Morning Dew

Morning Dew
121


__ADS_3

Saat mengatakan kepada Pangeran Riana, Yuki justru merasa seperti berbicara pada dirinya sendiri. 


Dia berhasil melepaskan cengkraman Pangeran Riana. Kemudian menyurukan kado dengan kasar ke tangan Pangeran Riana. "Ini hadiahmu. Kau bisa membuangnya kalau Kau mau" 


Yuki tidak menunggu Pangeran Riana mengatakan sesuatu. Dia langsung berbalik masuk ke dalam kamar. Menutup pintu dengan keras. 


Yuki bersandar di pintu. Tubuhnya merosot jatuh ke lantai. Dia meringkuk, dan mulai menangis. 


Yuki sudah tahu jika ada kemungkinan Pangeran Riana tidak menerima pemberiannya. Tapi Dia tetap sakit hati mendapat penolakan dari Pangeran Riana.


Ke esokkan harinya, Yuki bangun pagi sekali. Dia tidak bisa tidur semalam. Pangeran Riana tidak masuk ke dalam kamar. Yuki mendengar Dia keluar entah kemana. Dia juga tidak tahu apakah setelah itu Pangeran Riana kembali lagi ke kamar atau tidak ?. Dia sudah jatuh tertidur sembari menangis di atas tempat tidur.


Dengan malas, Yuki mengusap wajahnya yang sembab karena menangis semalaman. Dia turun dari tempat tidur dan membuka pintu yang menghubungkan kamar dengan ruang kerja Pangeran Riana.


Kue sudah di bersihkan di lantai. Tidak ada apapun di dalam kamar yang menunjukan keceriaan, yang semestinya ada semalam. Kosong. Yuki menghela nafas. Mencoba mengindahkan perasaan kecewanya.


Yuki berada sendirian di taman yang sunyi. Dia merentangkan tangannya. Membawa sebuah kipas kain di tangan yang dihiasi kain sutera halus di tangkainya. 


Perlahan Yuki menggerakan kakinya dan mulai menari. Belakangan ini, ketika perasaannya tidak nyaman. Yuki akan melampiaskannya dengan menari. Ajaibnya, kegiatan yang di lakukan Yuki mampu merilekskan pikiran Yuki yang tegang. 


Yuki tidak tahu sejak kapan kebiasaan ini ada. Padahal dulu Yuki sangat membencinya.


Gemerincing lonceng di kaki Yuki, mengikuti hentakan langkahnya. Yuki berputar, meloncat, menari dan berputar bagaikan burung yang sedang terbang bebas di udara. Keringat membasahi kening Yuki. Namun Yuki tidak berniat menghentikan tariannya.


Kedua tangan Yuki terentang ke udara. Dia memejamkan mata. Memainkan gerakan yang indah dan gemulai. Mencoba menghilangkan rasa kecewa dan sedih yang bercongkol di hati. 


Berputar dan terus berputar.


Buukkk 


Yuki terpekik ketika Dia menabrak seseorang di depannya. Gerakannya berhenti. Dia mendongak sambil memegangi hidungnya yang terbentur cukup keras. 


Pangeran Riana berdiri seperti patung batu. Dia memegang Yuki agar Yuki tidak jatuh terjerembab ke tanah. Raut wajahnya sudah tidak sesuram malam sebelumnya. Dia jauh lebih tenang. 

__ADS_1


"Ada apa ?" Tanya Yuki was-was ketika Pangeran Riana hanya diam memandang Yuki. Tapi Pangeran Riana tetap diam. Sorot matanya tampak aneh.


Yuki menundukan kepala mengikuti arah pandang Pangeran Riana. Dia langsung terpekik. Mundur beberapa langkah dan menyilangkan kedua tangannya di bahu. Pakaian Yuki terbuka di bagian dada. Sepertinya bergeser ketika Yuki menari tadi. Dari atas terlihat jelas bentuk buah dada Yuki.


"Apa yang Kau lihat, dasar mesum" kata Yuki untuk menyembunyikan rasa malunya. Yuki membalikan badan memunggungi Pangeran Riana dan merapikan kembali pakaiannya.


"Mungkin tidak ada salahnya jika sesekali Aku mengambil libur untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu. Bukankah akan sangat menyenangkan untuk Kita Yuki ?" Kata Pangeran Riana tenang di belakang Yuki.


"Aku tidak mengerti apa maksudmu ?" Ujar Yuki gusar. Masih merapikan pakaiannya. 


"Cukup menghibur melihatmu menari atau mandi lain kali"


"Jangan bicara sembarangan. Siapa yang mau mandi di depanmu" Yuki langsung berbalik dengan panik. Dia tampak kesal mendengar keinginan Pangeran Riana.


Yuki berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan mandi jika ada Pangeran Riana. 


"Kenapa ?. Bukankah Kita sudah sering melihat tubuh masing-masing" tanya Pangeran Riana dengan sorot mata penuh makna.


Yuki menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya dan memandang Pangeran Riana dengan nada mengancam. Bibirnya terkatup rapat. "Aku tidak mau mendengar omongan cabulmu. Untuk apa Pangeran kemari ?" Tanya Yuki berusaha mengalihkan pembicaraan.


Yuki tertegun.


"Bukankah seharusnya masih seminggu lagi. Kenapa di percepat ?" Tanya Yuki tidak mengerti.


"Karena ada beberapa hal yang baru saja terjadi. Jadi Kerajaan memutuskan untuk mengadakan upacara lebih awal dari waktu yang di tentukan"


Yuki kembali terdiam. Dia tampak kebingungan. 


"Terlalu mendadak. Jadi, kapan Aku akan di pindahkan ?"


Pangeran Riana bersandar. Dia tidak suka dengan respon yang di berikan Yuki.


"Pindah kemana ?. Kau akan tetap tinggal di kamarku" ujar Pangeran Riana cepat. "Besok pagi sekali Kau sudah harus siap, Kau ikut Aku hadir dalam upacara penobatan ratuku"

__ADS_1


"Bagaimana Aku tidak pindah ?" Protes Yuki kesal. "Dan untuk apa Aku harus menghadiri upacara calon ratumu. Aku tidak mau"


"Apa Kau tau kenapa kerajaan mempercepat upacaranya ?" Tanya Pangeran Riana tiba-tiba. Yuki memandang Pangeran Riana tidak mengerti dengan perubahan topik pembicaraan yang mendadak. 


"Ada apa ?"


"Karena Sera Madza sedang menuju Ibu Kota. Sepertinya Dia kemari karena mengetahui seseorang telah datang kembali" ujar Pangeran Riana sinis.


Butuh waktu beberapa saat sampai Yuki bisa mencerna ucapan Pangeran Riana. Ketika Dia akhirnya mengerti, jantungnya berdebar dengan kencang. 


Berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam diri Yuki. Apakah Pangeran Sera datang karena mendengar permohonan Yuki ?.


Meski rasanya tidak mungkin, tapi Yuki merasa senang sekaligus cemas. Perasaannya menjadi bercampur aduk tidak karuan. 


Pangeran Riana beranjak dari tempatnya dan langsung menarik Yuki mendekat. Yuki tersentak dari lamunanya. 


"Apa yang sedang Kau pikirkan. Kau harus paham satu hal Yuki, Kau ini milikku. Jadi jangan pernah bermimpi dapat pergi dariku" tandas Pangeran Riana dengan nada tegas. Dia mencekal pergelangan tangan Yuki dan langsung mencium bibir Yuki dengan ciuman yang penuh tuntutan.


Yuki gelagapan. Tidak siap akan ciuman dari Pangeran Riana. 


Nafas Yuki tersenggal-senggal saat akhirnya Pangeran Riana melepaskan ciumannya. Dia langsung mendorong Pangeran Riana menjauh.


Pangeran diam. Dia menatap Yuki sesaat kemudian berbalik pergi meninggalkan  Yuki yang masih terpaku.


Yuki ingin marah. Tapi ketika Dia melihat Pangeran Riana berjalan menjauh, Yuki tersadar akan sesuatu. Pangeran Riana memakai Gererou yang di berikan Yuki sebagai hadiah ulang tahun untuknya.


Yuki sampai harus mengusap matanya tidak percaya dengan apa yang di lihat. Dia tersenyum senang. Pangeran Riana menerima hadiahnya. Usaha Yuki tidak sia-sia.


Kabar berita Pangeran Riana memakai Gererou tersebar luas di seluruh istana dengan kecepatan yang tidak terduga. Seluruh istana membucarakannya. Sebagian besar merasa terkejut karena Pangeran Riana mau menerima hadiah ulang tahun pemberian Yuki. 


Kabar itu juga sampai di telinga Ibu Suri. Sore harinya ketika Yuki sedang berlatih di aula kecil. Ibu Suri datang berkunjung untuk mengecek perkembangan pendidikan Yuki. Dia juga mengucapkan terimakasih atas usaha Yuki membuat Gererou dengan gaya pongah dan tidak mau kalah.


Yuki jadi berpikir bahwa sebenarnya Ibu Suri tidak sejahat seperti yang Dia sangka sebelumnya. 

__ADS_1


Sikapnya yang dingin seperti itu karena beban tugas yang di pikulnya di usia senja. Seharusnya Ibu Suri bersantai di usia tua, bukan malah mengerjakan urusan kerajaan yang tidak ada habisnya. 


 


__ADS_2