Morning Dew

Morning Dew
158


__ADS_3

Putri Nadin kembali membungkukan badannya dengan sopan. "Saya merasa tidak pantas, lagipula Saya khawatir, Jika saya terlalu memaksakan diri. Akan timbul masalah seperti yang di alami Putri Nadira dan kawan-kawan. Akibat rasa tidak suka seseorang pada Mereka"


"Saya yakinkan itu tidak akan terjadi jika Putri Nadin mampu bersikap bijak dan santun " jawab Putri Magitha tenang. "Aku rasa Kita tidak boleh mengubah fakta bahwa Putri Nadira di hukum karena perbuatannya sendiri. Dia dan teman-temannya berani menghina Putri Yuki yang kedudukannya jauh lebih tinggi darinya meski sudah di peringatkan berkali-kali. Tak hanya itu, Mereka bahkan berani mencoba mencelakakan Putri Yuki dengan mendorong Putri Yuki ke kolam. Apa menurut Putri perbuatan Putri Nadira adalah hal yang wajar ?" Putri Magitha menatap lurus Putri Nagin. Berbicara dengan ketegasan yang tidak terbantahkan. Membuat Putri Nadin tidak berkutik melawannya.


Putri Nagin menggigit bibirnya. Tampak kesal.


"Semua Putri menyalahkan Putri Yuki karena sumpah ksatria yang di ucapkan Kakak. Tapi sebenarnya inti permasalahan dari semua ini adalah Kalian sendiri. Kalian memaksakan perasaan Kalian pada Kakak, padahal Kalian tau Kakak tidak tertarik pada Kalian. Karena keinginan Kalian tidak terpenuhi, Kalian menyerang Putri Yuki dan berharap Dia mundur. Kalian membuat Kakak mengambil tindakan untuk menghentikan perbuatan Kalian, sekaligus menegaskan perasaannya dengan mengucapkan sumpah ksatria. Andaikan Kalian tidak menekan Putri Yuki, Kakak juga tidak akan mengucapkan sumpah itu"


"Bagaimana mungkin Putri bisa menuduh Kami penyebab Pangeran Sera mengucapkan sumpah ksatrianya" tolak Putri Nagin lirih.


"Kalian berhak menuduh Putri Yuki dengan pendapat Kalian, tapi Aku juga berhak menghakimi Kalian dalam sudut pandanganKu. Atau Putri Nagin bercita-cita ingin mengikuti jejak Putri Nadira ?. Katakan saja. Aku akan langsung mengabulkannya" 


"Tidak Putri Magitha, Putri Yuki. Mohon maafkan jika ada kata-kataku yang kurang berkenan" jawab Putri Nagin ketakutan. Sementara Putri Magitha masih memandang dengan tatapan siap menyerang ke arah Putri Nagin.


"Jika Putri Nagin sudah mengerti, dan Kalaupun Putri tidak ingin bergabung bersama Kami. Putri bisa pergi dan meninggalkan Kami untuk menikmati waktu bersantai di sini"


Putri Nagin berlalu dengan wajah di tekuk. Usahanya untuk memprovokasi Yuki gagal. Alih-alih berhasil, Dia malah mendapat peringatan cukup keras dari Putri Magitha. Karena tidak ingin mencari masalah, Dia langsung pergi meninggalkan teman-temannya yang telah menunggu dengan wajah penasaran.


Yuki memperhatikan tatapan sinis dari Para Putri. Mereka juga mendengar peringatan dari Putri Magitha. Karenanya Mereka tidak berani secara langsung menyerang Yuki. Mereka hanya berani memandang Yuki dari kejauhan sambil berbisik mengenai Yuki.


Yuki sendiri sudah membulatkan tekad, tidak akan terganggu oleh Mereka dan fokus pada tujuan untuk mencari pelaku yang mencoba membunuhnya.

__ADS_1


"Darimana Putri mempelajari sikap seperti tadi ?" Bisik Yuki kagum pada Putri Magitha, setelah Dia memastikan Putri Nagin sudah cukup jauh jaraknya untuk dapat mendengar pembicaraan Mereka.


"Putri pasti tidak percaya jika Aku bilang Kakak yang mengajariku" Kata Putri Magitha sembari menegakkan punggungnya. Merasa bangga. 


"Pangeran Sera ?" Tanya Yuki tidak percaya.


Putri Magitha menganggukan kepala acuh. Dia kemudian berbalik dan mengambil botol minyak di dalam keranjang. Kemudian membaluri tangan dan kakinya dengan minyak tersebut untuk mencegah kulitnya kering akibat paparan sinar matahari.


Yuki menggelung rambutnya ke atas. Memperhatikan Putri Magitha mengoleskan minyak ke seluruh bagian tubuhnya yang terbuka. Dia mengenakan pakaian yang cukup terbuka. Memperlihatkan aroma kemudaan seorang gadis yang sedang merekah.


 


"Apa Putri mau ?" Tanya Putri Magitha ketika Dia telah selesai membaluri tubuhnya. Dia menyodorkan botol minyak kepada Yuki. Yuki menerimanya dengan senang hati.


"Aku sudah lama tidak bersantai seperti ini" keluh Putri Magitha sembari mengatur tubuhnya untuk berbaring di atas tikar. Yuki mengoleskan minyak ke seluruh tangan dan kakinya. 


Hari ini cuaca cukup cerah tanpa awan. Tidak heran banyak Putri yang menghabiskan waktu berada di pantai untuk menikmati keindahan. Langit biru dan lautan bersatu di ujung batas memandang. Pasir putih terhampar di sepanjang pantai. Yuki merasa lebih rileks daripada sebelumnya. Dia merasa beruntung, Pangeran Sera mengizinkannya untuk keluar bersama Putri Magitha dengan alasan menikmati keindahan pantai. Meskipun Mereka tidak boleh mengeluh dengan penjagaan super ketat yang di berikan Pangeran Sera.


Para penjaga berdiri dengan sikap siaga di sekitar Yuki. Yuki terpaksa menurut, Dia tidak ingin Pangeran Sera berubah pikiran dan tidak membiarkan Yuki keluar untuk mencari kebenaran jika Yuki menolak penjagaan yang di berikan Pangeran Sera.


Sebenarnya kondisi fisik Yuki belum sepenuhnya pulih. Tapi Dia menahan rasa sakitnya agar bisa pergi ke istana Raja. Pangeran Sera telah menutup istananya sehingga para Putri tidak dapat pergi ke sana. Jadi Yuki tidak bisa bertemu Mereka untuk melakukan penyelidikan, jika Dia juga hanya tinggal di dalam istana Pangeran Sera. Karenanya meskipun berbahaya dan mempertaruhkan nyawa, Yuki mengambil resiko tersebut untuk tetap bisa pergi ke istana Raja.

__ADS_1


Para Putri tampak menikmati aktifitasnya dengan gembira. Sesekali terdengar gelak tawa Mereka yang menarik perhatian. Yuki menemukan beberapa Putri tampak mencuri pandang ke arahnya. Namun begitu Yuki membalas tatapan Mereka, Mereka langsung memalingkan wajah. 


Sementara itu Putri Magitha menelungkupkan badannya di atas tikar. Dia menggeliat manja, gaunnya tersingkap memperlihatkan betisnya yang putih dan ramping. Dengan tenang Dia kembali merebahkan kepala di atas tangannya. Matanya terpejam santai. Kepuasan tampak jelas di wajahnya.


Yuki duduk dengan menekuk kedua lututnya di dada. Matanya menatap lurus ke arah laut. Sekilas Dia seperti sedang melamun, namun sebenarnya Dia sedang berkonsetrasi untuk mendengarkan obrolan di sekitarnya. Sekaligus melihat situasi dari sudut matanya. Dengan begitu, Dia berharap dapat menemukan petunjuk.


Semua Putri membenci Yuki, karena Pangeran Sera bersikeras untuk menikah dengan Yuki dan tidak akan menikahi wanita lain.


Cinta para Putri itu menyiksa Yuki secara perlahan.


Yuki menghela nafas. Dia terus memikirkan setiap kemungkinan. Setiap tersangka yang berpotensi besar melakukan kejahatan. Sampai sekarang Yuki tidak berani bertindak gegabah untuk menyuarakan tuduhannya, Sebelum pelakunya di tangkap, maka semua Putri adalah tersangka.


Putri Nadira baru saja datang bersama dengan Putri Alena. Saat tanpa sengaja mata Yuki dan Putri Alena bertumbukan, Putri Alena langsung memalingkan wajahnya. Yuki terkejut ketika menyadari Putri Alena jauh lebih kurus daripada terakhir kali Dia melihatnya. Entah apa yang di katakan Putri Alena pada Putri Nadira. Tapi Yuki melihat Putri Alena memisahkan diri dan berlalu pergi.


Yuki sudah berulang kali berusaha menjalin persahabatan dengan Putri Alena, tapi usahanya selalu gagal. Putri Alena menutup jalan Yuki, setiap Yuki berusaha mendekatinya. Dia bahkan selalu menghindari Yuki ketika Mereka tanpa sengaja berada di satu lokasi. Setiap Yuki ingin menemuinya, Dia sudah lebih dulu pergi menghilang.


Hanya Putri Alena yang tidak pernah bersikap kasar pada Yuki. Dia tidak pernah membully Yuki seperti teman-temannya yang lain. Putri Alena selalu menyingkir dan menghindari interaksi apapun dengan Yuki. Putri yang sangat pendiam dan tertutup.


Namun Dia sangat mencintai Pangeran Sera. Beberapa kali Yuki sering mendapati Putri Alena menatap Pangeran Sera dari kejauhan dengan wajah sedih, hampir menangis. 


Putri Alena tampak seperti seseorang yang telah kehilangan harapan. 

__ADS_1


 


__ADS_2