Morning Dew

Morning Dew
205


__ADS_3

Yuki memperhatikan dengan seksama arah yang di tunjuk Pangeran Arana. Lokasi Mereka ternyata berada jauh bersebrangan dengan lokasi tempat Putri Magitha di tawan.


"Aku baru saja mengecek seluruh jalan rahasia di dalam istana. Tampaknya, Trandem tidak mengetahui semua jalan rahasia yang ada. Kita bisa memanfaatkan ini untuk kabur meninggalkan istana" ujar Pangeran Arana kemudian. Dia kembali menunjuk denah di atas meja. "Ada saluran air yang bisa membawa Kita keluar meninggalkan istana, menuju hutan di seberang sana. Aku ingat ada jalan rahasia dalam kamar ke tujuh, yang menembus menara tempat Magitha di tawan. Tapi untuk naik ke atas menara, Kita harus memanjat dinding dari luar agar tidak ketahuan"


"Memanjat dinding di luar ?" Tanya Yuki kaget, mengulangi ucapan Pangeran Arana.


Pangeran Arana menganggukan kepala. 


"Ya..."


"Seperti cicak ?" Tanya Yuki lagi untuk meyakinkan.


"Ya, seperti cicak"


Pangeran Arana berdehem untuk kembali membuat Yuki fokus padanya. "Aku hanya akan pergi ke sana bersama para prajurit. Kami sudah terlatih melakukannya. Hanya masalahnya, Kami harus meninggalkan Putri seorang diri di sini. Setelah berhasil menyelamatkan Magitha dan Ibu, Aku akan langsung kembali untuk menjemput Putri. Sampai saat itu tiba, bisakah Putri bertahan ?" 


Yuki terdiam. Dia tidak tahu apakah Dia bisa bertahan atau tidak. Sendirian di tempat asing seperti ini sungguh membuat Yuki merasa tertekan. Tapi Yuki sadar, Dia tidak boleh bersikap manja kepada Pangeran Arana dengan meminta Pangeran Arana meninggalkan seorang Prajurit untuk menjaganya.


Pangeran Arana membawa semua prajurit, pasti karena ada keadaan yang tidak memungkinkan. Jika Dia bisa, pasti Dia sudah akan meninggalkan seorang Prajurit untuk menjaga Yuki. 


Yuki juga tidak bisa ikut pergi. Dia tidak punya pengalaman apapun menjaga menara dari luar tembok, meskipun jika Dia menggunakan alat bantu. Jika Dia nekat ikut, Yuki akan membuat repot semua orang. Bahkan besar kemungkinan Yuki akan membuat rencana Mereka tercium oleh kerajaan Rasyamsah. Salah-salah Mereka bisa menjadi tawanan kerajaan atau malah mati di tangan Raja Trandem.


Yuki menatap Pangeran Arana.


Pangeran Arana adalah orang kedua dalam garis keturunan Raja Jafar yang berhak mewarisi tahtah kerajaan setelah Pangeran Sera. Sebelum Pangeran Sera memiliki penerus yang melanjutkan keturunannya  Karenanya, Pada saat Pangeran Sera maju ke medan pertempuran, Pangeran Arana tidak boleh meninggalkan istana kerajaan. 


Nyawa Pangeran Arana jelas sama berharganya dengan Nyawa Pangeran Sera dalam kerajaan.


Jadi, jika Pangeran Arana sampai tertangkap oleh negara Rasyamsah, sudah pasti Dia akan langsung di bunuh untuk mengoncangkan kestabilan negeri Argueda. Yuki tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Dia merasa Pangeran Arana dan Putri Magitha sudah seperti adiknya sendiri. Dia berkewajiban menjaga Pangeran Arana dengan baik.


Yuki tidak bisa membiarkan Pangeran Arana dalam bahaya karena keegoisannya. 


"Ya jangan cemas" jawab Yuki dengan nada meyakinkan.


Pangeran Arana menganggukan kepalanya. Dia tahu, Putri Yuki sebenarnya sangat takut. Tapi Dia mencoba tegar di hadapan Pangeran Arana. Pangeran Arana semakin menyukai Putri Yuki. Dia sekarang mengerti, kenapa Pangeran Sera bersikeras untuk menjadikan Putri Yuki sebagai istrinya. 

__ADS_1


Selain cantik, Putri Yuki memiliki kepribadian yang cukup baik dan pemberani.


"Aku sudah memasukkan obat tidur ke dalam persediaan minuman semua orang yang akan di hidangkan sore ini. Mereka akan tertidur lebih cepat daripada biasanya. Putri, Aku pergi dulu" ujar Pangeran Arana akhirnya.


Yuki menganggukan kepala. Pangeran Arana melipat kembali kertas berisi denah istana kerajaan Rasyamsah. Kemudian memasukkan ke dalam saku pakaiannya. 


Kemudian dengan langkah berhati-hati. Pangeran Arana berjalan pergi.


Pintu di tutup.


Hanya tersisa Yuki seorang diri di dalam kamar.


Yuki sebenarnya sangat takut. Tapi tujuan Dia datang kemari adalah untuk menyelamatkan Ratu Warda dan Putri Magitha.


Untuk apa Yuki kemari kalau hanya membuat susah.


Yuki kembali menuju meja rias. Mulai berdandan dan mengeringkan rambutnya. Dia memoleskan lipstik warna merah terang, dan memakai pakaian yang di antarkan pelayan sebelumnya.


Dia berdiri di depan cermin. Pakaiannya sangat menggoda dan menantang. Yuki nyaris tidak mengenali dirinya sendiri.


Terdengar ketikan pintu dari luar kamar ketika Yuki sedang membungkuk untuk mengikat tali sepatunya. 


Yuki beringsut dan segera membuka pintu. Rafael muncul dari balik pintu. Matanya bersinar saat melihat Yuki.


"Kau terlihat sangat berbeda" ujar Rafael senang.


"Apakah semua ini cukup ?" Tanya Yuki balik dengan wajah masam.


Rafael memiringkan kepalanya sedikit. Menatap Yuki sambil menaikkan satu alisnya. "Ya, cukup. Kenapa Yuki, sepertinya Kau tidak menyukainya"


"Kau mengatakan Aku hanya perlu menyamar untuk melewati perbatasan sebagai wanita penghibur. Tapi, Kau tidak bilang kalau Aku harus menari di depan Raja Trandem" ujar Yuki akhirnya mengeluarkan protesnya.


"Tenang saja, Raja Trandem sudah terlalu mabuk sekarang. Kau hanya perlu maju dan menari sebentar kemudian pergi. Aku janji Dia tidak akan bisa menyentuhmu" ujar Rafael tenang. Dia melonggokan kepala ke dalam kamar. Matanya seperti mencari sesuatu. "Kemana para penjagamu. Mengapa Aku tidak menemukan Mereka di kamarnya"


"Aku menyuruh Mereka untuk mencarikanku makan. Aku sangat lapar dan tidak ada makanan apapun di sini yang bisa ku makan. Sisanya ,Aku minta Mereka untuk menemukan pakaian yang pantas untukku dan memberi makan kuda. Aku tidak mau memakai pakaian seperti ini sepanjang waktu" ujar Yuki beralasan. "Ada apa mencari Mereka ?"

__ADS_1


"Tidak ada. Tapi Mereka ceroboh juga meninggalkanmu seorang diri. Bagaimana, apakah Kau sudah menemukan keberadaan Ratu dan Putri Argueda"


"Tidak, Mereka kesulitan untuk mendapatkan informasi" 


Yuki tidak mau Rafael mengetahui Mereka sudah mengetahui keberadaan Putri Magitha dan Ratu Warda di tawan. Bahkan Mungkin sekarang Pangeran Arana sedang bergerak menjalankan misinya untuk menyelamatkan Ratu Warda Dan Putri Magitha. 


Sebaik apapun Rafael, Yuki baru saja mengenalnya beberapa hari. Dia belum mempercayai Rafael seratus persen. 


Ada perasaan kuat dalam diri Yuki, yang mendorong Yuki untuk pergi meninggalkan Rafael. Tapi Yuki menahan diri demi keberhasilan misi Mereka.


"Penjagaan di istana Rasyamsah cukup ketat. Kalian tidak akan bisa menemukannya dengan mudah".


"Aku tahu, tapi bagaimanapun Kami sudah sampai disini dan harus berusaha dengan baik" ujar Yuki sembari menghela nafas. Tidak yakin dengan perkataannya sendiri. "Untuk apa Kau datang kemari ?"


"Raja menyuruhmu segera bersiap. Dia ingin melihat tarianmu lebih awal. Apa Kau sudah siap ?"


"Aku tidak pernah siap. Tapi sudahlah, Ayo Kita segera selesaikan. Aku sudah tidak nyaman mengenakan pakaian ini lebih lama"


 


 


Yuki mengikuti Rafael keluar kamar. Menuju aula utama kerajaan. Dari jendela yang Mereka lewati, Yuki melihat seorang wanita cantik yang cukup berumur. Berdiri di tepi sungai yang mengering, sedang melakukan ritual doa. Dia berdoa dengan khusuk. Tidak perduli udara panas yang menerpanya. 


Uban di rambutnya memperlihatkan dengan jelas beban hidup yang sedang di tanggung di pundaknya. 


"Siapa Dia ?" Tanya Yuki pada Rafael penasaran.


Rafael berpaling untuk melihat yang di maksud Yuki.


"Wanita itu adalah Ratu Negeri ini" 


 


 

__ADS_1


__ADS_2