Morning Dew

Morning Dew
301


__ADS_3

"Jika sudah selesai, Keluarlah Aku mau tidur" pinta Yuki sambil berbaring menghadap tembok. Membelakangi Pangeran Riana.


 


Pangeran Riana masih sibuk mengamati kamar Yuki. Melihat foto-foto yang di pajang Yuki di tembok kamarnya dekat meja kerjanya. 


Kemudian Dia berjalan mendekati Yuki. Melepas sepatunya dan berbaring di belakang Yuki. Terasa gerakan Pangeran Riana di atas ranjang. 


 


Pangeran Riana memeluk Yuki dari belakang.


 


"Lima tahun, Aku sudah memberi Kalian kesempatan selama lima tahun ini. Tapi kenapa Kalian tidak memanfaatkannya sama sekali" tanya Yuki lirih. 


 


Yuki tidak mengerti jalan pikiran kedua Pangeran ini. Untuk apa Mereka bertahan menunggu Yuki. Selama ini, Yuki berharap dengan kepergiannya. Mereka akan melupakan Yuki dan memulai hidup yang baru. 


Yuki tidak muncul kembali di hadapan Mereka untuk kembali pada salah satunya. Dia jelas kembali untuk mati.


 


Pangeran Riana menggigit kecil daun telinga Yuki. "Tidak perduli apa yang terjadi, Kau ini milikku Yuki"


Yuki terdiam. Hatinya terasa pedih dan sesak.


 


 


Yuki bangun dari tidur ketika hari masih pagi. Pangeran Riana sudah tidak ada di tempatnya. Sementara pintu kamar sedikit terbuka. Dengan malas Yuki beranjak dari tempatnya dan membersihkan tempat tidur. Dia mengambil handuk untuk di lilitkan di badannya setelah melepaskan pakaiannya. Kemudian Dia meletakan pakaian ke keranjang kotor di dalam kamar. 


Terdengar suara klik pintu di buka. Ferlay menjulurkan kepala mengintip dengan senyum lebar.


"Tok tok tok" kata Ferlay riang.


"Seharusnya Kau mengetuk pintu terlebih dahulu dan membiarkan pemilik kamar yang membuka pintu, bukan seperti ini sayang" tegur Yuki lembut.


"Maafkan Aku Mama"


Ferlay menutup pintu kamar dan memeluk kaki Yuki dengan manja. "Mama mau mandi ?"


"Iya.."


"Aku ikut ya Ma" 


"Boleh" 

__ADS_1


Yuki berjongkok dan membantu Ferlay melepaskan pakaiannya. Setelah itu Yuki membuka pintu dan membiarkan Ferlay masuk ke kamar mandi lebih dulu. Ketika Yuki berbalik untuk menutup pintu, Ferlay menyibakan gorden kamar mandi yang memisahkan wastafel dengan bak mandi tempat Mereka biasa berendam bersama.


"Ah..." Seru Ferlay membuat Yuki berpaling.


 


Dia terkejut ketika Pangeran Riana dengan tenang berendam di dalam bak. Kedua tangannya di rentangkan di masing-masing sisi. 


"Kenapa Kau ada di sini ?" Tanya Yuki tidak percaya. Dia refleks menyambar jubah mandi dan menutupi badannya yang hanya menggunakan selembar handuk dengan cepat.


"Mau ikut bergabung ?" Tanya Pangeran Riana tidak terganggu dengan kehadiran Yuki dan Ferlay di dalam kamar mandi.


"Tidak, kenapa Kau tidak mandi di kamarmu sendiri" kata Yuki lagi memprotes. "Pergilah" 


"Kau yakin menyuruhku pergi ?"


"Cepatlah" kata Yuki lagi dengan kesal.


Pangeran Riana berdiri. Seketika Yuki menutup mata Ferlay. Dan Dia langsung memalingkan wajah tidak mau melihat Pangeran Riana.


"Apa Kau tidak malu ?" Kata Yuki lagi pada Pangeran Riana yang berdiri tanpa busana. Keluar dari dalam bak mandi. Dia sengaja bergerak cukup dekat dengan Yuki. Membuat Yuki serba salah.


"Berikan handuk di belakangmu atau Kau lebih senang melihat penampilanku yang sekarang ?"


Yuki memejamkan mata. Meraba satu tangannya untuk mencari handuk yang ada di belakangnya dan melemparkannya ke depan Pangeran Riana.


 


 


"Mama, kenapa Dia di sini ?"


"Kita mandi dulu, jika tidak Kita akan terlambat sarapan" kata Yuki cepat memutuskan pertanyaan Ferlay. Dia melepaskan penyumbat bak kamar mandi. Memutuskan untuk mandi di pancuran ketimbang harus menunggu air bak kembali terisi.


Yuki merasa heran. Kenapa Pangeran Riana bersikap seolah Mereka adalah pasangan suami istri. Dia tidur dan mandi di kamar Yuki tanpa izin.


Saat Yuki keluar kamar mandi, Pangeran Riana sudah tidak ada di dalam kamar. Yuki bergegas mengambil pakaian ganti dan memakai baju.


 


Kemudian menyisir rambut dan menggelungnya sedemikian rupa ke atas tengkuk. Memakai sedikit make up dan farfum. Yuki melakukannya dengan cepat. Setelah selesai, Dia langsung bergegas keluar kamar untuk mengejar Ferlay yang sudah terlebih dahulu keluar kamar dengan hanya memakai handuk yang dililitkan Yuki di badannya.


 


Yuki sedikit kesulitan saat harus memakaikan baju Ferlay. Sementara itu George sudah berkeliling di meja makan untuk menyiapkan makanan. Sementara Nenek Marple sedang memasak di dapur luar. 


"Sudah cukup main-mainnya. Kau lihat, ada teman-teman Mama di sini. Bersikap baiklah untuk Mama" bujuk Yuki sambil menyisir rambut Ferlay.


 

__ADS_1


 


Yuki menggandeng Ferlay menuju meja makan. Bangsawan Voldermont sudah duduk di meja makan dengan wajah mengantuk. Di sampingnya, sudah ada pula Bangsawan Asry dan Bangsawan Xasfir yang baru saja duduk menyusulnya. Yuki menarik tangan Ferlay, membantunya duduk di kursi yang ada di sampingnya. Pangeran Riana baru turun dari tangga ketika Yuki duduk di kursi.


 


 


 


"Anak ini sangat mirip dengan dirimu Yuki" kata Bangsawan Voldermont sambil memperhatikan Ferlay lebih dalam dengan tatapan penasaran. 


"Aku memang anak Mama Yuki" kata Ferlay bangga. "Semua perkenalkan, namaku Ferlay. Aku adalah anak dari Ayah Lekky dan Ibu Camila. Juga Putra dari Mama Yuki dan...." Ferlay berpikir sejenak. Kemudian Dia menatap Yuki dengan matanya yang polos. 


 


Yuki sangat takut jika Ferlay menatap Yuki seperti itu. Yang artinya, akan ada sebuah pertanyaan atau lebih, yang akan di ucapkan Ferlay untuk Yuki.


Ferlay akan terus bertanya sampai Dia merasa puas. Kadang pertanyaannya bisa berupa pertanyaan biasa yang mudah di jawab. Namun seringnya, pertanyaan yang di ajukan Ferlay membuat Yuki harus berpikir panjang untuk menjawabnya.


 


Seperti, saat mengetahui rok Yuki berwarna merah, karena tembus saat Dia halangan. Ferlay langsung mencecar Yuki pertanyaan dengan rasa ingin tahu yang besar. 


Kenapa Yuki mengalami menstruasi sedangkan ayahnya tidak ?


Kenapa bumi itu bulat, tidak lonjong, kotak atau sebagainya.


Yuki selalu di buat kebingungan dengan semua pertanyaan yang di tujukan Ferlay padanya. Dia binggung bagaimana menemukan kata-kata yang dapat di cerna oleh anak seusia Ferlay.


 


Biasanya, jika Ferlay sudah seperti itu, Lekky akan lebih memilih untuk kabur menghindari Ferlay. Benar-benar seorang Ayah yang sangat bertanggung jawab.


 


"Mama...Aku lupa siapa nama suami Mama, Kata Nenek Marple, Mama sudah berbaikan kembali dengan suami Mama" 


Deg.


Sontak seluruh mata memandang ke arah Yuki. Seketika suasana menjadi tegang. Ferlay memandang Yuki dengan tatapan yang polos. Menunggu jawaban dari Yuki. Dia tidak menyadari situasi yang sedang terjadi akibat pertanyaannya.


Yuki membuka mulutnya ragu. Tapi pada akhirnya Dia berkata dengan lirih, menjawab pertanyaan dari Ferlay. "Sera Madza" 


Saat mengatakannya Yuki tidak berani untuk melihat ke arah Pangeran Riana yang duduk di dekatnya. Dia menundukkan pandangan ke piring di depannya.


"Benar, Pangeran Sera. Kata Nenek, Dia seorang Pangeran yang sangat tampan. Jadi, Aku adalah anak dari Mama Yuki dan Ayah Sera. Bukan begitu Mama"


"Ya, benar" jawab Yuki sambil berdoa agar Ferlay tidak lagi menanyakan apapun mengenai Pangeran Sera. Dia menyendokkan nasi ke piring Ferlay. Tapi Ferlay masih menatap Yuki dengan pandangan yang sama. Wajahnya menunjukan kecerdasan yang luar biasa. Dia masih penasaran dan ingin terus bertanya pada Yuki.

__ADS_1


"Ma...Kalau Mama sudah berbaikan. Lalu kenapa Suami Mama tidak ikut datang kemari ?"


__ADS_2