Morning Dew

Morning Dew
98


__ADS_3

Yuki melangkah masuk ke dalam ruangan sementara Kepala Penjara menunggu di luar dengan gelisah. 


Sesaat Yuki harus membiasakan diri untuk bisa melihat dalam kegelapan. Ruangan yang di masukkinya hanya memberi sedikit cahaya dari langit-langit udara di atas tembok. 


"Dia ada di ujung ruangan" ujar Kepala Penjara ketika melihat Yuki kebingungan. "Ingat Kau hanya punya waktu lima belas menit"


Yuki berjalan lurus mengikuti instruksi. Menuju sel yang di maksud.


Akhirnya, Yuki melihatnya.


Bangsawan Dalto duduk dengan wajah tertunduk lesu seperti tidak memiliki gairah hidup. Ada rantai yang membelenggu kedua tangan dan kakinya, di hubungkan dengan bola besi yang cukup berat. 


Rambutnya acak-acakan. Mengenakan pakaian tipis dan kotor. Penampilannya tampak kumuh. Bangsawan Dalto duduk bersandar di tembok, matanya terpejam. Dia tidak menyadari kehadiran Yuki.


"Bangsawan Dalto.." panggil Yuki lirih. 


Bulu mata Bangsawan Dalto bergetar. Tetapi Dia tidak bergerak. Halusinasi yang di dapatnya semakin nyata. Suara itu..


"Bangsawan Dalto" Yuki mengulang lagi panggilannya dengan suara keras karena Bangsawan Dalto tidak juga merespon.


Bangsawan Dalto perlahan membuka matanya. Dia memalingkan wajahnya ke arah suaranya. Matanya menatap tak percaya dengan apa yang di lihat.


Perasaannya tidak menentu. Yuki teelihat nyata di depannya. 


"Halusinasiku semakin parah" gumannya pada diri sendiri.


"Bangsawan Dalto"


Bangsawan Dalto bergerak. Dia nyaris terjatuh ketika mencoba berdiri. Rantai besi yang membelenggunya, membuat gerakannya tertahan.


"Yuki.." panggilnya masih tidak percaya.


Yuki maju dan duduk di depan jeruji besi yang memisahkan Mereka. Dia mengulurkan tangan menyentuh wajah Bangsawan Dalto. 


Yuki sangat sedih ketika melihat kondisi Bangsawan Dalto. Berat badannya jauh berkurang dari sebelumnya. 


Bangsawan Dalto merasakan tangan Yuki yang mengusap pipinya gemetar. Dia membiarkan sentuhan itu, meyakinkan dirinya bahwa ini bukan khayalan.


Bangsawan Dalto mencemaskan kondisi Yuki. Tidak ada yang memberitahunya mengenai keadaan gadis itu setelah Sera membawanya pergi dari kuil. Dia tidak bisa menemuinya karena Riana menangkapnya begitu Balgira kabur. 


Bangsawan Dalto masih tidak percaya, gadis yang selalu di pikirkan siang dan malam, sekarang berada di depannya. Dia merasa lega. Yuki selamat meskipun Dia masih terlihat pucat dan lemah.


Setidaknya Yuki masih hidup.

__ADS_1


Bangsawan Dalto memejamkan matanya, Dia menggengam lenbut tangan Yuki di pipinya, dan mencium telapak tangan Yuki.


Saat Dia kembali membuka mata, Dia melihat Yuki sudah menangis. Air mata tidak terbendung.


"Aku...Aku masih marah padamu.." Kata Yuki terisak. "Kenapa Kau melakukan semua ini...Kau bodoh..Bodoh...sangat bodoh" 


Yuki tidak mampu lagi menahan emosinya. Kesedihan menguar keluar dalam dirinya. Tumpah bagaikan kran yang di buka lebar.


Dia menangis seperti seorang anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya.


Tangisannya meraung, menggema ke seluruh ruangan.


Yuki tahu, seharusnya Mereka membicarakan banyak hal dalam waktu yang singkat ini. Tapi perasaannya sudah tidak terbendung lagi.


Bangsawan Dalto hanya diam. Dia menggengam tangan Yuki. Menatap Yuki yang masih menangis. Tatapannya dalam dan lembut.


Tidak pernah ada seseorang yang menangis untuknya seperti  yang dilakukan Yuki. Tidak ada orang yang tulus mencintainya setelah kedua orang tuanya meninggal selain Yuki.


Yuki menerima segala kekurangannya dan tetap berteman dengannya meski tau latar belakang keluarganya. Bahkan ketika Dia tahu, sahabatnya yang membunuh orang tuanya, dan mencoba mencelakainya. Dia masih datang untuk menemuinya.


Mama...apa yang harus ku lakukan. Aku tidak bisa melakukan apapun untuk membantunya. Aku tidak bisa menyelamatkan orang yang ku cintai. Apa yang harus ku lakukan Mama. Hatiku sakit.


 Bangsawan Dalto menunggu Yuki sampai Dia tenang. Setelah melihat tangisan Yuki mulai mereda. Dia mengusap air mata di pipi Yuki dan memencet ingus di hidungnya. 


"Meskipun begitu, Kau menyukaiku bukan" kata Yuki membalas senyuman Bangsawan Dalto.


"Ya" jawab Bangsawan Dalto tenang.


Mereka terdiam sejenak dengan pikiran masing-masing. Sementara itu kepala penjara sudah mulai terlihat gelisah di luar.


"Aku minta maaf atas kejadian yang menimpamu, atas kematian Ayahmu dan para pelayan di rumahmu" kata Bangsawan Dalto tulus. Rasa bersalahnya di tunjukan dengan sorot penyesalan di matanya.


Yuki menggangukan kepala mengerti. "Aku akan sangat kehilanganmu" bisik Yuki lirih dengan nada tertahan, akibat menahan tangis yang seolah kembali berusaha membobol kedua matanya.


Bangsawan Dalto tersenyum. "Jika Kau merindukanku. Kau bisa menemukan bunga mawar di sekelilingmu. Aku akan menjelma menjadi Mereka di kehidupan selanjutnya untukmu"


Yuki mengusap kembali matanya yang kembali basah. Menahan buliran air mata agar tidak turun membasahi wajahnya.


"Temukan laki-laki yang baik yang akan menjagamu sampai tua nanti" 


"Cara bicaramu seperti kakek tua saja" ujar Yuki terisak.


Bangsawan Dalto menyibakkan rambut Yuki yang basah oleh air mata. Menutupi wajahnya. "Janji ya..Kau akan hidup dengan baik" bisik Bangsawan Dalto dengan wajah serius.

__ADS_1


Yuki menganggukan kepala keras. Dia tidak sanggup lagi untuk menjawab dengan kata-kata. Emosinya kembali muncul. Siap meledak sewaktu-waktu. 


Kepala penjara mengetukkan tongkat besinya dengan keras ke pintu dengan nada tidak sabar. "Waktu sudah habis. Cepat keluar" perintahnya keras dengan raut tidak mau di bantah.


Inilah akhirnya.


Perjalanan Mereka harus terpisah sampai di sini. Yuki menyadari realita itu dengan hati yang kosong.


Yuki kembali memalingkan wajah. Menatap Bangsawan Dalto, yang memang sendari tadi tidak mengalihkan pandangan dari Yuki. 


Menelusuri setiap jengkal wajah Bangsawan Dalto dengan matanya, Merekam semua hal untuk dingat nanti ketika Yuki merindukan keberadaaan Bangsawan Dalto.


Yuki baru menyadari, Bangsawan Dalto memiliki hidung yang sedikit bengkok ke kanan. Matanya teduh, menenangkan dengan senyum manis yang selalu memberi kenyamanan untuk Yuki.


Yuki merasa bodoh ketika Dia mulai menyadari kebenarannya. Alasan Dia menolak Pangeran Riana dengan keras. Juga, rasa ragu yang menggelayutinya untuk menerima perasaan Pangeran Sera. Dia sekarang dapat menjawabnya.


Hubungan persahabatan yang terjalin antara Yuki dan Bangsawan Dalto. Entah sejak kapan, sudah berubah menjadi rasa sayang antara seorang wanita dan pria.


Yuki nyaman dengan kehidupan yang biasa, yang di tawarkan Bangsawan Dalto selama ini. Itulah alasan kenapa Dia menolak Pangeran Riana dan urung menerima Pangeran Sera.


Tapi sayangnya, kebenaran itu datang terlambat. Seperti kebenaran mengenai kematian kedua orang tua Bangsawan Dalto dan tragedi yang terjadi di baliknya.


Waktu memang memberikan semua jawaban. Tapi semua yang terjadi sayangnya terlambat untuk di perbaiki.


Nasi sudah menjadi bubur.


Mereka berdua tidak dapat mundur untuk memperbaiki kerusakan yang di timbulkan. Apa yang terjadi tertulis nyata bersama sebab akibatnya.


"Pergilah.." ujar Bangsawan Dalto akhirnya.


Mereka berpandangan cukup lama. Mencoba menembus emosi masing-masing. 


Yuki mencondongkan tubuhnya mendekati Bangsawan Dalto.


Ciuman Mereka yang pertama dan terakhir. Terasa manis namun menyakitkan.


Yuki berdiri. Langsung memakai tudungnya. Dia segera berbalik untuk menyembunyikan air mata yang kembali mengalir dari Bangsawan Dalto.


"Yuki.." panggil Bangsawan Dalto ketika Yuki sudah mencapai setengah jalan. 


Ketika berbalik. Yuki melihat senyum di wajah Bangsawan Dalto. Senyum yang tidak akan Dia lupakan seumur hidupnya. Senyum inilah yang mungkin akan terus di ingat ketika seseorang menyebut nama Bangsawan Dalto di kemudian hari.


Senyum kesedihan dan keikhlasan yang ganjil. "Besok, jangan datang"

__ADS_1


__ADS_2