Morning Dew

Morning Dew
132


__ADS_3

"Pangeran, Putri Yuki membantuku menghias layang-layang. Dia sangat baik" puji Qiras sambil memperlihatkan layang-layang yang di pegangnya ke arah Pangeran Sera dengan perasaan senang.


"Jika sudah besar nanti. Aku akan menikah dengan Putri Yuki" Seru anak lain dengan antusias.


"Tidak boleh. Aku yang akan menikahi Putri Yuki" balas Qiras tidak mau mengalah. Yuki tertawa melihat perdebatan Mereka.


"Jika Aku yang menikahi Putri Yuki apa Kalian akan mengizinkan ?" Tanya Pangeran Sera tiba-tiba membuat Yuki terkejut. Yuki tidak menyangka Pangeran Sera akan bertanya seperti itu kepada anak-anak.


Bapak tua yang mengantarkan Yuki dengan Kereta tampak gelisah mendengar pertanyaan Pangeran Sera.


"Tentu saja Kami setuju" teriak anak--anak senang menjawab Pangeran Sera.


"Putri Yuki sangat cantik, sangat cocok jika menikah dengan Pangeran" seloroh Qiras antusias.


"Aku setuju. Kalian akan menjadi pasangan yang serasi. Impian banyak orang" ujar Hazel mengamini pendapat adiknya.


"Aku juga setuju"


"Aku juga Pangeran" 


Anak-anak saling berebut menyuarakan pendapatnya. 


"Putri Yuki adalah tunanganku. Kami akan menikah suatu hari nanti" ujar Pangeran Sera tenang. Membuat Bapak pemilik kereta kuda semakin gelisah. Berkali-kali Dia memandang Yuki berharap Yuki segera mengajaknya untuk kembali ke perkemahan Garduete.


"Benarkah ?" Tanya anak-anak semakin antusias.


"Tentu saja. Sekarang, kembali ke tenda Kalian. Para perawat membuat banyak kue hari ini di dapur" 


Mendengar kata kue. Anak-anak langsung berhamburan masuk ke dalam kompleks perkemahan dengan perasaan riang. Yuki melambaikan tangan kepada anak-anak sambil tersenyum lebar.


Para penduduk ikut membubarkan diri. Dan para prajurit kembali ke pos Mereka. Sekarang hanya ada Pangeran Sera, Yuki dan Bapak pemilik kereta kuda.

__ADS_1


Yuki sadar, Dia harus segera pergi agar tidak terjadi masalah yang tidak perlu. Jadi Dia kemudian berkata kepada Pangeran Sera dengan sopan. "Pangeran, hari sudah mulai malam. Aku harus segera pulang, Aku permisi untuk kembali ke perkemahan sekarang"


"Apa Kau tidak mau tinggal sebentar untuk makan malam" cegah Pangeran Sera mencoba bernegosiasi.


Yuki menggelengkan kepala menyesal. Dia khawatir, Pangeran Riana telah kembali dan menemukan Yuki tidak berada di perkemahan. Cepat atau lambat Dia akan tahu Yuki pergi ke perkemahan kerajaan Argueda. Yuki memang tidak mengatakan baik kepada pelayan maupun penjaga, bahwa Dia akan mengantar sendiri anak-anak Argueda pulang ke perkemahan Mereka. Tetapi Meskipun begitu, Pangeran Riana pasti akan segera mengetahuinya.


"Maaf Pangeran, Aku harus pergi" tolak Yuki lagi dengan pasti.


Pangeran Sera mencekal tangan Yuki. Membuat Yuki terkejut. Bapak pemilik kereta kuda sampai turun. Namun pada akhirnya Dia hanya diam kebingungan. Tidak tahu harus berbuat apa.


Yuki berusaha melepaskan cekalan Pangeran Sera. "Pangeran, Aku mohon lepaskan Aku. Jika tidak, nanti Pangeran Riana akan salah paham kepada Kita" pinta Yuki dengan wajah panik karena Pangeran Sera tidak mau melepaskan tangannya.


"Yukiiii" 


Bagai di sambar petir. Yuki berbalik dan semakin panik ketika melihat sosok Pangeran Riana dari jauh, mengendarai kudanya sedang berjalan ke arahnya.


"Pangeran Sera, Aku mohon. Biarkan Aku pergi sebelum terjadi masalah lagi"


Pangeran Sera bersiul nyaring. Sontak, seekor kuda putih bersih berlari mendekat. Tanpa peringatan, Yuki langsung di naikkan ke atas kuda.


"Pangeran Sera" teriak Yuki terkejut. Para prajurit yang sebelumnya kembali ke pos berlari mendekat untuk menghadang Pangeran Riana. Sementara itu bapak pemilik kereta berlari dengan ketakutan, menjauhi keributan yang akan terjadi.


"Sera..Kau ingin merebut Yuki" teriak Pangeran Riana penuh kemarahan.


Pangeran Sera tidak menjawab. Dia segera memacu kudanya untuk menjauh dari Pangeran Riana yang mengejar.


"Pangeran Sera, tolong lepaskan Aku. Kembalikan Aku ke Pangeran Riana" pinta Yuki berusaha untuk membujuk Pangeran Sera. Yuki tidak memiliki keberanian untuk melompat dari punggung kuda yang sedang berlari kencang. Selain itu, meski tubuh Pangeran Sera terlihat ramping. Di luar dugaan Dia memiliki tenaga yang cukup kuat. Yuki tidak bisa melawannya. Jadi, Dia hanya bisa memohon untuk di lepaskan.


"Pangeran Riana" panggil Yuki sembari melambaikan tangannya berusaha meminta bantuan. Pangeran Riana mengangkat pedangnya. Berusaha melawan para penjaga yang mencoba menghalangi jalannya. 


Karena terus memberontak. Akhirnya Pangeran Sera terpaksa melumpuhkan Yuki. Dengan sekali pukulan di tengkuk. Yuki langsung pingsan tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Yukiii" teriak Pangeran Riana kencamg ketika sosok Yuki menghilang dari pandangan.


Yuki tersadar dari pingsannya. Dia merasa pusing. Tubuhnya bergoncang di atas punggung kuda. Ingatannya kembali dengan cepat. Dia tersentak bangun, karena gerakan mendadak membuat kepalanya menjadi pusing. Yuki kembali bersandar di bahu Pangeran Sera.


Yuki tidak dapat menebak sudah sejauh apa Mereka berjalan. Pagi sudah hampir menjelang. Mereka berada di tengah hutan. Di belakang Pangeran Sera, Kepala pasukan Gardies bersama pasukannya berbaris rapi di atas kuda, mengiringi perjalanan Pangeran Sera.


Semua tampak bersiaga penuh.


"Pangeran Sera Aku mohon berhentilah. Kembalikan Aku kepada Pangeran Riana. Aku mohon padamu" ujar Yuki pelan mencoba memberi pengertian kepada Pangeran Sera.


Tapi Pangeran Sera tidak mau berhenti. Dia tetap memacu kudanya kencang. Tubuh Mereka berdua terloncak di atas kuda putih milik Pangeran Sera.


"Pangeran Sera.." panggil Yuki lagi mulai kesal, karena Pangeran Sera tidak mau mengubrisnya. Dia langsung memegang lengan Pangeran Sera yang membentang di hadapannya dan mengigitnya dengan kuat.


Dengan begitu, Yuki berharap Pangeran Sera bisa mendengarkannya dan berhenti.


Tapi Pangeran Sera tidak menghentikan kudanya, meskipun hidung Yuki mulai mencium bau darah milik Pangeran Sera. Terkejut. Yuki langsung melepaskan gigitannya. Di lengannya, tercetak jelas memar biru dengan sedikit darah yang merembes keluar. Berbentuk cetakan gigi milik Yuki.


Yuki tidak lagi memberontak. Dia menatap Pangeran Sera tidak percaya. 


Kuda putih berlari cepat bagaikan anak panah yang di lepaskan dari busurnya. Ketika matahari terbit. Pangeran Sera menghentikan kudanya. Mereka berdiri di atas bukit yang tinggi. Di depan Mereka, terbentang pantai yang cukup luas. Ada perahu besar bersandar di sebuah dermaga yang di bangun secara darurat menggunakan kayu-kayu biasa.


"Lihatlah Yuki, Laut Amura" ujar Pangeran Sera senang sembari menatap lurus ke pantai. Yuki memincingkan mata. Menatap ke depan, air laut disinari matahari lagi yang hangat. Deburan ombak yang terhempas karang dan aroma air laut terbawa oleh angin, memenuhi indra penciuman Yuki.


"Akhirnya Aku bisa menunjukan negeriku padamu" kata Pangeran Sera lagi, senyum puas tersungging di bibirnya.


Yuki menyentuh bekas gigitan di lengan Pangeran Sera dengan perasaan bersalah. Dia mendongak untuk menatap mata Pangeran Sera. Menuntut jawaban. "Kenapa ?" Bisik Yuki tidak mengerti.


Pangeran Sera tersenyum lembut. Dia merengkuh wajah Yuki dan langsung mencium Yuki mesra.


"Luka ini tidak sebanding jika Aku harus kehilanganmu. Setiap hari memikirkan Kau bersama dengan Riana membuatku merasa buruk" jawab Pangeran Sera setelah melepaskan ciumannya. 

__ADS_1


"Ikutlah denganku Yuki. Aku berjanji akan membahagiakanmu. Kau akan selalu menjadi satu-satunya wanita dalam hidupku" ujar Pangeran Sera penuh permohonan.


__ADS_2