
Yuki menarik nafas panjang. Sampai sekarang Dia masih tidak percaya Bangsawan Dalto akan senekat itu.
"Lalu bagaimana akhir dari pertempuran itu ?" Tanya Yuki pelan.
"Iblis itu berhasil kabur, semua pasukan terhipnotis sudah di sadarkan. Para korban telah di dikenali dan di kembalikan ke keluarganya masing-masing untuk mendapatkan pemakaman yang layak. Sampai sekarang, Raja Bardana masih mengeluarkan perintah untuk pemburuan besar-besaran mencari keberadaan Iblis itu. Tapi Dia seperti menghilang tanpa jejak. Aku tidak tahu apakah Kita di sebut beruntung ataukah tidak. Iblis itu berhasil meminum darahmu tapi tidak berhasil merebut kehidupanmu. Yang artinya, Dia hanya mendapatkan setengah persen kekuatan yang seharusnya Dia dapatkan. Tapi tetap saja..." Bangsawan Voldermont diam tidak melanjutkan ucapannya. Agak ragu untuk melanjutkan kalimat selanjutnya.
"Tetap saja kekuatannya meskipun tidak menyebabkan kiamat, tapi dapat membunuh jutaan manusia dalam sekejap" bisik Yuki melanjutkan kalimat yang terputus. Dadanya nyeri ketika mengatakannya. Karena kebodohannya jutaan manusia berada di ambang bahaya.
Bangsawan Voldermont menganggukan kepalanya menyetujui ucapan Yuki. Keduanya lantas terdiam masing-masing. Tenggelam dalam pikirannya.
"Lalu...bagaimana dengan Bangsawan Dalto.." kata Yuki akhirnya setelah mengumpulkan keberanian untuk mengetahuinya.
Langkah kaki Yuki bergema di sepanjang lorong. Di kanan kiri, berderet rapi barisan jeruji besi yang berwarna hitam legam. Bau besi tercium menyengat.
Para tawanan berdiri melihat kehadiran Yuki, memandangnya dengan tatapan yang membuat bulu kuduk berdiri. Ada yang beeteriak memanggil Yuki untuk meminta pertolongan ada pula yang bersiul sembari mengucapkan kata-kata yang tidak pantas.
Yuki hanya menundukan kepala. Mengindahkan perkataan Mereka dan tetap berjalan ke depan mengikuti penjaga penjara yang mengawal langkahnya. Kaki Yuki masih terasa sakit ketika di gunakan melangkah cepat. Tapi Dia menahannya. Yuki telah meminum obat pereda sakit sebelumnya. Sedikit membantu mengurangi rasa tidak nyaman ketika di pakai untuk melangkah.
Penjaga bertubuh kekar membawa tongkat besi. Memukulkannya ke besi jeruji dengan wajah garang, menimbulkan suara berdentang yang memekakan telinga.
Yuki kembali kabur dari istana Pangeran Riana. Ketika para pelayan pergi setelah memastikan Yuki tidur. Yuki hanya berpura-pura tidur. Dia menyembunyikan pil racikan yang membuatnya mengantuk jika meminumnya ke bawah bantal. Penjagaan tidak seketat sebelumnya. Memudahkan Yuki untuk menyusup keluar kamar dan meninggalkan istana Pangeran Riana. Yuki telah melepaskan seluruh perhiasannya. Memakai jubah hitam yang menyamarkan jati dirinya.
Ketika berhasil tiba di pusat ibukota. Yuki akhirnya mendapatkan kendaraan yang membawanya menuju penjara kelas satu, untuk para tawanan kelas berat. Bangsawan Dalto di tahan di sana.
Bangunan penjara kelas satu terletak jauh di tengah pulau kecil yang terletak di ujung barat Ibukota. Untuk mencapai ke sana Yuki harus menaiki perahu dengan pemeriksaan yang ketat. Ketika perahu yang membawanya menepi ke pulau. Yuki melihat bangunan besar berwarna kusam mendominasi setengah bagian dari luas pulau. Hanya ada hutan bakau dan pohon kelapa yang tumbuh di sekitar pulau. Dengan jarak dari ibukota, tidak mungkin ada yang bisa kabur keluar pulau dengan berenang.
__ADS_1
Yuki tidak menemukan kehidupan yang nyata di pulau ini.
Yuki sangat beruntung, ketika Dia mendarat di pulau. Atas bantuan dari pemilik kapal, yang telah di beri tips yang cukup besar olehnya. Dia di perkenalkan langsung ke kepala penjara. Sekantung uang emas yang cukup di gunakan untuk berfoya-foya beberapa tahun ke depan, memuluskan upaya Yuki untuk dapat masuk ke area terlarang yang ada dalam penjara.
Kepala penjara membawa Yuki melewati penjagaan tanpa pemeriksaan. Mereka masuk ke area terdalam dari gedung penjara. Yuki menundukkan kepala sepanjang perjalanan. Menyembunyikan dirinya dalam jubah dan tudung yang di kenakannya.
Tempat yang Yuki tuju tidak terlalu buruk jika di bandingkan kuil yang di jadikan markas rahasia Bangsawan Dalto tempo hari. Tapi, juga tidak bisa di katakan layak huni untuk manusia normal.
Bau jamur dan udara yang pengab menandakan bagian gedung tempatnya berada sekarang, tidak pernah tersentuh sinar matahari secara langsung.
Pada akhirnya Mereka sampai di gerbang yang terbuat dari lapisan baja yang cukup tebal. Seorang Penjaga atas perintah kepala penjara membuka pintu kecil di sebelah kiri gerbang. Yuki mengikuti kepala penjara melewati pintu tersebut. Menuruni sebuah tangga menuju bawah tanah. Tempat di mana penjahat kelas berat di tempatkan.
Yuki diam membisu. Masih menundukan kepalanya dan bersembunyi dengan nyaman di balik jubah. Mengabaikan tatapan penasaran dari orang sekitar yang di lewatinya.
Dia menarik jubahnya semakin rapat. Tidak peduli dengan perkataan yang melecehkan dari para tahanan di sepanjang jalan. Kakinya mulai berdenyut. Nyeri. Seharusnya Yuki belum boleh terlalu banyak bergerak. Kondisinya masih belum stabil. Luka tusukan di sekujur tubuhnya masih belum sembuh total. Tapi Yuki tidak punya waktu lagi.
Dia tidak ingin menyesal seumur hidupnya jika Dia tidak datang sekarang.
Pangeran Riana tidak akan mengizinkan Yuki, jika Yuki meminta izin padanya. Malah Dia akan menambah kembali penjagaan untuk mencegah Yuki kabur.
Jadi jalan satu-satunya adalah Dia kembali menyusup keluar istana.
Banyak hal yang ingin Yuki katakan kepada Bangsawan Dalto.
Yuki teringat kembali perkataan Bangsawan Voldermont, terakhir kali Mereka bertemu dan membahas masalah Bangsawan Dalto. "Dalto Radit tetap akan menjalani hukuman atas perbuatannya. Sudah terlalu banyak korban yang tidak bersalah Yuki. Kerajaan mempunyai aturan yang harus di berlakukan untuk memberikan keadilan kepada para korban. Dari ceritamu, Aku mengerti alasan kenapa Dia bisa melakukan tindakan bodoh seperti itu. Tapi, meskipun pada akhirnya Dia menyadarinya. Dia tetap tidak bisa terbebas dari hukuman"
Bangsawan Dalto memiliki rentetan tuduhan yang sudah di buktikan oleh pengadilan kerajaan.
__ADS_1
Pembunuhan kelas berat.
Pembunuhan terhadap anggota kerajaan.
Percobaan pembunuhan terhadap perwaris tahtah kerajaan.
Percobaan pemberontakan terhadap kerajaan.
Penggunaan sihir terlarang.
Tidak ada yang bisa menolong Dia meski Dia menyadari kesalahannya.
Bangsawan Voldermont menyesal tidak dapat membantu Yuki lebih banyak. Yuki memahaminya. Keadilan untuk para korban khususnya Mereka yang tidak bersalah harus di tegakkan. Yuki tidak bisa mengabaikan Mereka begitu saja hanya karena perasaan pribadi.
Pelaku pembunuhan terhadap Bibi Bangsawan Dalto belum terungkap. Tapi dari lukanya, jelas bukan di lakukan manusia biasa. Yuki khawatir jika hal ini belum di selesaikan akan membawa dampak yang lebih besar ke depannya. Seperti bom waktu yang dapat meledak setiap saat, tapi entah kapan terjadi.
Perasaannya tidak enak.
Lengkingan besi di susul suara baja yang bergeser membuyarkan lamunan Yuki. Kepala penjara menoleh kepada Yuki dengan nada memperingatkan. "Waktumu lima belas menit"
Matanya menegaskan pada Yuki agar menepati perjanjian. Dia sudah mengambil resiko besar dengan menyelundupkan Yuki ke dalam penjara ini. Jadi, kepala penjara sangat berharap, Yuki tidak membuat masalah untuknya.
Yuki mengerti. Dia menganggukan kepala tanpa suara.
Kepala penjara belum mengenali Yuki. Tapi itu lebih bagus. Jika Dia mengenali, tidak mungkin Dia akan mau membawa Yuki kemari meskipun Yuki memberi seluruh harta yang Dia punya.
__ADS_1