Morning Dew

Morning Dew
257


__ADS_3

Jadi Yuki memilih mundur mengikuti Lekky berjalan ke pojok ruangan dan membiarkan pelayan melakukan tugas Mereka.


Tidak berapa lama Pendeta Serfa datang. Semua orang keluar kamar menuju ruang kerja Bangsawan Voldermont dan membiarkan Pendeta Serfa bekerja dengan tenang memeriksa kembali luka-luka Bangsawan Voldermont.


 


 


Bangsawan Voldermont tertidur karena pengaruh obat. 


Yuki berkali-kali mengintip dari celah pintu yang terbuka dengan perasaan cemas. Sementara Lekky berdiri dengan tenang di dekatnya. Bersandar di dekat jendela yang terbuka sambil menghisap rokoknya.


"Bagaimana ?" Tanya Pangeran Riana ketika Pendeta Serfa keluar menyusul ke ruang kerja Bangsawan Voldermont setelah Dia selesai memeriksa dan mengobati Bangsawan Voldermont.


"Bangsawan Voldermont beruntung tidak mendapatkan luka serius yang membahayakan selain di lengan kirinya. Namun berkat pertolongan pertama yang di berikan tadi, Dia terhindar dari resiko kehilangan tangannya karena penyumbatan pembuluh darah di lengannya" jelas Pendeta Serfa penuh hormat. 


Bangsawan Xasfir melirik Lekky. Meskipun Dia tidak mengatakan apapun namun ada sirat ucapan penuh syukur di dalam matanya.


Lekky mengambil rokoknya yang kedua. Yuki yang melihatnya langsung menyambar batang rokok yang sudah ada di mulut Lekky. Dia mematahkan jadi dua dan membuangnya begitu saja ke luar jendela. Selain itu Yuki juga merampas kotak rokok yang di pegang Lekky. Memasukkannya ke dalam saku bajunya.


Lekky langsung menyalakan pematik beberapa kali ke depan Yuki untuk menunjukan protesnya.


Kebiasaan merokok Lekky membuat Yuki khawatir dengan kesehatannya. Dia harus sebisa mungkin menjaga Lekky agar tidak membunuh dirinya sendiri karena kebiasaan merokoknya yang sering tidak terkendali.


"Xasfir cepat selidiki siapa yang melakukan penyerangan ini" perintah Pangeran Riana yang masih duduk dengan tenang di tempatnya.


"Penyerangan apanya, pasti ini hanya perkelahian biasa soal wanita" kilah Putri Marsha menimpali dengan wajah acuh. "Kalian tahu sendiri bagaimana skandal Vold dengan wanita. Dia bahkan tidak perduli jika itu adalah istri orang" 


Yuki merasa Putri Marsha sedang menyindirnya.


Lekky tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Yuki langsung menyenggolkan lengannya ke badan Lekky memintanya untuk berhenti. 


"Kenapa ?. Aku hanya merasa lucu dengan drama yang sedang terjadi di depanku" kata Lekky pada Yuki membela diri.


"Apa yang Kau maksud dengan drama. Apa Kau kira Vold sedang berakting terluka di dalam sana ?" Tanya Bangsawan Xasfir berang.


Yuki kembali menggoyangkan lengan Lekky. Memintanya berhenti untuk memprovokasi. Dia tidak ingin terjadi keributan sementara pemilik rumah sedang berbaring di tempat tidur karena terluka.


Lekky membalikan badan. Menatap lurus keluar jendela dengan kilat aneh di matanya. "Lucu sekali kalau sampai Kalian mau berpikir ini hanyalah masalah wanita. Urusan ini tidak sesederhana itu kawan"


"Jadi apa yang Kau maksud dengan tidak sesederhana itu ?" Tanya Pangeran Riana dingin.

__ADS_1


"Voldermont mengetahui sebuah rahasia yang tidak boleh diketahui kerajaan Garduete. Jika sampai Dia membongkar masalah ini, orang itu dan seluruh keluarganya akan celaka"


"Rahasia yang di sembunyikan Vold ?" Guman Bangsawan Asry pada dirinya sendiri.


"Dia sama sekali tidak menyangka jika Voldermont mengetahui masalah itu. Dan Dia merasa terancam dengan keberadaan Voldermont. Jadi, Dia berusaha membungkam Voldermont dengan merencanakan pembunuhan terhadapnya. Sayangnya, teman kalian itu seperti badak yang susah untuk di bunuh walaupun sudah babak belur" Lekky menyimpitkan matanya tajam. Dia dipenuhi ketenggangan yang mengerikan. Seperti seekor binatang buas yang mengincar mangsanya. "Aku jadi ingin tahu apakah Dia akan mencoba membunuhku jika Aku mengatakan Aku juga mengetahui rahasia itu ?"


Yuki memandang Lekky dengan raut wajah kebingungan. Sementara Lekky justru dengan tenang berdendang kecil. Kemudian, Yuki menyadari Lekky tidak sedang memandang keluar Jendela. 


Lekky sedang menatap pantulan bayangan dari kaca jendela di depannya. Bayangan Putri Marsha yang sedang menatap tajam ke arahnya.


Ada ketakutan dan kebencian dalam mata Putri Marsha. 


Jadi Dia adalah orang yang merencanakan  penyerangan terhadap Bangsawan Voldermont. Kenapa ?. Apa Karena Bangsawan Voldermont mengetahui masalah lima tahun lalu ?.


 


 


Bangsawan Voldermont adalah sepupu Pangeran Riana. Meskipun tidak di katakan secara terbuka tapi hubungan Mereka sangat dekat. Jadi meskipun Bangsawan Voldermont tidak memiliki bukti yang kuat. Asalkan Dia membuka mulutnya untuk menceritakan masalah lima tahun lalu. Pangeran Riana pasti akan merespon dan langsung menyelidikinya dengan cepat.


Mungkinkah ini yang membuat Putri Marsha nekat untuk merencanakan pembunuhan terhadap Bangsawan Voldermont ?.


Yuki tidak menyangka Putri Marsha akan tega untuk melakukannya.


 


 


Terdengar suara Gulf milik Lekky. Dia segera mengambil dan menemukan bayangan Lazzar di dalam sana.


"Kau akan pergi ?" Tanya Yuki ketika Lekky tidak mengangkat panggilannya dan justru memasukan kembali ke dalam saku pakaian. Sepertinya Lekky sudah tau apa yang akan di bicarakan Lazzar.


"Ya..Kau mau ikut ?"


"Kemana ?"


"Klub tari telanjang di tengah kota"


"Tidak terimakasih" jawab Yuki masam. 


Lekky langsung terkekeh senang melihat reaksi Yuki. Dia meletakan rokok di mulutnya dan segera menyalakan apinya dengan pematik.

__ADS_1


Yuki yang tersadar langsung memeriksa kantung bajunya dan tidak menemukan kotak rokok di sana. Lekky tersenyum puas. Dia melemparkan kotak rokok dan pematik ke arah Yuki. 


Yuki menangkapnya dan menatap Lekky memprotes. 


Lekky mengedipkan satu matanya. Dia kemudian berbalik untuk menuju pintu keluar. Yuki mengikutinya dari belakang. Saat di ambang pintu tiba-tiba Lekky berhenti dan berbalik. Membuat Yuki menabrakkan wajahnya ke punggungnya.


Beruntung dengan sigap Lekky menangkap pinggang Yuki yang terhuyung ke belakang.


"Aku lupa..." Lekky mengambil sekantung uang emas dan melemparkan ke arah Pangeran Riana.


"Apa ini ?" Pangeran Riana mengangkat kantung uang emas yang berhasil di tangkapnya.


"Katakan pada saudaramu untuk segera menyingkirkan tiga mayat di atap rumahnya sebelum Mereka membusuk" 


"Mayat ?. Lekky Kau membunuh orang di sini ?" Tanya Yuki tidak percaya.


Lekky hanya mengedikkan bahu acuh.


"Lalu apa hubungannya dengan ini ?" Tanya Pangeran Riana lagi masih memperlihatkan kantung uang emas di tangannya. Terasa berat. Jumlahnya cukup besar.


"Berikan kepada orang yang memberikan uang itu kepada Mereka" 


"Mereka menyerang sampai kemari ?" Tanya Bangsawan Asry mengernyit tidak suka saat mendengar informasi dari Lekky  "Rahasia apa yang sebenarnya di sembunyikan Vold ?".


"Mereka di perintahkan orang yang sama namun tidak kemari untuk membunuh Vold" Lekky melirik ke arah Yuki sesaat. "Katakan pada orang itu, Aku selama ini sudah cukup berbaik hati padanya. Tapi bukan artinya Aku tidak tahu apa yang di lakukannya. Ini terakhir kali Aku memperingatkannya, jangan berharap untuk mendapatkan keberuntungan itu lagi"


Yuki ingin bertanya lebih lanjut. Tapi baru Dia membuka mulutnya untuk berbicara.


Terasa hembusan angin kencang didekat Yuki. Ketika Dia membuka mata. Lekky sudah menghilang di hadapannya.


 


 


"Riana...ada tiga mayat di atap rumah" ujar Bangsawan Xasfir melapor. 


Dia baru saja naik ke atap untuk memeriksa. Sesuai perkataan Lekky Dia menemukan tiga mayat pria yang di bunuh dengan sekali serang. 


"Tambahkan penjagaan di sini" perintah Pangeran Riana pada Bangsawan Xasfir.


"Ini semua gara-gara Kau. Kau ini pembawa sial. Gara-gara Kau, Vold sampai terluka parah" teriak Putri Marsha mengkonfrontasi Yuki. 

__ADS_1


 


__ADS_2