
"Yuki buka matamu" perintah Pangeran Riana ketika Mereka sudah berada di atas langit. Yuki menggelengkan kepala menolak. Tadinya Yuki mengira naik Radolft sama seperti naik pesawat udara biasa, nyatanya Dia seperti naik jet coaster. Yuki tidak berani membuka matanya, dan hanya memeluk Pangeran Riana dengan erat.
"Tidak mau" tolak Yuki sambil mempererat pelukannya di pinggang Pangeran Riana.
"Buka matamu !" Perintah Pangeran Riana lagi dengan lebih tegas.
Yuki merasa ragu, tapi Dia tetap menuruti Pangeran Riana pada akhirnya. Perlahan Dia membuka matanya.
"Wuuuuaaahhhh" Seru Yuki terpana saat melihat pemandangan di depannya.
Hamparan hutan hijau berada tepat di bawahnya, bersatu dengan warna orange yang menyebar di langit menandakan hari akan berganti. Matahari akan beranjak ke peraduannya digantikan oleh bulan yang menerangi langit.
Sungai melingkar, meliuk membentuk lekukan indah yang menghiasi hutan di bawah Mereka. Yuki terpesona dengan keindahan di depan matanya. Matanya berbinar senang. Dia sudah melupakan ketakutannya.
"Pemandangan yang sangat indah, terimakasih Radolft memberiku kesempatan untuk melihatnya" ujar Yuki tulus.
Radolft mengeram menjawab pertanyaan Yuki, seolah Dia mengerti bahasa manusia.
"Kau hanya berterimakasih pada Radolft ?" Tanya Pangeran Riana menegur Yuki.
Yuki berpaling sembari tersenyum riang. "Aku juga berterimakasih pada Pangeran telah menolongku kembali"
"Aku terima balas jasamu"
Pangeran Riana tanpa peringatan menarik Yuki mendekat dan langsung mencium Yuki. Yuki terkejut, Dia tidak menyangka Pangeran Riana akan menciumnya ketika Mereka berada di atas naga yang sedang terbang. Ciumannya kali ini begitu menuntut dan panas. Yuki nyaris tidak bisa bernafas karenanya.
Pangeran Riana terus mencium Yuki, membuat Yuki kehilangan fokus. Kedua tangan Yuki di arahkan untuk melingkari leher Pangeran Riana.
Pangeran terus mencium Yuki tanpa memberi jeda untuk berpikir.
Radolft berhasil membawa Pangeran Riana dan Yuki dengan selamat. Ketika pagi menjelang, Mereka sudah tiba di halaman istana Pangeran Riana. Yuki sangat lelah, tapi Dia bersyukur bisa kembali. Perjalanan yang di tempuh beberapa hari bersama Pangeran Sera, menjadi beberapa jam dengan menaiki Radolft.
__ADS_1
Rena membantu Yuki untuk mandi dan berganti pakaian. Yuki sebenarnya sangat mengantuk dan lelah. Namun Raja memberikan perintah untuk segera ke istana Raja. Jadi Dia berusaha bertahan dan melawan rasa kantuknya.
Pangeran Riana datang tepat ketika Yuki selesai berdandan. Pangeran Riana sudah berganti pakaian dan membersihkan diri. Mereka lalu pergi mengendarai kereta kuda menuju istana.
Raja Bardana bersama para Menteri untuk membahas kasus yang sedang terjadi ketika para Penjaga mengumumkan kedatangan Pangeran Riana dan Yuki. Dia sangat lega ketika pada akhirnya melihat Yuki berada di depannya.
Yuki di tuntun untuk memberikan penghormatan. Jelas sekali Dia sedang menahan kantuk. Beberapa kali Yuki menguap.
Pangeran Riana berjalan dan duduk di tempatnya. Yuki di tinggal seorang dori di tengah aula. Di hadapan Raja dan para pejabat yang menunggu. Rasanya Yuki bisa langsung tertidur begitu membaringkan kepalanya di atas karpet yang di pijaknya saat ini.
Dia sangat ingin melakukannya jika tidak ingat ada Raja Bardana di depannya sedang mengawasinya.
Di hadapan Para Pejabat Negara Yuki merasa seperti pesakitan yang sedang menunggu vonis.
"Putri Yuki, Aku tahu Kau sangat lelah setelah menempuh perjalanan jauh dan butuh istirahat. Tapi, Ada beberapa pertanyaan yang harus Aku segera tanyakan kepadamu. Aku harap Kau akan menjawabnya dengan baik" ujar Raja penuh wibawa.
Yuki menundukan kepala memberi hormat dengan sopan. Dia mengerti maksud Raja Bardana.
Yuki sudah menduga Raja Bardana akan menanyakan hal ini. Jadi selama di perjalanan ke istana Dia sudah memikirkan jawabannya.
Yuki menundukan kepala kembali dengan penuh hormat sebelum Dia menjawab pertanyaan Raja Bardana. "Atas sepengetahuan hamba dan dari yang telah di ceritakan oleh Pangeran Sera sendiri kepada Hamba, tidak Yang Mulia"
"Jadi alasan apa Sera membawamu ke negerinya ?" Tuntut Raja Bardana tidak puas.
Yuki menatap Raja Bardana sejenak penuh keraguan. Dia bimbang apakah akan menceritakan kebenarannya atau tidak. Apalagi ada Pangeran Riana di aula. Pangeran Riana akan sangat marah jika mendengar kenyataan yang akan di ceritakan Yuki. Tapi, Jika Yuki berbohong dan pada akhirnya Raja Bardana mengetahui kebohongan Yuki. Yuki tidak dapat membayangkan hukuman apa yang dapat di terimanya karena telah berani memberikan informasi palsu kepada kerajaan.
Yuki merasa seerti sedang makan buah simalakama. Dia tidak tahu harus memilih yang mana.
"Atas...atas apa yang di ceritakan kepada hamba, Pangeran Sera menculik hamba untuk melindungi hamba Yang Mulia"
"Melindungimu ?" Raja menatap Yuki tajam, nyaris membuat Yuki menggigil ketakutan. Raja Bardana sangat berwibawa jika sedang menunjukan keseriusannya. Sifat yang pada akhirnya di turunkan kepada Pangeran Riana. "Apa hubungan Kalian sampai Sera begitu peduli padamu ?"
__ADS_1
Hening.
Yuki tidak tahu harus mengatakan apa. Dia ragu.
Melihat keraguan Yuki, Raja Bardana kembali berucap dengan tegas. "Ini adalah pengadilan kerajaan Putri Yuki. Kau tahu hukumaannya jika berbohong terhadap Raja"
Yuki menelan ludah. Dia tidak punya pilihan lain. Dia cukup pengecut untuk menerima hukuman kerajaan. Yuki pernah membaca di sekolah, jika berbohong terhadap Raja di sidang kerajaan, maka setidaknya yang paling ringan adalah di cambuk tiga puluh kali.
Memikirkannya membuat Yuki merinding.
"Karena..." Yuki merasa berat saat mengatakannya. "Karena Hamba adalah Tunangan Pangeran Sera"
Sedetik ketika Yuki usai mengatakannya. Suasana berubah menjadi sunyi mencekam. Yuki tidak menyukai atmosfir yang sedang terjadi. Rasanya, Dia ingin menghilang dari tempat ini secepatnya.
Bisik-bisik mulai terdengar. Wajah Para Menteri menjadi tegang. Yuki tidak berani mendongak untuk melihat ekspresi Pangeran Riana. Dia terlalu pengecut untuk melakukannya.
"Ceritakan Putri Yuki" perintah Raja tegas. Nadanya bahkan jauh lebih tajam daripada sebelumnya.
"Sebenarnya, Hamba juga baru mengetahui masalah ini Yang Mulia" jawab Yuki kelu.
Yuki menceritakan semuanya di persidangan. Dia berharap setelah menceritakan hal ini, Pangeran Riana akan mengerti dan tidak menyalahkannya.
Dia menceritakan di depan pengadilan kerajaan, mengenai kecurigaannya terhadap sikap Pangeran Sera terutama saat Pangeran Sera mengetahui hari lahirnya dan hadiah yang selama ini diinginkannya.
Bagaimana Yuki di culik dari ruang peristirahatan Pangeran Riana.
Pembicaraan Yuki dengan Pangeran Sera serta apa saja yang di alaminya sampai beetemu kembali dengan Pangeran Riana. Tetapi Yuki tidak menceritakan ketika Pangeran Sera menciumnya. Pangeran Riana akan membunuhnya jika sampai hal tersebut bocor ke telinganya.
Yuki menunjukan kalung pemberian Putri Ransah yang merupakan simbol perjanjian dengan kerajaan Argueda kepada Raja Bardana.
Mata Pangeran Riana menyipit membentuk suatu garis ketika Dia melihat kalung di tangan Yuki. Buru-buru Yuki menghalangi dengan telapak tangannya yang bebas agar Pangeran Riana tidak melihatnya.
__ADS_1
Jika sampai di istana Pangeran Riana nanti, Yuki akan menyembunyikan kalung itu. Dia tidak akan membiarkan Pangeran Riana membuangnya karena kalung itu adalah peninggalan ibunya.