Morning Dew

Morning Dew
299


__ADS_3

Yuki masuk ke dalam kamar dan langsung mengunci pintu kamar dengan cepat.


 


Bulan bersinar menembus kisi-kisi jendela. Cahayanya menerangi malam yang begitu gelap. Yuki berdiri terdiam sambil merenung. Tatapan matanya kosong memandang ke depan. Dia memegang perutnya yang mulai terlihat. Wajahnya sangat sedih. Gurat cemas terlihat dari caranya bergerak.


Apakah Aku bisa melahirkan anak ini sebelum pertempuran besar terjadi ?


Yuki terus mencemaskan anak dalam kandungannya. Dia sangat takut anak ini tidak sempat di lahirkan sebelum waktunya.


Yuki tidak mempunyai rencana untuk mengajak anak dalam kandungannya mati bersamanya. Jalan yang di lalui anaknya masih panjang. Dia tidak ingin anaknya ikut dalam misi bunuh diri yang akan di hadapi Yuki.


Apa yang harus ku lakukan ?


 


 


Yuki terbangun dari tidurnya ketika kilat menyambar dan guntur terdengar keras hingga menggentarkan tanah di sekitar. Hari masih sangat gelap. Hujan deras baru saja turun. 


Yuki beringsut bangun dan langsung menggigil kedinginan. Udara di daerah ini cukup dingin. Dan Yuki sangat lapar sekarang. 


Dengan perasaan malas, Yuki membungkuk untuk mengambil mantel yang di letakan di sandaran kursi di dekat tempat tidur. Memakai sandal yang hangat dan berjalan keluar menuju pintu keluar.


 


Lampu temaram di nyalakan di ruang tengah. Bangsawan Voldermont tertidur dengan posisi menyamping di atas sofa panjang. Sementara itu Pangeran Riana duduk dengan mata terpejam di sofa yang ada di dekat jendela. 


Membuat Yuki binggung. Meskipun rumah Lekky tidak sebesar rumah kediaman keluarga Olwrendho, tapi ada cukup kamar untuk Mereka tidur. Apakah George tidak menyiapkan kamar untuk Mereka ?


 


Yuki melangkahkan kaki menuruni tangga berhati-hati. Tidak ingin membangunkan Mereka. 


 


Yuki berjalan pelan menuju dapur. Dan menemukan beberapa potong roti isi yang di susun rapi di atas meja makan. Sepertinya George telah memersiapkannya sebelum tidur. Dia tahu Yuki sedang hamil. Jadi Dia sengaja menyiapkan makanan jika Yuki bangun di malam hari karena lapar.


 


Yuki menjerang air dalam panci. Membuat teh untuk mengurangi hawa dingin yang seolah menusuk tulang. 


 

__ADS_1


"Apa yang sedang Kau lakukan larut malam begini ?" Tanya Bangsawan Voldermont di ambang pintu sambil menguap lebar. Matanya masih setengah mengantuk. Dengan langkah malas, Dia berjalan menuju meja makan dan menarik sebuah kursi untuk duduk. 


"Aku mau membuat teh. Apa Kau mau sesuatu ?"


"Teh saja cukup" kata Bangsawan Voldermont menerima tawaran Yuki.


 


 


Yuki kembali membuat secangkir teh untuk Bangsawan Voldermont dan membawanya ke meja. Menarik kursi untuk duduk di dekatnya.


 


"Kenapa Kalian tidak tidur di dalam kamar. Ruang tengah sangat dingin. Apa ada sesuatu yang membuat Kalian tidak nyaman tidur di dalam kamae ?" Tanya Yuki membuka obrolan.


"Kami bergantian untuk berjaga" jawab Bangsawan Voldermont mengaduk teh di cangkirnya. 


"Berjaga untuk apa ?" Tanya Yuki semakin tidak mengerti.


"Berjaga dari kemungkinan Kau akan kabur dan menghilang dari Kami" 


Bangsawan Voldermont dengan tenang mulai meminum teh dalam cangkirnya. Yuki mendengus menatap Bangsawan Voldermont tidak percaya.


Bangsawan Voldermont mengangkat bahu acuh. "Tugasku adalah menjaga perwaris tahtah kerajaan Garduete. Termasuk anak dalam kandunganmu" 


Yuki mengambil roti isi di piring. Terpekur menatapnya dengan pandangan sedih.


"Aku tidak menginginkan hal ini saat Aku memutuskan datang kembali ke Garduete. Bukan ini tujuanku kembali ke hadapan Kalian"


"Tapi semua ini adalah yang di harapkan Riana padamu" kata Bangsawan Voldermont serius.


 


"Apa maksudmu ?" Yuki berhenti mengunyah. Menatap Bangsawan Voldermont dengan pandangan tidak mengerti.


"Sebelum itu, Kau harus terbuka padaku Yuki. Ingat, Aku sudah tidak mau ada rahasia lagi" ujar Bangsawan Voldermont tegas.


"Apa ?"


"Kapan Kau dan Riana...." Bangsawan Voldermont mengentukkan dua jari telunjuknya di depan wajahnya dengan wajah serius.


Wajah Yuki langsung memerah. "Pertanyaan apa itu ?" Protes Yuki kesal.

__ADS_1


"Kau jawab saja" desak Bangsawan Voldermont tidak mau kalah. Alis Bangsawan Voldermont sampai bertaut di garis tengah dahinya.


 


"Ketika Lekky pergi mencari segel suci" kata Yuki akhirnya dengan sorot serba salah.


"Bagaimana kejadiannya ?"


Yuki berpikir sebentar untuk menemukan kalimat yang tepat. "Saat itu, Aku baru mengantar Lekky dan keluarga Darmount di atap sekolah. Karena ingin menghindari orang yang mengenaliku saat Aku ingin kembali ke rumahmu. Aku malah tidak sengaja masuk ke kamar rahasia milik Pangeran Riana saat Pangeran Riana ada di dalamnya"


"Tapi, Kami melakukan rapat beberapa kali di depan kamarnya" kata Bangsawan Voldermont tidak percaya.


"Aku tahu, Aku ada di sana. Jangan tanya kenapa Aku tidak berteriak, saat itu, Aku khawatir akan timbul masalah jika orang menemukan Aku bersama Pangeran Riana. Saat Kau pertama kali menghubungiku waktu itu adalah ketika Aku berhasil melarikan diri dari kamarnya" jelas Yuki lirih.


"Apakah Kau juga menyembunyikan dari Lekky dan Sera masalah ini ?" Tanya Bangsawan Voldermont serius.


"Lekky mempunyai kemampuan membaca pikiran. Dia tidak membunuh Pangeran Riana karena pendeta suci melarangnya" 


"Membaca pikiran ?" 


"Ya...Dia dan Curly bisa membaca pikiran. Saat Kau di serang pun Dia sudah tahu siapa pelakunya. Dia tidak ikut campur dan  hanya memperingatkan Putri Marsha karena keluarga Darmount mempunyai aturan yang ketat dalam keluarga yang tidak boleh di langgar, yaitu tidak boleh mencampuri masalah pribadi di kerajaan"


"Lalu Sera ?"


Yuki menggeleng dengan sedih. "Aku sangat ingin memberitahunya, perasaan bersalah terus menghantuiku. Tapi Lekky melarangku. Lekky mengatakan lebih baik tidak perlu di ungkapkan jika tidak perlu"


Bangsawan Voldermont mendesah. Dia memandangi cangkir teh di depannya yang telah kosong.


 


"Saat Kau di kabarkan di panggil oleh Pendeta Suci, Kerajaan termasuk Aku secara pribadi langsung mengawasinya dengan ketat, untuk menghindari masalah yang tidak diinginkan. Tapi Riana mengecoh Kami semua. Dia bersikap tidak perduli. Bahkan memaksa untuk bertunangan dengan Marsha, meskipun kerajaan menolak keinginannya. Seolah Riana memang ingin bersama dengan Marsha. Membuat Kami lengah dengan segala persiapan pernikahan. Tapi di luar dugaan, semua hanya bagian rencananya. Dia telah mempersiapkan semua jebakan yang di butuhkan semenjak lama"


"Apa maksudmu ?" Tanya Yuki balik. 


"Kehamilanmu ini, Aku menduga juga merupakan bagian dari rencana Riana"


"Bagian dari Rencana Pangeran ?" Yuki menatap Bangsawan Voldermont semakin kebingungan. Bangsawan Voldermont menarik piring ke depan dan ikut mengambil roti isi yang ada. Melahapnya dalam tiga kali suap.


Yuki mengisi cangkir Bangsawan Voldermont kembali dengan teh. Sementara itu hujan badai di luar semakin deras disertai angin kencang dan petir yang terus menyambar.


"Ketika Aku mengatakan anak yang Kau kandung adalah anaknya. Sesaat Aku melihatnya terkejut. Tapi kemudian, dengan cepat berubah menjadi sorot penuh kemenangan. Seolah Dia memenangkan sebuah piala yang memang sangat Dia inginkan selama ini. Ada kepuasan di dalam matanya. Membuatku menyadari Dia memang mengharapkan Kau mengandung anaknya. Aku menduga, Dia merencanakan semua ini setelah Kami kembali pulang dari Argueda lima tahun lalu" jelas Bangsawan Voldermont sambil merenung.


 

__ADS_1


__ADS_2