Morning Dew

Morning Dew
175


__ADS_3

Bangsawan Voldermont meraih tali kemudi di tangan Pangeran Riana. "Pergilah...Aku akan mencari Yuki di luar"


Pangeran Riana tidak membantah. Dia segera pergi untuk menemui Ibu Suri. Tampaknya laporan sudah sampai ke telinga Ibu Suri.


Sepeninggal Pangeran Riana, Bangsawan Voldermont menaiki kuda. 


"Bagaimana bisa Kalian berciuman. Apa Kalian kembali bersama ?" Tanya Bangsawan Xasfir dengan alis berkerut pada Putri Marsha.


"Kami sudah lama bersama..apakah salah jika Kami berciuman"


"Hey Xasfir Kau mau membantu mencari Yuki tidak ?" Potong Bangsawan Voldermont cepat.


"Dia bukan anak kecil lagi. Kenapa Kalian terlalu panik" protes Putri Marsha membalas Bangsawan Voldermont.


"Tentu saja karena anak kecil itu adalah calon ratu negeri Garduete, wanita yang sah dan di akui oleh Riana sebagai miliknya" jawab Bangsawan Voldermont acuh. Dia tidak menunggu jawaban Putri Marsha dan memilih segera memacu kudanya, meninggalkan area istana untuk mencari Yuki. Mereka selalu tidak pernah akur. Di dunia ini Voldermont sangat menyukai wanita, asalkan wanita itu bukan jenis wanita seperti Putri Marsha.


 


 


Salju putih menumpuk di setiap inchi permukaan tanah. Membuat warna putih mendominasi setiap sudut pandangan Yuki. Yuki berjalan dengan tubuh gemetar karena kedinginan dan kelaparan. Dia menuntun kudanya pelan. Malam sudah sangat larut. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sekitarnya. Sementara hawa semakin dingin.


 Yuki memasuki hutan dan sekarang Dia justru tersesat. Tidak tahu berada di mana. Sementara air minum terakhir, satu-satunya hal yang bisa di gunakan untuk mengisi perut sudah di berikan pada kuda. Jika dibiarkan, Mereka akan mati di tempat ini cepat atau lambat.


Menaiki gudukan tanah, Mereka akhirnya tiba di pinggir sungai yang permukannya dj lapisi oleh lapisan es yang tipis. Yuki sudah terlalu lama berjalan. Dia tidak kuat lagi. Jadi Yuki memutuskan untuk duduk di bawah pohon yang cukup rindang yang ada di dekat sungai. Dia mengikat kudanya sembari berbisik dengan nada menyesal "Maafkan Aku, Kau jadi terlibat dengan masalahku" 


Setelah memastikan ikatan kuda cukup kencang. Yuki kemudian duduk bersandar di batang pohon. Memikirkan apa yang akan di lakukannya andai malam ini Dia berhasil selamat melalui hari. 


Pertama Yuki harus mencari jalan keluar terlebih dahulu. Setelah itu, Dia sedikit bimbang. Apakah harus ke kota untuk mencari makan atau kembali ke rumah Perdana Menteri Olwrendho.

__ADS_1


Jika kembali ke kota, Yuki tidak mempunyai uang atau barang berharga yang bisa di gunakannya untuk membeli makanan. Bagaimana Yuki bisa mendapatkan uang di kota ?. Orang akan mengenalinya dan malah melapor ke istana.


Namun, jika Yuki kembali ke rumah Perdana menteri Olwrendho, Pangeran Riana pasti telah menyuruh orang untuk memata-matai tempat itu dan melaporkan jika Yuki kembali. Sedangkan untuk sementara ini, Yuki sama sekali tidak ingin bertemu dengan Pangeran Riana.


Semua pilihan yang Dia punya, pada akhirnya akan membuat Yuki kembali ke istana. Kembali ke istana artinya bertemu dengan Pangeran Riana.


Yuki menggelengkan kepala kuat sembari menepuk kepalanya dengan telapak tangannya. Memikirkan nama Pangeran Riana saja, membuat Yuki teringat adegan ciuman antara Pangeran Riana dan wanita yang sedang bersamanya.


Tampaknya, Yuki yang terlalu berharap banyak pada Pangeran Riana. Mengira Pangeran Riana bisa menepati janjinya untuk tidak bersama dengan wanita lainnya. Tidak mungkin Pangeran Riana hanya menginginkan satu wanita, akan ada banyak wanita lainnya yang datang di kemudian hari bersamanya.


Terdengar suara ranting di injak. Suaranya terdengar cukup jelas di kesunyian malam.


Sontak Yuki langsung berdiri dari duduknya dengan sikap waspada.


Ada bayangan empat orang pria dewasa datang mendekat. Yuki tidak tahu apakah Mereka adalah Prajurit Garduete yang sedang mencarinya ataukan gerombolan perompak hutan. Minimnya cahaya membuat Yuki tidak mudah untuk mengenalinya. Namun meskipun begitu, Yang manapun sosok tersebut, Yuki ingin menghindari pertemuan itu. 


"Siapa di sana ?" Teriak seorang Pria yang memimpin. 


Mereka membawa obor dan mengarahkan kepada Yuki. Cahaya dari obor membuat Yuki mengenali sosok Mereka. Mereka adalah para Prajurit dari Argueda. Yuki mengemali lambang kerajaan di pinggang Mereka.


"Tidak mungkin, Tapi benar Mereka adalah Prajurit dari Argueda.


"Lihat penampilannya, aneh sekali ?" Ujar salah seorang prajurit kepada pemimpin pasukan. Membuat Yuki terdiam.


Yuki masih memakai seragam musim dinginnya. Style pakaian yang tidak biasa di gunakan di dunia ini. 


"Putri Yuki ?" Tanya Kepala Prajurit mengenali Yuki. "Astaga....sedang apa Anda di sini"


Yuki mundur dengan sikap masih waspada. Membuat Prajurit itu tersadar. Dia kemudian memberi kode kepada temannya yang lain agar diam di tempatnya. Kemudian Dia sendiri maju dengan berhati-hati sambil menunjukan tanda pengenalnya.

__ADS_1


"Putri Yuki, perkenalkan hamba adalah Gareru kepala pasukan khusus, yang di tangani langsung oleh Pangeran Sera. Hamba mengawal Putri dan Pangeran Sera ketika melakukan perjalanan kembali ke Argueda menggunakan kapal Kerajaan" terang Kepala Pasukan Gareru perlahan agar Yuki tidak ketakutan.


Yuki memandang Kepala Pasukan Gareru, kemudian perlahan Dia ingat, pernah beberapa kali bertemu dengannya di atas kapal. Kepala Pasukan Gareru juga sering mendampingi Pangeran Sera bahkan di istana ketika sedang menjalankan tugas negara.


Kelegaan merambati hati Yuki. Dia tadinya sangat takut karena menyangka Mereka adalah pasukan kerajaan Garduete atau Perompak hutan. Untungnya Yuki salah.


"Aku ingat sekarang" jawab Yuki menurunkan kewaspadaannya. Yuki tidak lagi memasang sikap kuda-kuda. Dia berdiri dengan tenang.


"Syukurlah Putri mengingat hamba. Apa yang sedang Putri lakukan di sini ?. Putri bersama siapa ?" Kepala Penjaga Gareru melihat kesekeliling untuk mencari orang lain, tapi Dia tidak menemukan siapapun selain Yuki.


Yuki tersenyum lemah. "Aku sendiri" bisik Yuki lirih namun masih terdengar jelas oleh Kepala Penjaga Gareru.


"Sendiri ?" Tanya Kepala Penjaga Gareru nyaris tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Bagaimana bisa Anda berada seorang diri di sini. Apa yang terjadi Putri ?"


"Aku..." Yuki ingin mengatakan sesuatu. Tapi kepalanya sangat pusing. Sebelum Dia sempat menyelesaikan kalimatnya, Yuki sudah ambruk tak sadaran diri ke atas tanah.


 


Yuki terbangun ketika merasakan tubuhnya bergoncang tidak tentu arah. Ketika membuka mata, Yuki mendapati dirinya sudah berada di atas punggung kuda yang berlari kencang bersama pasukan kecil yang mengawal.


Kepala pasukan Gareru naik bersama Yuki. Dia mengikat tubuh Yuki ke tubuhnya sendiri dengan selendang agar Yuki tidak terjatuh selama perjalanan. 


Mereka sedang melaju menembus hutan belantara yang cukup lebat. Yuki mengusap matanya dengan tangan, mencoba mengusir pusing di kepalanya. "Di mana Aku ?" Tanya Yuki perlahan kepada Kepala Pasukan Gareru.


Menyadarkan Kepala Penjaga Gareru bahwa Yuki telah sadar dari pingsannya. Dia segera mengepalkan satu tangan ke atas agar pasukan berhenti.


"Putri Yuki syukurlah Putri akhirnya telah sadar" Kata Kepala Pasukan Gareru lega.


 

__ADS_1


__ADS_2