
Anak-anak dari berbagai usia, bergandengan tangan membentuk lingkaran besar sambil bernyanyi dengan riang. Sementara yang lain sibuk menggambar atau melakukan permainan lainnya. Yuki berada di antara anak-anak di lahan luas yang di sulap menjadi lapangan untuk bermain anak-anak. Dia di bantu beberapa pelayan istana menemani anak-anak korban bencana alam bermain, menghabiskan waktu di sore hari yang cerah.
Sesekali Yuki mengarahkan permainan atau memisahkan jika terjadi perseteruan di antara Mereka.
Sudah tiga minggu semenjak bencana. Keadaan jauh lebih baik daripada sebelumnya. Bantuan kerajaan terus berdatangan. Masyarakat di bantu pemerintah setempat mulai membangun kembali kota Mereka yang porak-poranda akibat tsunami.
Selain membangun kota, Kerajaan juga memfokuskan dengan nasib para korban terutama anak-anak yang kehilangan orang tua Mereka. Mereka di beri terapi untuk perlahan menghilangkan trauma yang telah Mereka alami.
Anak-anak yang tidak memiliki orang tua, akan di tempatkan di lembaga khusus. Mereka akan di pelihara oleh Negara atau bisa di adopsi dengan jaminan hidup dan pendidikan untuk masa depan Mereka.
Pangeran Riana telah mengupayakan semuanya, Dia membantu di medan bencana juga membuat perencanaan matang untuk kehidupan rakyatnya kedepan. Perlahan timbul rasa kagum dalam diri Yuki.
Bangsawan Voldermont datang tiga hari lalu bersama Bangsawan Xasfir menggantikan Bangsawan Asry menemani Pangeran Riana. Dari Bangsawan Voldermont, Yuki tahu jika Pangeran Riana serius melepaskan semua wanitanya meskipun di tentang oleh Ibu Suri dan Raja. Tidak ada lagi wanita milik Pangeran Riana di istana wanita.
Yuki tidak percaya Pangeran Riana benar-benar melakukannya.
"Putri Yuki lihat di sana, ada anak-anak dari Negeri Argueda" seru seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun. Namanya adalah Oira. Oira mengoyangkan tangan Yuki keras. Membuyarkan lamunan Yuki.
Yuki yang sedang duduk sambil membantu Oira mewarnai gambar di atas kertas, langsung mendongak untuk melihat arah yang di tunjuk Oira.
Sekelompok kecil anak-anak bersembunyi di balik pepohonan. Memandang ke depan dengan tatapan penasaran sekaligus takut khas anak-anak.
Seorang penjaga yang bertugas mengawasi sekitar maju dengan wajah garang. Dengan keras berteriak mengusir Anak-anak dari negeri Argueda. "Mau apa Kalian kemari..Pergi Kalian !!"
Beberapa Anak mengkeret ketakutan. Bahkan ada yang berlari pergi masuk ke dalam hutan. Yuki langsung berdiri dan menghampiri penjaga untuk menegur.
"Paman tolong jangan begitu, apa salah Mereka. Mereka hanyalah anak-anak yang tidak tahu apa-apa" tegur Yuki tidak suka.
__ADS_1
"Tapi Putri, Mereka adalah anak-anak dari Negeri Argueda" jawab Penjaga beralasan.
"Memang kenapa kalau Mereka dari Argueda. Jangan libatkan Mereka dengan permasalahan yang ada" Yuki memandang ke arah anak-anak yang masih bersembunyi ketakutan. "Tetaplah di sini. Aku akan berbicara dengan Mereka"
Penjaga itu tidak membantah dan menundukan kepala hormat. Pangeran Riana memerintahkan untuk menjaga Putri Yuki. Bukan melarang Putri Yuki bertemu dengan anak-anak dari Argueda. Lagipula jika Dia terus membantah dan Putri Yuki tidak suka. Dia bisa terkena masalah karena di anggap melawan terhadap kerajaan.
Yuki berjalan tenang menghampiri anak-anak yang tersisa di depannya. Dia harus berhati-hati agar tidak membuat Mereka semakin ketakutan.
"Ka..Kami hanya ingin melihat saja Putri. Kami tidak ada niatan untuk menganggu sama sekali. Sungguh Putri" ujar seorang anak yang lebih tua umurnya daripada yang lain dengan suara bergetar menahan tangis. "Ketika Kami mencari buah di hutan. Kami mendengar suara nyanyian. Kami kemari karena penasaran saja Putri"
Seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun memeluk pinggang gadis itu dengan wajah ketakutan. Gadis yang berbicara dengan Yuki merentangkan tangan berusaha melindungi anak itu agar tidak takut.
"Jangan takut. Aku tidak datang ke sini untuk memarahi Kalian" kata Yuki menenangkan. "Jika Kalian mau, Kalian bisa bergabung bersama Kami. Kami akan senang jika lebih banyak lagi teman yang mau bergabung untuk bermain bersama"
"Ta..tapi" Anak perempuan itu melirik ke arah penjaga dengan sikap tak yakin.
"Nama hamba Hazel dan ini adik hamba Qiras" jawab Hazel pelan. Meski begitu Dia sudah lebih rileks untuk berbicara.
"Perkenalkan namaku Yuki. Nah karena Kita sudah berkenalan, maukah Kalian menerima undanganku untuk bermain bersama" ujar Yuki lagi dengan penuh keyakinan.
"Apa tidak apa-apa ?" Qiras masih tampak ragu menerima undangan Yuki.
"Tidak apa-apa. Jangan takut. Aku yang menjamin Keselamatan Kalian. Tidak akan ada yang menyakiti Kalian di sana" Yuki mengulurkan tangan dengan tatapan persahabatan. "Aku janji"
Hazel mengangkat tangan. Perlahan menerima uluran tangan Yuki. Yuki tersenyum lega. Dia mengandeng Hazel, diikuti Qiras di sampingnya berjalan menuju lapangan. Anak-anak Argueda yang lain, setelah saling pandang dan berbisik satu sama lain, memberanikan diri mengikuti Yuki yang terlebih dahulu berjalan di depan.
"Anak-anak, Kita kedatangan teman baru" Seru Yuki penuh semangat. Anak-anak yang berada di lapangan berseru riang. Mereka kembali melakukan permainan bersama dengan teman-teman baru Mereka. Menggambar, menghias layang-layang, bermain kucing dan tikus dan permainan lain yang dapat Mereka kerjakan untuk mengisi kegembiraan.
__ADS_1
Yuki tersenyum senang melihat keceriaan di wajah-wajah kecil yang tidak berdosa. Menghapus lelah yang di rasakan setelah tiga minggu lamanya larut dalam ketegangan. Dalam dunia anak-anak, tidak ada yang namanya anak dari Argueda maupun anak dari Garduete. Semuanya sama. Orang dewasalah yang membawa perbedaan yang memisahkan Mereka.
Hari semakin sore. Setelah puas bermain, Yuki membantu memandikan anak-anak dari Argueda dan mendandani Mereka dengan baik. Memberi Mereka pakaian bersih. Memberi makanan yang sama dengan anak-anak lainnya. Setelah semua selesai, seorang penduduk mau berbaik hati meminjamkan kereta kudanya untuk membawa Mereka kembali ke perkemahan Mereka. Yuki menaikan Mereka satu persatu ke atas kereta. Dia sendiri ikut naik untuk mengantarkan. Menemani Mereka sampai tempat tujuan.
Sepanjang jalan Mereka bernyanyi bersama. Suara Mereka terdengar begitu riang, tanpa beban. Menghiasi udara di sepanjang jalan yang Mereka lewati.
Perkemahan milik Kerajaan Argueda berada di atas bukit. Dua puluh menit dengan mengendarai kereta kuda dari Perkemahan Garduete. Yuki tidak mengerti bagaimana bisa anak-anak bisa bermain begitu jauh tanpa ada yang menyadari.
Kereta telah sampai di gerbang perkemahan. Di berhentikan oleh penjaga yang sedang bertugas. Yuki turun untuk membantu kusir kereta menjelaskan kepada penjaga. Kerumuman penduduk Argueda yang berada di lokasi mulai terlihat. Mereka penasaran dengan kedatangan kereta kuda dari Garduete.
Saat Yuki akan menjelaskan kepada penjaga. Pangeran Sera muncul dari balik kerumunan. Dia langsung menghampiri Yuki dengan wajah terkejut.
"Kau mencari Mereka ?" Seloroh Yuki sambil tersenyum menggoda.
"Bantu anak-anak untuk turun" perintah Pangeran Sera kepada para penjaga. Mereka langsung bergerak melaksanakan perintah Pangeran Sera.
"Terimakasih sudah membawa Mereka kembali dengan selamat Yuki" ucap Pangeran Sera tulus. Dia kemudian berbalik dan menatap anak-anak yang telah berbaris rapi di dekat kereta kuda. Menunggu.
"Kalian semua telah membuat Kami cemas. Apa kalian sadar itu ?" Ujar Pangeran Sera memarahi anak-anak dengan nada lembut.
"Maafkan Kami Pangeran" koor anak-anak serentak. Meskipun Mereka meminta maaf, Tidak ada penyesalan di dalamnya.
"Aku tidak mau kejadian seperti ini terulang lagi. Apa Kalian mengerti ?"
"Yaaaaa"
Yuki sampai menutup telinga, ketika Anak-anak kembali menjawab dengan koor panjang yang cukup kencang.
__ADS_1