Morning Dew

Morning Dew
12


__ADS_3

Aku duduk di sofa sembari memandangi pemandangan dari cendela yang terbuka,sementara itu Rena dibelakangku sedang membersihkan lukaku. Semalam adalah malam yang menegangkan. Perjalanan kembali ke istana pangeran terasa sangat panjang dan berbahaya. Untungnya kami tiba dengan selamat sampai tujuan.


Aku langsung dimasukkan ke kamar dan Pangeran menambah beberapa penjaga lagi diseluruh istana.


"Semoga saja lukanya tidak berbekas" Gerutu Rena pelan.


Aku hanya diam tidak menjawab. Pikiranku dipenuhi kejadian tadi malam. Nyaris...ya nyaris saja Aku terbunuh. Sasaran tembak diarahkan padaku secara terang-terangan. Siapapun itu dapat dipastikan mengincar nyawaku untuk mendapatkan kekuatan penghancur yang maha dasyat. Sihir terlarang yang telah lama hilang.


Rasanya sesak memikirkan berapa nyawa lagi yang harus melayang karenaku. Sampai kapan kegilaan ini dapat dihentikan. Aku tengelam dalam pikiranku. Berandai dalan pikiranku, mencoba mencari jawaban dari benang rumit yang seolah melilitku tanpa kendali.


"Aduhhh...pelan-pelan Rena, kenapa tenagamu kuat sekali" Aku meringis saat ikatan perban dibahuku ditarik kencang. Membuyarkan lamunanku.


"Sudah ?"


Aku langsung berbalik. Entah sejak kapan Pangeran Riana sudah dibelakangku. Dia mengantikan Rena untuk membersihkan luka dan membalutnya kembali. Aku buru-buru menaikkan lengan baju dan merapikannya. Rambutku masih setengah basah sehabis mandi. Bukan pemandangan yang enak untuk dilihat.


Rena sendiri berdiri dengan penuh hormat didekat kami.


Dengan gaya profesional, Dia membereskan obat-obatan dan memasukkannya ke ranjang. Kemudian, berbalik pergi. Meninggalkan Ku hanya berdua dengan Pangeran.


"Tumben Pangeran sepagi ini ada di Istana ?" kataku berusaha membuka obrolan. Secara tidak ketara Aku bergerak memberi jarak duduk diantara kami.


"Bagaimana keadaanmu ?"


"Seperti yang Pangeran lihat, Aku sudah baik-baik saja"


"Lukamu akan berbekas, tapi dengan obat dari Serfa bekasnya akan perlahan memudar"


"Aku sudah cukup bersyukur Aku masih bisa hidup sampai sekarang. Bekas ini tidak akan mengangguku. Lagipula sebagai manusia kita tidak boleh serakah"


"Jika itu putri lain, Mereka akan berteriak kebingungan hanya karena setitik bekas luka di tubuhnya"


"Sayangnya Aku bukan mereka" Selorohku asal. "Bagaimana perkembangan penyelidikan pangeran ?"


Pangeran mengeleng pelan. "Sekarang kita sudah mengetahui motif tetapi kita belum menemukan dimana para Bangsawan dan Putri yang menghilang. Tidak ada petunjuk sama sekali."


Aku berpikir sebentar. Mencoba mengingat mimpi-mimpiku.


"Kita perlu mencari tau sebuah kuil yang sudah lama tidak berpenghuni. Dalam mimpiku Aku melihat Sei berada disana saat Dia..." Lidahku tercekat tidak mampu untuk melanjutkan pembicaraan. "Jika melihat kondisinya kuil tersebut tidak akan jauh dari kota"


"Ada beberapa kuil disekitar wilayah yang sudah tidak berpenghuni" Pangeran mengambil gulf dan mencoba menghubungi seseorang.


"Kalian semua kemarilah, ada yang perlu kita bahas" ujar Pangeran kepada Bangsawan Xasfir. "Beritahu Serfa juga untuk datang"


Bangsawan Xasfir mengangguk mengerti. Setengah jam kemudian kami sudah berkumpul diruang kerja Pangeran.


Aku menceritakan Mimpiku ketika melihat Sei terbunuh. Bagaimana kuil tersebut, Apa saja yang kulihat dan kusentuh. Mereka mendengarkan dengan seksama. Lalu membuat daftar kira-kira kuil mana saja yang memenuhi kriteria untuk diselidiki untuk mempercepat proses pencarian. Mereka juga membuat daftar tersangka yang perlu dicurigai. Aku mengernyit saat membaca salah satunya.Nama Bangsawan Dalto berada disalah satu barisnya, Tampaknya Dia dicurigai karena masa lalu kedua orang tuanya.


Setelah semua diatur, Pangeran memerintahkan Bangsawan Xasfir untuk mengatur pasukan untuk menyisir semua kuil yang dicurigai. Mereka pun berpencar melaksanakan tugasnya.


"Apa Kau yakin Aku harus melakukan ini ?" Tanyaku pada Bangsawan Voldermon tak percaya. Kami berada di ruang kerja pangeran. Bangsawan Voldermon memegang jarum dan es di tangannya. Duduk di sebelahku.


"Kita harus membuat tindikan di kupingmu agar dapat memasangkan anting kerajaan padamu"


"Aku tidak pernah berpikir menindik kupingku selama ini, kenapa Aku harus melakukannya ?. Anting itu bisa kupakai dilubang telingaku yang sudah ada. Tidak perlu harus menindiknya" Kataku kesal.


"Ini adalah anting kerajaan, simbol bahwa Kau wanita milik Pangeran Negeri Garduete. Jika Kau memakai di lubang telingamu yang lama tanpa menindiknya, Artinya Kau akan dianggap sebagai dayang-dayang kerajaan dan Riana boleh menyerahkanmu pada tamu-tamu lain sewaktu-waktu untuk melayani mereka. Apa Kau ingin hidup seperti itu ?"


"Tidak mau. Siapa yang mau seperti itu" Jawabku gusar. "Aku tidak pernah mendengar peraturan kerajaan yang seperti ini sebelumnya"


"Banyak yang tidak kau ketahui" Ujar Bangsawan Voldermon tenang.


"Kenapa bukan pelayan yang melakukannya, kenapa harus kau"


"Apa Kau ingin Riana yang melakukannya ?"


Ugh...


Aku tidak bisa membayangkan jika Pangeran yang menindikku. "Kau saja silahkan" Kataku akhirnya dengan nada menyerah kalah.


"Kucing pintar"


Bangsawan Voldermon memegang kupingku. Aku menahan sakit saat jarum itu dimasukkan ke kupingku. Dia terus menempelkan Kain yang dibungkus es batu untuk meredakan nyeri. "Sudah selesai"


Aku mengambil cermin kecil. Telingaku masih merah. sebuah Anting kecil ditanamkan disana. Bangsawan Voldermon hanya memasang di telinga kiriku.


"Bangsawan Voldermon bagaimana penyelidikan mengenai kuil yang kemarin ?"


"Kita sudah menemukan sebagian besar korban"


"Benarkah...dimana ?"


"Di bekas kuil yang terbakar. Tapi dari penyelidikan lebih lanjut, sebagian dari mereka telah meninggal terlebih dahulu sebelum dibuang ke sana"


"Apakah bekas kuil tersebut adalah bekas kuil dimana kasus keluarga Bangsawan Dalto ada ?"


"Ya...Tapi tenang saja, Sampai sekarang Dia masih bersih. Kami belum menemukan apapun yang mencurigakan darinya. Dia masih seperti biasa sibuk dengan mawarnya"


Aku merasa lega mendengarnya.


"Kau masih begitu perhatian padanya"


"Tentu saja, Dia teman pertamaku didunia ini"


"Teman ?" Bangsawan Voldermon tertawa mengejek. "Tidak ada yang namanya teman dalam hubungan pria dan wanita. Katakan padaku apa sudah pernah terjadi sesuatu dengan kalian ?"


"Terjadi sesuatu yang seperti apa ?" Tanyaku tidak mengerti.


"Apa kalian pernah berciuman ?"


"Tidak pernah" sergahku langsung. "Sudah kubilang Dia sahabat pertamaku didunia ini. Tidak ada hal-hal yang Kau maksud tadi"


"Entah kenapa Aku jadi kasihan pada Dalto. Riana Aku memahamimu sekarang" desah Bangsawan Voldermon dengan gaya simpati yang dibuat-buat. "Kau ini kejam putri....lebih tepatnya Kau ini seperti anak kecil"


"Apa maksudmu"

__ADS_1


Bangsawan Voldermon berdiri. "Sudahlah, Raja meminta kita menemuinya. Ayo kita pergi"


Aku berada di lapangan dekat istana Raja. Duka terasa di dalam istana.Wajah-wajah muram terlihat menghiasi para penghuninya. Kami pergi menuju kuil tempat upacara pemakaman diadakan. Saat jenazah Putri Norah di angkat ketempat pembakaran semua berdiri memberikan penghormatan terakhir. Ya...Putri Norah sudah diketemukan bersama beberapa jenazah para pelayan dan bangsawan yang sebelumnya menghilang. Aku berbaris rapi menyaksikan upacara yang berlangsung. Mayatnya diletakkan di peti. Tubuhnya sudah hancur mengenaskan, kedua tangan dan kakinya terputus.


Aku tidak terlalu terkejut mengetahui kondisinya yang sekarang. Sebenarnya, Aku melihat kematian Putri Norah dalam mimpi. Tapi Aku diam, tidak ingin menceritakan pada Pangeran. Dia sudah terlalu banyak berpikir, Aku tidak mau Dia tergoncang karenanya.


Aku masih ingat bagaimana teriakan kesakitannya saat satu persatu anggota geraknya dipotong secara sadis. Aku ingat Tangisannya memohon ampunan dari orang di depannya. Aku ingat rintihan terakhir sebelum dia merengang nyawa, saat sebuah tombat dihunuskan. menancap ke mulutnya, menembus kepalanya. Semua itu terasa nyata. Aku memang tidak menyukai Putri Norah tapi Aku tidak pernah mengharapkan kematiannya yang seperti ini. Aku tidak pernah berharap akan melihat kematiannya tanpa bisa menolongnya. Siapapun pelakunya, Dia sudah gila. Orang itu bukan manusia.


Isak tangis terdengar dari seorang ibu yang ditinggalkan putrinya. Aku pernah berada diposisi itu. Kehilangan orang yang sangat kusayangi. Api disulutkan. Pembakaran jenazah meninggalkan sisa pilu bagi yang ditinggalkan.


"Kau diam saja" Ujar Bangsawan Voldermon ketika kami berjalan meninggalkan tempat pembakaran. Berjalan diantara kerumunan orang yang menghadiri pemakanan "Hey ada apa ?" Bangsawan Voldermon mencekal tanganku.


"Tidak apa-apa" ujarku menepis tangannya pelan.


"Wajahmu pucat sekali"


"Aku hanya terlalu memikirkan pemakaman ini" Kilahku beralasan.


"Jangan-jangan Kau melihat saat Norah terbunuh ?"


Aku menghela nafas. Menganggukan kepala pelan.


"Kenapa Kau tidak menceritakannya"


"Aku tidak ingin membuat Pangeran cemas. Dia sudah begitu banyak masalah. Aku tidak ingin menambah beban pikirannya"


"Justru itu tidak akan membantu. Harusnya Kau berkata jujur pada kami." Tolak Bangsawan Voldermon kesal.


"Maafkan Aku"


Tiba-tiba Aku merasakan perasaan yang menyesakkan.


Sejurus kemudian, Tanpa diduga sebuah hantaman tak terlihat membuatku terpental jatuh.


"Yuki..."


Bangsawan Voldermon berlari hendak membantu tapi Dia sendiri terpental hingga menabrak pohon. Kepanikan terjadi, para perziarah berlari menyelamatkan diri.


serangan lagi


Aku terkejut saat sesuatu seperti menarik rambutku. Teriakan kesakitan keluar dari mulutku ketika aku diseret dengan rambutku. Aku memegangi rambutku. Sakit sekali.


tubuhku tergores tanah dan batu.


Seseorang meloncat kearahku. Menarik rambutku dan langsung mengayuhkan pedang.


Rambutku dipotong.


Aku mendongak menyaksikan sisa rambutku yang terpotong berjalan memasuki hutan. Belum selesai itu semua, sebuah geraman mengerikan terdengar dari dalam hutan. Angin berhembus mementalkan Kami kembali. Orang diatasku tadi memeluk tubuhku. Melindungiku dari hantaman.


Darah mengalir didahiku. Aku cukup beruntung karena perlindungan orang itu, Aku tidak mengalami cidera yang lebih parah.


"Sial.." Bisik orang itu. Dalam kondisi cidera Aku langsung mengenali suaranya. Orang itu mendorongku menjauh. Ketika hantaman menghajarnya. Darah keluar dari hidung dan mulutnya.


"Putri Yuki apa Kau tidak apa-apa ?" Tanya Bangsawan Xasfir menarikku untuk berdiri.


Aku melepaskan diri dari Bangsawan Xasfir dan berlari kearah Bangsawan Dalto yang bersusah payah berdiri. Dia tampak kepayahan.


"Bangsawan Dalto apa Kau baik-baik saja ?" tanyaku panik. Tapi, Bangsawan Dalto langsung menepis tanganku. Sorot matanya seolah mengatakan jangan menyentuhku dengan suara nyaring.


Aku mundur. Menyadari sikapnya masih tidak bersahabat.


"Aku hanya ingin membantumu" Kataku pelan. Bangsawan Dalto berdiri namun Dia ambruk kembali. Dia mengisyaratkan dengan tangannya untuk tidak mendekat ketika Aku secara refleks menghampirinya.


"Pengawal bawa Bangsawan Dalto kembali ke kediamannya." Pangeran Riana sudah didekat kami. Aku tidak menyadari kehadirannya. Ekpresinya saat ini sukar ditebak. Dua orang prajurit datang, membantu Bangsawan Dalto untuk berdiri. Memapahnya sedemikian rupa. "Terimakasih sudah menyelamatkan wanitaku" kata Pangeran tanpa ekpresi. Bangsawan Dalto dipapah pergi menjauh.


"Vold apa Kau baik-baik saja" tanya Bangsawan Xasfir didekatku.


"yah....Aku belum pernah melihat sihir seperti itu sebelumnya" Bangsawan Voldermon meringis memegangi punggungnya. Dia berjalan tertatih menghampiri kami. "Penampilanmu jelek sekali" selorohnya saat melihatku.


Aku terdiam melihat diriku, Rambutku acak-acakan. Terpotong sebahu. Dahiku masih mengeluarkan darah segar. dan beberapa bagian ditubuhku tergores hebat akibat diseret dengan keras.


"Apa yang terjadi sebenarnya" tanyaku masih binggung. Kejadian yang tidak ada sepuluh menit, Tapi sudah membuatku babak belur dan hampir mati.


"Bulan biru yang datang seratus tahun sekali akan tiba, dimana para penganut ilmu hitam bisa mendapatkan kekuatan maha dasyat jika dapat meminum darah ciel" Jelas Serfa pelan.


"Kekuatan dasyat ?"


"Ya, kekuatan yang dapat membawa kehancuran seluruh dimensi di dunia ini. dengan kata lain Kiamat"


kiamat....?


"Siapapun orang itu sangatlah nekat menyerang disekitar istana. Kita harus berhati-hati." Jelas Serfa lagi.


Pangeran Riana berjongkok didepanku. membersihkan luka di kepalaku lalu mengikatnya dengan kain untuk menghentikan pendarahan.


"Seorang Ciel akan sangat berbahaya jika jatuh ketangan yang salah."


"Cukup Serfa,jangan menakuti Yuki lagi" Hardik Pangeran tidak suka. Pangeran mengendongku di dadanya. "Ini adalah tempat umum, ada banyak telinga yang harus kita waspadai" lanjutnya dingin.


"Maafkan hamba yang mulia"


Pangeran tidak menjawab. Aku diam saat Pangeran membawaku pergi.


Semenjak itu teror mimpi terus saja menghantuiku. Entah sudah yang keberapa kali Aku memimpikan kematian orang yang kukenal. Mereka dibunuh secara sadis. Tidak mendapatkan kesempatan untuk melakukan pembelaan diri sama sekali. Tidak Peduli apakah Dia laki-laki atau perempuan, Mereka disiksa dan dibunuh tanpa ampun.


Sering setiap malam Aku menemukan diriku terbangun dengan keringat bercucuran. Tak jarang Aku berteriak histeris sebelum akhirnya terjaga. Pangeran tidak banyak berkomentar melihat kondisiku. Dia juga tidak banyak bertanya sampai Aku yang menceritakan sendiri mimpi-mimpiku. Rasanya untuk memejamkan matapun Aku menjadi takut.


Batinku tersiksa. Aku mengalami depresi, sehingga menolak makan dan tidur. Aku takut jika Aku tertidur Aku akan kembali menyaksikan pembunuhan tanpa bisa menolong mereka sama sekali. Membuatku sangat tersiksa secara mental dan emosional.


"Putri, Makanlah sendari pagi Putri sama sekali belum makan apapun"


"Aku sedang tidak bernafsu makan. Jika Aku lapar Aku akan minta bantuanmu" ujarku pada Rena ketika Dia datang membawakan sup jagung ke kamar. Aku duduk memperhatikan pemandangan dari cendela kamar. Menahan mati-matian rasa kantuk yang menyerangku. Semilir angin membuat usahaku terasa berat.


Aku tidak ingin tidur. Tidak boleh.... batinku untuk memotivasi diriku sendiri

__ADS_1


"Juru masak istana sudah membuatkan sup jagung untuk putri. Makanlah sedikit saja, agar Putri memiliki tenaga yang cukup" Bujuk Rena lagi.


"Aku tidak lapar dan juga tidak mengantuk, Kau jangan cemas"


"Putri jika begini terus Putri akan sakit. Sudah dua malam ini Putri tidak tidur. Makan pun hampir tidak tersentuh. Saya mohon Putri jagalah kesehatan Putri"


Kepalaku terasa Pusing. Aku rasa darah rendahku kumat lagi. Aku bergerak untuk bangun, namun kegelapan mendatangiku seketika.


Tercium aroma terapi dihidungku. Rasanya terdengar suara Pangeran Riana dan Serfa dikejauhan, Perlahan Aku membuka mata dan mendapati diriku diatas tempat tidur. Pendeta serfa sedang memeriksa denyut nadiku, sementara Pangeran berdiri dibelakangnya. Rena berdiri tak jauh, memandangku cemas.


"Anda sudah siuman Putri" Ujar Serfa tenang.


"Ya..." Jawabku lemah. Serfa menekan lenganku, menelusuri nadiku dengan ujung jarinya yang lain.


"Saya akan memberikan Alkupuntur untuk Putri agar dapat menenangkan syaraf yang tegang"


Aku membiarkan saat Serfa menusukkan jarum ke lengan, dia melanjutkan dengan tusukan di pelipis dan leherku. Pangeran beralih duduk disampingku. tangannya mengelus dahiku lembut. Wajahnya serius menatap ke depan, seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Sudah selesai" Ujar Serfa akhirnya. Dia mencabut jarum terakhir dari tubuhku.


"Terimakasih" Ucapku lirih.


"Saya akan meracikan obat untuk Putri, Usahakan agar Putri cukup istirahat dan cukup makan, kondisi Putri belum begitu pulih karena kejadian kemarin, jangan ditambah dengan pikiran yang tidak perlu. itu bisa menganggu kesehatan Putri"


"Aku mengerti"


"Aku akan memberikanmu menu makan untuk Putri kedepan. Hari ini minta juru masak untuk membuatkan sup burung walet untuk Putri" Perintah Serfa kepada Rena.


"Siap dilaksanakan Pendeta Agung" Ujar Rena dengan sikap takjim. Serfa membereskan perlengkapannya.


"Tugas Saya sudah selesai Pangeran, Putri hanya butuh beristirahat dan menenangkan pikiran"


"Ya, kalian boleh pergi"


Mereka berdua meninggalkanku hanya berdua dengan Pangeran. Kami terdiam beberapa saat, larut pada pikiran masing-masing.


"Apa semua baik-baik saja ?" Tanyaku pada akhirnya.


"Bukankah seharusnya Aku yang bertanya seperti itu" Jawab Pangeran pelan. "Katakan padaku apa untungnya Kau menolak makan dan tidur seperti sekarang ?"


Aku terdiam.


"Tidak akan ada yang berubah dengan Kau menolak makan dan tidur seperti ini Yuki, Malah sikapmu ini akan memperburuk keadaan"


"Maafkan Aku"


"Aku mengerti Kau sangat tidak nyaman dengan mimpi-mimpimu. Tapi Kau harus menghadapinya. Ingatlah, Kau sekarang hidup di dunia yang jelas berbeda dengan duniamu dulu, dan lagi sekarang Kau adalah bagian dari kerajaan. Kau harus membiasakan diri dengan pertumpahan darah disekelilingmu."


"Apa aku boleh bertanya sesuatu ?"


Pangeran tidak menjawab namun gerakan tubuhnya menunjukan Dia mengizinkannya.


"Kapan Pangeran pertama kali membunuh orang ?"


Pangeran terdiam sebentar. Wajahnya sukar ditebak, Dia pandai menyimpan emosi disaat-saat yang tepat.


"Saat umurku 8 tahun"


"Apa..."


Aku terkejut. Di umur delapan tahun, anak sebayanya diduniaku sana hanya mengenal bermain dan bermain, dia malah sudah berlatih dan membunuh musuhnya.


"Saat itu ketika Aku baru saja berlatih panah seorang diri, Pengkhianat istana mencoba membunuhku. Para prajurit pelindung telah dilumpuhkan. Hanya Aku yang masih bertahan, berlari menyelamatkan diri. Jika Aku mati negara akan kacau, potensi terjadi keruntuhan besar. Aku harus membunuhnya untuk menyelamatkan negeriku." Pangeran memandang tangannya, pikirannya jauh dimasa lampau ketika Dia masih seorang anak kecil. "Aku memegang panah dan membunuh mereka tanpa ragu. kerajaan sangat bangga melihat kemampuanku, Kau percaya, Ayah langsung membuat istana ini untukku"


Aku tidak menyangka, Dia memiliki beban yang besar di pundaknya. Bahkan Dia sudah harus memikirkan apa yang tidak seharusnya dipikirkan oleh seorang Anak diusia 8 tahun. Entah berapa kali Dia harus menghadapi percobaan pembunuhan yang nyaris merenggut nyawanya. Memahami hal itu membuat hatiku sesak. Dibalik megahnya istana kerajaan dan gemerlapnya kehidupan di dalamnya, terdapat banyak bahaya yang tersembunyi.


"Kau harus paham, di dalam istana Kau akan merasa sendiri. Semakin tinggi posisimu semakin berbahaya pula hidupmu. Tidak ada teman atau lawan yang abadi."


"Bagaimana perasaanmu setelah membunuh pasukan pengkhianat kerajaan ?. Saat itu usiamu baru delapan tahun."


"Kenapa Kau bertanya hal itu ?"


"Kau masih mengingatnya sampai sekarang. Artinya itu hal yang tidak mudah Kau lupakan. Aku tidak bisa membayangkan kengerian apa yang sudah Kau hadapi ketika itu. Aku hanya berpikir, Orang melihatmu hebat saat itu karena berhasil membunuh pemberontak yang menyerangmu di usiamu yang masing sangat muda. Tapi, Apa setelah itu Kau mendapat pertolongan ?"


"Untuk apa ?"


"Tentu saja untuk menyembuhkan traumamu, walau sehebat apapun Pangeran waktu itu...tetap saja Pangeran hanya seorang anak kecil biasa"


Pangeran diam. Dia mengambil Anggurnya dan meminumnya. "Tidak ada yang pernah mengatakan hal seperti ini padaku sebelumnya"


"Pangeran sudah banyak membantuku, jika lain kali Pangeran menghadapi situasi yang tidak menyenangkan, Pangeran bisa datang kepadaku. Aku akan membantu meringankan beban Pangeran" selorohku padanya.


"Kau berbicara seperti itu, seolah Kau sendiri sudah bisa menghadapi masalahmu"


"Setidaknya Kau bisa mengapesiasi niat baikku" Balasku kesal.


Pangeran tersenyum. Dia mengacak-acak rambutku dengan tangannya.


"Hentikan...!!" seruku kesal.


Keesokan harinya, Aku pergi ke istana Raja untuk bertemu dengan Raja dan Pendeta Serfa karena mimpi buruk yang semalam kualami. Mimpi ini lain sekali dengan yang sebelumnya. Mimpiku semalam benar-benar diluar nalar. Aku melihat kehancuran besar-besaran dunia. Sekelilingku serasa terbakar. Tidak ada yang tersisa. Udara panas menyelimuti. Aku bahkan mengira saat itu Aku berada di neraka. Serfa menyebut hal itu mungkin adalah gambaran ke depannya jika sampai Aku jatuh ke tangan musuh. Dia mengingatkan Aku berkali-kali untuk tidak percaya siapapun selain Pangeran mengingat .


Setelah bertemu Raja dan makan siang bersama, Aku memutuskan untuk segera pulang kembali sebelum matahari naik semakin tinggi. Aku naik ke kereta kerajaan yang sudah menunggu. Pangeran tidak bisa menemani karena Dia sedang ada keperluan di tempat lain.


Kuda berjalan pelan, menyusuri jalan dengan kawalan ketat dari para penjaga. Pangeran melarangku duduk didekat cendela, Dia khawatir jika orang gila itu datang lagi dan nekat menghujamkan panah kearahku. Menurutnya luar istana, Bahaya lebih besar daripada didalamnya. Jadi Aku memutuskan untuk duduk dipojokan yang tersembunyi, namun bisa mengintip ke cendela yang setengah terbuka. Aku mengambil buku pelajaran, sudah lama Aku tidak bersekolah. Aku sudah ketinggalan banyak.


Kami sampai di tengah kota yang ramai. Para prajurit sibuk untuk mengosongkan jalan agar kereta dapat lewat. Aktifitas sangat padat.


Terdengar suara nyaring yang memekakan telinga. Aku terkejut dan refleks mengintip ke luar. dua buah kereta penuh dengan muatan terguling didepan Kami. Isinya berhamburan memenuhi jalan.


Supir kereta turun dan terjadi argument antara kedua pemilik kereta. Sementara itu masyarakat sekitar datang melihat apa yang terjadi, ada juga yang diam-diam menjarah barang yang tercecer. Para prajurit menjadi semakin sibuk untuk menghalau kerumunan dan pertingkaian.


Supir didepanku sampai ikut turun untuk membantu. Adu mulut tidak terhindarkan.


Saat suasana memanas, pintu kereta dibuka paksa dari luar. Aku belum menyadari apa yang terjadi, ketika seseorang menarikku keluar dengan cepat.

__ADS_1


__ADS_2