Morning Dew

Morning Dew
202


__ADS_3

Seseorang muncul di belakang Yuki dengan cepat dan menarik pakaian Yuki di bagian punggung, membuat Yuki mundur beberapa langkah ke belakang. Menjauhi ular yang terus menggelempar kesakitan.


"Bodoh, jika Kau diam begitu. Kau akan celaka terkena hantaman ular" gerutu orang yang menarik Yuki kencang.


Perlahan, gerakan ular di depan Mereka melambat.


"Putri Yuki..." Pangeran Arana muncul bersama dengan tiga prajuritnya. Mereka membawa pedang di tangannya. Tampak terkejut ketika melihat ular besar di depan Yuki.


Dengan cepat Pangeran Arana menghampiri Yuki. "Putri Yuki apa Kau baik-baik saja ?"


Yuki menggelengkan kepalanya. Namun wajahnya masih memperlihatkan raut ketakutan yang cukup besar.


"Maafkan Aku, Aku lupa mengatakan di dekat sini ada sarang ular. Seharusnya Aku mengawal Putri tadi" kata Pangeran Arana menyesal.


"Putri Yuki Orrie Olwrendho. Aku benar bukan ?" 


Yuki berpaling pada seorang Pria yang telah menjadi menolongnya. Pria dengan tubuh kekar dan kulit coklat terbakar matahari. Rambutnya panjang, berwarna hitam legam. Usianya hampir sama dengan Pangeran Riana. Pria itu menatap Yuki dari ujung kaki sampai ujung rambut.


"Siapa Kau ?" Tanya Pangeran Arana dengan nada waspada, sambil menggeser tubuhnya untuk menghalangi pandangan Pria itu pada Yuki.


"Ternyata benar, suatu kehormatan bisa bertemu dengan Putri yang di perebutkan oleh dua perwaris tahtah dari negara besar, yang nyaris menimbulkan pertempuran dua negara"


Pria itu berdiri dengan congkaknya. Menatap Pangeran Arana dengan sikap menantang. "Sebagai pengawal, Kau cukup payah. Membiarkan majikanmu berjalan sendiri di dalam hutan dan nyaris di makan ular. Untungnya Aku sedang berburu di sekitar sini. Jika tidak, sekarang putrimu yang cantik ini pasti sudah berakhir di perut ular"


"Benarkah itu Putri ?" Tanya Pangeran Arana masih dengan sikap waspada.


"Ya tapi bagian hampir di makan ular itu terlalu berlebihan" bantah Yuki cepat.


"Berlebihan ?. Apa Kita perlu membuktikan dengan mengulang kembali adegan itu lagi"


"Tidak mau" Kata Yuki langsung dengan wajah cemberut.

__ADS_1


Pria di depannya tersenyum mengejek sambil menatap Yuki dengan mata yang berbinar aneh. Membuat Yuki semakin kesal. 


"Salam kenal Putri Yuki, perkenalkan namaku Rafael. Aku adalah pemburu di daerah sini"


"Salam kenal tuan Rafael.."


"Kau bisa memanggilku Rafael saja" sela Rafael cepat memotong ucapan Yuki.


"Baiklah" jawab Yuki mengalah. "Salam kenal Rafael. Aku tidak perlu memperkenalkan diri karena Kau sudah mengenalku. Mereka berempat adalah prajurit yang mengawalku" 


Yuki tidak tahu siapa Rafael. Tapi yang pasti, Rafael tahu siapa Yuki. Jadi Yuki harus berhati-hati agar identitas Pangeran Arana tidak terbongkar.


"Sungguh mengejutkan dapat bertemu dengan Putri di sini. Jika melihat situasinya, sepertinya Putri kabur dari kerajaan untuk datang kemari. Karena tidak mungkin Sera Madza dari Argueda akan membiarkan wanita yang di cintainya menempuh bahaya dengan datang kemari. Begitu juga Riana Bardansah tidak mungkin akan membiarkan calon ratunya datang begitu saja"


Yuki diam. Dia tidak perlu menjelaskan pada Rafael bahwa sekarang Yuki bukan lagi Calon Ratu dari Pangeran Riana.


"Siapa Kau ?" Tanya Pangeran Arana bereaksi cukup keras mendengar ucapan Rafael. Yuki dengan sigap langsung menahan lengan Pangeran Arana dan menariknya mundur.


Yuki tahu, lebih baik membawa Pangeran Arana pergi sebelum Dia terpancing. Jadi Yuki segera berbalik sambil menarik Pangeran Arana untuk mengikutinya.


"Aku ucapkan terimakasih atas bantuanmu Tuan Rafael. Kami permisi dulu" ujar Yuki berpamitan.


Tapi langkah Yuki berhenti ketika sebuah pedang panjang di ulurkan Rafael ke leher Yuki. Pangeran Arana secara spontan langsung mengangkat pedangnya dan meletakkan balik ke leher Rafael dengan pandangan mengancam.


"Sangat tidak sopan pergi begitu saja. Ngomong-ngomong Kalian pasti ingin pergi ke Negeri Rasyamsah. Apa Kalian tahu bagaimana cara masuk ke sana ?" Tanya Rafael acuh.


"Apa maumu ?" Tanya Yuki berhati-hati.


"Aku menawarkan kerjasama pada Kalian"


"Kerjasama ?" Tanya Yuki kebingungan.

__ADS_1


"Sebenarnya, Aku dan kelompokku sedang kesulitan untuk memasuki Negeri Rasyamsah, karena penjagaan Mereka yang di perketat akhir-akhir ini. Tentu saja Kalian pun akan bernasib sama dengan Kami meski melalui jalan memutar sekalipun. Jika Putri bersedia bekerja sama, Kita bisa dengan mudah memasuki negeri itu"


"Turunkan dulu pedangmu" kata Rafael sambil menyingkirkan pedang Pangeran Arana dari lehernya. Dia sendiri sudah menyarungkan pedangnya ketika melihat Yuki tertarik dengan tawarannya.


"Apa kerjasama yang Kau inginkan itu ?" Tanya Yuki penasaran.


"Jika Kau tertarik, Ayo Kita bicarakan semua di perkemahanku" ajak Rafael sambil menghampiri ular yang telah mati. Yuki menduga ada racun pada panah yang di tembakkan Rafael, sehingga ular itu mati. Yuki memalingkan pandangannya dengan cepat, ketika melihat Rafael menebas leher ular itu.


"Apa yang Kau lakukan ?" Tanya Yuki merasa jijik. Bau anyir dari darah ular membuat Yuki merasa mual.


Dengan acuh Rafael memotong tubuh ular menjadi beberapa bagian dan memasukkannya ke dalam karung yang di bawanya. Tiga orang temannya muncul dari balik pepohonan dan langsung membawa karung itu pergi.


"Aku adalah seorang pemburu Putri. Jadi apa yang Ku lakukan selain berburu untuk mencari makan. Ular ini akan menjadi makan malam lezat untuk Kami hari ini" kata Rafael ketika melihat reaksi Yuki. "Jadi Bagaimana ?. Kalian ikut Aku ke perkemahan atau bermalam di sini bersama ular lain yang menunggu ?"


Pangeran Arana tidak setuju. Rahangnya terkatup rapat. Dia melihat Yuki untuk memperingatkan. Tapi Yuki berpikir sebaliknya. Kerjasama yang di tawarkan Rafael mungkin berguna untuk mempersingkat waktu Mereka. Kerjasama ini bisa sangat menguntungkan. Terlebih lagi Mereka tidak mempunyai dukungan atau bantuan apapun yang memudahkan Mereka dalam menyelesaikan misi Mereka. Mereka hanya berlima, tanpa persiapan yang matang.


Rencana awal Mereka adalah mencari cara untuk memasuki Negeri Rasyamsah tanpa ketahuan. Kemudian menuju Ibukota, menyusup masuk ke dalam istana untuk mencari jalan agar bisa menyelamatkan Putri Magitha dan Ratu Warda.


Tapi Mereka tidak mempunyai rencana spesifik untuk setiap misi Mereka.


Pangeran Arana sendiri pernah mengatakan pada Yuki, sangat sulit untuk menembus perbatasan dengan menggunakan jalur biasa. Mereka harus pergi memutar melewati gunung yang jarang di naiki orang dan jurang yang mengancam. Resiko untuk melewati jalur itu sangat besar, dan waktu yang di butuhkan juga sangat panjang.


Putri Magitha dan Ratu Warda sudah empat bulan dalam penawanan Raja Trandem.


Yuki sangat khawatir dengan keadaan Mereka khususnya kesehatan Ratu Warda. Jika Mereka mempunyai cara untuk masuk lebih cepat ke wilayah Rasyamsah, tanpa melewati gunung terjal yang penuh resiko. Kenapa tidak mencobanya ?.


Bukankah dengan begitu Mereka justru semakin cepat menolong Ratu Warda dan Putri Magitha ?.


 


 

__ADS_1


__ADS_2