Morning Dew

Morning Dew
200


__ADS_3

Di pertengahan jalan menuju Argueda. Yuki menyempatkan diri mengunjungi kuil untuk berdoa. Dia tidak ingin menunda waktu. Menyelesaikan semua dengan cepat.


Yuki berlutut di tengah altar. Kedua tangannya menggengam batu amara yang menyala. Sinar kebiruan menerangi sekeliling Yuki. Matanya terpejam dengan tenang.


Yuki sudah berdoa sepanjang hari ini. Berlutut untuk memohon pada Dewa Aiswara. Lututnya terasa kebas. Tapi, tekad Yuki begitu kuat sehingga mengalahkan semua hambatan yang ada.


Sinar orange menghiasi kuil saat langit beranjak senja. Hari hampir petang. Yuki masih berlutut tanpa mengubah posisinya.


Terus memohon agar permohonannya di kabulkan.


Pendeta Naru berada di dekat Yuki. Mendampingi Yuki sembari merampalkan doa-doa dan memukul lonceng kecil di tangannya dengan nada berirama.


Yuki tidak begitu jelas dengan apa yang di ucapkan Pendeta Naru. 


Ketika akhirnya Yuki membuka mata. Batu Amara di tangannya sudah tidak lagi bersinar.


Permohonan Yuki di kabulkan dewa.


Sekarang, Pangeran Riana bebas memilih wanita yang akan menjadi Ratunya. Ikatan di antara Yuki dan Pangeran Riana sudah terlepas. Tidak ada lagi alasan keduanya untuk kembali. 


Yuki sudah bukan lagi calon ratu Negeri Garduete.


 


 


Yuki kembali berada di Argueda.


Sesampainya di sana, Dia fokus untuk memulihkan kesehatannya. Pangeran Sera menjaga Yuki dengan baik. Dia tidak membahas mengenai kehamilan Yuki dengan Pangeran Riana. Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Mencintai Yuki tanpa syarat.


Sambil mengurus Yuki, Pangeran Sera juga di sibukkan masalah Putri Magitha dan Ratu Warda. Dia terus mengadakan rapat hingga nyaris tidak beristirahat dengan benar. Membuat Yuki merasa cemas akan kesehatan Pangeran Sera.


Yuki ingin membantu mengurangi beban Pangeran Sera. Tapi Dia tidak tahu harus melakukan apa. Sementara Dia sendiri sadar, Dia juga adalah salah satu penyebab Pangeran Sera bekerja begitu keras.


"Pangeran, Lebih baik Pangeran beristirahat, Aku bisa berjalan sendiri" ujar Yuki ketika Dia sedang berada di taman istana. Pangeran Sera yang baru keluar rapat. Memutuskan untuk menemani Yuki sejenak sebelum rapat selanjutnya memanggil.


"Tidak apa-apa. Aku sudah tidur sebentar di rapat tadi. Aku jarang menemanimu berjalan-jalan, Kau pasti kesepian"


"Kalau begitu bagaimana jika Kita kembali ke dalam kamar. Pangeran sudah bekerja terlalu keras. Aku bahkan tidak bisa membantu apapun untuk Pangeran dan malah menjadi beban Pangeran"


"Meskipun Kau beban, tapi Kau beban yang bermanfaat untukku"


"Beban bermanfaat ?" Tanya Yuki dengan wajah kebingungan. Tidak mengerti dengan istilah yang di ucapkan Pangeran Sera.


"Keberadaanmu di sisiku saja sudah membuat hatiku tenang. Jadi Aku tidak keberatan jika Kau menjadi bebanku" 


Pangeran Sera meraih tangan Yuki. Dan menggengamnya lembut. Mereka berjalan pelan sambil bergandengan tangan.

__ADS_1


"Tapi..."


"Apa Kau mencemaskanku ?"


"Tentu saja" jawab Yuki cepat.


Pangeran Sera tersenyum tipis. 


"Menyenangkan sekali melihatmu begini"


Yuki mencubit lengan Pangeran Sera kesal. Pangeran Sera tertawa menghindar.


Yuki terdiam beberapa saat. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi segera urung.


"Apa yang ingin Kau tanyakan ?" Ujar Pangeran Sera membantu Yuki. Yuki langsung menggarukan kepalanya yang tidak gatal. Tampak malu.


"Kelihatan Ya..."


Pangeran Sera mencubit hidung Yuki menjawab pertanyaan Yuki. 


"Katakan saja jika ada yang ingin Kau tanyakan"


"Ini soal Putri Alena. Aku sudah cukup lama kembali ke sini tapi tidak melihat Dia lagi. Bagaimana keadaannya sekarang ?.


Pangeran Sera diam. Dia tampak memikirkan dulu kata-katanya sebelum menjawab pertanyaan Yuki. "Putri Alena sudah tidak ada Yuki" 


"Tidak ada ?" Tanya Yuki terkejut. "Kemana Dia ?"


Yuki menghentikan langkahnya. Terdiam.


"Dia sudah meninggal Yuki" tegas Pangeran Sera lagi.


Yuki ingat dengan jelas Putri Alena. Putri cantik dan pemalu yang sangat mencintai Pangeran Sera. Cinta yang tidak terbalas. Begitu menyakitkan. Yuki memahami perasaan Putri Alena sekarang.


"Dia sangat mencintai Pangeran" bisik Yuki bersimpati.


Yuki akhirnya juga mengerti kenapa sekarang Putri Nadira semakin membencinya. Karena kedatangan Yuki, Putri Alena bertindak nekat dan kemudian berakhir di tiang gantungan.


"Sudahlah Yuki, Kau jangan memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Ingat, tugasmu di sini adalah untuk hidup bahagia bersamaku" 


Dari jauh, Kepala Prajurit Gererou muncul bersama sejumlah kecil pasukan. Mereka menuju ke arah Pangeran Sera.


"Apa Pangeran akan pergi lagi ?" Tanya Yuki sebelum Kepala Penjaga Gererou mendekat.


"Ya, Aku ada rapat di istana raja hari jni. Jika sudah selesai Aku akan segera kembali dan bisa makan malam bersama"


"Baik, Aku mengerti. Pangeran jangan bekerja terlalu keras"

__ADS_1


"Aku pergi dulu.." ujar Pangeran Sera sembari mencium kening Yuki.


"Pangeran..." Kata Kepala Penjaga Gererou memberi hormat.


"Ayo" 


Pangeran Sera bergegas pergi bersama dengan Kepala Penjaga Gererou dan pasukannya. Yuki berdiri di taman sampai punggung Pangeran Sera tidak lagi terlihat dari pandangan.


Yuki memutuskan untuk ke taman tengah dan berjalan sebentar ketika terdengar suara yang memanggil namanya dengan nada berbisik. 


Yuki berpaling, Dia mengenali suara itu. Itu adalah suara Pangeran Arana.


Ketika Yuki akhirnya menemukan Pangeran Arana. Dia sedang bersembunyi di balik pohon besar di sudut taman. Pangeran Arana melambaikan tangan kepada Yuki. Gerak-geriknya jelas, Pangeran Arana tidak ingin keberadaannya di istana Pangeran Sera di ketahui orang selain Yuki.


Yuki melihat kesekeliling. Memastikan tidak ada orang yang sedang mengikutinya. Dia berjalan dengan cepat menghampiri Pangeran Arana.


"Maaf menganggu Putri, apa bisa Aku meminta sedikit waktunya. Ada hal penting yang ingin Aku bicarakan dengan Putri Yuki" ujar Pangeran Arana begitu Yuki sudah di dekatnya.


"Ya, boleh"


Yuki menganggukan kepala. Pangeran Arana menarik Yuki dan membawanya dengan vepat menuju kamar kosong di ujung lorong. Begitu Mereka masuk ke dalam kamar. Pangeran Arana dengan cepat mengunci pintu. Dia tampak gelisah.


"Maaf jika tidak sopan dengan membawa Putri kemari, tapi Aku sudah tidak punya waktu" 


"Apakah Pangeran Sera melarang Pangeran menemuiku ?" Tanya Yuki langsung. Menyuarakan kecurigaannya selama ini.


Pangeran Arana menganggukan kepala perlahan.


"Ini pasti ada hubungan dengan apa yang akan Pangeran Sera katakan bukan ?" Lanjut Yuki lagi.


"Ya Putri"


Yuki tidak berbicara lagi. Dia kemudian berjalan menuju meja yang ada di tengah ruangan. Menarik salah satu kursinya dan kemudian duduk dengan posisi siap untuk mendengarkan.


"Kalau begitu Aku akan mendengarkan apa yang akan Pangeran Arana katakan"


Pangeran Arana duduk di sebrang Yuki. "Ini soal Putri Magitha dan Ratu, Aku pernah memberitahu Putri soal kutukan Raja Rasyamsah. Apa Putri masih ingat ?"


Yuki menganggukan kepala. "Kutukan yang di ucapkan seorang wanita, yang bayi dan suaminya di bunuh di depannya karena Raja ingin memiliki wanita itu"


"Benar. Tapi sebenarnya, selain itu ada satu lagi kejadian penting yang terjadi sebelumnya"


"Kejadian penting ?"


"Setelah Raja Trandem naik tahtah, Dia membunuh semua kaki tangan Raja Balqira. Seorang Pendeta kerajaan yang menjadi korban, sebelum di bunuh. Dia mengucapkan ramalan terakhirnya di hadapan semua orang yang melihatnya"


Suatu hari nanti, akan ada wanita yang datang dengan membawa dua kekuatan besar. Menghancurkan kekuasaan Raja Trandem dan pengikutnya. Meskipun negara Rasyamsah jatuh ke negara lain, tapi Rakyatnya terbebas dari belenggu pemerintahan yang tidak beradap. Sampai saat itu tiba, setelah kematianku kemarau panjang akan terjadi dan sungai-sungai tidak akan mengalir airnya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2