Morning Dew

Morning Dew
87


__ADS_3

"Apa ?!" Bangsawan Dalto melebarkan matanya tidak percaya dengan pendengarannya. Yuki mendongakan dagunya, Bersikap tidak mau di lawan. "Tidak, Kau tidak boleh ikut" ujar Bangsawan Dalto tegas.


"Kenapa ?" Tanya Yuki kecewa.


Bangsawan Dalto memandang Yuki dengan tatapan frustasi. Yuki seperti memandang enteng bahayanya. Atau Memang Dia tidak mengerti ?. 


"Kenapa ?" Bangsawan Dalto menghela nafas panjang. "Di sana sangat berbahaya. Kau bisa saja tidak akan kembali hidup-hidup" 


Bangsawan Dalto telah selesai bersiap. Dia berbalik akan pergi menuju tangga yang akan membawanya ke tepi sungai.


Yuki maju dan menghadang Bangsawan Dalto dengan kedua tangannya. Dia memandang Bangsawan Dalto serius. Tidak bergeming meski Bangsawan Dalto mencoba mendorongnya agar menyingkir dari jalannya. "Mendengar perkataanmu membuatku malah semakin membulatkan tekadku. Sekarang Kau tinggal memilih, mengajakku atau atau Aku akan kembali ke istana dan menceritakan semua kepada Pangeran" ancam Yuki dengan nada tidak main-main.


"Kau tidak bisa melakukannya" Kata Bangsawan Dalto kesal.


"Kenapa tidak ?" Tanya Yuki tidak mau kalah. "Kau tidak akan bisa mengusirku. Aku akan ikut denganmu apapun yang terjadi"


Yuki tidak mungkin membiarkan Bangsawan Dalto menghadapi bahaya seorang diri. Dia khawatir Bangsawan Dalto bernafsu untuk membalas dendam bibi nya yang terbunuh, sehingga Dia akan bertindak nekat yang malah mencelakainya.


Jika yang di katakan Bangsawan Dalto benar, Yuki memiliki banyak alasan untuk ikut serta menemani Bangsawan Dalto pergi menyelidiki petunjuk yang Dia dapatkan. Dengan begitu, Yuki berharap dapat segera menuntaskan misteri yang selama ini menutupi kerajaan. 


Yuki tidak akan membiarkan lagi orang-orang yang di sayanginya terbunuh. Dia harus menghentikan kekacauan ini secepatnya.


"Aku menyesal telah memberitahukan masalah ini padamu" kata Bangsawan Dalto akhirnya dengan nada menyerah. 


Yuki tahu keinginannya sudah terwujud. Bangsawan Dalto memilih menyerah dan tidak mau berdebat dengan Yuki. Yuki menghampiri Bangsawan Dalto. Merebut tas yang di bawanya di tangan, kemudian berjalan penuh semangat menuruni tangga di depannya.


Bangsawaan Dalto menggelengkan kepala melihat tingkah Yuki. Dia mengambil tas nya yang lain, dan membawanya di bahu. Keduanya berjalan beriringan memasuki hutan lebih dalam.

__ADS_1


Yuki tidak tahu berapa lama Mereka berjalan masuk ke dalam hutang di belakang sekolah. Kakinya sudah lelah turun naik di sepanjang medan yang telah Mereka lalui. Tapi Dia menyembunyikan rasa lelahnya dan berusaha tidak mengeluh. Yuki khawatir Bangsawan Dalto akan berubah pikiran dan menyuruhnya kembali, jika Bangsawan Dalto merasa Yuki hanya akan menyusahkannya saja.


Yuki sama sekali tidak menyangka, hutan di belakang sekolah yang biasa Dia masuki jauh lebih luas daripada yang Dia duga. Semakin ke dalam, semakin tinggi pohon-pohonnya. Di lihat dari kondisinya jelas hutan ini jarang terjamah oleh manusia.


Dari sela-sela pepohonan, Yuki melihat cahaya matahari mulai redup menandakan malam akan datang. Ketika mendongak untuk menatap langit, Yuki hanya dapat melihat dahan pohon yang menjulang tinggi di atas kepala.


Beberapa kali Yuki terpeleset saat berjalan. Bajunya sudah belepotan lumpur. Ada goresan di kulit saat terjatuh atau melewati semak berduri. Bangsawan Dalto memimpin perjalanan, Dia membawa parang di tangan sembari menyibakkan semak yang menghalangi jalan Mereka. 


Ada bekas patahan dahan yang di potong rapi di tanah. Menandakan bahwa jalur ini beberapa waktu yang lalu pernah di lalui orang. 


"Bagaimana Kau bisa menemukan Mereka ?" Tanya Yuki sembari menepuk nyamuk di pipinya. Dia berjalan dengan hati-hati di belakang Bangsawan Dalto yang masih sibuk membabat semak untuk membuka jalan. 


 Bangsawan Dalto tampak tenang. Dia seperti sudah tau kemana arah tujuannya. Tangannya terampil memegang parang panjang di tangannya. Yuki tidak pernah mengetahui Bangsawan Dalto adalah seorang pembaca arah yang mahir di dalam hutan belantara seperti ini. Dia merasa terkagum dengan cara Bangsawan Dalto mengambil langkah agar Mereka tidak tersesat.


Rasanya, Bangsawan Dalto sangat familiar dengan hutan ini.


"Seberapa jauh ?" Tanya Yuki tidak sabar.


Bangsawan Dalto tersenyum mengejek. "Kau sudah menyerah sekarang ?"


Yuki mengerucutkan bibirnya, tetes keringat mengalir di keningnya. "Tidak, Aku hanya bertanya. Apa tidak boleh ?"


"Kira-kira masih tiga jam lagi perjalanan dari sini. Belum terlambat untukmu jika Kau ingin kembali. Aku sudah memberikan penanda di sepanjang jalan, berjaga-jaga jika Kau menyerah dan ingin pulang" 


Yuki menggelengkan kepala menolak usulan Bangsawan Dalto. "Jika ingin kembali, Kita harus kembali bersama"


"Sudah terlambat untukku" guman Bangsawan Dalto nyaris tidak terdengar. Wajahnya tampak sedih dan putus asa. Dia kembali mengayunkan parang ke depan. 

__ADS_1


Yuki ingin bertanya. Tapi Dia tidak tahu apa itu. Rasanya ada sesuatu yang nyaris keluar tapi tersangkut kembali ke tenggorokannya. Dia memutuskan untuk diam mengikuti Bangsawan Dalto. Keduanya kembali berjalan tanpa suara.


Akhirnya sinar matahari terganti oleh cahaya bulan seutuhnya. Bangsawan Dalto membawa obor untuk menerangi langkah Mereka. Karena hari sudah malam, Yuki berjalan lebih dulu sementara Bangsawan Dalto berjalan di belakang sembari berjaga-jaga.


Di atas langit yang terlihat dari sela pepohonan, bulan purnama berwarna biru terlihat menghiasi langit malam. Bulat sempurna. Keindahan yang mencekam.


"Kita istirahat dulu di sini" Bangsawan Dalto menunjuk sebuah pohon besar dengan akar yang mencuat dari tanah. Dia meletakkan tas yang di sampir di bahunya. Yuki berjalan mengikuti dan langsung duduk di samping tas yang di letakkan Bangsawan Dalto sebelumnya.


Yuki meluruskan kedua kakinya ke depan. Penampilannya sangat kacau. Wajahnya kotor karena lumpur. Tangan dan kakinya penuh goresan. Rambutnya berantakan, hanya diikat secara sembarang ke belakang.


"Apakah masih jauh, Di mana kuilnya ?" Tanya Yuki akhirnya. Dia merasa sudah berjalan lebih dari tiga jam tapi belum menemukan tanda-tanda kehadiran orang lain di dalam hutan 


Bangsawan Dalto menunjuk ke arah utara dengan jarinya. "Di sana apa Kau melihatnya ?" 


Yuki berbalik dan menemukan sebuah atap bangunan yang kusam berada di bawah bukit tempat Mereka berada. Atapnya berwarna gelap penuh lumut dan tanaman liar yang menjalar di atasnya. Meski Yuki tidak dapat melihat dengan jelas karena terhalang pepohonan di sekeliling, Tapi Yuki yakin pernah melihat bangunan itu di dalam mimpi. 


Dia sangat yakin bangunan itu adalah tempat di mana Sei di bunuh.


 Jarak bangunan dengan tempat Yuki berada tidak lebih satu kilo meter.


Yuki memegang dadanya yang sakit, Dia kembali teringat teriakan terakhir Sei sebelum akhirnya Dia di penggal. Yuki menahan perasaannya. Menguatkan dirinya. Dia tidak boleh lemah. Dia sudah sampai di titik ini. Tidak bisa mundur lagi.


"Ya Aku melihatnya" Kata Yuki akhirnya dengan suara bergetar.


"Kau tunggulah sebentar di sini. Jangan kemana-mana. Aku akan ke sana lebih dulu untuk memantau kondisi. Kita tidak bisa bergerak secara gegabah. Apa Kau mengerti ?" 


Yuki menganggukan kepala. Kali ini Dia memutuskan untuk tidak membantah. Dia percaya Bangsawan Dalto lebih tahu kondisi di sini di bandingkan Dia. Jika Dia tetap nekat tanpa perhitungan, akan sangat membahayakan nyawanya dan juga nyawa Bangsawan Dalto sendiri.

__ADS_1


__ADS_2