Morning Dew

Morning Dew
106 Wind Direction (Morning Dew Series-Season 2)


__ADS_3

"Terima...terima..." Sorak-sorak membahana terdengar dari dalam dan di luar gedung sekolah. Beberapa murid bahkan sampai melongok jauh ke luar cendela dengan antusias, membuat orang yang melihat akan khawatir Mereka bisa jatuh ke bawah jika tidak berhati-hati.


Hari ini langit terlihat cerah. Matahari bersinar begitu hangat sendari pagi. 


Yuki berdiri berhadapan dengan seorang Murid senior yang baru saja merayakan upacara kelulusan di sekolah. Ketika Dia sedang berada di rumah kaca untuk kegiatan extra kulikulernya, Seorang temannya memanggil dan memintanya datang ke lapangan tenis karena ada hal mendesak.


Yuki awalnya menolak, tapi temannya terus memaksa Yuki. Hingga akhirnya Dia terpaksa menurut untuk datang ke tempat yang di tunjuk.


Saat Yuki tiba, keramaian sudah terjadi. Mereka menyoraki kedatangan Yuki yang berjalan dengan wajah binggung. Beberapa temannya menarik tangan Yuki. Menuntunnya ke tengah lapangan. Di mana balon berbentuk hati berwarna pink dan putih terikat rapi di tengah lapangan. 


Yuki baru menyadari ketika senior satu tingkat di atasnya, datang dari balik kerumunan. Dengan membawa seikat besar, buket bunga mawar berwarna merah.


Terlambat baginya untuk menghindar.


Dan di sinilah Dia sekarang. Berhadapan dengan senior yang Dia tidak tahu namanya. Yuki hanya mengenali senior itu karena beberapa kali Mereka berpapasan di lorong. Mereka bahkan tidak pernah saling bertegur sapa sebelumnya.


Tapi sekarang, di hari kelulusannya. Senior menyiapkan hal romantis untuk menyatakan perasaan pada Yuki dengan dukungan dari teman-temannya. Beberapa gadis memandang Yuki iri. Berharap ada orang yang menyiapkan khusus untuk Mereka seperti yang di dapat Yuki sekarang.


Di lantai, terdapat kelopak mawar yang di sebar dengan bentuk hati yang cukup besar. Yuki dan Senior berdiri di tengahnya. Menjadi pusat perhatian seluruh murid yang berada di sekitar lapangan tenis.


Senior telah menyatakan perasaannya pada Yuki. Tinggal menunggu jawaban dari Yuki. Yuki hanya ingat, pemuda di depannya adalah ketua osis terdahulu. Memiliki darah campuran asia dan eropa. Sangat tampan dan pintar. Kabarnya Dia mendapat beasiswa kedokteran di salah satu universitas bergengsi.


Senior itu masih menatap Yuki dengan penuh harapan. Matanya menyiratkan permohonan pada Yuki. Mengharapkan jawaban yang di harapkan atas perasaannya. Sementara murid lain terus bersorak agar Yuki mau menerima pernyataan cinta senior.


Yuki menghela nafas. Angin berhembus menerpa rambut Yuki. Dia menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya kemudian berkata dengan lirih. "Maaf Kak, Aku tidak bisa menerima perasaan Kakak" 

__ADS_1


Tidak ada keraguan ketika Yuki mengucapkannya. 


"Kenapa ?" Tanya Senior itu kecewa.


"Aku belum ingin menjalani hubungan dengan siapapun. Aku mohon maafkan Aku kak"


Yuki tidak menunggu Senior untuk membalas ucapannya. Dia langsung berbalik dan pergi meninggalkan kerumunan yang menatapnya dengan kecewa.


Ketika berjalan, Tanpa sengaja Yuki berpapasan dengan Raymond. Mantan pacar Yuki ketika Mereka duduk di bangku SMP. Yuki memalingkan muka. Bersikap seolah tidak melihat Raymond dan pergi berlalu begitu saja.


Dengan tenang, Yuki kembali menuju rumah kaca. Untuk melanjutkan kembali aktifitasnya yang sempat terhenti. Sikapnya acuh. Seperti tidak terjadi apa-apa. 


Begitu tiba di rumah kaca. Dia hanya sendirian. Semua anggota klub berkebun telah pulang atau masih di lapangan tenis. Yuki tidak terlalu memikirkannya. Dia kembali menuju meja tempatnya meninggalkan perlengkapan berkebunnya. Memasang kembali sarung tangan karet dan memakai masker.


Hari ini waktunya untuk melakukan penyemprotan obat hama. Yuki mengambil botol hama dan mulai menuangkan ke botol spray. Mengisinya sesuai takaran yang di butuhkan.


 Banyak tunas merah dengan kuncup bunga di setiap tangkainya. Yuki duduk di depan bunga mawar yang di tanamnya dalam pot putih berdiameter 35 cm. Mulai melakukan penyemprotan dengan hati-hati.


Sekarang Dia menjadi lebih terampil untuk merawat tanaman. Terutama bunga mawar.


Di luar ruangan, udara terasa panas menyengat. Musim panas akan tiba. Beberapa murid lelaki, bertelanjang dada di lapangan basket. Tubuh Mereka basah kuyup karena keringat. Dencit sepatu dan suara bola yang di pantulkan ke lantai terdengar bersahut-sahutan.


Mereka seperti tidak peduli dengan cuaca panas yang menyengat. Asyik bermain basket disaksikan beberapa gadis di pinggir lapangan. Yuki melihat Mereka semua dari rumah kaca yang tak jauh letaknya dengan lapangan basket.


Menikmati kesendirian. Suasana sepi seperti ini adalah benteng terakhir Yuki, ketika luka di dalam hatinya berusaha menggerogoti Yuki dari dalam. Kembali kenangan yang berusaha di lupakan Yuki bermunculan.

__ADS_1


Terasa sakit.


Suara seruan yang nyaring dari lapangan bola basket membuyarkan lamunan Yuki. Ketika Dia mendongak, Yuki melihat Raymond sedang berhigh five dengan rekan satu teamnya. Mereka baru saja bekerja sama mencetak skor tiga dalam pertandingan Basket.


Yuki mengalihkan pandangannya kembali. Menatap ke langit dan kembali melamun. Sudah empat belas bulan berlalu...


Empat belas bulan semenjak Yuki kembali ke dunia ini. Empat belas bulan...rasanya waktu berlalu begitu lambat untuk Yuki.


Berkat bantuan Pangeran Sera, Yuki dapat kembali ke dunia ini. Ketika Dia tersadar, Yuki mendapati dirinya berada didalam kamar tertutup yang terletak di lantai dua rumahnya. Yuki berhasil kembali dengan selamat.


Bibi Sheira sangat terkejut ketika melihat Yuki keluar dari ruang tertutup. Wajah Yuki sembab dengan mata bengkak karena kebanyakan menangis sebelumnya. Dia langsung memeluk Bibi Sheira yang masih diam di tempatnya. Memandang kehadiran Yuki yanh tiba-tiba dengan raut tidak percaya.


Setelah tenang, Bibi Sheira membimbing Yuki untuk mandi dan beristirahat. Malamnya, Yuki baru mampu bercerita mengenai apa saja yang di alaminya di dunia asal Mereka dan bagaimana awalnya sehingga Yuki dapat kembali ke dunia ini lagi.


Bibi Sheira tidak terlalu terkejut ketika mendengar Yuki menyebut nama Pangeran Sera. Rupanya, Dia sudah mengetahui masalah perjodohan yang di lakukan Putri Ransah dengan Ratu kerajaan Argueda.


Namun, Bibi Sheira tidak menyangka jika Yuki akan terlibat dengan Pangeran Riana. Bibi Sheira pernah melihat Pangeran Riana ketika Dia masih berusia empat tahun. Terakhir Mereka bertemu kembali ketika Pangeran Riana sudah dewasa. Tepatnya saat Pangeran Riana datang menjemput Yuki ke dunia asal Mereka.


Saat Yuki menghilang untuk kembali ke dunia asalnya. Phil memberikan alasan yang dapat di percaya oleh sekolah. Yuki sedang sakit, Dan sedang menjalani terapi pengobatan di salah satu rumah sakit di luar negeri. Beruntung Sekolah mempercayai Phil. 


Jadi ketika Yuki kembali ke sekolah. Dia berpura-pura baru saja sembuh dari sakit untuk memperkuat alasan Phil sebelumnya. Beruntung, pihak sekolah dan teman-temannya mempercayai ucapan Yuki. Bahkan ada yang membawakan banyak makanan untuk merayakan kedatangan Yuki kembali di sekolah. 


Yuki berhasil mengejar ketinggalannya. Nilainya cukup baik meskipun bukan juara kelas. Setidaknya masih di atas rata-rata seluruh kelas yang ada, sehingga Yuki bebas dari ancaman untuk mengulang pelajaran di tahun depan.


Yuki kembali menjalani hari-harinya yang biasa. Namun dengan Yuki yang berbeda.

__ADS_1


Sekilas Yuki terlihat normal. Namun ketika malam hari. Yuki selalu di hantui mimpi-mimpi buruk. Terutama ketika Bangsawan Dalto di eksekusi mati oleh kerajaan. 


 


__ADS_2