Morning Dew

Morning Dew
37


__ADS_3

Yuki memandang keluar dengan perasaan lega. Dia berkali-kali menghirup udara seolah tidak percaya Dia dapat kembali merasakan kebebasannya. 


Yuki berpikir akan merawat kucing yang di tolong Pangeran Riana, berkat Dia, Yuki mendapat kesempatan untuk berinteraksi dengan kehidupannya kembali. Dia sudah meminta Rena untuk membantunya menemukan kucing itu. Tidak akan sulit mencarinya.


Kereta yang membawa Mereka berhenti di lapangan luas. Rencananya pembukaan akan diadakan di lapangan ini. Yuki terperangah saat menyaksikan gerbang buatan yang dibuat oleh para Bangsawan tanpa bantuan dari pihak lain. Semua Mereka kerjakan sendiri dari mengangkat bahan baku sampai mengukir hiasan. 


Tujuan dari Festival ini juga untuk melihat perkembangan ketrampilan para murid di sekolah Masing-masing. Perasaan Yuki sangat ringan. Setengah berlari kecil Dia mengikuti langkah lebar Pangeran Riana.


Bangsawan Xasfir sedang membuat ukiran dari kayu ketika Mereka menghampirinya. Yuki terkejut ketika melihat hasil karya Bangsawan Xasfir. Dia tidak menyangka tangan besar Bangsawan Xasfir mampu membuat karya seni yang bagus.


Ukirannya rumit namun sangat indah dan mendetail.


Pangeran Riana berdiri di samping Yuki, membaca berkas yang diberikan dua orang prajurit kepadanya.


Terlihat sosok Bangsawan Dalto sedang berjalan di sudut gerbang menuju taman depan. Yuki refleks ingin menghampiri. Pangeran Riana dengan sigap langsung mencekal tangan Yuki dan memandangnya tajam.


"Jika Aku mengetahui Kau berbicara dengan Dalto maupun Sera tanpa izinku, Aku akan memulangkan mu kembali ke istana dan tidak akan pernah membawamu lagi" Ancam Pangeran Riana tegas.


"Sudahlah Yuki, kemarilah bantu Kami" Bangsawan Xasfir melambaikan tangan kepada keduanya. Memecah ketegangan yang terjadi. Yuki menyentakan tangan Pangeran Riana hingga terlepas, berjalan dengan gotai mendekati Bangsawan Xasfir yang ditemani Bangsawan Voldermon.


Bangsawan Voldermon mengaduk varnish dan mengoleskan kuas ke atas ukiran yang di buat Bangsawan Xasfir. Sementara Bangsawan Xasfir mulai membuat ukiran lain lagi. Yuki duduk dengan wajah ditekuk. Dia sangat kesal sampai matanya berkaca menahan air mata.


"Kau tampak sehat kucing kecil, Bagaimana ?, Menyenangkan bukan berciuman dengan Riana ?" Tanya Bangsawan Voldermon membuat Bangsawan Xasfir di dekatnya terkekeh.


"Lebih menyenangkan daripada jika aku harus berciuman denganmu" balas Yuki kesal. Membahas ciuman, membuatnya semakin jengkel. Bibirnya terasa bengkak sekarang karena Pangeran Riana berkali-kali mengigit nya.


Bangsawan Voldermon menyeringai lebar, Dia seperti mengetahui apa yang di pikirkan Yuki. Tangannya yang memegang kuas menunjuk ke arah Yuki. "Saat umurmu genap enam belas tahun, bersiaplah jika Riana melakukan lebih padamu" 


"Apa yang Kau katakan, Pangeran tidak mungkin melakukan hal itu padaku" 

__ADS_1


Yuki terlihat panik, Dia sangat ketakutan ketika memikirkan kemungkinan yang terjadi. Jadi Dia menghibur diri sendiri dengan mengatakan hal itu. Sebenarnya Dia sendiri tidak yakin jika melihat sifat Pangeran Riana.


"Gerakan tangan Riana cukup cepat, jangan khawatir, Kau akan baik-baik saja"


Yuki melempar kuas kotor ke arah Bangsawan Voldermont. Bangsawan Voldermont menghindar, Dia tertawa puas saat melihat Yuki pucat pasi karena ketakutan.


"Jangan menakutinya Vold" hardik Bangsawan Xasfir merasa kasihan saat melihat wajah Yuki.


"Aku hanya berbicara kenyataan, Apa Kau mau bertaruh denganku"


"Tidak mau" tolak Yuki cepat. Dia menekuk tangannya di dada berusaha melindungi diri. "Aku tidak percaya, Pangeran bukan orang seperti itu" ujarnya kembali menyakinkan diri sendiri.


"Siapa bilang Aku tidak akan melakukannya, Aku tidak akan segan terhadapmu, terutama jika mencium tanda-tanda yang tidak menyenangkan darimu" Pangeran Riana datang mendekat, Dia sudah mendengar percakapan Mereka. Yuki langsung mengkeret ketakutan seperti seekor kucing yang terpelosok ke dalam got.


"Aku sudah sering tidur dengan gadis yang baru berusia enam belas tahun" Bangsawan Voldermon membusungkan dada, Dia sangat bangga atas prestasinya. 


Bangsawan Voldermont dan Bangsawan Xasfir tergelak melihat ekpresi Yuki yang masam.


Yuki berjalan sendirian di lorong yang ramai. Semua murid sibuk dengan persiapan festival. Tidak ada yang memerhatikan Yuki sekarang. Pangeran Riana sedang berbicara dengan beberapa Bangsawan ketika Yuki diam-diam pergi meninggalkan tempatnya.


Awalnya, Yuki hanya ingin berjalan-jalan melihat persiapan, mungkin Dia akan mencari Elber untuk mengobrol. Tapi matanya menangkap sosok Bangsawan Dalto memasuki ruang musik seorang diri. Seingat Yuki, tidak ada kegiatan belajar-mengajar selama persiapan festival berlangsung. Yuki merapatkan pakaiannya, musim gugur telah datang. Udara dingin membuatnya mengigil. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan acuh untuk melihat situasi. Memastikan tidak ada seorangpun yang memperhatikannya. Setelah dirasa aman, Yuki berjalan menuju kelas musik. Dia masuk dengan cepat. Jantungnya seolah nyaris berhenti saking tegangnya.


Di dalam ruangan hanya ada Mereka berdua. Yuki bersyukur, Dia merasa ini adalah satu-satunya kesempatan untuk menjelaskan pada Bangsawan Dalto. Dia tidak mau kesalahpahaman ini semakin berlarut. Yuki berjalan menghampiri Bangsawan Dalto.


"Bangsawan Dalto" Yuki memeluk lengan Bangsawan Dalto dengan nada senang, bersikap tidak terjadi apa-apa untuk mencairkan suasana.  


Bangsawan Dalto menghentikan gerakannya. Dia sedang membereskan peralatan musiknya ketika Yuki datang.


"Maaf, Aku baru bisa menemuimu. Aku beberapa kali mengirimkan surat tapi Kau tidak pernah membalasnya"

__ADS_1


"Aku memang tidak ingin membalasnya" 


Yuki mengerjap. Dia menatap Bangsawan Dalto tidak percaya dengan pendengarannya. Bangsawan Dalto berpaling untuk menatap Yuki. Ada sorot benci yang tidak bisa diungkapkan di dalam matanya. Dia menatap Yuki seperti menatap seorang musuh.


"Dengarkan Aku" kata Yuki setelah berhasil menguasai diri. "Aku akan menjelaskan semua"


"Tidak ada yang perlu di jelaskan lagi Putri Yuki" Bangsawan Dalto menarik tangannya dan melepaskan pegangan Yuki dengan kasar. "Mulai sekarang anggap Kita tidak saling mengenal"


"Tunggu...kenapa...Aku tidak mau" 


"Apa Kau tidak mengerti perkataanku, Aku tidak mau berteman lagi denganmu !!" Bentak Bangsawan Dalto keras membuat Yuki mundur dua langkah. "Berteman denganmu membuatku sulit, lagipula Aku tidak mau dianggap menganggu wanita milik Pangeran, jika Kau sudah paham maka pergilah dan jangan ganggu Aku lagi !!"


"Tidak..Aku tidak mau pergi"


"Baik, Aku yang pergi !!" Bangsawan Dalto mendorong Yuki dengan kuat agar menyingkir dari hadapannya. Yuki yang tidak menyangka sikap Bangsawan Dalto, tidak dapat mengelak. Dia terjatuh. Sikunya terantuk sudut meja.


Bangsawan Dalto berjalan pergi tanpa menoleh ke arah Yuki. Dia bahkan tidak menunjukan sikap menyesal karena berlaku kasar.


Pintu di tutup dengan keras.


Yuki seorang diri sekarang. Dia tercengang melihat perubahan sikap Bangsawan Dalto. Apa yang sebenarnya terjadi padanya ?.


Setelah cukup lama berada di dalam ruang musik seorang diri untuk berpikir, Yuki akhirnya memutuskan untuk menemui Elber. Dia mungkin punya jawaban kenapa sikap Bangsawan Dalto berubah. Jadi Yuki tidak mau menghabiskan waktu lebih lama, Dia bergegas keluar dan mencari Elber.


Setelah meminjam Gulf pada seorang Putri di kelasnya, Yuki akhirnya mengetahui posisi Elber. Dia langsung meluncur ke sana untuk berbincang. Tapi sesampainya di sana, Elber sedang sibuk berlatih menari dan koreografi bersama para puteri yang terpilih. Jadi Yuki memilih tidak menganggu dan memutuskan untuk menunggu di tribun penonton.


Andaikan Pangeran Riana mencarinya pun, Yuki tidak akan mendapat masalah jika berada di sini menonton Elber menari.


 

__ADS_1


__ADS_2