekky yang baru menyelesaikan hitungannya, turun dari alat latihannya dan menatap keluar dengan acuh.


"Teman Bangsawanmu telah di serang" 


"Apa ?" Kata Yuki terkejut. 


Dia bergegas pergi meninggalkan ruangan. Tanpa berpikir panjang berlari menuju kamar Bangsawan Voldermont untuk melihat sendiri bagaimana keadaannya.


Yuki berhasil menyeruak masuk ke dalam kamar. Melepaskan diri dari kerumunan pelayan yang berdiri di depan pintu kamar dengan wajah kebingungan.


Sudah ada Pangeran Riana dan teman-teman Bangsawannya saat Yuki masuk ke dalam kamar. Wajah Mereka semua sangat cemas. Para pelayan hilir mudik keluar masuk untuk memberikan pertolongan darurat pada Bangsawan Voldermont.


Yuki mendengar erang kesakitan Bangsawan Voldermont. Dia ingin mendekat tapi langsung mengurungkan niatnya ketika menyadari tatapan kebencian yang di perlihatkan Putri Marsha dengan jelas untuk Yuki.


Jadi Yuki hanya diam di sudut ruangan dan menunggu dengan sabar untuk mengetahui keadaan Bangsawan Voldermont.


Pangeran Riana hanya diam sambil memandangi Bangsawan Voldermont dengan perasaan cemas.


Walau bagaimanapun, Bangsawan Voldermont dan Pangeran Riana telah tumbuh bersama semenjak kecil. Hubungan Mereka jauh lebih erat daripada yang terlihat. 


Terdengar erangan kesakitan dari Bangsawan Voldermont. 


Saat semua orang menjadi panik, Lekky tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam kamar. Para pelayan dan penjaga tidak ada yang berani mencegahnya.  Justru Mereka lebih memilih menyingkir daripada harus berurusan dengan Lekky.


Tanpa tendeng aling-aling Lekky langsung menghampiri Bangsawan Voldermont yang berbaring tanpa daya di atas tempat tidur.


"Jangan sentuh Dia" 


Bangsawan Xasfir mencabut pedangnya dan mengarahkannya ke leher Lekky. Mencegah Lekky semakin mendekati Bangsawan Voldermont. Yuki melihat kejadian itu dengan panik. Tanpa sadar, Dia langsung berlari mendekati Lekky dan memeluk lengan Lekky dengan kedua tangannya. Mencegah Lekky melakukan sesuatu pada Bangsawan Xasfir.

__ADS_1


"Singkirkan pedangmu jika Kau ingin temanmu selamat" kata Lekky acuh. Dia sama sekali tidak menunjukan rasa takut meski ada pedang tajam menyentuh lehernya.


"Xasfir" perintah Pangeran Riana di tengah ketegangan yang terjadi. Membuat Bangsawan Xasfir terpaksa menurunkan pedangnya dan mundur ke belakang. Namun Dia masih tidak mau menyarungkan pedangnya dan bersikap waspada dengan kedatangan Lekky di dalam kamar.


"Yuki bantu Aku" perintah Lekky ketika Dia selesai memeriksa kondisi Bangsawan Voldermont yang masih terbaring tidak berdaya di atas ranjang. Darah terlihat merembes di sebagian lukanya. Beruntung tidak ada luka yang mengenai bagian vitalnya.


Yuki langsung merespon perintah Lekky. Dia segera menghampiri Bangsawan Voldermont. Mendengarkan instruksi Lekky. Yuki mengangkat Bangsawan Voldermont, menyanggakan kepala Bangsawan Voldertmont di bahu Yuki. Kemudian Yuki mengaitkan kedua tangannya dengan kuat ke atas dada Bangsawan Voldertmont. Bau darah terasa menyengat di hidung Yuki. Wajah dan tubuh Bangsawan Voldermont dipenuhi luka lebam karena perkelahian yang terjadi.


Lekky mengangkat tangan kiri Bangsawan Voldermont. "Bersiaplah, ini akan sedikit sakit" 


Kkraaaakkkk !!!


Bangsawan Voldermont menjerit nyaring. Yuki menahan kuat tubuhnya yang berusaha melawan. Bangsawan Xasfir langsung membantu Yuki menahan Bangsawan Voldermont sebelum keduanya jatuh terguling di lantai. 


Lekky memijat beberapa kali di bagian lengan kiri. Mengambil kayu penyangga dan memasangkannya di lengan Bangsawan Voldermont. Kemudian Dia membebat dengan cepat menggunakan perban bersih.


Bangsawan Voldermont tersenggal-senggal. Nafasnya memburu menahan sakit. Wajahnya memerah. "Brengsek !!. Kau bilang hanya sedikit sakit"  protes Bangsawan Voldermont ketika Dia jauh lebih tenang.


Sakit yang di rasakan barusan justru malah membuat kesadarannya pulih.


Dengan lembut Yuki merebahkan kembali kepala Bangsawan Voldermont ke atas bantal. 


"Bagaimana ?. Bagian mana lagi yang sakit ?" Tanya Yuki cemas. 


Sambil berkata Yuki membuka pakaian Bangsawan Voldermont. Dia mengambil kasa di atas meja untuk membersihkan luka-lukanya.


"Kau harus merawatku Yuki. Aku nyaris mati" ujar Bangsawan Voldermont serentak berubah menjadi manja.


"Baik...baik...Aku akan merawatmu sampai Kau sembuh" janji Yuki menghibur. 


Lekky langsung menarik pinggang Yuki yang sedang membungkuk untuk membersihkan luka Bangsawan Voldermont. Mengangkatnya turun dari tempat tidur untuk berdiri di sampingnya.


"Biar para pelayan yang mengurusnya" ujar Lekky dengan nada tidak mau di bantah.


Yuki menatap Lekky sesaat dan mengerti. Jika Dia membantu Bangsawan Voldermont membersihkan luka-lukanya. Ada banyak pelayan di sini yang melihat. Hal itu bisa membuat gosip yang tidak-tidak.

__ADS_1


Yuki tidak membutuhkan sebuah gosip lagi untuk mengacaukan hidupnya.


 


__ADS_2