Morning Dew

Morning Dew
219


__ADS_3

Bagaikan di sambar petir ketika Yuki mendengarnya. Air matanya langsung tumpah membasahi wajahnya. Kakinya gemetar. Terasa lemas tidak bertenaga. Yuki ingin tidak mempercayai ucapan Putri Marsha. Tapi ekpresi Pangeran Sera membuat Yuki sadar kebenaran yang baru saja di dengarnya.


Perasaan Yuki bercampur aduk. Orang yang selalu menjadi penolongnya, yang selalu ada ketika Yuki membutuhkan tangannya. Orang yang Yuki percayai tanpa keraguan. Nyatanya adalah orang yang dengan kejam menusukkan pisau tajam di belakang punggungnya. 


"Kau sangat payah Pangeran, Aku sudah berbaik hati mengirimimu obat perangsang yang sangat berkualitas. Tapi Kau menolak untuk mempergunakannya. Namun, ketika Yuki yang meminum obat perangsan itu, Kau justru bersikap sok jagoan dengan menolak menyentuh Yuki" sindir Putri Marsha sinis.


"Kau sudah terlalu banyak mencampuri urusan pribadiku Putri Marsha. Aku peringatkan Kau untuk yang terakhir kalinya. Tujuan Kita sudah tercapai" Kata Pangeran Sera dingin pada Putri Marsha yang berdiri di depannya. "Otomatis kerjasama Kita sudah berakhir. Jangan mencoba mengangguku lagi atau Yuki. Sudah Ku katakan Aku tidak akan bersikap toleran padamu. Buktikan saja jika Kau tidak percaya"


"Apa bagusnya Dia sehingga Kalian berdua begitu perduli padanya" Kata Putri Marsha kesal. 


"Jelas saja. Jika di bandingkan dirimu, Kau tidak akan bisa melampaui Yuki meskipun hanya seujung kukunya. Harusnya Kau bisa memahami satu hal. Riana tidak akan mengejar Yuki jika Yuki wanita yang seperti dirimu"


"Apa maksudmu ?" Tuntut Putri Marsha kesal. 


"Pergi sekarang juga. Jika Garduete sampai mengetahui masalah ini, nyawamu akan terancam karena Kau terlibat dalam usaha pembunuhan anak dari perwaris tahtah kerajaan"


Yuki sudah tidak tahan lagi. Langkah kakinya goyah saat Dia memaksakan diri menyeret kakinya untuk maju ke depan. Kebenaran yang baru saja di dengar sangat menyakitkan bagi Yuki. Dia tidak percaya, orang yang selama ini sangat di percayainya. Ternyata tega membuat rencana jahat yang membuat Yuki kehilangan anak dalam kandungannya.


"Benarkah apa yang Aku dengar tadi ?" Tanya Yuki membuat kedua orang di depamnya menyadari kehadiran Yuki. Suara Yuki bergetar menahan amarah. Pangeran Sera tampak terkejut ketika melihat Yuki. Begitu juga dengan Putri Marsha. Wajahnya pucat pasi.


Tubuh Yuki bergetar. Menahan amarah dan kesedihan yang seolah akan menghancurkannya dari dalam. Dia memandang Pangeran Sera dan Putri Marsha dengan air mata berlinang. Kemudian Dia kembali memandang Pangeran Sera yang terdiam di tempatnya. Memandang Pangeran Sera masih tidak percaya.


"Aku tanya, apakah semua itu benar ?" Tuntut Yuki lagi kepada Pangeran Sera. 


"Yuki...dengarkan Aku dulu" Kata Pangeran Sera akhirnya. Dia maju berusaha menarik Yuki. Tapi Yuki menolak, Dia menepis tangan Pangeran Sera dan mundur beberapa langkah ke belakang. 


"Semuanya sudah jelas, apa lagi yang harus Aku dengar" teriak Yuki marah. 


Yuki memandang Pangeran Sera. Menangis tergugu tidak tahu harus mengatakan apa. 


Pangeran Sera adalah orang yang pemting dalam hidup Yuki. Setidaknya begitulah yang Yuki pikirkan.

__ADS_1


Sebenarnya, Yuki sudah tahu ke mana hatinya di tautkan. Namun, Dia memikirkan Pangeran Sera. Begitu juga ketika Pangeran Riana melamarnya, Yuki tidak bisa langsung memberikan jawaban. Karena Pangeran Sera. 


Yuki memikirkan perasaan Pangeran Sera. Dia tidak ingin membuat Pangeran Sera terluka atas keputusan Yuki. Selalu dan selalu Yuki memikirkan masalah itu berulang-ulang.


Bagi Yuki, kesedihan Pangeran Sera adalah luka untuknya. 


Selama ini setiap luka, setiap kepedihan dan setiap air mata yang ada di diri Yuki, Pangeran Sera selalu menjadi tumpahan Yuki untuk menuangkan segala perasaannya.


Kehadiran Pangeran Sera seperti bintang jatuh yang membawa keberuntungan dalam hidup Yuki. Entah apa jadinya Yuki, jika tidak ada Pangeran Sera yang menompangnya selama ini.


Tapi sekarang....


Kebenaran yang baru di dengar Yuki sungguh melukai hatinya. 


Demi mendapatkan Yuki, Pangeran Sera dengan kejam menyebarkan berita buruk mengenai anak yang di kandung Yuki. Sehingga membuat Yuki harus kehilangan anaknya. Demi itu semua, Pangeran Sera mengorbankan anak yang tidak bersalah.


Padahal, Pangeran Sera tahu dengan benar bagaimana Yuki melewati hari-harinya bahkan sebelum Dia kehilangan anaknya. Malam-malam yang di lalui Yuki dengan air mata karena berita buruk itu. 


Kepedihan dan kekecewaan terlihat jelas dari mata Yuki.


"Aku melakukan semua ini karena Aku mencintaimu Yuki. Tidak masalah jika anak yang Kau kandung adalah anak dari laki-laki lain, Aku bisa menerimanya di sisiku. Tapi, anak yang Kau kandung adalah anak dari penerus tahtah kerajaan Garduete. Jika Kau sampai melahirkan anak itu, jalanku untuk bersamamu akan terputus. Aku tidak punya pilihan lain, Kau harus ..."


Plaakkk !!


Yuki menampar Pangeran Sera.


Dia tidak ingin lagi mendengar segala alasan yang di ucapkan Pangeran Sera untuk membenarkan perbuatannya.


Pangeran Sera menatap Yuki sedih.


"Aku meminta maaf untuk ini Yuki"

__ADS_1


Yuki meremas dadanya kuat. Sakit. Hatinya terasa sakit. Sangat sakit.


Yuki tidak mengatakan apapun lagi. Dia berbalik dan segera pergi meninggalkan Pangeran Sera di belakangnya. Berlari pergi dengan cepat. Air mata terus mengalir membasahi wajahnya.


Yuki terus menangis sampai gerbang belakang penginapan. Seorang penjaga penginapan melihat Yuki yang berbelok keluar gerbang. Tapi Dia tidak berani mengatakan apapun apalagi saat melihat wajah Yuki yang sembab penuh air mata. 


Dia hanya menduga Pangeran Sera dan Putri Yuki sedang bertengkar karena Pangeran Sera membawa seorang Putri masuk diam-diam ke dalam penginapan saat larut malam.


Jadi Dia membiarkan Putri Yuki keluar penginapan. Mungkin Putri Yuki hanya ingin menenangkan diri. Begitu yang ada di pikirannya.


 


Sementara itu Yuki terus berlari. Jalan yang di laluinya sangat sepi dan sunyi. Semua orang masih tidur di peraduannya masing-masing. Tapi Yuki sama sekali tidak perduli. Dia terus berlari dengan cepat, tanpa arah dan tujuan.


Perasaannya hancur. Dia tidak percaya Pangeran Sera tega berbuat sekejam itu padanya.


Seseorang berjalan cepat di belakang Yuki yang masih menangis tersedu di jalanan yang sepi. Dengan cepat Dia mendekati Yuki dan menarik gadis itu masuk ke gang kecil tepat ketika kuda yang di kendarai Pangeran Sera untuk mengejar Yuki lewat di ujung jalan.


"Hmmp ...mpppph" teriak Yuki tertahan karena mulutnya di bekap dengan kuat. Dia di seret semakin masuk ke dalam gang kecil. Pintu kayu di dekatnya di buka dan Yuki langsung di bawa masuk ke dalamnya.


"Lepaskan Aku...lepas.." ujar Yuki ketika akhirnya tangan yang membekap mulutnya menjauh.


"Yuki...ini Aku...ini Aku" 


Yuki membuka mata lebar. Pangeran Riana berdiri di dekatnya. Dia lah yang telah membawa Yuki ke dalam ruangan tempatnya bersembunyi sembari mengikuti Yuki secara diam-diam.


Yuki berhenti memberontak.


"Ada apa denganmu, Apa yang terjadi ?" Tanya Pangeran Riana cemas.


Yuki kembali menangis saat mendengar pertanyaan Pangeran Riana. Mengingatkan Yuki akan kesedihan yang di rasakan. Pangeran Riana menatap Yuki kebingungan namun Dia tidak bertanya lebih jauh dan membiarkan Yuki menangis sampai puas.

__ADS_1


__ADS_2